Becek dan Sego Pecel Gambringan Sebagai Alternatif Kuliner Grobogan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Selain kaya wisata berbasis alam dan legenda, seperti api abadi Mrapen dan Bledug Kuwu, Grobogan kaya akan khazanah kuliner. Salah satu, bahkan mungkin satu-satunya, kuliner yang terkenal dan menghegemoni —meminjam istilah Prof Tri Marhaeni P Astuti, putra Grobogan— serta sangat identik dengan kabupaten ini adalah swike. Masakan daging kodok itu bahkan menjadi menu andalan rumah makan di kota-kota besar.

Hanya faktor teologis menjadikan ikon kuliner tersebut diterima dan disikapi setengah hati oleh sebagian besar warga Grobogan yang muslim. Secara fikih, mayoritas ulama mengharamkan daging kodok, dan hanya mazhab Maliki yang memperbolehkan.

KH Abdul Wahid Zuhdi, pengasuh Ponpes Al-Ma’ruf Bandungsari Ngaringan semasa hayatnya dikabarkan pernah mewacanakan ’’halalisasi’’ kodok dengan cara berpindah mazhab ke Maliki supaya swike bisa diterima. Namun wacana itu disambut dingin para kiai karena riskan dan tak ada pijakan kuat. Biarlah swike tetap menjadi ikon Grobogan.

Sebenarnya ada dua kuliner khas Grobogan yang potensial dikembangkan dan dibranding jadi ikon, selain swike. Pertama; nasi becek. Kuliner ini dulu hanya bisa ditemui pada acara hajatan di kampung, seperti saat mantenan atau sunatan. Namun saat ini nasi becek bisa dijumpai di sejumlah warung dan rumah makan di Grobogan.

Tentu sebuah terobosan yang layak diacungi jempol sebagai upaya mengangkat kuliner lokal menjadi makin eksis dan ’’go public’’. Namanya pun unik, dan rasanya cukup lezat. Menyantap kuah hangatnya terasa begitu menggugah selera. Sayur becek biasa disajikan dengan nasi, kering tempe, dan kacang tolo.

Pecel Gambringan

Bumbu yang terdiri atas bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, dan cabe, ditumbuk jadi satu kemudian dimasukkan dalam rebusan tulang iga sapi. Untuk ’’menyempurnakan’’ aroma, rebusan tulang dan bumbu tersebut dicampur daun kedondong dan daun dayakan. Sejauh pengamatan, nasi becek baru tersedia di warung atau rumah makan di Grobogan, dan belum terlihat di kota lain di Jateng. Kedua; nasil pecel Gambringan.

Warga Grobogan lebih sering menyebutnya sega pecel Gambringan atau SPG, yang tidak kalah terkenal dari pecel Madiun, kota di Jatim yang juga berjuluk Kota Seribu Pecel. Nama Gambringan diambil dari tempat asal kuliner ini, yang memang sejak dulu banyak dijajakan di Stasiun Gambringan yang treletak di Desa Tambirejo Kecamatan Toroh.

Sejak tahun 1940-an, banyak penjual nasi pecel Gambringan menjajakan dagangannya di stasiun atau di atas gerbong. Namun kini, peraturan terbaru PT KAI tidak memperbolehkan penjual makanan dan minuman menjajakan dagangannya di atas gerbong. Karenanya, banyak pedagang SPG berjualan di luar.

Di beberapa tempat di kota Purwodadi, masyarakat bisa menjumpai beberapa warung yang menjual kuliner ini. Rasanya pun khas, yakni pedas, aroma kacang juga orisinal tanpa rasa bawang putih atau daun jeruk. Disuguhkan dengan pincuk daun pisang, menjadikan kuliner ini semakin nyamleng saat disantap.

Kalau pecel Madiun kini sudah dijual di rumah-rumah makan besar, dengan tetap mempertahankan autentisitas penyuguhannya, kita boleh berharap suatu ketika ada rumah makan besar menyuguhkan sega pecel Gambringan dengan tetap menjaga autentisitas ketradisionalannya, termasuk di luar Grobogan. Kuliner lain khas Grobogan yang juga bisa di-dibranding antara lain mi tektek Godong, sega jagung plus sayur lompong, dan garang asem Purwodadi.

Namun nasi becek dan sega pecel Gambringan saat ini jauh lebih ’’menjual’’. Artinya kelak bila menyebut Grobogan atau Purwodadi yang terbayang bukan hanya swike melainkan juga nasi becek, SPG, dan sebagainya. Semoga. (10)

Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, tinggal di Kecamatan Godong

*) Artikel ini dimuat di Suara Merdeka edisi, 31 Oktober 2014 dengan judul “Alternatif Kuliner Grobogan”.

 

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *