Menikmati Nasi Gandul, Kuliner Khas Pati yang Ikonik dan Legendaris, Sejak Tahun 1955

Nasi Gandul, Kuliner khas Pati

Hampir semua daerah punya kuliner khas yang menjadi ikon masing-masing. Kudus, misalnya, populer dengan soto dan nasi pindangnya yang khas dan ikonik. Contoh lainnya, Purwodadi Grobogan punya kuliner khas, yakni swike yang ikonik dan sayur becek yang tengah hits. Begitu seterusnya.

Kalau Pati? Hemmm….Kabupaten yang memiliki semboyan Pati Bumi Mina Tani ini juga kondang lo dengan kulinernya yang khas, ikonik, dan bahkan melegenda, yakni Nasi Gandul. Hehe…namanya unik ya..dan kedengaran aneh. Gandul alias gondal gandul haha..

Tapi jangan salah. Bila sudah mencicipi, sangat mungkin akan dibikin jatuh cinta dengan cita rasanya.

Nasi gandul memang kuliner khas Kabupaten Pati. Dilihat sekilas, nasi gandul mirip dengan nasi pindang khas Kudus, tapi tanpa daun so. Kalau menurut pak Bondan Winarno, nasi pindang khas kudus adalah hasil persilangan antara soto dan rawon. Sedang nasi gandul khas Pati adalah hasil persilangan antara soto dan gulai. Nasi gandul memang lebih nendang dan mlekoh bila dibanding dengan nasi pindang.

Kelezatan cita rasa nasi gandul merupakan paduan dari dua elemen yang masing-masing menyemburatkan cita rasa yang menggoda. Dua elemen itu adalah: kuah gandul yang sangat gurih dan mlekoh, karena adanya santan dengan bumbu-bumbu yang sangat kompleks; berpadu dengan empal daging sapi (termasuk jeroan) yang dimasak dengan bumbu-bumbu nan harum kemudian digoreng sebentar.

Paduan kedua elemen itu memang membuat nasi gandul mencuatkan cita rasa yang sungguh menggoda dan nyamleng di lidah. Pokok’e mak nyuss! 🙂

Baca Juga:
Nasi gandul, lebih nendang dan mlekoh…
Tambahan toping hati sapi menjadi semakin mak nyus…

Sejarah Nasi Gandul

Mengapa disebut nasi gandul? Pertanyaan itulah yang sering diajukan sebagai ekspresi rasa penasaran. Dulu, waktu pertama kali datang ke Pati sekira tahun 2005 dan sekaligus momen pertama mencicipi nasi gandul, saya juga pernah dibuat penasaran dengan nama ‘gandul’ itu. Nama masakan yang aneh, batin saya saat itu.

Tapi justru di situlah, menurut saya, letak (salah satu) daya tarik kuliner ini yang memantik orang untuk kepengin mencicipinya.

Dari penelusuran ke sejumlah literatur, saya mendapatkan sejumlah versi. Tapi versi yang paling rajih (kuat) menurut saya adalah versi yang menyatakan bahwa penamaan gandul terkait dengan awal mula nasi gandul ini dulu dijajakan.

Dahulu kala, penjual nasi gandul menjajakan nasinya dengan menggunakan pikulan yang berisi kuali (tempat kuah nasi gandul) di satu sisi; dan bakul nasi serta peralatan makan nasi gandul di sisi lain.

Kemudian pikulan tersebut digotong di pundak dan dijajakan secara berkeliling sehingga pikulan tersebut naik-turun seirama dengan langkah penjualnya. Sementara kedua sisi bambu ini bergantungan bakul nasi dan kuali yang bila berjalan terlihat bergoyang-goyang atau dalam Bahasa Jawa-nya disebut  gemandul atau gondal-gandul. Oleh sebab itu, masyarakat Pati kemudian menamai kuliner tersebut dengan nama nasi gandul.

Adalah Pak Meled Pelopornya

Desa Gajahmati (arah selatan terminal bus Pati) merupakan tempat asal usul kuliner ini pertama kali muncul.  Itulah sebabnya sering ditemui kata-kata Nasi Gandul Gajahmati. Adalah Pak Meled, warga asli Desa Gajahmati, yang menjadi pelopor kuliner ikonik ini.

Konon, pada tahun 1955, Pak Meled berjualan berkeliling desa menggunakan pikulan. Ia berjualan nasi dengan lauk berupa empal daging sapi bumbu bacem yang kemudian disiram kuah di atasnya.

Nasi yang kemudian dikenal dengan nama nasi gandul itu tidak disajikan di atas piring, melainkan dengan menggunakan pincuk daun pisang. Cara menyantapnya juga tidak pakai sendok, melainkan dengan memakai suru alias sendok yang juga terbuat dari daun pisang.

Kepopuleran nasi gandul di kemudian hari tak lepas dari peran seorang pinisepuh Pati yang bernama Mbah Rono. Ketika itu sekira tahun 1965. Setiap ada orang yang sowan (bersilaturahim) ke rumahnya selalu dianjurkan untuk mencoba nasi gandul Pak Meled.

Berkat rekomendasi dari Mbah Rono itulah, nasi gandul kemudian secara perlahan mulai populer. Banyak orang yang terpikat dengan citarasa nasi gandul yang unik dan khas.

Banyaknya peminat nasi gandul, menjadikan beberapa tetangga Pak Meled di Desa Gajahmati tertarik untuk belajar cara membuat nasi gandul. Setelah bisa, mereka kemudian ikut berjualan nasi gandul.

Sehingga kini terdapat ratusan penjual nasi gandul dari Desa Gajahmati yang lokus penjualannya merata di hampir semua wilayah Kabupaten Pati. Sehingga kalau berkunjung ke Pati, kita akan dengan mudah mendapatkan warung atau rumah makan yang menjual menu nasi gandul.

Tak hanya di lingkup Kabupaten Pati, penjual nasi gandul juga sudah merambah ke luar daerah Pati, seperti Semarang, bahkan hingga ke Jakarta.

Penyajian yang Menambah Kelezatannya

Warung Nasi Gandul H. Slamet
Meracik nasi gandul untuk pembeli…
Nasi gandul, ikonik dan melegenda sebagai kuliner khas Pati

Cara penyajian nasi gandul hingga kini masih mempertahankan tradisi sejak dulu. Namun sudah tidak lagi dalam bentuk pincuk, melainkan dengan piring yang dialasi daun pisang.

Saat membeli nasi gandul, biasanya hanya akan mendapatkan nasi putih ditambah kuah gandul dengan sedikit potongan daging sapi. Namun bila dirasa kurang, pembeli dapat meminta tambahan empal daging sapi atau jeroan kepada penjual.

Terakhir kali saya menyantap nasi gandul khas Pati sekira seminggu lalu pada hari Kamis (11/5/2017) saat saya ada sebuah keperluan bersama keluarga di Pati. Karena tidak punya banyak waktu, kami mampir begitu saja di sebuah warung makan yang spesial menjual nasi gandul, yakni Warung Nasi Gandul Pak Slamet di komplek Pertokoan Ngemplak Kidul, Margoyoso, Pati. Rasanya cukup enak dan tidak begitu mengecewakan.

Namun bila ingin yang recommended, boleh mencoba warung makan nasi gandul favorit Pak Bondan Winarno, yakni Warung Nasi Gandul H.A. Warsimin, Jl. Kyai Pupus 33, Desa Gajahmati RT 03/02 Pati.

Selamat menikmati kuliner khas Pati yang ikonik dan legendaris: nasi gandul!!!!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

 

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *