Ternyata, Sate Buntel Mbok Galak Memang Uenak

Sate buntel di Warung Sate Kambing Mbok Galak

Hari Jumat itu, saya janjian dengan seorang teman ketemuan di terminal Solo. Rencananya kami bersama-sama ke Jakarta untuk mengikuti sebuah acara dengan mengendarai mobilnya.

Saya tiba di terminal Tirtonadi Solo sekira jam 11.45 menit. Begitu memasuki terminal, saya langsung menuju ke masjid terminal untuk mengikuti jamaah shalat Jumat. Baru tahu, sekarang masjid Terminal Tirtonadi Solo sungguh keren. Berlantai dua, luas, dan adem bingit karena ber-AC.  Masjid Al-Musafir namanya.  Dinamakan Al-Musafir karena mungkin yang singgah shalat di situ kebanyakan para musafir.

Seusai shalat Jumat, saya menghubungi teman saya. Ternyata saya masih harus menunggu lama. Sementara perut sudah terasa keroncongan. Jam makan siang memang sudah tiba…

Kira-kira mau makan siang ke mana ya? Hehe…

Setelah berpikir sejenak, akhirnya dengan mantap satu tujuan adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak. Di warung ini, ada kuliner legendaris khas Solo yang unik, yakni sate buntel.

Beruntungnya sekarang ada layanan transportasi online Go-Jek. Saya cukup merogoh kocek Rp 6 ribu, si mas driver Go-Jek dengan ramah mengantar saya menuju ke Warung Sate Kambing Mbok Galak yang beralamat di Jl. Mangun Sarkoro 122 Sumber, Banjarsari, Solo. Waktu tempuhnya hanya sekitar 5 hingga 7 menit dari Terminal Tirtonadi.

Suasana di Warung Sate Mbok Galak hari itu…
Setiap hari selalu ramai pengnjung yang menikmati sajian khas warung Mbok Galak

Sate Buntel, Permata Kuliner Nusantara

Sesampai di warung itu, saya langsung memesan menu yang saya inginkan, yakni Sate Buntel. Sate buntel adalah permata kuliner nusantara khas Solo yang unik. Ia berbeda dengan sate khas nusantara lainnya. Sate buntel dibuat dari daging kambing yang dicincang halus, dibumbui, lalu dibungkus dengan lembaran lemak tipis (lemak jala).

Bentuk sate buntel mirip sosis yang ditusuk dengan bilah bambu, lalu dibakar.  Sate buntel disajikan dengan sambal kecap yang disertai rajangan cabai rawit dan bawang merah, juga dilengkapi dengan rajangan kol dan beberapa iris tomat segar.

Dinamakan sate buntel karena memang sate yang berisi cacahan halus daging kambing dibuntel dengan selapis lemak. Lalu dibakar.

Sate buntel Mbok Galak yang uenak
Tengklengnya juga menggoda

Uenak dan Favorit Para Pejabat Negara

Hemmm…rasanya mak nyus. Dan ternyata…. sate buntel Mbok Galak memang uenak. Uendes! Sate buntelnya empuk, dan bumbunya meresap gurih, melalui proses pematangan yang sempurna, dan satu lagi, tak bau prengus. Disantap dengan sambal kecap dengan rajangan cabai rawit dan bawang putih makin menambah uenak pol.

Konon rahasia di balik uenaknya sate buntel Mbok Galak adalah pada pemilihan kambing yang berumur sekitar satu tahun. Kambing dengan umur yang masih tergolong muda itu empuk dagingnya, tidak alot, dan meminimalisasi aroma prengus daging.

Pantesan, warung Mbok Galak banyak penggemar dan pelanggannya. Setiap jam-jam makan selalu ramai oleh pengunjung. Bahkan menurut informasi yang saya peroleh, warung Mbok Galak digemari para pejabat negara hingga presiden. Sejak era Presiden Soeharto hingga Joko Widodo disebut-sebut pernah mampir ke Warung Sate Mbok Galak.

Pak Jokowi sering mampir ke warung ini saat masih menjabat sebagai walikota Solo. Pak Jokowi menyukai sate buntel dan tengkleng di warung ini. Memang, di warung Mbok Galak tidak hanya menyajikan sate buntel saja, tapi olahan dari daging kambing lainnya seperti  sate kambing, tengkleng, dan tongseng.

Adapun para pejabat yang pernah mampir dan menikmati sajian di warung Mbok Galak, tercatat ada nama Harmoko (Menteri Penerangan era Orde Baru), Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan era Presiden SBY), dan Andi Amran Sulaiman (Menteri Pertanian era Presiden Jokowi). Bahkan almarhum Presiden Soeharto serta keluarga Cendana yakni Ibu Tien, Mbak Tutut, dan Tommy Soeharto tercatat sering memesan sate buntel saat singgah di rumah Ndalem Kalitan, Solo untuk makan bersama.

Warung Mbok Galak eksis sejak tahun 1980. Buka mulai jam 07.30 sd 18.00 Wib. Seporsi sate buntel, sate kambing, dan tongseng masing-masing dihargai Rp 40 ribu, sementara seporsi tengkleng Rp 25 ribu. Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *