Lezatnya Swike Mentok, Babak Baru Kuliner Grobogan

Bila menyebut kuliner Grobogan, maka yang terbayang adalah swike, yang identik dengan masakan berbahan utama daging katak atau kodok. Bertahun-tahun, swike tidak hanya ikonik sebagai kuliner khas Grobogan (biasanya disebut khas Purwodadi yang merupakan ibukotanya Grobogan), tapi juga hegemonik. Sehingga kuliner Grobogan seolah melulu hanya swike.



Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk....
Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk….
Disajikan dengan sepiring nasi putih...
Disajikan dengan sepiring nasi putih…

Harus diakui, swike memang ikonik sekaligus hegemonik sebagai kuliner khas Grobogan. Bahkan daging kodok Purwodadi konon rasanya lebih lezat daripada kodok daerah lain. Entah benar atau tidak, yang jelas, sebagian besar warga Kabupaten Grobogan yang notabene muslim ‘setengah hati’ menerima kuliner ini, kendati pun realitasnya sudah ratusan tahun kuliner ini menjadi ikon Kabupaten Grobogan.



Pangkal soalnya adalah masalah keyakinan dalam beragama, karena menurut literatur fiqih, kodok termasuk binatang yang haram dikonsumsi. Inilah yang menjadikan kuliner ini sulit diterima. Bahkan, sebagaimana dilansir Wikipedia, status haram daging kodok ini pernah menuai kontroversi, seperti contoh kasus di Kabupaten Demak (yang bersebelahan dengan Kabupaten Grobogan), di mana bupatinya pernah mendesak para pengusaha restoran swike untuk tidak mengaitkan swike dengan Demak. Hal ini karena dianggap dapat mencoreng citra Demak sebagai Kota Wali dan kota Islam pertama di pulau Jawa, serta kebanyakan warga Demak adalah pengikut madzhab Syafi’i yang mengharamkan daging kodok.

Warung makan "Swike Purwodadi" yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak....
Warung makan “Swike Purwodadi” yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak….

Swike atau Swikee sendiri merupakan hidangan yang berasal dari pengaruh masakan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Istilah “swikee’ berasal dari dialek Hokkian, yakni sui yang berarti air, dan ke yang berarti ayam.  Sehingga swike sesungguhnya merupakan penghalusan untuk menyebut kodok dengan menyebutnya sebagai “ayam air”. Makanan ini selama ini memang identik dengan Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Sehingga di berbagai daerah, dapat ditemui berbagai rumah makan atau resto yang menyebut sebagai resto atau rumah makan “Swike Purwodadi”.

Bahan utama hidangan ini adalah kaki kodok dengan bumbu bawang putih, jahe, tauco, garam, dan lada. Dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan daun seledri di atasnya, swike biasanya disajikan dengan nasi putih. Rumah makan yang legendaris menyediakan swike kodok  adalah RM. Swike Asli yang beralamat di Jl. Kol. Sugiono No. 11 Purwodadi. Rumah makan ini sudah berdiri semenjak tahun 1901 atau telah  lebih dari seabad lalu serta telah memasuki generasi kelima.




Pada perkembangannya, meski nama swike sendiri identik dengan kodok, namun warga Grobogan yang muslim pada tahun-tahun terakhir mulai berkreasi dengan komponen daging yang lain, misalnya daging ayam dan mentok. Sehingga di Grobogan, kini swike tidak lagi melulu daging kodok, namun juga swike ayam atau swike mentok. Dan inilah, menurut saya, babak baru kuliner Grobogan.

WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
Sungguh menggoda selera...
Sungguh menggoda selera…

Salah satu warung favorit saya yang menyediakan swike non-kodok adalah Warung Sweke Mentok yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong. Lokasinya di pinggir Jalan Raya Purwodadi-Semarang atau samping Puskesmas Godong 1 yang ada di Ketitang. Sehingga apabila Anda sedang perjalanan dari Purwodadi menuju ke arah Semarang atau sebaliknya, Anda akan melewati warung ini.

Menurut Ibu Jumanah, pengelola Warung Sweke Mentok, ia sudah mulai menyediakan menu swike mentok sejak tiga tahunan yang lalu. Tujuannya adalah untuk menyediakan menu swike tapi yang berbahan utama dari daging yang halal. “Sehingga yang tidak mau memakan swike kodok, bisa makan swike di warung ini,” tuturnya kepada saya.




Saya memang belum dan tidak akan pernah mau memakan swike kodok (dengan alasan agama tentu saja), sehingga saya tidak bisa membandingkan cita rasa swike mentok dan swike kodok. Namun, bagi saya, swike mentok yang ditawarkan Bu Jumanah di warungnya sudah cukup lezat. Kuahnya segar dan gurih, serta aroma tauconya terasa khas di lidah. Daging mentoknya juga empuk, sehingga menambah kelezatan cita rasanya.

Meski di warung ini menyediakan menu lainnya seperti rames dan soto kebo, namun swike mentok-lah yang banyak dicari pelanggannya. Seporsi swike mentok di “Warung Sweke Mentok” milik Bu Jumanah dihargai Rp 15.000,-. Bila Anda termasuk yang tidak mau memakan swike kodok, warung ini salah satu alternatifnya. Monggo.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *