Nikmatnya Lentog Tanjung, Kuliner Unik Pagi Hari Khas Tanjungkarang, Kudus

Menyebut Kudus, yang terbayang adalah soto kerbaunya yang gurih dan jenangnya yang legit. Namun ternyata gak cuma itu saja lho. Kudus ternyata menyimpan banyak kuliner pusaka lainnya. Di antaranya sebuah kuliner unik bernama Lentog Tanjung.

img20161114095428
Lentog tanjung, kuliner unik pagi hari dari Desa Tanjungkarang, Kudus….

Bakwan sebagai lauk menyantap lentog tanjung...
Bakwan sebagai lauk menyantap lentog tanjung…
Bisa juga ditemani sate telur puyuh dan sate ati ayam...
Bisa juga ditemani sate telur puyuh dan sate ati ayam…
Bagi yang suka pedas hehe....
Bagi yang suka pedas hehe….

Lentog Tanjung terdiri dari dua suka kata, yakni lentog yang artinya lontong, dan Tanjung yang merupakan asal dari kuliner ini, yakni Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Kuliner ini biasa dinikmati sebagai menu untuk sarapan, sehingga kuliner ini hanya bisa dijumpai di pagi hari.

Sekitar tahun 2005, saya menghadiri sebuah acara reuni peserta sebuah pelatihan motivasi yang digelar di Kudus. Oleh tuan rumahnya, disuguhi menu lontong yang diguyur sayur gori dan lodeh tahu. Ternyata, menu itulah yang bernama lentog tanjung. Dan, itulah pertama kalinya saya menyantap lentog tanjung yang kemudian, saya tahu, ternyata merupakan kuliner khas Kudus, tepatnya berasal dari Desa Tanjungkarang.

Kondimen lentong tanjung terdiri dari 3 bahan utama, yakni lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda), dan lodeh tahu. Paduan itu membangun cita rasa gurih yang menggugah selera. Sebagai penggemar lontong, cita rasa lentog tanjung cocok di lidah saya. Sehingga bila berkunjung ke Kudus di pagi hari, saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk mencicipi kuliner ini.

Dari Desa Tanjungkarang, kuliner ini kini telah menyebar ke seluruh pelosok Kudus, bahkan hingga keluar daerah sekitarnya seperti Demak dan Jepara. Dari info yang saya peroleh, lebih dari seratusan warga Tanjungkarang berprofesi sebagai penjual lentog tanjung, baik di Tanjungkarang sendiri, maupun di luar desa Tanjungkarang.

Deretan warung di kompleks Tanjungkarang...semuanya menyediakan lentog tanjung....
Deretan warung di kompleks Tanjungkarang…semuanya menyediakan lentog tanjung….
Mbak Arum, generasi ketiga penjual lentog tanjung di Desa Tanjungkarang...
Mbak Arum, generasi ketiga penjual lentog tanjung di Desa Tanjungkarang…
Cita rasanya pas di lidah saya...
Cita rasanya pas di lidah saya…

Di Desa Tanjungkarang sendiri terdapat sebuah kompleks warung yang khusus menyediakan menu lentog tanjung. Puluhan warung itu berderet dan di depan warung masing-masing terpasang spanduk yang menginformasikan nama penjualnya. Sehingga kompleks itu menjelma menjadi jujugan wisata kuliner bagi yang ingin menikmati lentong tanjung langsung dari kampung di mana kuliner itu berasal.

Seperti pagi itu, pilihan saya jatuh pada warung milik Ibu Sugi. Ternyata, yang melayani tidak lagi Ibu Sugi, melainkan putrinya yang bernama Mbak Arum. Menurut Mbak Arum, ia adalah generasi ketiga menggantikan ibunya jualan lentog tanjung. “Dulu di tahun 1990-an, ibu saya juga menggantikan nenek jualan lentog tanjung,” kata gadis kelahiran tahun 1994 itu.

Begitulah… kuliner ini telah diturunkan  dari generasi ke generasi.

Di beberapa warung lentog tanjung yang pernah saya singgahi, masih mempertahankan penyajikan lentog tanjung di atas piring yang dilapisi selembar daun pisang. Namun kini beberapa warung mulai meninggalkan tradisi unik yang sebenarnya menambah cita rasa itu, termasuk di warung Ibu Sugi. Bahkan, selain beralas daun pisang, sendoknya pun dulu tidak menggunakan sendok, namun menggunakan suru alias sendok dari daun pisang.

Menurut penuturan Mbak Arum, kompleks warung lentog tanjung di Desa Tanjungkarang ramai setiap hari Minggu dan hari libur. Buka mulai jam 06.00 hingga jam 12.00 WIB. Seporsi lentog tanjung dihargai Rp 4.000,-. Menyantapnya bisa ditemani gorengan seperti bakwan, kerupuk, dan sate telur puyuh dengan minuman berupa teh hangat atau es teh. Bila Anda penyuka pedas, penjual telah menyediakn sambal dan lombok yang buanyakkkk.

Monggo dicicipi!!! Hehe….*

–>Artikel dan semua foto yang diposting di blog ini ditulis dan diambil oleh saya, ©Kang Asti, untuk Jatengnyamleng.com. Dan terima kasih atas kerjasamanya untuk tidak menggunakannya tanpa izin. Jika ada yang ingin menggunakan artikel atau foto untuk tujuan komersial, silahkan menghubungi saya secara pribadi.

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *