Ayam Pencok, Kuliner Unik Khas Kuwu yang Nyaris Punah



Indonesia diberkahi dengan kekayaan kuliner tradisional yang berlimpah. Beragam kuliner pusaka diwariskan oleh leluhur, dari generasi ke generasi, hingga kini. Tetapi, seiring waktu, pergulatan zaman yang ganas menggerus beberapa kuliner pusaka, hingga sebagian kuliner itu hampir sulit ditemukan, bahkan ada yang nyaris punah.

Di Kabupaten Grobogan ada sebuah kuliner pusaka yang kini sulit ditemukan, bahkan boleh dibilang nyaris punah. Kuliner itu bernama Ayam Pencok. Bila ditelesik, mungkin banyak warga Grobogan sendiri yang belum pernah mendengar kuliner unik khas Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan itu.

Rasanya gurih....
Ayam pencok. Rasanya gurih….

Sebuah informasi yang saya peroleh menyebutkan, kuliner ini dulu sekitar tahun 2000-an, masih dapat ditemukan dibuat oleh seorang warga setempat bernama Saminem. Untuk mendapatkan kuliner khas tersebut tidaklah mudah. Sebab, Saminem tidak membuka warung ayam pencok layaknya warung makan di pinggir jalan. Ya, Saminem hanya menerima pesanan. Meski demikian, kabarnya ayam pencok buatan Saminem sudah dikenal hingga ke Singapura, dan sering menerima pesanan dari “negeri seribu satu larangan” tersebut.

Awal bulan Oktober 2016 lalu, saya berusaha hunting kuliner khas ini ke Desa Kuwu. Informasi yang saya dapatkan, masih ada sebuah warung yang menjual kuliner ayam pencok tersebut. Warung itu bernama Warung Makan Mbak Dami. Ditemani mas Dian, sahabat saya yang tinggal di Banjarsari, Kecamatan Kradenan, saya berkunjung ke warung tersebut. Sayang, warungnya sedang tutup alias libur jualan.

Kurang lebih dua minggu kemudian, saya sms mas Dian untuk minta ditemani kembali berkunjung ke warung tersebut. “Siap pak, saya cek dulu, warung buka atau tidak” jawaban sms mas Dian yang masuk ke ponsel saya.



Beberapa saat kemudian, mas Dian mengabari, kalau warung, lagi-lagi tutup. Akhirnya, saya bilang ke mas Dian via sms, “Oke mas, tolong sewaktu-waktu cek ya, kalau pas warung buka, saya akan agendakan datang. Syukur bisa tanyakan terlebih dulu sehari sebelumnya. Trims”

Beberapa waktu kemudian, kabar buruk dari mas Dian saya terima. Ternyata, Warung Mbak Dami sekarang sudah tutup total alias tidak buka lagi. Lalu, saya pun menemui Pak Cantono, warga Kuwu yang selama ini rumahnya ditempati Warung Mbak Dami. Dari informasi yang saya peroleh dari Pak Cantono menyebutkan, Mbak Dami merintis warung yang menyediakan ayam pencok sejak sekitar tahun 2001. “Warung ini kemudian dikenal sebagai satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tuturnya.

Tahun 2015 Mbak Dami meninggal dunia, karena sakit yang dideritanya. Sejak meninggalnya Mbak Dami, kemudi warung mbak Dami diambil alih oleh adik kandungnya dan adik iparnya. Hingga kemudian, karena sesuatu hal, bulan Oktober 2016 lalu, warung akhirnya resmi ditutup.

Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami...
Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami…

WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok...
WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok…





Dengan ditutupnya Warung Mbak Dami, membuat kuliner ayam pencok ini tentu saja nyaris menuju kepunahannya. Beruntung, Warung Makan Mbak Sri Jago Muda yang beralamat di Jl. Honggokusuman No. 45 Kuwu, HP: 081326606771, menangkap peluang itu dan berinisiatif menambah menu di warungnya dengan ayam pencok. Sehingga sekarang, ayam pencok bisa dijumpai di warungnya. “Jadi, sekarang, warung saya satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tutur Mbak Sri kepada saya.

Salah satu yang menjadi keunikan ayam pencok adalah pada proses pembuatannya yang menguji kesabaran. Menurut Mbak Sri, proses pembuatannya adalah, ayam kampung yang sudah disembelih dibersihkan, lalu dicencem dengan bumbu uleg meliputi garam dan bawang putih. Lalu, dipanggang di atas bara api.

Memanggang ayam tersebut harus ekstra hati-hati, karena antara bara api dengan ayam diberi jarak sekitar 25 hingga 30 cm. Api pun dijaga agar tidak terlalu besar. Selain itu, saat memanggang tidak perlu dikipasi. Adapun durasi memanggang sekitar dua atau tiga jam, sehingga ayam akan matang sempurna.

Proses pemanggangan ayam pencok... (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)
Proses pemanggangan ayam pencok… (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)

Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya...
Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya…





Sembari menunggu ayam masak, disiapkanlah sambal pencok sebagai pendamping nanti saat menikmati ayam pencok. Sambel pencok terbuat dari kelapa muda yang diparut, dipadu cabai, terasi, bawang, dan kencur. Untuk menjaga agar sambal pencok tahan lama, maka paduan bahan tersebut dikukus terlebih dulu hingga masak. Setelah masak, ayam pencok pun siap dihidangkan.

Cita rasa ayam pecok begitu gurih, beda dengan ayam panggang pada umumnya. Dipadu dengan sambal pencok, ayam pencok terasa sangat lezat disantap. Di Warung Mbak Sri, seekor ayam pencok utuh dihargai Rp 90.000,-. Adapun paket hemat berupa sepiring nasi plus sepotong ayam pencok yang disuwir-suwir dan dicampur sambal pencok dihargai Rp 10.000,-.

Sebagai pecinta kuliner tradisional, saya tentu berharap kuliner khas dan unik ini tidak punah. Semoga ada lagi warung yang mau melirik menu ini untuk dijadikan menu spesial di warungnya; atau barangkali Pemerintah Kabupaten Grobogan tertarik untuk mengangkat kuliner-kuliner tradisional khas lokal yang nyaris punah tersebut agar terus eksis, misalnya dengan mengadakan festival kuliner, dan sebagainya. Semoga.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

1 Komentar

  1. Bablofil Balas

    Thanks, great article.

    No votes yet.
    Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *