Rekreasi ke Jogja: Melihat Penguin, Simulasi Langit Malam Jogja, dan Berburu Gudeg Wijilan

Gudeg khas Yogyakarta…

Sabtu (10/12/2016) kemarin, saya berkesempatan mengajak keluarga, meliputi istri dan ketiga anak saya, beserta khodimat (PRT) rekreasi ke Yogyakarta. Tujuannya ke Gembira Loka Zoo dan Taman Pintar. Berangkat jam 6 pagi sampai lokasi jam 11-an. Berarti waktu tempuh sekitar 5 jam-an. Target kunjungan pertama adalah di Gembira Loka Zoo.

Di Gembira Loka Zoo, kami terlibat dalam keseruan melihat-lihat koleksi satwa yang ada. Meski ini bukan kunjungan pertama kami, tapi kami semua menikmatinya. Kondisi Gembira Loka Zoo sudah banyak berubah. Menjadi lebih bagus tentunya. Berbeda dengan saat kami berkunjung beberapa tahun lalu. Penataan tamannya oke punya. Dilengkapi Laboratorium Pendidikan Alam; juga Taman Reptil dan Bird Park yang menawarkan pengalaman unik berinteraksi dengan satwa; serta adanya satwa baru yang belum ada saat kunjungan kami sebelumnya, yakni penguin, yang sejak awal memantik keingintahuan kami, terutama bagi ketiga anak kami.

Istri, khodimat, dan anak ketiga saya, asyik menikmati…
Beruang madu…
Kuda nil…
Rusa tutul…
Penguin…

Setelah puas berjalan berkeliling melihat-lihat satwa, kami rehat untuk salat dan makan. Salat kami jama’ qashar (dhuhur dan ashar) di mushalla dekat pintu keluar. Di dekat mushalla, ada food court yang menyediakan berbagai menu seperti bakso, mie, aneka penyetan, dan gudeg. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan menuju Taman Pintar.

Kami tiba di Taman Pintar sekira jam 14.30. Sesuai rencana, segera membeli tiket masuk ke wahana planetarium . Kami memperoleh jadwal pemutaran jam 15.00 untuk kategori rombongan. Meski ini untuk kedua kalinya, namun kami tetap menikmatinya.

Gedung planetarium…

Di planetarium, kita akan belajar berbagai hal ikhwal dunia astronomi atau dunia luar angkasa. Pembelajaran yang asyik tentunya, karena diberikan melalui simulasi suasana langit kota Yogyakarta pada malam hari beserta berbagai macam benda angkasa dan susunan bintang yang tampak pada saat itu.

Pertunjukan dilanjutkan dengan pemutaran film tentang perjalanan manusia di bulan. Semua diproyeksikan pada media kubah berbentuk setengah lingkaran, dilengkapi dengan kursi penonton bersandaran yang bisa direbahkan, sehingga seluruh pertunjukan bisa dinikmati dengan nyaman.

Replika Candi Borobudur…
Tentang nebula…
Zona robotic…
Bersama prajurit hehe…
Hiii belakangnya tengkorak…

Dari Gedung Planetarium, kami bergerak menuju gedung oval dan gedung kotak. Di kedua wahana ini, kita bisa menambah pasokan ilmu pengetahuan melalui berbagai zona seperti zona sains, zona nuklir, zona sumber daya air, zona memorabilia, zona tata surya, zona cuaca iklim dan gempa, zona teknologi komunikasi, dan lain-lain banyak lagi.

Kami keluar dari Taman Pintar sekira 15 menit sebelum objek wisata yang bermotto ‘Mencerdaskan dan Menyenangkan’ ini tutup. Sekedar informasi, pembelian tiket ke berbagai wahana di area Taman Pintar ditutup jam 16.00 wib. Adapun objek wisata ini tutup jam 17.00 wib.

Setelah dari Taman Pintar, di mana waktu sudah sore, kini tiba saatnya belanja oleh-oleh hehe…

Berburu Gudeg Wijilan

Saat istri, khodimat, dan ketiga anak saya memilih jalan-jalan menuju Malioboro untuk belanja oleh-oleh, saya memilih nyempal dari mereka. Saya memilih untuk berburu kuliner. Sesuai rencana, saya membulatkan tekad untuk berburu gudeg. Target saya jatuh ke salah satu pusat gudeg di Yogyakarta, yakni di Jalan Wijilan yang memang lokasinya tak jauh dari taman Pintar.

Suasana senja di salah satu sudut kota Yogyakarta dari atas bentor hehe…

Karena saya ingin sekaligus menikmati suasana senja di Kota Yogyakarta, maka saya memilih naik bentor (becak motor). Adalah Pak Suroto asal Bantul, yang akhirnya menemani saya berkeliling menikmati suasana senja di Yogyakarta.

Kepada saya, Pak Suroto mengaku sudah menjadi tukang becak onthel sejak tahun 1978. Becaknya ‘disulap’ menjadi bentor baru pada tahun-tahun terakhir. Oleh Pak Suroto, saya dibawa ke Jalan Wijilan sebagaimana yang saya inginkan. Karena sedang ada acara sekatenan, jalan menuju lokasi ditutup. Pak Suroto pun membawa saya ke Jalan Wijilan melalui ‘jalan lain’, yakni sebuah jalan kampung yang agak sempit. Tak berapa lama, kami pun tiba di Jalan Wijilan.

Sebenarnya, saya pingin menyusuri Jalan Wijilan dulu sebelum memilih salah satu warung. Tapi karena hari sudah menjelang petang, saya segera memutuskan memilih warung yang terdekat saja. Atas rekomendasi Pak Suroto, akhirnya saya mlipir ke Warung Gudeg Bu Widodo.

Warung Gudeg Bu Widodo ramai juga. Saat saya datang, ada dua rombongan yang sedang asyik menikmati hidangan sembari bercengkerama. Juga ada dua ibu-ibu berhijab yang tengah memesan paket kotak gudeg sebagai oleh-oleh.

Gudeg Bu Widodo, Jl. Wijilan No. 05 Yogyakarta
Melayani pembeli…
Komedian Tukul Arwana saat makan gudeg di Warung Bu Widodo…

Setelah membaca lembar price list yang disodorkan kepada saya, saya pun memutuskan memesan Nasi Gudeg Ampela Ati + Telur + Sambal Goreng Krecek. Minumnya saya pilih wedang uwuh yang juga populer sebagai minuman tradisional khas Yogyakarta.

Tak berapa lama menunggu, seporsi nasi gudeg pesanan saya, sudah terhidang  di depan saya. Disusul segelas wedang uwuh yang kemeluk alias asapnya mengepul karena panas. Hmm..benar-benar menggoda selera.

Gudeg adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg biasanya dimakan dengan nasi, ayam, telur, dan sambal goreng krecek.

Paket kotak gudeg untuk oleh-oleh…
Sambal goreng krecek-nya mantap dan aduhai…
Wedang uwuh khas Yogyakarta…
Seporsi gudeg pesanan saya…

Gudeg dapat ditemukan di hampir setiap sudut kota Jogja. Namun kawasan Wijilan merupakan salah satu sentra gudeg yang paling populer. Wijilan berada tidak jauh dari kompleks Kraton Yogyakarta dan dapat dicapai dengan 10 menit berjalan kaki atau dengan naik becak.

Konon, sentra gudeg Wijilan ini diawali oleh Bu Slamet yang mulai berjualan sejak tahun 1946, hingga kini sekitar 17 warung berderet memenuhi sisi Jl. Wijilan. Gudeg Bu Widodo yang berada di Jl. Wijilan nomor 05 salah satunya. Gudeg Bu Widodo sebagaimana gudeg khas Yogyakarta lainnya memiliki cita rasa yang intens manisnya. Terlalu manis untuk lidah saya. Tapi sambal goreng kreceknya benar-benar mantap dan aduhai.

Bu Widodo sendiri mulai merintis warung gudeg di kawasan Wijilan baru pada tahun 2004. Sebelumnya menggeluti dunia catering sejak tahun 1989. Kini, warungnya sudah banyak memiliki pelanggan, terutama yang datang dari luar kota.  “Kebanyakan pelanggan saya dari luar kota mas. Ada juga sih yang dari sini, tapi lebih banyak lagi yang dari luar kota,” tutur Bu Widodo kepada saya.

Tercatat komedian kondang Tukul Arwana pernah bertandang ke warung ini. Sebuah foto dalam pigura yang dipasang di dinding warung mengabadikan momen saat komedian yang beberapa waktu lalu ditinggal wafat istrinya itu menyantap gudep di warung ini.

Bila sedang berkunjung ke Yogyakarta, bolehlah mampir ke Jalan Wijilan, dan  silahkan memilih warung sesuai selera Anda!*

–>Artikel dan semua foto yang diposting di blog ini ditulis dan diambil oleh saya, ©Kang Asti, untuk Jatengnyamleng.com. Dan terima kasih atas kerjasamanya untuk tidak menggunakannya tanpa izin. Jika ada yang ingin menggunakan artikel atau foto untuk tujuan komersial, silahkan menghubungi saya secara pribadi.

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *