Nikmatnya Nasi Pager, Kuliner Unik Pagi Hari Khas Godong



Benar kata Bondan Winarno, kuliner tradisional Nusantara bukan saja bersifat provinsial, tetapi bahkan bersifat terroir (karakteristik lokal). Sering dijumpai sebuah kuliner khas hadir di sebuah kampung yang sangat ‘lokalistik’. Misalnya fenomena kuliner yang ada di Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan.

Sambal pecel dan uyah gorengnya membuat sensasi beda...
Nasi Pager atau Sego Pager, sambal pecel dan uyah gorengnya membuat sensasi beda…

Di kecamatan ini, terdapat sebuah kuliner yang cukup unik, yakni Sega (baca: sego) Janganan. Sega janganan atau oleh warga setempat populer disebut “Sega Pager” atau “Nasi Pager” memang merupakan menu sarapan yang unik dan khas. Bahkan ada yang bilang, “Belum merasa ke Godong kalau sarapannya belum Sega Janganan”. Ya, sega janganan memang kuliner khas sarapan pagi di Godong.

Sega janganan sebenarnya sama seperti nasi gudangan atau nasi urap sayur seperti yang ada di daerah lain. Bedanya adalah pada tambahan sambal pecel dan uyah gorengnya (srundeng) yang membuat paduan dan sensasi yang beda di lidah.

Bakwan goreng, teman menyantap nasi pager...
Bakwan goreng, teman menyantap nasi pager…



Ada juga mendoan yang gurih...
Ada juga mendoan yang gurih…

Sega janganan biasa dihidangkan dengan model pincuk dari daun pisang. Dihidangkan dengan aneka gorengan yang bisa dipilih sesuai selera, antara lain: bakwan, mendoan, rempeyek, mentho, tahu susur, dan lain-lainnya. Dengan ditemani segelas teh hangat atau es teh, sungguh nikmat sekali menyantap sega janganan sebagai sarapan di pagi hari.

Sega janganan konon sudah ada sejak 70 tahunan lalu. Mbak Ika, salah satu penjual sega janganan di Jl. Pemuda, Godong, contohnya. Ia adalah generasi ketiga. Ia meneruskan usaha neneknya yang sekarang sudah tiada.




Disebut Sega Pager atau Nasi Pager karena bahan pelengkap sayurannya merupakan sayuran yang biasa ditanam di pekarangan rumah warga setempat, yang tempo dulu sering juga berfungsi sebagai pagar atau pager dalam Bahasa Jawa-nya.

Tidak semua desa di Kecamatan Godong dapat dijumpai kuliner unik ini. Sega janganan hanya bisa dijumpai setiap pagi di setidaknya 3 desa di Kecamatan Godong, yakni di Desa Ketitang, Desa Bugel, dan Desa Godong. Ketiga desa ini memang berdampingan. Sehingga kuliner ini sangat lokalistik sifatnya.

Mbak Ika, salah seorang penjual nasi pager, dikerubuti pelanggannya...
Mbak Ika, salah seorang penjual nasi pager, dikerubuti pelanggannya setiap pagi…

Di Jl. Pemuda (pertigaan Godong ke selatan arah Juwangi, Boyolali), hampir di setiap sudut gang ada lapak yang menjajakan kuliner ini. Semuanya laris manis alias setiap pagi senantiasa dipenuhi pelanggannya.

Apalagi harganya pun tergolong amat ekonomis. Sepincuk nasi pager dihargai Rp 2.500,- s.d Rp 3.000,-. Dengan merogoh kocek kurang lebih Rp 10 ribu saja, sudah cukup untuk melahap kuliner ini dengan aneka lauknya yang gurih dan so pasti nyamleng.

Jadi, bila sedang berkunjung ke Godong atau sedang melintas di kota kecil ini di pagi hari, bolehlah mencicipi kuliner khasnya yang unik ini, yakni Sega Janganan atau Sega Pager. Dijamin sensasinya nyamleng di lidah hehe….* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)


Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *