Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)




Kabupaten Grobogan memang kaya potensi wisata, baik wisata alam, sejarah, maupun religi. Makam Ki Ageng Selo salah satunya. Makam sosok masa silam yang legendaris ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang sangat populer di Kabupaten Grobogan. Sosoknya lekat dengan legenda penangkapan petir.

Dalam sebuah sarasehan tentang wisata yang saya ikuti, yang dihelat oleh InBound Tourism Community (IBTC) Jawa Tengah di Kyriad Grand Master Hotel Purwodadi beberapa waktu lalu, mencuat ide menjadikan Grobogan sebagai “Kota Legenda”. Mengingat bahwa di Kabupaten Grobogan memang banyak dijumpai legenda besar yang bereputasi nasional, seperti legenda Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar di Desa Banjarejo (Kecamatan Gabus), legenda Jaka Linglung dan Bajul Putih yang konon menjadi asal usul wisata Bledug Kuwu di Desa Kuwu (Kecamatan Kradenan), legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari di Desa Tarub (Kecamatan Tawangharjo), termasuk juga legenda Ki Ageng Selo dan penangkapan petir, dan masih banyak lagi.

Jauh sebelum  ide itu mencuat, saya sudah menulis tentang “Kota Legenda” ini di sebuah surat kabar lokal Jawa Tengah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, potensi legenda yang begitu besar itu, sejauh ini belum dikelola secara baik sebagai salah satu daya tarik wisata yang bisa dioptimalkan. Sehingga kemudian, selain bisa meningkatkan pendapatan asli daerah atau PAD, juga bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar.

Selayang Pandang Ki Ageng Selo

Makam Ki Ageng Selo salah satu destinasi wisata potensial itu. Meski sangat populer, tapi belum menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah. Sejauh ini makam Ki Ageng Selo baru menjadi destinasi para peziarah yang ingin ngalap berkah.

Siapakah sosok Ki Ageng Selo? Berbicara mengenai sosok para wali, seperti Walisongo dan para muridnya, sepertinya lebih banyak aroma mitos dan mistisnya daripada aspek kesejarahannya. Padahal, dari sosok tokoh sejarah dan legenda seperti Ki Ageng Selo, bisa digali kearifan hidupnya yang adiluhung dan bisa dijadikan paugeran (patokan, peraturan). Wikipedia bahkan menulis, kisah hidupnya pada umumnya bersifat legenda, menurut naskah-naskah babad.

Gapura menuju makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Penawangan

Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo (Pustaka Imam Bonjol, 2017) menyebutkan, menurut Babad Tanah Jawa, Ki Ageng Selo adalah salah seorang murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram.



Menurut Dhanu Priyo Prabowo dalam bukunya Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela (Penerbit Narasi, 2004) disebutkan, Ki Ageng Selo hidup di zaman pemerintahan Kerajaan Demak terakhir. Pada masa itu, Kerajaan Demak di bawah kekuasaan Kanjeng Sultan Trenggono (1521-1545 Masehi).

Nama kecil Ki Ageng Selo adalah Bagus Sogum. Setelah dewasa dan sepuh, beliau dipanggil Kiai Abdulrahman. Kemudian lebih dikenal dengan Ki Ageng Selo karena ia tinggal di Desa Selo (saat ini masuk wilayah Kecamatan Tawangharo, Kabupaten Grobogan).

Menurut sejarah, Ki Ageng Selo masih memiliki alur darah dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Selain itu, Ki Ageng Selo juga masih memiliki alur saudara dengan Sultan Trenggano di Demak.

Menurut sebuah literatur, antara Ki Ageng Selo dengan Sultan Trenggono diikat oleh tali persaudaraan, yakni kadang nak-sanak tunggal eyang (saudara sepupu satu nenek). Hal ini terjadi karena  Sultan Trenggono terhitung cucu dari Prabu Brawijaya V, demikian juga Ki Ageng Selo (dalam literatur lain Ki Ageng Selo adalah cicit Prabu Brawijaya V). Keduanya hidup dalam satu zaman.

Ihwal Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram, dapat dijelaskan sebagai berikut. Adalah cucu Ki Ageng Selo bernama Ki Ageng Pemanahan memiliki anak bernama Sutawijaya, yang kemudian bergelar Senopati. Sutawijaya seperti diketahui adalah Raja Mataram yang sangat masyhur.

Sri Sultan Hamengkubuwono IV tercatat juga masih keturunan Ki Ageng Selo. Bahkan, menurut silsilah yang ada, Ibu Tien Soeharto (istri Presiden Soeharto) juga masih keturunan Ki Ageng Selo, yaitu keturunan yang ke-17.

Selama hidupnya, Ki Ageng Selo dikenal sebagai salah seorang wali yang cendekia dan juga mumpuni di bidang karawitan, seni lukis dan ukir. Ki Ageng Selo-lah pembuat Pintu Bledheg di Masjid Agung Demak, yang kini pintu aslinya masih dapat  kita jumpai di Museum Masjid Agung Demak.

Infonya bisa dibaca di artikel: Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

Legenda Menangkap Petir

Salah satu mitos legenda yang dinisbatkan kepada Ki Ageng Selo adalah perihal kesaktiannya yang sangat luar biasa, yakni dapat menangkap petir dengan tangan kosong.

Ki Ageng Selo Menangkap Petir, sebuah buku yang mengungkap sosok Ki Ageng Selo, terbit tahun 1983

Dalam legenda diceritakan, syahdan, saat sedang asyik bekerja mencangkul di sawahnya yang terbentang luas, mendadak cuaca menjadi mendung. Dalam waktu singkat, petir atau bledheg datang menyambar-nyambar di atas kepalanya.



Sudah berulangkali Ki Ageng Selo mengucapkan kata-kata Subhanallah (Maha Suci Allah), tetapi petir masih kurang ajar. Bahkan hendak menyambar kepala Ki Ageng Selo. Apa boleh buat. Ketika petir hendak menyambar lagi, terpaksalah kemudian petir itu ditangkapnya.

Setelah ditangkap, petir dicancang atau diikat di sebatang pohon bernama pohon Gandri.

Sampai saat ini, dalam lingkup tertentu masih terjadi perdebatan, apakah legenda penangkapan petir oleh Ki Ageng Selo itu fakta atau hanya mitos belaka. Karena penangkapan petir tentu bertentangan dengan realitas ilmiah. Saya sendiri tentunya lebih sepakat dengan yang berpendapat kisah itu sebagai pesan simbolik yang umum terdapat dalam sebuah legenda atau cerita rakyat.

Terlepas dari itu, T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir (Yayasan Parikesit Surakarta, 1983) menyatakan bahwa takhayul atau keanehan yang tidak masuk akal itu hanya semata-mata sebagai bumbu ramuan penyedap masakan.* (Kang Asti, bersambung)

Baca kelanjutannya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)




Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *