Menikmati Manisnya Belimbing di Agrowisata Belimbing Tarub



Tawangharjo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Grobogan yang kaya potensi wisata. Antara lain: wisata religi berupa makam Ki Ageng Tarub alias Jaka Tarub—yang populer dengan legenda 7 bidadari, di Desa Tarub; dan makam Ki Ageng Selo—yang populer dengan legenda menangkap petir, di Desa Selo. Lalu, wisata produksi garam di Desa Jono; serta wisata panorama alam berupa air terjun widuri yang amat eksotis yang berlokasi di Desa Kemadohbatur. Satu lagi, yang terbaru, yakni agrowisata belimbing di Desa Tarub.

Saya, berpose di bawah pohon belimbing, yang belimbingnya berbuah lebat…
Istri dan anak bungsu saya, ikut berpose hehe…
Berpose dengan Pak Winarto (kiri), sang penggagas agrowisata belimbing Tarub, yang sangat inspiratif…

Agrowisata belimbing ini eksis belum lama. Baru sekira 7 tahun yang lalu. Adalah Winarto, warga Desa Tarub, yang menginisiasinya. Tahun 2009 Winarto mulai merintis agrowisata itu. Bukan tanpa tantangan. Saat itu, ia sempat dicibir, bahkan disebut gila, oleh para tetangganya. Itu karena Winarto menebangi puluhan pohon jati setinggi semeteran yang berada di kebunnya, lalu menanami lahan seluas ¾ hektare miliknya itu dengan pohon belimbing. Perilaku itulah yang dipandang aneh oleh warga sekitar. Pohon jati dinilai lebih ekonomis daripada belimbing.



Meski sempat dicibir dan dianggap gila, namun pria kelahiran Bojonegoro yang hanya mengenyam bangku Madrasah Ibtidaiyah itu tetap kokoh pendirian. Ia berpikir, peluang usaha agrobisnis di Desa Tarub cukup menjanjikan, karena banyak orang dari luar kota berziarah di makam Ki Ageng Tarub.

Akhirnya, apa yang diimpikan Winarto menemukan titik terang. Usahanya kemudian diikuti tiga tetangganya. Lahan mereka menyatu hingga menjadi seluas 2 hektare. Setelah empat tahun dari masa tanam pertama, pioner agrowisata di Grobogan ini mulai memanen rupiah dari 170-an pohon belimbing. Ada tiga jenis belimbing yang ditanam, yakni madu, bangkok merah, dan dewa.

Saya sendiri beberapa kali berkunjung ke agrowisata ini, terutama di awal-awal keberadaan agrowisata ini. Terakhir, saya datang bersama rombongan dari komunitas Grobogan Corner (GC) sekira setahun yang lalu.

Menikmati rujak belimbing di salah satu gazebo…
Belimbingnya seger dan manis, baru dipetik dari pohon…

Mantap deh…




Bisa jadi destinasi wisata favorit…

Dan untuk kesekian kalinya, pada Sabtu (18/12/2016), saya berkesempatan mengunjungi agrowisata belimbing Tarub. Kali ini, saya berkunjung bersama istri dan anak bungsu saya. Sesampai di agrowisata belimbing Tarub, saya melihat kondisi sudah semakin berkembang. Begitu memasuki area kebun, saya melihat banyak pengunjung yang sedang asyik bercengkerama dengan kolega atau keluarganya di berbagai saung atau gazebo sederhana yang disediakan di area kebun, sembari menikmati jus belimbing atau rujak belimbing.

Dulu, saat berkunjung ke agrowisata ini, seingat saya baru ada satu gazebo yang dibuat di pojok kebun. Luasan kebun pun kini juga sudah semakin luas. Saat berbincang dengan Pak Winarto, Pak Win—begitu saya biasa menyapa—menyatakan, kini ada sekira 10 hektar luasan kebun yang ditanami belimbing, namun di lokasi terpisah. “Kalau di lokasi ini, hanya 2 hektar,” tuturnya.

Di agrowisata belimbing Tarub, pengunjung bisa melihat-lihat kebun belimbing, dan lalu, tentu saja, menikmati jus atau rujak belimbing. Di warung yang ada di tengah-tengah kebun, pengunjung bisa membeli belimbing segar yang baru dipetik dengan harga Rp 13 ribu per kilogram. Juga tersedia paket sambal rujak Rp 3 ribu per porsi. Rujak bisa dinikmati di saung atau gazebo yang disediakan.

Selain itu, agrowisaata belimbing Tarub ini ternyata juga dimanfaatkan sebagai wahana wisata edukasi. “Banyak sekolah setingkat PAUD/TK/SD yang mengajak murid-muridnya datang ke sini untuk memperkenalkan tentang tanaman, buah, cara menanam, dan lain sebagainya,” tutur Pak Win kepada saya.



Untuk menjangkau agrowisata ini cukup mudah. Dari perempatan Ngantru (Tawangharjo), pilih ke arah utara menuju Desa Tarub sekira 2 km. Agrowisata ini ramai setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Bila sedang berada di Grobogan, silahkan mampir di agrowisata ini untuk merasakan sensasi menikmati belimbing segar dan manis yang baru dipetik dari pohonnya.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
Rating: 5.0/5. From 1 vote.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *