Sate Ayam Mbah Wani Wirosari, Bertahan Sejak Tahun 1980-an

Sate Ayam Mbah Wani, Wirosari Grobogan

Selepas shalat jamaah maghrib di mushalla SPBU Mayahan, kami bergegas meneruskan perjalanan. Hujan masih deras mengguyur bumi saat mobil yang kami tumpangi perlahan memasuki kota Wirosari. Karena lapar, kami memutuskan untuk cari warung makan.

Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di Warung Sate Ayam Mbah Wani yang cukup terkenal di Wirosari. Kami hanya perlu belok ke kanan ke arah Sulursari sekira 200 meter dari perempatan Wirosari untuk sampai ke warung tenda tersebut. Ya, Warung Sate Ayam Mbah Wani memang terletak di selatan perempatan Wirosari sebelah barat jalan. Mangkal di depan Bank BPR Idjo.

Ini warung cukup legendaris menurut saya. Setidaknya sejak saya kecil sudah tahu ada warung ini. Jadi, warung Mbah Wani ini termasuk sedikit warung sate ayam lokal yang masih bertahan di tengah arus deras masuknya sate ayam madura yang menggurita.

Tidak bisa dipungkiri, bila menyebut sate ayam, maka sate ayam madura memang tergolong paling hegemonik saat ini. Cita rasa sate ini memang mak nyus. Saos kacang manis yang merupakan paduan dari bumbu kacang dan kecap manis mengaramelisasi baluran bumbu sehingga menyaput daging ayam saat dibakar. Itu salah satu rahasia sate ayam madura memiliki cita rasa yang lezat dan mak nyuss

Sate ayam Mbah Wani sedang dalam proses pembakaran

Saat ini, sate ayam madura benar-benar merajai pasar kuliner. Hampir di setiap sudut kecamatan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Grobogan—tempat saya tinggal—ada penjual sate ayam madura, sehingga seringkali “menggusur” pelaku sate ayam lokal.

Seperti di Kecamatan Godong, pada tahun 1980-an pernah populer sate ayam miroso Mbah Kamijan. Tapi seiring waktu, akhirnya gulung tikar karena semakin tersisih oleh perkembangan sate ayam madura. Apalagi kemudian tidak ada pelanjutnya.

Cita rasa sate ayam yang spesial
Bertahn sejak tahun 1980-an hingga kini

Namun, di Wirosari ini, ada warung sate ayam lokal yang tetap eksis hingga kini. Ya, sate ayam Mbah Wani, yang konon juga sudah eksis sejak tahun 1980-an hingga kini tetap bertahan dan sudah memasuki generasi kedua.

Cita rasa sate ayam Mbah Wani memang berbeda dengan sate ayam madura. Saos kacangnya tidak terlalu manis, juga tidak terlalu kental, lebih terasa encer. Potongan ayamnya juga lebih gedhe daripada sate ayam madura pada umumnya. Cocok sebagai variasi bagi yang ingin merasakan sensasi sate ayam yang berbeda…

Cita rasa yang ‘spesial’ dan jarak tempuh waktu yang lama sejak berdirinya, menjadikan warung sate ayam Mbah Wani memiliki pelanggan setia yang selalu merindukan cita rasa sate ayam resep warisan Mbah Wani.

Sayang, karena hujan yang deras dan tergesa, menjadikan saya terlupa menjepret penampakan warung Mbah Wani. Semoga tidak mengurangi ketertarikan Anda untuk mampir ke warung sate ayam Mbah Wani, suatu hari nanti, ketika perjalanan melewati kota Kecamatan Wirosari hehe….Aamiin.*  (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

2 Komentar

  1. sahabat islam Balas

    wow bikin laper aja nih perut saat saya baca situs ini wkwkwk

    jangan lupa berkunjung juga ya ke blog http://www.sahabatislam.ga

    No votes yet.
    Please wait...
    • Kang Asti PenulisBalas

      Matur suwun…siap (y)

      No votes yet.
      Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *