Dari Nunjungan Menebarkan Kelezatan Mie Tek-tek, Sejak Tahun 1978

Nunjungan adalah nama sebuah dusun yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Dari dusun inilah, sebuah kuliner tradisional berbahan mie menyebar ke berbagai daerah. Ada lebih dari 150-an warga Nunjungan yang menjadi penjual kuliner bernama mie tek-tek itu ke berbagai penjuru daerah, hingga ke Pati, Kudus, Demak dan Semarang.



Seporsi mie tek-tek dinikmati bersama 5 tusuk sate ayam...
Seporsi mie tek-tek dinikmati bersama 5 tusuk sate ayam…
Sate ayamnya juga unik, rasanya legit dan gurih...
Sate ayamnya juga unik, rasanya legit dan gurih…

Mie tek-tek, sebuah nama yang unik tentunya, seunik cita rasanya. Disebut demikian, barangkali karena mie ini awal mulanya kebanyakan dijual dengan cara berkeliling menggunakan gerobak, dengan penjualnya membunyikan bunyi tek tek tek untuk mengundang pembeli. Bunyi itu diperoleh dari potongan bambu yang diketuk. Jadilah, mie ini disebut mie tek-tek.




Menurut cerita yang saya peroleh, mie tek-tek masuk ke Nunjungan dibawa oleh seorang pendatang dari Mranggen (Kabupaten Demak) bernama Mbah Nyaman, pada sekitar tahun 1978. Saat itu, ia berjualan mie tek tek di Nunjungan hanya saat musim panen saja. Dari situlah kemudian warga mulai belajar membuat mie tek-tek. Hingga akhirnya, banyak warga Nunjungan yang beralih profesi menjadi penjual mie tek-tek.

Saat ini, lebih dari 150-an warga Dusun Nunjungan berjualan mie tek-tek. Tempat yang menjadi lokus jualannya tidak hanya di lokal Kecamatan Godong dan di titik-titik strategis di Kabupaten Grobogan saja, namun juga merambah ke kabupaten lain seperti Pati, Kudus, Demak, dan Semarang.

Di Godong sendiri, yang merupakan ibukotanya Kecamatan Godong, mie tek-tek menjadi kuliner malam yang cukup ikonik. Bila di pagi hari kuliner ikoniknya adalah nasi pager, maka di malam hari, Godong menyuguhkan kuliner mie tek-tek. Karena mie tek-tek memang hanya bisa dijumpai di malam hari, dimulai dari lepas maghrib.

Proses memasaknya masih secara tradisional menggunakan bara dari arang kayu...
Proses memasaknya masih secara tradisional menggunakan bara dari arang kayu…
Bara arang menimbulkan cita rasa yang khas dan unik...
Bara arang menimbulkan cita rasa yang khas dan unik…
Satenya dibakar dulu sebelum dihidangkan...
Satenya dibakar dulu sebelum dihidangkan…





Di Godong, mie tek-tek ada yang masih dijajakan secara keliling dengan menggunakan gerobak, ada juga yang penjualnya mangkal di sebuah tempat. Salah satu penjual mie tek-tek yang memilih berjualan keliling adalah Pak Sukirno. Setiap malam, warga Nunjungan ini, menjajakan mie tek-teknya melintasi Jl. Muh Kurdi, Desa Bugel. Berangkat dari rumah selepas isya’, kemudian pulang sekitar jam 01.00 dini hari. Demikian itu dilakoninya setiap malam. “Lha gimana lagi mas, sudah pekerjaannya, ya dinikmati,” tutur Pak Sukirno kepada saya.

Adapun penjual mie tek-tek yang mangkal ada di beberapa titik. Salah satunya yang menjadi favorit saya adalah mie tek-tek Pak Khamdan yang mangkal di depan Puskemas Godong 1 yang berada di Desa Bugel. Lokasinya persis di pinggir jalan raya, sehingga Anda yang sedang perjalanan dari arah Purwodadi ke Semarang atau sebaliknya akan melewatinya.

Pak Khamdan menuturkan, ia mulai berjualan mie tek-tek sejak tahun 1992. Ayahnya dan mertuanya juga dikenal sebagai penjual mie tek-tek. Ayahnya pernah berjualan mie tek-tek di daerah Prawoto, Kabupaten Pati. “Setiap malam saya jualan mas. Mulai buka habis maghrib sampai malam hari. Sampai mie-nya habis mas hehe…,” tutur Pak Khamdan kepada saya.

Pak Khamdan saat memasak mie tek-tek pesanan pelanggannya...
Pak Khamdan saat memasak mie tek-tek pesanan pelanggannya…
Disantap dengan ditemani segelas teh panas, alangkah nikmatnya....
Disantap dengan ditemani segelas teh panas, alangkah nikmatnya….




Mie tek-tek sendiri berbeda dengan kuliner berbahan mie lainnya seperti mi ayam. Yang khas sekaligus menjadi keunikan dari mie tek-tek adalah proses memasaknya yang hingga kini masih mempertahankan menggunakan bara dari arang, sehingga cita rasanya tetap terjaga sejak dahulu hingga kini. “Kalau pakai kompor atau gas, citarasanya sudah lain mas, beda jauh,” terang Pak Khamdan.

Memang proses memasak mie tek-tek yang masih mempertahankan dengan bara dari arang itu, menimbulkan sensasi nikmat yang berbeda; sangat khas, unik, dan terasa lebih sedap dan nyamleng. Gurihnya pecah di mulut hahaha…Pokok’e TOP markotop deh.

Soal harga, dijamin sangat merakyat. Untuk bisa menikmati kelezatan semangkok mie tek-tek, Anda hanya cukup merogoh kocek Rp 10 ribu. Dengan harga segitu, sudah plus 5 tusuk sate ayam sebagai pelengkapnya. Bila kurang, boleh nambah lagi, per tusuk sate dihargai Rp 1.000,-. Hmm, nikmatnya….* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
Rating: 2.3/5. From 3 votes.
Please wait...

2 Komentar

  1. Mas Huda Balas

    Keren banget ya masaknya masih pakai arang, kalau di Gubug udah pakai kompor gas

    No votes yet.
    Please wait...
  2. Imtikhan Balas

    Mantap mienya…. mie tek tek kesukaanku

    No votes yet.
    Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *