Seketika Jatuh Cinta dengan Cita Rasa Soto Sutri Khas Sokaraja

Ini cerita icip-icip kuliner sepulang dari acara capacity building di Owabong Cottage, Purbalingga. Saat perjalanan pulang, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami, sehingga bus yang membawa rombongan berjalan perlahan. Awalnya kami sepakat ingin mampir di sebuah objek wisata di Purbalingga, tapi karena hujan, akhirnya kami sepakat untuk langsung pulang saja.

Tapi kami mampir di Pusat Oleh-oleh Ekasari yang beralamat di Jl. Supardjo Rustam No. 70 Sokaraja, Banyumas. Di sini ada menjual oleh-oleh khas Sokaraja yakni getuk goreng yang moncer itu.

Warung Soto Sutri 1. Alamatnya di Jl. Pramuka, Sokaraja Kulon, Sokaraja, Kabupaten Banyumas.




Saat lagi asyik memilih oleh-oleh yang hendak saya beli, Pak Suraya memanggil saya. “Pak Asti mau ke Soto Sokaraja gak. Kalau iya, ditunggu Dokter Henny di luar…” serunya.

Saya langsung menjawab tegas, “Iya, oke!” hehe…

Saya pun bergegas untuk ke kasir, membayar beberapa oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada kaos bertulisakan “Baturaden” untuk dua anak saya, Mumtaz dan Hanum; tak lupa oleh-oleh wajib karena khas. Apalagi kalau bukan getuk goreng.

Setelah membayar, saya bergegas keluar toko. Ternyata Dokter Henny sudah lebih dulu berangkat dengan Pak Suraya, berboncengan motor hasil pinjaman dari pemilik pusat oleh-oleh. Namun ternyata, saya telah ditunggu Pak Widyo yang sudah nangkring di atas motor, yang juga hasil pinjaman dari pemilik pusat oleh-oleh hehe…

Tak perlu menunggu lama, saya dan Pak Widyo segera menyusul Dokter Henny dan Pak Suraya. Berbekal alamat dan route yang diberikan oleh Dokter Henny—yang beliau memang asli orang Purwokerto, sehingga paham daerah Sokaraja—, sekitar 15 menit kemudian kami sampai ke warung makan yang kami tuju. Di situ sudah ada Dokter Henny dan Pak Suraya.

Soto Sutri, Sroto Sokaraja yang Melegenda

Warung itu namanya Warung Soto Sutri 1. Alamatnya di Jl. Pramuka, Sokaraja Kulon, Sokaraja, Kabupaten Banyumas.  Warung ini  hanya menyediakan sajian soto khas Sokaraja. Dari Dokter Henny saya tahu, bahwa Soto Sutri ini merupakan kuliner legendaris untuk hidangan soto khas Sokaraja. Karenanya warung ini selalu ramai. Banyak pelanggannya,  dan menjadi destinasi wisata kuliner bagi para pecinta kuliner yang sedang berada di Banyumas.

Sroto Sokaraja di Warung Soto Sutri 1. Cita rasanya begitu menggoda

Sambal kacangnya membuat cita rasanya unik dan khas





Risiko tukang foto, jadi tidak nampak. Dari kiri Dokter Henny, Pak Suraya, dan Pak Widyo.

Soto atau di Sokaraja sering disebut dengan “sroto” merupakan hidangan soto khas Sokaraja, Banyumas, yang unik. Ciri khas dari kuliner ini adalah terdapat campuran bumbu sambal kacang dan ketupat.  Bila ketupat adalah pengganti nasi, maka bumbu sambal kacangnya adalah pengganti sambal, meski tidak terlalu pedas, melainkan cenderung manis dan gurih.

Saya baru pertama kali menyantap sroto Sokaraja di Warung Soto Sutri ini, tapi sepertinya saya langsung jatuh cinta dengan cita rasanya.  Soto dengan kondimen sambal kacang dan ketupat, lalu irisan daun bawang yang lumayan banyak memenuhi mangkok, plus potongan daging sapi yang empuk, berpadu dengan gurih kuahnya yang sangat lezat di lidah, membuat saya seketika kasmaran dengan sroto Sokaraja di warung Soto Sutri ini. Kuah sroto Sokaraja menggunakan kaldu daging sapi asli sehingga memang sangat gurih dan lezat.




Cita rasa sroto Sokaraja seperti ini sulit ditemui padanannya dengan soto khas daerah lain. Karenanya, sroto Sokaraja ini menjadi semacam destinasi wajib bagi pecinta kuliner saat berada atau lewat daerah Banyumas.

Informasi yang saya dapatkan, warung soto Sutri sudah berdiri sejak tahun 1984, dan saat ini telah memasuki generasi ketiga. Meski lokasinya tidak di jalan raya, namun cita rasanya yang melegenda, telah menjadikan warung ini menjadi jujugan wisata kuliner yang sudah sangat populer di kalangan para pecinta kuliner, dalam maupun luar Kabupaten Banyumas.

Setelah melahap habis semangkok sroto Sokaraja di Warung Soto Sutri 1, kami pun bergegas kembali ke pusat oleh-oleh Ekasari. Tak berapa lama kemudian, kami melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman.  Bus yang kami tumpangi berjalan dengan tenang, dan tanpa saya sadari saya pun terlena dalam lelap. Tidur.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *