Jelajah Rasa di Festival Kuliner Nusantara Semarang

Engkau doyan makan, dan suatu hari engkau berada di sebuah tempat, yang di situ terhidang pilihan banyak makanan dan minuman, yang semuanya enak dan menggoda selera. Saya tahu kok, engkau pasti bingung hahaha…

Soalnya, sebagai sesama penggemar makan, saya juga pasti akan bingung sepertimu. Pinginnya melahap semua yang terhidang, namun apa daya, kapasitas perut ada batasnya hehe…

Dan itulah yang saya rasakan saat kemarin sore, Selasa (5/9/2017), saya berkunjung ke Festival Kuliner Nusantara Lezaatnesia yang dihelat oleh komunitas Kuliner Semarang Brotherfood di Pasaraya Sri Ratu, Jl. Pemuda Semarang. Festival yang diikuti 60 stand dengan menyajikan ragam kuliner nusantara itu, akan berlangsung sejak tanggal 5 kemarin hingga 10 Septermber 2017 nanti.

Saya memilih datang di hari pertama festival, karena memang di hari itulah saya free tidak ada jadwal acara. Setelahnya, saya sudah memiliki agenda yang cukup padat, di antaranya mengisi acara pelatihan menulis, bedah buku, menghadiri acara mantenan keponakan, dan sebagainya (sok sibuk nih haha…).

Bila tidak disempatkan, hampir dipastikan festival keren ini akan terlewatkan lagi seperti festival sebelumnya yang saya tidak sempat mengunjunginya.

Representasi Kuliner Nusantara  

Sudah cukup banyak pengunjung saat saya memasuki lokasi festival. Tanpa banyak membuang waktu, saya segera berkeliling stand, berburu kuliner yang sangat bervariasi itu. Masya Alloh, semua yang terhidang sepertinya enak-enak dan sangat menggoda selera hahaha..

Pengunjung di hari pertama yang mulai ramai…

Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia dan ibukotanya provinsi Jawa Tengah memang tak pelak menjadi lokus bagi banyak pendatang dari berbagai penjuru nusantara untuk menyambung peruntungan atau karena hal lain.

Mereka datang membawa ikon budaya daerah masing-masing—terutama kuliner—ke Semarang. Sehingga secara perlahan, hampir semua kuliner khas daerah di Indonesia terwakili di Semarang.

Setidaknya itulah yang saya lihat saat berkeliling stand. Tidak hanya kuliner khas Semarang seperti gule kambing bustaman dan tahu petis semawis yang dapat saya temui; namun juga kuliner khas dari Jawa Tengah lainnya seperti nasi pindang khas Kudus, nasi gandul khas Pati, soto bebek khas Klaten, sroto Banyumas, dan lain sebagainya.

Salah satu stand yang menawarkan gule kambing Bustaman khas Semarang
Gule kambing Bustaman yang rasanya juara
Stand Nasi Tempong khas Banyuwangi, Jawa Timur

Bahkan di festival ini juga turut hadir kuliner-kuliner khas luar Jawa tengah, seperti nasi tempong khas Banyuwangi, Jawa Timur; dan beberapa kuliner khas Manado, Khas Betawi, serta daerah lainnya.

Festival seperti ini memang penting sebagai wahana edukasi dan informasi kepada masyarakat akan khasanah kuliner pusaka warisan leluhur yang sangat kaya yang perlu dilestarikan. Juga sekaligus mempertemukan para pelaku usaha kuliner dalam satu titik agar semakin kompetitif dan kreatif.

Memantik Kreasi

Di festival ini saya menemukan beberapa kreasi yang lumayan ciamik, seperti sate buntel ayam. Sate buntel adalah sajian khas Solo yang biasanya dibuat dari daging kambing yang dicincang halus. Namun di sini daging kambing diganti dengan daging ayam sehingga mencuatkan sensasi cita rasa yang berbeda.

Stand yang menawarkan kreasi sate buntel ayam…
Sate buntel ayam yang empuk dan mak nyus
Stand Bebek Djamilah

Saya tergoda untuk mencicipi sate buntel ayam ini, yang oleh penggagasnya disebut sebagai “sate ompong” karena satenya memang empuk, sehingga katanya, yang giginya ompong pun bisa menikmati kuliner ini hehe…

Bentuk sate buntel secara umum menyerupai sosis yang ditusuk dengan tusuk sate dari bambu, lalu dibakar. Sate buntel disajikan dengan sambal dari kecap manis disertai rajangan cabai rawit, bawang merah, dan tomat segar. Sehari-hari sate buntel ayam “sate ompong” ini  dapat ditemui di tempat mangkalnya di Jl. Karangwulan Barat 1C, Semarang, dengan nomor kontak yang bisa dihubungi 08156571911.

Kreasi lainnya yang saya temui adalah Bebek Djamilah. Meski sebagai pendatang baru, saya appreciate dengan brand yang coba diangkat. Brand Djamilah semula saya kira berasal dari nama penjualnya, atau berarti “cantik” sesuai terjemahannya dari Bahasa Arab, namun ternyata perkiraan saya salah. Djamilah ternyata akronim dari “Dijamin Huh hah” karena cita rasa pedas yang ditawarkan hehehe..

Sehari-hari, Bebek Djamilah dapat dijumpai di Shelter Pujasera Simpanglima Semarang. Lokasinya samping kanan No. 2 dari pintu masuk E-Plaza. Nomor kontak yang bisa dihubungi 082135530927.

Dan masih banyak cerita-cerita seru yang saya peroleh dari kunjungan ke Festival Kuliner Nusantara ini, yang akan sangat panjang bila saya ceritakan semuanya…Btw, semoga catatan singkat ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *