Menjepret dan Menikmati Nasi Pindang, Kuliner Khas Kudus yang Gurih dan Enak Banget

Kudus adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menyumbang kekayaan kuliner nusantara cukup banyak. Selain kondang dengan oleh-oleh khasnya yang cetar membahana, yakni jenang, Kudus juga punya seabrek kuliner khas. Sebut saja lentog tanjung, bakso kudus, juga soto dan sate kerbau. Satu lagi yang perlu disebut, karena unik dan khas, yakni nasi pindang. Nasi pindang adalah kuliner khas Kudus yang menggugah selera. Nasi pindang adalah sajian khas Kudus berupa nasi dan daging yang disajikan dengan kuah pindang dan beberapa lembar daun melinjo atau daun so.




Nasi pindang kudus, enaknya menggoda…

Dilihat sepintas, nasi pindang kudus mirip dengan kuliner rawon asal Jawa Timur. Bedanya, nasi pindang kudus terdapat daun melinjo, sedangkan pada rawon terdapat taoge. Nasi pindang kudus memakai santan, sedangkan rawon tidak.

Sepintas juga, nasi pindang kudus mirip nasi gandul khas Kabupaten Pati. Bedanya terletak pada kompleksitas bumbunya. Juga nasi pindang ada komplemen daun so, bahkan daun so ini merupakan bagian wajib dari sajian nasi pindang, sedang nasi gandul tidak.

Meminjam penjelasan pak Bondan Winarno, kalau nasi pindang kudus adalah hasil persilangan  antara soto dan rawon, maka nasi gandul pati adalah persilangan antara soto dan gulai. Nasi gandul memang lebih nendang dan mlekoh rasanya bila dibanding dengan nasi pindang. Namun nasi pindang lebih rich dan kompleks bila dibanding dengan soto.

Pada nasi pindang, cita rasa keluak dan kemiri diimbangi secara cantik oleh ketumbar dan jintan. Santan encer juga membuat nasi pindang menjadi sajian kuliner yang enak banget dan sangat gurih. Benar-benar menggugah selera dan menggoda untuk disantap haha..

Nasi pindang kudus, persilangan rawon dan soto…





Dari sisi sejarah, konon nasi pindang dulunya hanya bisa dijumpai di acara hajatan atau pesta yang dihelat oleh masyarakat Kudus. Namun seiring perkembangnya zaman, nasi pindang pun dijual di berbagai warung maupun rumah makan hingga sekarang.

Sejarah nasi pindang juga unik. Sebagaimana kuliner khas Kudus lainnya seperti bakso, soto dan sate, nasi pindang kudus juga memakai bahan daging kerbau. Tradisi ini dikaitkan dengan sejarah masa lalu di saat Sunan Kudus pertama kali merintis syiar Islam di Kudus.

Sunan Kudus tidak mau melukai hati umat Hindu yang menyakini sapi sebagai satwa yang sakral. Karena itu Sunan Kudus melarang umat Islam menyembelih sapi. Sebagai gantinya, mereka menyembelih kerbau. Dari sinilah rahasia kuliner khas Kudus yang selalu memakai daging kerbau.

Nasi Pindang Mbak Mar

Saya (duduk, pakai batik coklat) seusai pertemuan akuntabilitas publik di Graha IBI, Kudus…

Nasi pindang adalah salah satu makanan favorit saya. Karena itu, ketika berkesempatan berkunjung ke Kudus, saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk menikmati kuliner ini. Seperti pada Senin (27/2/2017) lalu, saya diundang oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus untuk menjadi narasumber pertemuan akuntabilitas publik di Graha IBI, Perum Bali Residence, Jl. Ekapraya Gg 1, Rendeng, Kudus.

Selepas acara, saya pun tak menyia-nyiakan waktu. Saya segera meluncur menuju ke Taman Bojana yang merupakan pusat kuliner khas Kudus. Di sana, saya langsung menuju ke kios no 29. Di kios inilah terdapat nasi pindang favorit saya, yakni nasi pindang Mbak Mar.

Taman Bojana, pusat kuliner khas kota Kudus…

Pintu masuk Taman Bojana…





Nasi pindang Mbak Mar menurut saya istimewa. Cita rasanya lebih gurih dan berhasil menawan lidah saya. Menurut penuturan Mbak Mar, bumbu nasi pindang racikannya sama dengan nasi pindang di warung lainnya, namun ia memiliki resep rahasia terkait teknik memasak yang membuat nasi pindangnya relatif lebih enak. “Resep rahasia itu warisan dari ayah saya,” tutur Mbak Mar kepada saya.

Mbak Mar yang bernama lengkap Sumarni itu memang generasi kedua penjual kuliner khas Kudus. Ayahnya yang bernama Pargi sudah berjualan sejak tahun 1966. Awalnya berjualan bakso kudus dan sop. Baru pada tahun 1980, pak Pargi beralih berjualan soto dan nasi pindang khas Kudus.  Tahun 1985, kemudi usaha kuliner diteruskan oleh anaknya yang tak lain adalah Mbak Mar, hingga kini. Pak Pargi sendiri tutup usia pada tahun 2001.

Suasana siang itu di warung Mbak Mar…




Mbak Mar punya kiat sukses agar tetap eksis dan kulinernya terus diminati pelanggannya, yaitu mempertahankan cita rasa masakan, kebersihan, dan penyajian. “Dalam kondisi apa pun saya tak pernah mengurangi kuantitas bumbu, meski harga-harga sedang mahal, karena itu pertaruhan pada cita rasa,” tutur Mbak Mar kepada saya.

Dalam aspek penyajian, hingga kini pun Mbak Mar masih mempertahankan otentisitas penyajian sejak dulu, yakni tidak langsung di piring melainkan dialasi dahulu dengan daun pisang.  Karena menurutnya, otentisitas penyajian itu penting dan harus dijaga karena juga akan menambah selera dan cita rasa penikmatnya.

ASUS ZenFone dengan teknologi PixelMaster Camera yang banyak keunggulan…

Sebelum saya menyantap seporsi nasi pindang yang telah dihidangkan di hadapan saya, saya pun beraksi dengan menjeprat-jepretnya terlebih dahulu dengan kamera smartphone yang saya bawa.

Saya merekomendasikan kepada Anda untuk menjepretnya dengan ASUS ZenFone yang dilengkapi teknologi PixelMaster Camera yang memiliki sejumlah keunggulan. Salah satu keunggulannya adalah low light mode yang memungkinkan mengambil gambar dengan kualitas yang lebih jernih serta cerah dalam kondisi minim cahaya.

Nasi pindang kudus, kelezatan sebuah masakan khas nusantara dari Kudus

Setelah jeprat-jepret secukupnya, baru saya menyantap dengan lahap seporsi nasi pindang yang gurih dan enak banget itu dengan lauk sate ampela hati dan sate paru kerbau. Hemm…top markotop!!!! Very-very Recommended! * (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)



Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

6 Komentar

  1. paket internet cepat Balas

    wahh saya hampir keliru tadi bacanya, kirainnya nasi padah hahahaha

    No votes yet.
    Please wait...
    • Kang Asti PenulisBalas

      😀

      No votes yet.
      Please wait...
  2. wuri Balas

    Belum pernah nyoba nih, kapan2 ah nyoba

    No votes yet.
    Please wait...
    • Kang Asti PenulisBalas

      Monggo mbak… 🙂

      No votes yet.
      Please wait...
  3. Agus Candra Balas

    nasi pindang, terutama sayurnya menurut selera saya masuk kategori “sayur angetan/sayur inapan”. ketika selesai dimasak, justru saya kurang suka kalau langsung di konsumsi, berasa “langu”. Ini semarga dengan sayur lodeh, sayur gule/gulai. Mungkin bahan dasar santan kelapa yang mempengaruhi kebiasaan saya ini.
    Daun so-nya pun saya lebih seneng yang sudah layu (daun so segar dimasukkan ke satur panas, kemudian layu)
    Dulu sewaktu kecil,Almh. ibu sering membuat sayur pindang ini dan saya lebih suka menunggu sayur tersebut dingin terlebih dahulu, kemudian dipanasin lagi, atau jika ditunggu keesokan harinya dan dipanasin lagi, menurut saya rasanya lebih mantab dan lebih nendang.
    Kondimen wajibnya ya sambel kecap, tempe goreng dan kerupuk udang… minumnya teh manis anget.. dijamin basah kuyub deh baju kita he he he

    Salam kuliner Kang Asti

    No votes yet.
    Please wait...
    • Kang Asti PenulisBalas

      Hehe, memang ada jenis sayur yang semakin diangetin semakin gurih dan mlekoh mas Agus..terima kasih ceritanya mas, jadi nambah informasi…salam kuliner juga mas, matur suwun 🙂

      No votes yet.
      Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *