Daya Magnetis Eksotisme Trek Mangrove Puri Maerokoco Semarang




Puri Maerokoco Semarang. Sempat redup dan tak diminati pengunjung. Tapi kemudian bersinar kembali setelah dibuat wahana baru berupa trek mangrove yang eksotis.

Grand Maerakaca, Taman Mini Jawa Tengah

“Liburan nanti ke mana ya, bi?” Tanya anak ragil saya, Hanum Tazkia.

“Ke Semarang ya, ke Bonbin Mangkang.” Jawab saya.

Trus ke mana lagi?” tanyanya lagi.

“Hmm…Enaknya ke mana ya?” jawab saya balik tanya.

Sebelumnya memang kami sepakat, liburan akhir tahun 2017 nanti akan mengajaknya ke Kebun Binatang Mangkang alias Taman Margasatwa Semarang. Karena pada kesempatan trip saya sebelumnya ke Taman Satwa Taru Jurug Solo, saya tidak mengajaknya karena belum liburan.

Namun selain ke Kebun Binatang Mangkang, saya memang belum tahu ke objek wisata mana ya yang keren untuk dimasukkan sebagai destinasi wisata di liburan kali ini. Ada beberapa wacana sih.  Seperti ke Water Blaster dan Sam Po Kong. Tapi, setelah browsing di google dan you tube, akhirnya tercapai kata sepakat untuk ke Puri Maerokoco Semarang selain ke Taman Margasatwa Semarang.

Hari itu pun tiba. Kami sekeluarga berdelapan meliputi saya, istri, dan tiga orang anak saya (Bina, Mumtaz, dan Hanum), plus Mamak Tukirah (khadimat atau PRT kami) dan anaknya (Kiki),serta seorang keponakan (Muthi’ah), meluncur ke Semarang naik mobil.  Tujuan pertama ke Taman Margasatwa Semarang, setelah itu ke Puri Maerokoco Semarang.

Baca juga: Taman Marga Satwa Semarang, Wisata Edukasi Satwa Recommended Untuk Keluarga

Puri Maerokoco, Taman Mininya Jawa Tengah

Puri Maerokoco Semarang sebenarnya bukan wisata baru di Kota Semarang. Boleh dikata termasuk wisata kawakan.  Puri Maerokoco beralamat di Jalan Yos Sudarso, Semarang, tak jauh dari pusat kota, hanya kurang lebih 5 km dari Tugu Muda atau 3 km dari Bandara Internasional Achmad Yani ke timur atau di jalan lingkar utara Kota Semarang.

Jadi, tak butuh waktu lama setelah dari Taman Margasatwa Semarang untuk sampai ke objek wisata ini.

Anjungan Kabupaten Karangnyar. Setiap daerah menampilkan rumah adat masing-masing
Anjungan Kabupaten Boyolali. Setiap anjungan mendisplay potensi lokal, budaya, dan hasil-hasil industri serta berbagai kerajinannya.
Anjungan Kota Semarang

Anjungan Kabupaten Sragen




Puri Maerokoco berada satu kompleks dan menjadi salah satu bagian taman dari kawasan PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan) Jawa Tengah, sehingga Puri Maerokoco juga sering disebut dengan Taman Maerokoco.

Puri Maerokoco merupakan Taman Mini-nya Jawa Tengah, sehingga sering disebut juga dengan “Taman Mini Jawa Tengah Indah”. Ia merupakan perwujudan dari miniatur Provinsi Jawa Tengah. Taman ini dibangun pada tahun 1993 dan menempati areal seluas 23,84 ha.

Di dalam taman ini terdapat  anjungan berupa rumah adat dengan desain bercirikan arsitektur khas Jawa Tengah dari 35 daerah kabupaten/ kotamadya se-Jawa Tengah. Karena itu pula taman ini sering pula disebut dengan “Wisata Rumah Adat Jawa Tengah”.

Di dalam masing-masing anjungan atau rumah adat itu,  di-display hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing–masing daerah tersebut. Sehingga dengan mengunjungi objek wisata ini, kita akan dapat mengetahui dan belajar tentang keanekaragaman budaya dan kreativitas lokal dari seluruh daerah di Provinsi Jawa Tengah.

Kembali Magnetis dengan Eksotisme Trek Mangrove

Objek wisata dengan wahana andalan rumah adat atau anjungan itu sempat redup dan sepi pengunjung karena tak terurus dan pengelolaan yang mungkin kurang bagus. Namun akhirnya kini bangkit dan bergairah kembali dengan dibukanya wahana baru berupa trek Mangrove di kompleks objek wisata ini.

Berpose di trek mangrove. Trek yang menjadi magnet para wisatawan…

Ya, sejak awal tahun 2017 lalu, di Puri Maerokoco dibuat trek atau jalur pejalan kaki di sekitar mangrove yang terbuat dari bambu. Trek mangrove dibuat di sebelah timur Jembatan Harapan dengan panjang 135 meter, atau persis di antara miniatur pulau Mandalika dan Karimunjawa.

Trek inilah yang akhirnya menjadikan Taman Maerokoco kembali bersinar, menjadi magnet bagi wisatawan, termasuk menjadi daya tarik saya untuk akhirnya memutuskan menjadikan objek wisata ini menjadi salah satu tujuan trip pada liburan akhir tahun 2017.



Kembali bersinarnya daya tarik Puri Maerokoco dengan adanya trek Mangrove ini bukan omong kosong alias fakta tanpa data. Informasi yang saya baca di sebuah koran lokal Jawa Tengah menyebutkan, sepanjang tahun 2016 alias sebelum trek Mangrove dibuat, pengunjung Taman Maerokoco hanya membukukan 141 ribu pengunjung. Sementara hingga 25 Desember 2017, jumlah pengunjung di sepanjang tahun 2017 membukukan capaian hingga 400 ribu pengunjung. Jadi, berlipat pertambahan jumlah pengunjungnya.

Itu pula yang saya dapatkan saat berbincang-bincang dengan beberapa pedagang di kompleks Puri Maerokoco. Sejak dibuat trek Mangrove, jumlah kunjungan memang meningkat secara signifikan, terutama di hari Sabtu dan Minggu.

Eksotisme Trek Mangrove Taman Maerokoco

Trek mangrove Puri Maerokoco menjadi magnet para kawula muda. Sebagai tempat foto dengan latar yang eksotis.
Mencari spot foto yang unik di antara rerimbunan mangrove..
Replika pulau Karimunjawa
Naik perahu menyusuri hutan mangrove…

Trek Mangrove Puri Maerokoco memang eksotis. Menyimpan daya magnetis yang tinggi, terutama bagi kawula muda. Ia menjadi tempat berswafoto yang representatif dan eksotis dengan latar rerimbunan mangrove dan bentangan air yang segar dan menyejukkan.

Saya  sendiri dengan riang dan berbinar menikmati perjalanan di trek mangrove ini. Begitu pun istri dan anak-anak saya. Sesekali kami berfoto-foto dan mencari  spot-spot yang unik. Sesekali duduk sejenak menikmati suasana yang seger meski matahari tengah terik, sembari menikmati panorama di sejauh mata memandang yang indah menawan.

Bila mau, kita bisa naik perahu menyusuri hutan mangrove, sembari santai menikmati sejuknya hembusan angin dan eksotisme panorama hutan mangrove. Recommended deh pokoknya.

Menyusuri Keanekaragaman Budaya dan Potensi Lokal Daerah

Trek mangrove Puri Maerokoco memang eksotis, sehingga menyimpan daya magnetis yang mampu menyedot pengunjung atau wisatawan. Namun magnet  Puri Maerokoco sesungguhnya tak hanya sekedar itu. Anjungan taman mini Jawa Tengah bagaimana pun tetap memendarkan daya pesonanya bagi pecinta keanekaragaman budaya dan pengetahuan akan berbagai potensi lokal daerah.

Dengan berkunjung ke Taman Maerokoco, setidaknya kita bisa mengenal keanekaragaman budaya dan potensi lokal dari seluruh kabupatan/kotamadya di Jawa Tengah. Mulai dari bentuk arsitektur rumahnya, budayanya, pariwisatanya, maupun potensi lokalnya. Karena setiap anjungan men-display-nya sebagai pengetahuan dan sumber belajar bagi para pengunjung.



Patung belimbing di depan anjungan Kabupaten Demak

Berpose di replika objek wisata Bledug Kuwu di samping anjungan Kabupaten Grobogan
Replika Menara Masjid Menara Kudus di anjungan Kabupaten Kudus
Replika 4 soko guru dari empat wali sebagaimana yang ada di Masjid Agung Demak yang asli…
Berpose di seperangkat gamelan yang dipamerkan di anjungan Kabupaten Sragen dengan mengenakan kaos bertuliskan Wisata Rumah Adat MAEROKOCO
Duplikat pintu bledeg Masjid Agung Demak di anjungan Kabupaten Demak

Saya begitu menikmati saat-saat menyusuri berbagai anjungan yang ada. Namun karena terbatasnya waktu, tak semua anjungan dapat saya singgahi. Di beberapa anjungan saja yang saya tertarik, saya berlama-lama di situ. Seperti di anjungan Kabupaten Demak. Terdapat patung buah belimbing di depan anjungan ini karena Kabupaten Demak memang dikenal sebagai penghasil buah belimbing.

Di anjungan Kabupaten Jepara, men-display berbagai jenis kerajinan ukir. Di anjungan Kabupaten Kudus, saya hanya menjepret miniatur Masjid Menara Kudus yang sungguh eksotis. Lalu di anjungan Kabupaten Grobogan saya berpose di miniatur objek wisata Bledug Kuwu.



Yang paling lama adalah di anjungan Kabupaten Sragen. Karena selain melihat berbagai display foto dan benda yang mencerminkan keanekaragaman budaya Kabupaten Sragen, di anjungan ini juga menjual aneka kaos bertuliskan “Taman Maerokoco” dan berbagai kerajinan serta asesoris. Sementara istri dan anak-anak saya memilih kaos dan berbagai asesoris seperti kalung, saya setidaknya merasa perlu membeli kaos sebagai kenangan hehe…

Pulang. Sayonara Puri Maerokoco, sampai jumpa lagi…

Sebelum pulang, kami lebih dulu shalat Zuhur di mushalla yang sekaligus miniatur Masjid Agung Demak, yang di ruang utama juga dilengkapi dengan replika 4 soko guru dari empat wali sebagaimana yang ada di Masjid Agung Demak yang asli.

Meski tidak seluruhnya, Puri Maerokoco adalah miniatur Jawa Tengah. Bila ingin tahu lebih banyak tentang Jawa Tengah, datanglah ke Puri Maerokoco. Lalu jangan lupa bahagia dengan menikmati trek mangrove dengan panoramanya yang eksotis.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *