Merindukan (Kembali) Pesona Objek Wisata Bledug Kuwu

Letupan Bledug Kuwu, tak lagi setinggi dulu…

Kabupaten Grobogan memiliki sejumlah daya tarik di bidang pariwisata yang cukup besar dan bervariasi. Tersebar di beberapa kecamatan, serta setiap objek memiliki karakteristik dan daya tariknya masing-masing.

Potensi kepariwisataan di Kabupaten Grobogan meliputi objek wisata religi, objek wisata alam, serta wisata sejarah dan budaya. Salah satu objek wisata yang unik dan memiliki daya tarik wisata serta yang paling terkenal sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Grobogan adalah Bledug Kuwu.

Pada tahun 1980-an, objek wisata ini pernah menjadi primadona dan banyak menyedot kunjungan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama saat liburan sekolah. Namun saat ini secara berangsur-angsur pengunjung menurun karena pengelolaan yang tidak optimal.

Fasilitas banyak yang rusak dan kawasan objek wisata Bledug Kuwu terlihat gersang dan berhawa panas, sehingga objek wisata ini surut daya tarik dan pesonanya, yang berimbas pada menurunnya secara drastis kunjungan wisatawan.

Bilakah Bledug Kuwu Kembali Bersinar?
Maket pengembangan Bledug Kuwu di Kantor UPTD Disporabudpar Kecamatan Kradenan, akankah bisa terwujud?

Sebagai putra daerah Grobogan yang lahir di tahun 1970-an, saya pernah merasakan atmosfir pesona Bledug Kuwu yang membanggakan. Masa kecil saya tinggal tak jauh dari Bledug Kuwu. Hanya sekira 2 atau 3 kilometer saja. Sehingga bila naik motor atau bus umum, hanya perlu menempuh waktu sekira 10 menitan.

Saya masih ingat, pertama kali saya berkunjung ke objek wisata Bledug Kuwu saat duduk di bangku SD kelas 2. Saat itu sekolah mengadakan piknik atau berwisata ke Bledug Kuwu dengan naik delman, atau kami menyebutnya dokar.

Begitu itu, waktu itu sudah senang sekali rasanya. Bisa menyaksikan letupan bledug dari gardu pandang yang saat itu masih berdiri kokoh. Lalu makan bersama teman-teman. Asyik sekali.

Sejak saat itu saya sering berkunjung ke objek wisata ini, terkadang dengan naik sepeda onthel bersama teman-teman.

Bertahun-tahun kemudian, hingga saya menikah dan punya tiga anak, dan tak lagi tinggal di kampung halaman, sesekali saya masih suka berkunjung—tepatnya mampir—ke objek wisata Bledug Kuwu. Tentu saat pulang kampung.

Namun kini saya dapati, objek wisata Bledug Kuwu bukannya berkembang pesat dan semakin banyak pengunjungnya, namun justru malah merana, butuh sentuhan, butuh polesan, agar kekinian, selaras dengan perkembangan zaman, hingga pesonanya kembali mekar dan banyak menyedot pengunjung seperti dulu.

Kadang saya bertanya-tanya, bilakah Bledug Kuwu kembali bersinar? Sebuah pertanyaan yang (barangkali) sulit menemukan jawab hehe….

Baca juga: Objek Wisata Api Abadi Mrapen, Dulu dan Kini
Apa Itu Bledug Kuwu?
Dulu, letupan lumpur Bledug Kuwu, bisa hingga setinggi 5 meter…

Bagi yang sama sekali belum pernah berkunjung ke Bledug Kuwu, sekilas dapat saya ceritakan sebagai berikut:

Obyek wisata Bledug Kuwu terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Berada di areal seluas sekitar 45 hektar dan berjarak kurang lebih 28 km ke arah timur dari pusat kota Kabupaten Grobogan di Purwodadi.

Secara reputasi, objek wisata ini sudah cukup populer. Namanya sudah menasional. Bahkan menginternasional. Beneran lho! Banyak orang-orang luar Grobogan yang sering dibuat penasaran dengan obyek wisata berbasis fenomena alam ini.

Obyek wisata ini berupa fenomena kawah  lumpur (mud volcano) yang meletup dengan menimbulkan bunyi menyerupai suara meriam yang terdengar dari kejauhan.

“Bledug..bledug..bleduk..” demikian bunyi suara ledakan lumpur itu secara periodik setiap durasi beberapa menit. Suara itu yang membuat obyek wisata ini diberi nama Bledug. Sedang Kuwu adalah nama desa tempat obyek wisata ini berada.

Ada dua letupan lumpur di Bledug Kuwu, yakni di sebelah timur dan di sebelah barat. Masyarakat setempat menyebut bledug besar yang terletak di sebelah timur dengan nama Joko Tuwa dan yang terkecil di sebelah barat dengan nama Roro Denok.

Dalam buku berjudul Legenda Terjadinya Bledug Kuwu yang ditulis oleh Sugeng Haryadi (1986) disebutkan, tinggi letupan lumpur Bledug Kuwu yang besar pernah mencapai ± 530 cm dan yang terkecil hanya berkisar 90 cm.

Namun kini letupan lumpur Bledug Kuwu tak lagi setinggi dulu.

Area Produksi Garam
Melihat produksi garam di area wisata Bledug Kuwu…

Lumpur dari kawah ini airnya mengandung garam, sehingga oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk dipakai sebagai bahan pembuat garam dan bleng. Karenanya di Bledug Kuwu juga ditemukan area produksi garam dan bleng secara tradisional.

Caranya adalah dengan menampung air dari bledug itu ke dalam glagah (batang bambu yang dibelah menjadi dua), lalu dikeringkan. Bleng bledug dimanfaatkan sebagai obat membuat kerupuk gendar.

Selain garam dan bleng, lumpur bledug juga menjadi komoditi yang oleh penduduk sekitar dijual di area Bledug karena konon lumpur bledug berkhasiat membasmi jerawat. Lumpur itu dikemas dalam botol bekas air mineral dan dijajakan di area objek wisata.

Produk-produk lokal seperti garam, bleng, dan lumpur bledug, banyak dijual di area wisata Bleduk Kuwu…

Bila berkunjung ke objek wisata Bleduk Kuwu, kita akan mendapat produk-produk yang saya sebutkan itu.

Antara Legenda dan Analisis Ilmiah

Objek wisata ini boleh dikata merupakan sebuah objek wisata yang berbasis sains dan legenda. Dari sudut pandang legenda yang diceritakan secara turun-temurun, disebutkan bahwa Bledug Kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan Laut Selatan (Samudera Hindia).

Buku yang mengulas tentang legenda Bledug Kuwu, banyak dijual di area wisata Bledug Kuwu…

Konon lubang itu adalah jalan pulang Jaka Linglung dari Laut Selatan menuju Kerajaan Medang Kamulan setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih (bajul puteh) di Laut Selatan.

Joko Linglung yang berwujud ular naga besar itu melakukan perjalanan bawah tanah. Sehingga diyakini, ada “hubungan bawah tanah” antara Laut Selatan dengan Bledug Kuwu.

Namanya juga legenda, bukan sejarah, jadi kebenaran dari fakta atas cerita itu tak perlu dipertanyakan. Legenda seringkali mengandung hal-hal simbolik agar sebuah cerita menjadi menarik untuk disimak.

Sementara dari kacamata ilmiah (geologi), kawah lumpur Bledug Kuwu, sebagaimana kawah lumpur lainnya, adalah aktivitas pelepasan gas dari dalam teras bumi. Gas ini biasanya adalah metana.

Kuwu adalah satu-satunya letupan kawah lumpur yang berlokasi di Jawa Tengah. Letupan-letupan lumpur yang terjadi biasanya membawa pula larutan kaya mineral dari bagian bawah lumpur ke atas. Banjir lumpur panas Sidoarjo juga diakibatkan oleh kawah lumpur, meskipun untuk yang ini tingkat aktivitasnya lebih tinggi.

Yuk, ke Bledug Kuwu
Suasana di area objek wisata Bledug Kuwu di siang hari yang terik…
Ada penyewaan payung…
Gardu pandang, tempat melihat Bledug Kuwu dari kejauhan…
Berpose di pintu masuk objek wisata Bledug Kuwu…

 

Pintu masuk objek wisata Bledug Kuwu…

Meski banyak kekurangan, objek wisata Bledug Kuwu tetap menyimpan daya pesona yang membuat sejumlah orang (terutama yang belum pernah sama sekali berkunjung) untuk datang melihatnya.

Terbukti setiap kali saya berkunjung ke objek wisata Bledug Kuwu, ada saja orang luar daerah yang kebetulan datang ke Grobogan mampir ke objek wisata ini.

Jadi kamu, iya kamu, dan juga kamu-kamu semua, yang belum pernah sama sekali berkunjung ke objek wisata ini, bolehlah sesekali berkunjung dan menyaksikan ‘keajaiban alam’ yang menakjubkan ini!

Bagi kamu yang sudah pernah, boleh kok berkunjung lagi….*

(Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

2 Komentar

  1. kick bisnis Balas

    mirip lapindo ya boss

    No votes yet.
    Please wait...
    • Kang Asti PenulisBalas

      Iya mas, eskalasinya yg rendah sehingga gak sampai banjir lumpur 😀

      No votes yet.
      Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *