Menyusuri Jejak Walisongo di Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak. Sebuah masjid bersejarah yang didirikan oleh Walisongo sebagai pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Kini menjadi wisata religi ikonik di Demak, yang banyak menyedot peziarah dari berbagai penjuru daerah.

“Demak itu objek wisatanya apa sih, bu?” tanya saya ke Bu Putri, salah seorang guru di sekolah yang saya kelola, yang bertempat tinggal di Demak.

“Apa ya pak?” justru dia balik bertanya. Seperti kebingungan.

“Ya paling Masjid Agung Demak dan Kadilangu pak!” katanya kemudian.

Ya, Kabupaten Demak memang dikenal sebagai “Kota Wali” karena di daerah inilah terdapat Masjid Agung Demak yang sangat bersejarah, didirikan oleh para wali yang tergabung dalam Walisongo, sebagai pusat dakwah dan syiar Islam di tanah Jawa. Di kabupaten ini pula terdapat makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, salah satu anggota Walisongo yang paling fenomenal.

Meski di Kabupaten Demak terdapat berbagai pariwisata seperti Pantai Morosari dan Agrowisata Belimbing, namun yang paling ikonik dan hegemonik adalah wisata religi, yakni Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga.

Sejarah Berdirinya

Masjid Agung Demak, suatu siang yang terik

Masjid Agung Demak terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Persis di barat Alun-alun Kota Kabupaten Demak. Termasuk masjid tertua di Indonesia yang didirikan oleh Walisongo.

Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Walisanga (Menara Kudus, cet. XIV, tahun 1986) menyebutkan, setengah riwayat mengatakan bahwa masjid wali yang bersejarah itu didirikan pada hari Kamis Kliwon malam Jumat Legi bertepatan dengan tanggal 1 Dzulqoidah tahun Jawa 1428.

Akan tetapi di samping itu ada pula yang berpendapat lain mengenai tahun berdirinya Masjid Agung Demak, di antaranya pendapat yang menyatakan bahwa Masjid Agung Demak didirikan pada tahun Saka 1401, berdasarkan gambar bulus (kura-kura) yang terdapat di dalam pengimamam masjid. Gambar bulus di artikan:

  1. Kepala bulus berarti angka satu (1)
  2. Kaki 4 berarti angka empat (4)
  3. Badan bulus berarti angka nol (0)
  4. Ekor bulus berarti angka satu (1)

Biarlah soal kapan persisnya Masjid Agung Demak didirikan oleh Walisongo menjadi domain dan perdebatan para sejarawan. Saya lebih tertarik untuk menikmati keunikan dan eksotisme masjid yang dilekatkan dengan eksistensi  Walisongo itu.

Jejak Walisongo

Saya sendiri sudah berkali-kali berkunjung ke Masjid Agung Demak. Pertama berkunjung saat masih remaja ikut rombongan peziarah, lalu sering mampir ke masjid ini untuk shalat. Tempo hari, saat ada acara di Demak, saya kembali mampir ke masjid ini. Kali ini saya jadikan momentum untuk jeprat-jepret, menggali data sekedarnya untuk tulisan blog ini. Berbagi tentang keunikan dan eksotisme kepada wargaNet, barangkali masih ada yang belum pernah berkunjung ke masjid ini. Berikut ini beberapa fakta jejak walisongo yang dapat kita lihat dan telusuri saat berkunjung ke Masjid Agung Demak.

1. Arsitektur Bangunan yang Tidak Berubah Sejak Didirikan

Salah satu keunikan dari masjid ini adalah corak arsitektur bangunannya yang tidakmengalami perubahan signifikan  sejak didirikan. Bangunan masjid ini, sebagaimana masjid lainnya, terbagi dalam dua bagian, yakni bagian bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Adapun bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Sedang atap masjidnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas masjid terdiri dari tiga bagian yang konon menggambarkan: (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.

Masjid Agung Demak, akhir abad ke-19. Sumber: Wikipedia
Masjid Agung Demak, 1920-1939. Sumber: Wikipedia

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Agung Demak, Agustus 2016. Sumber: Wikipedia

Perhatikan gambar-gambar di atas yang saya kutip dari situs Wikipedia. Dari waktu ke waktu hingga sekarang, corak arsitektur Masjid Agung Demak tidak mengalami perubahan signifikan. Hanya pada tahun  1932, tepatnya pada hari Selasa Pon, 2 Agustus, Masjid Agung Demak dilengkapi dengan menara masjid.

Letak menara berada di halaman depan sisi selatan Masjid Agung Demak. Kontruksinya terbuat dari baja siku, kaki menara berukuran 4 x 4 meter serta tinggi 22 meter.  Atap menara berbentuk kubah dengan hiasan bulan sabit serta lengkungan-lengkungan yang ada pada dindingnya.

Menara Masjid Agung Demak

Dalam buku berjudul Sejarah Berdirinya Masjid Agung Demak & Grebeg Besar yang ditulis Sugeng Haryadi (CV. Mega Berlian, 2003) menyebutkan, di bagian atas menara terdapat sebuah ruangan berbentuk segi delapan berdinding kayu atau papan dan atap bordes  terbuat dari sirap tipis.

2. Soko Guru Peninggalan Para Wali

4 Sokoguru yang asli disimpan di Museum Masjid Agung Demak karena telah mengalami kerusakan karena umur benda yang sangat tua

Di bagian bangunan induk Masjid Agung Demak kita akan mendapati empat tiang utama yang disebut soko guru. Keempat soko guru tersebut merupakan peninggalan empat wali dari anggota Walisongo, yakni Sunan Bonang (Tuban), Sunan Gunungjati (Cirebon), Sunan Ampel Suarabaya), dan Sunan Kalijaga (Kadilangu, Demak).

Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai soko tatal,  yang merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga. Soko guru yang saat ini ada di Masjid Agung Demak tidak sepenuhnya asli. Bekasnya yang asli dapat kita lihat di Museum Masjid Agung Demak yang berada satu kompleks dengan Masjid Agung Demak.

3. Soko Majapahit

Bangunan serambi Masjid Agung Demak merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk lima yang ditopang delapan tiang yang disebut Soko Majapahit. Disebut Soko Majapahit karena delapan buah soko guru itu berasal dari Kerajaan Majapahit yang diboyong oleh Raden Patah setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak Bintoro.

4. Situs Kolam Wudhu Bersejarah

Situs Kolam Wudhu Bersejarah

Di kompleks Masjid Agung Demak juga kita dapati sebuah situs Kolam Wudlu Bersejarah yang berada di sebelah utara serambi Masjid Agung Demak. Kolam wudhu itu bersejarah karena dulu di zaman para wali, kolam itu digunakan masyarakat untuk mencuci kaki dan berwudhu sebelum masuk ke masjid untuk melaksanakan shalat dan kegiatan lainnya.

5. Makam Raden Patah

Para peziarah di kompleks Makam Masjid Agung Demak

Di dalam kompleks Masjid Agung Demak juga kita akan mendapati beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak, termasuk di antaranya adalah Ragen Patah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak. Makamnya berbentuk kijing sederhana dari bahan pualam kuning di bagian luar tungkub makam Sultan Trenggono.

Batu pualam kuning yang dijadikan kijing makam Raden Patah adalah untuk menggantikan batu andesit yang lama, yang sesungguhnya justru menghilangkan kesan kekunoan makam pendiri Kesultanan Demak tersebut.

Di sebelah makam Raden Patah, terletak makam istrinya, makam Adipati Unus, makam Pangeran Sekar Sedo Lepen, Pangeran Mekah, Pangeran Ketib, dan makam adik kandungnya, Raden Kusen Adipati Terung.

6. Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Dan di kompleks Masjid Agung Demak terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang di dalamnya menyimpan berbagai benda purbakala yang merupakan jejak sejarah para wali dan eksistensi Masjid Agung Demak.

Lebih jauh tentang Museum Masjid Agung Demak in syaa Alloh akan saya ulas dalam tulisan tersendiri.  Ditunggu ya!

* * *

Demikian setidaknya 6 fakta jejak Walisongo yang hingga sekarang dapat kita saksikan saat berkunjung ke Masjid Agung Demak. Sebenarnya masih banyak lagi benda-benda lainnya, antara lain pintu Bledheg, ,mimbar khutbah, maksurah, dan sebagainya.

Kata Akhir: Ternyata Kerajaan Islam Pertama di Jawa Bukan Demak

Sebagai akata akhir dari tulisan ini saya ingin menyampaikan fakta baru tentang kerajaan Islam pertama di Jawa. Selama ini kita mendapatkan pelajaran bahwa kerajaan Islam tertua di Jawa adalah Demak, dengan Raden Patah sebagai Raja Pertamanya.

Ternyata tidak. Menurut Agus Sunyoto, seorang sejarawan dari Nahdlatul Ulama (NU), dalam bukunya Atlas Walisongo (Pustaka Iman, cet. V, Maret 2017) menyebutkan, bertolak dari sisa-sisa artefak dan ideofak yang dapat dilacak, kita temukan fakta bahwa kerajaan Islam yang awal di Jawa bukanlah Demak, melainkan  Lumajang yang disusul Surabaya, Tuban, Giri, dan baru Demak. Keislaman Lumajang paling sedikit menunjuk kurun waktu sekitar abad 12 Masehi, yaitu saat Kerajaan Singasari di bawah kekuasaan Sri Kertanegara.

Semoga catatan dari trip dan pembacaan literatur secara sekilas tentang Masjid Agung Demak ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Baca artikel selanjutnya: Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak
Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *