Mencicipi Tengkleng Bu Edi, Kuliner Legendaris Solo yang Digemari SBY Hingga Jokowi




Solo, salah satu kota budaya di Indonesia, ternyata menyimpan khasanah kuliner khas yang cukup kaya. Salah satunya yang populer adalah tengkleng. Dan tengkleng Bu Edi salah satunya, yang menyuguhkan tengkleng bercita rasa juara.

Siang itu, selepas keperluan survei di Solo untuk kepentingan lembaga pendidikan yang kami kelola, istri saya menghendaki mampir di PGS (Pusat Grosir Solo). Ketimbang hanya nunggu di parkiran, saya memilih jalan-jalan bersama mas sopir, berburu kuliner khas Solo. Kebetulan, belum makan siang dan perut sudah keroncongan.

Berburu Tengkleng

Warung tengkleng Bu Edi akhirnya yang menjadi target saya. Tengkleng adalah salah satu sajian kuliner khas Solo yang cukup populer.  Tengkleng adalah sejenis gulai encer yang kebanyakan dimasak tanpa santan, meskipun ada yang membubuhkan sedikit santan. Tengkleng mirip soto atau sup, tetapi kuahnya lebih kaya bumbu.

Penyajian tengkleng Bu Edi masih mempertahankan cara tradisional dengan cara dipincuk dengan daun pisang

Bahan utama tengkleng adalah tetelan kambing seperti iga, kaki, dan seluruh bagian kepala.  Sejarah tengkleng, menurut sejumlah tetua di Solo, konon terkait dengan perekonomian dan daya beli masyarakat pribumi tempo dulu. Ketika itu daging kambing hampir secara eksklusif hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan dan orang-orang Belanda.

Penduduk yang berekonomi lemah dan juru masak para bangsawan dan orang-orang Belanda, hanya bisa menikmati sisa dari daging seperti kepala, kaki, dan tulang. Maka, kondisi itulah yang kemudian memantik  para juru masak pada waktu itu untuk memutar akal dan berkreasi memanfaatkan tetelan yang tersisa agar tetap bisa dikonsumsi. Maka, dimasaklah tulang-tulang itu, yang tentunya masih menempel sedikit daging, dan menjadi sajian tengkleng seperti sekarang ini.



Saat ini tengkleng versi rakyat masih menampilkan tetelan. Tetapi karena sajian tengkleng dengan bumbunya yang mencuatkan cita rasa khas dan lezat, menjadikan sajian ini kian digemari masyarakat kelas menengah ke atas. Sehingga tengkleng dengan bagian-bagian yang lebih berdaging mulai dijumpai.

Tengkleng Bu Edi

Dan menyebut kuliner tengkleng di Solo, maka salah satu warung tengkleng dengan cita rasa juara ya tengkleng Bu Edi. Saya mengetahui tengkleng Bu Edi dari bukunya Pak Bondan Winarno (mendiang) yang berjudul 100 Mak Nyus Makanan Tradisonal Indonesia terbitan penerbit Kompas.  Di situ disebutkan, Tengkleng Bu Edi adalah salah satu ‘juara’ tengkleng di Solo. Dalam arti tengkleng bercita rasa enak dan recommended di antara lainnya.

Tengkleng Klewer Bu Edi, pindah dari gapura Pasar Klewer ke komplek parkir selatan Masjid Agung Solo

Dari informasi yang saya peroleh, tengkleng Bu Edi setiap siang sekitar jam 12.00 atau jam 13.00 Wib mulai mangkal di gapura Pasar Klewer, Solo. Tapi ketika sampai ke situ, ternyata sudah tidak ada lagi. Bertanyalah saya ke orang-orang sekitar. Diberitahu, ternyata, sudah pindah sejak terjadi kebakaran Pasar Klewer pada akhir tahun 2014 lalu. Beruntungnya, pindahnya tak jauh dari lokasi tersebut, yakni di lahan parkir selatan Masjid Agung Solo. Saya pun segera meluncur ke situ.

Sejarang yang Panjang

Tak hanya legendaris, tengkleng Bu Edi memang menggoda selera

Tengkleng Bu Edi boleh dikata termasuk tengkleng legendaris di Solo. Sudah mulai dirintis oleh nenek Bu Edi sejak tahun 1971. Ketika itu belum mangkal, tapi tengkleng dijajakan keliling Pasar Klewer.

Setelah sekian lama berjualan keliling, akhirnya pada tahun 1980-an, nenek Bu Edi memilih mangkal di gapura Pasar Klewer hingga membuat sajian tengklengnya sangat populer dan dikenal dengan nama Tengkleng Klewer. Popularitas itu bisa dibuktikan dengan pelanggannya yang sangat bejibun, baik dari lokal Solo hingga pendatang dari berbagai daerah. Takluput banyak pejabat yang menggemari tengklengnya.



Saat ini tengkleng Bu Edi sudah memasuki generasi keempat. Bu Edi yang bernama lengkap Ediyem merupakan generasi ketiga meninggal pada hari Senin (14/12/2015) pada usia 66 tahun. Bu Edi meninggal setelah menjalani perawatan karena penyakit hipertensi yang dideritanya di Rumah Sakit Dr. Oen Kandangsapi, Senin sekitar pukul 03.45 WIB.

Sepeninggal Bu Edi, kemudia usaha tengkleng yang telah melegenda itu dipegang oleh anak pertamanya yang bernama Sulistri atau biasa dipanggil Mbak Tri.

Digemari SBY hingga Jokowi

Tengkleng Klewer Bu Edi memang menyuguhkan cita rasa berbeda dibanding racikan tengkleng lainnya. Lebih lezat dan mak nyus. Apalagi ditambah dengan model penyajian pincuk, yang menambah cita rasa kenikmatannya.

Pantaslah bila tengkleng Bu Edi sangat digemari. Tidak hanya masyarakat biasa, tapi hingga pejabat negara. Tercatat nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pelanggan tengkleng Bu Edi. Saat Pak Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo, pihaknya sering diminta mengantar atau memasak tengkleng di rumah dinas walikota Solo, Loji Gandrung.

Saat Pak Jokowi sudah jadi presiden, pihaknya juga diminta mengantar ke Jakarta tempat Pak Jokowi berdinas, yakni saat Idul Fitri. Bahkan, saat pernikahan putra pertamanya, Gibran Rakabuming Raka beberapa waktu lalu,  Bu Edi juga didapuk untuk menyediakan hidangan tengkleng di acara resepsi.

Selain Pak Jokowi, tercatat juga nama mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.  Menurut informasi yang saya peroleh, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) open house lebaran seringkali mengundang Bu Edi untuk menyajikan menu khas Solo itu.

Tak hanya Pak Jokowi dan SBY, tercatat Pak Wiranto (Menkopolhukam saat ini) dan Pak Harmoko (Menteri Penerangan di Era Orde Baru) juga menggemari tengkleng Bu Edi, serta pejabat-pejabat lainnya.

Paduan Kelezatan dan Penyajian

Mbak Tri sedang melayani pembeli

Saya beruntung bisa ikut mencicipi tengkleng Bu Edi yang digemari dan legendaris. Siang itu, saat saya ke situ ditemani mas sopir, warung Bu Edi sangat ramai, apalagi karena memang jam makan siang.  Saya segera pesan, dan tak lama kemudian sepincuk tengkleng sudah berada di tangan saya.

Kelezatan cita rasa yang dipadu dengan model penyajian yang tetap mempertahankan orisinalitasnya (sejak kehadiran pertamanya tempo dulu), memang mencuatkan sensasi kenikmatan tersendiri. Dan saya sudah membuktikannya di Warung Tengkleng almarhum Bu Edi, yang kini diteruskan oleh anaknya, Mbak Tri.

Bila sedang di Solo, bolehlah mampir di warung ini, menikmati tengkleng Bu Edi yang legendaris dan digemari. * (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

 

 

Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *