Objek Wisata Api Abadi Mrapen, Dulu dan Kini

Api Abadi Mrapen, apinya tak pernah padam, meski terguyur hujan…

Api Abadi Mrapen adalah salah satu objek wisata yang berada di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dari segi reputasi, nama objek wisata Api Abadi Mrapen sudah kondang kawentar. Objek wisata ini terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong. Letak obyek wisata ini mudah dijangkau karena terletak di tepi jalan raya Purwodadi-Semarang, berjarak sekitar 26 km dari Kota Purwodadi.

Tahun 1980-an, objek wisata ini pernah menjadi primadona sebagai jujugan wisata favorit. Pengunjung ramai berbus-bus, terutama kalau liburan sekolah. Lalu, bertahun-tahun kemudian, pamor objek wisata Api Abadi Mrapen meredup dan tak lagi menjadi primadona di kalangan wisatawan.

Objek wisata Api Abadi Mrapen kehilangan sinarnya. Pengunjung yang masih setia datang, tak lain adalah rombongan peziarah dari berbagai daerah yang ingin ‘berburu berkah’ dengan beberapa petilasan Sunan Kalijaga yang ada di objek wisata ini.

Penampakan Api Abadi Mrapen sebelum dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…
Penampakan Api Abadi Mrapen setelah dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…
Penampakan Api Abadi Mrapen setelah dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…

Api Abadi Mrapen sebenarnya merupakan obyek wisata berupa fenomena alam munculnya api dari tanah yang konon tidak pernah padam sekalipun terguyur hujan. Di obyek wisata ini juga ada kolam yang berisi air yang meletup-letup seperti air yang sedang mendidih, namun airnya tidak panas. Kolam itu dikenal dengan nama Sendang Dudo.

Di objek wisata ini juga ada sebuah batu bobot yang beratnya kurang lebih 20 kg yang diyakini merupakan peninggalan Sunan Kalijaga pada abad XV.

Nama Api Abadi Mrapen sendiri sudah cukup populer di seantero negeri karena beberapa event nasional sempat lekat dengan obyek wisata ini. Seperti pesta olahraga internasional Ganefo 1 tanggal 1 November 1963 dan PON XVI 23 Agustus 1996, penyalaan obornya mengambil dari api abadi ini. Setiap tahun, api abadi dari Mrapen ini juga digunakan untuk obor upacara Hari Raya Waisak bagi ummat Budhha.

Penampakan rumah-rumahan tempat menyimpan batu bobot peninggalan Sunan kalijaga sebelum dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…
Penampakan rumah-rumahan tempat menyimpan batu bobot peninggalan Sunan kalijaga setelah dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…

Setelah bertahun-tahun meredup, akhirnya oleh Pemerintah Provinsi (pemprov) Jawa Tengah melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Jawa Tengah mengambil alih pengelolaan objek wisata ini dengan membelinya dan lalu dibangun stadion dan museum olah raga.

Sebelumnya, status lokasi objek wisata Api Abadi Mrapen merupakan hak milik warga, yang pengelolaannya bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Grobogan. Kemudian oleh Dinpora Jawa Tengah, dilakukan pembelian tanah dan dijadikan sebagai aset nasional. Pembelian tanah yang terdapat situs Api Abadi Mrapen tersebut sudah dilakukan oleh Dinpora Jateng pada tahun 2012 lalu.

Penampakan kondisi Sendang Dudo sebelum dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…
Penampakan Sendang Dudo setelah dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah…
Semakin cantik…
Balai tempat pengunjung melepas penat atau beristirahat juga dibangun di tengah area objek wisata Api Abadi Mrapen…
Museum dan stadion olahraga….
Menunggu pamor Api Abadi Mrapen kembali bersinar sebagai jujugan wisata favorit…

Saat saya berkunjung ke objek wisata Api Abadi Mrapen pada Rabu (29/3/2017) tempo hari, pembangunan area objek wisata Api Abadi Mrapen di area seluas 6.600 meter persegi itu terlihat sudah selesai.

Secara umum, objek wisata Api Abadi Mrapen telah tampil dalam suasana baru yang jelas lebih menarik. Karena selain telah berdiri museum dan stadion olahraga yang cukup megah (meski belum difungsikan), tiga objek yang ada di dalamnya, yakni Api Abadi sendiri, situs Batu Bobot, dan Sendang Dudo, juga tak luput dari riasan.

Kita menunggu langkah lanjutan dari Pemprov Jateng melalui Dinpora untuk bisa menggairahkan kembali objek wisata yang sudah memiliki reputasi nasional itu, setelah sekian lama terpuruk dan merana karena tidak terawat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

 

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *