Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)




Sebagai moyang yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa, penghormatan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta.

Makam Ki Ageng Selo sendiri berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kurang lebih 12 kilo meter dari Kota Purwodadi ke arah Blora. Setelah sampai perempatan Ngantru, ambil arah ke selatan sekitar tiga kilometer. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama di malam Jumat.

Baca sebelumnya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

Menyusuri Jejak Ki Ageng Selo

Bila kita berziarah ke makam Ki Ageng Selo, maka kita bisa menyusuri jejak-jejak Ki Ageng Selo di kompleks makam dan sekitarnya. Apa saja? Sebagai berikut:

1. Masjid Ki Ageng Selo

Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah timur makam Ki Ageng Selo. Belum diketahui pasti kapan masjid ini didirikan, namun masyarakat meyakini masjid ini berdiri sekitar abad ke-17. Bangunan masjid masih mencirikan bangunan kuno dengan corak joglo, yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu dan masih asli.

Masjid Ki Ageng Selo yang sebagian besar terbuat dari kayu dan masih asli

Informasi yang saya saya peroleh menyebutkan, masjid ini pernah mengalami pemugaran besar-besaran pada tahun 1885. Pemugaran dilakukan oleh Pakubuwono X. Dalam pemugaran tersebut, serambi masjid mengalami penambahan luas sekitar dua meter dari bangunan utama. Juga bagian mihrab mengalami perombakan.



Adapun bedug peninggalan Ki Ageng Selo hingga saat ini masih terjaga keasliannya. Bedug terbuat dari kayu opo-opo. Menurut cerita, satu batang kayu opo-opo dipotong menjadi dua. Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug Masjid Ki Ageng Selo. Potongan lainnya digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak. Jadi bedug yang berada di Masjid Ki Ageng Selo dan di Masjid Agung Demak sama alias kembar.

2. Pohon Gandri

Pohon gandri (bridelia monoica) atau sebagian lainnya menyebut “pohon gandrik” diyakini merupakan pohon tempat mengikat petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Pohon itu bisa dijumpai di kompleks makam Ki Ageng Selo.

Pohon gandri, konon dijadikan tempat mengikat petir oleh Ki Ageng Selo
Papan informasi yang disematkan pengelola di pohon Gandri

3. Almari Api Petir

Almari api petir terdapat di sebelah utara makam Ki Ageng Selo. Di dalamnya terdapat pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Dalam sebuah karya ilmiah berjudul Potensi Makam Ki Ageng Selo Sebagai Destinasi Wisata Religi di Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan karya Riza Shirotul ‘Ibad disebutkan bahwa almari itu dibuka pada saat ada ritual pengambilan api pada bulan Muharram dan Maulud oleh rombongan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seorang peziarah sedang berpose di samping almari petir

4. Sawah Udreg

Disebut sawah udreg karena dulu merupakan tempat Ki Ageng Selo udreg-udregan atau bergelut melawan petir. Demikian informasi yang saya peroleh dari T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir.

Sawah itu sering juga disebut dengan nama sawah mendung, mungkin karena saat menangkap petir itu langit sedang dalam keadaan mendung. Sawah itu terletak di sebelah barat makam Ki Ageng Selo berjarak sekira 200 meter.

Larangan Ki Ageng Selo

Selain jejak-jejak yang bisa kita susuri saat berziarah ke makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, kita juga bisa memperoleh informasi terkait dengan larangan-larangan dan pepali dari Ki Ageng Selo yang hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Setidaknya ada dua larangan:

1. Larangan jualan nasi

Maka, jangan pernah mencari kuliner nasi di sekitaran kompleks makan Ki Ageng Selo dan pedukuhan Selo Panjimatan secara umum, karena tidak akan pernah dijumpai. Sejak turun-temurun, mitos larangan menjual nasi dari Ki Ageng Selo itu begitu dihormati oleh masyarakat setempat hingga sekarang.



Asal usul larangan ini konon bermula suatu hari saat Ki Ageng Selo kedatangan tamu. Seperti biasa, sang tamu disambut ramah oleh Ki Ageng Selo. Juga disambut dengan jamuan makan sebagaimana umumnya menghormati tamu.

Telah terhidang aneka makanan di meja. Namun betapa kagetnya Ki Ageng Selo ketika mengajak tamunya makan, tamunya menolak dengan halus. Rupanya sang tamu sudah makan di warung yang tak jauh dari kediaman Ki Ageng Selo. Kecewalah hati Ki Ageng Selo.

Dari sinilah kemudian muncul piweling atau larangan dari Ki Ageng Selo tentang larangan menjual nasi. Hingga sekarang, larangan itu masih dipatuhi oleh masyarakat setempat.

2. Larangan Menanam Walu di Depan Rumah

Warga juga dilarang oleh Ki Ageng Selo menanam waluh di pekarangan depan rumah. Waluh adalah tanaman merambat yang menghasilkan buah cukup besar berwarna orange. Ikhwal pelarangan ini pun terdapat asal usulnya.

Syahdan, suatu hari, Ki Ageng Selo sedang menggendong anaknya di halaman rumahnya yang ditanami waluh. Tiba-tiba datanglah orang yang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuh, tapi Ki Ageng Selo jatuh telentang karena kesrimpet atau kesandung batang wuluh. Tidak hanya jatuh, tapi kain yang dipakai Ki Ageng Selo lepas sehingga membuat auratnya terbuka.

Insiden itulah yang menjadikan Ki Ageng Selo kemudian melarang menanam waluh di pekarangan depan rumah. Larangan ini pun hingga saat ini dihormati oleh masyarakat setempat.

Pepali Ki Ageng Selo

Berpose di depan gerbang pintu masuk menuju makam Ki Ageng Selo

Di samping larangan, Ki Ageng Selo juga meninggalkan pepali yang berisi ajaran luhur, tidak saja tentang akhlak mulia atau budi pekerti, tetapi juga mengandung pelajaran ilmu agama Islam yang terdiri dari 4 bagian, meliputi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

Pepali itu disusun dalam bentuk lagu dan syair: Dhandanggula. Salinan lengkap pepali Ki Ageng Selo dalam Bahasa Indonesia telah disusun oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo dalam bukunya yang berjudul Pepali Ki Ageng Selo.

Pepali sendiri berarti ajaran, petunjuk, atau aturan. Ada juga yang mengartikannya sebagai pedoman hidup.

Pepali dalam lagu dan syair yang berbentuk Dhandhanggula itu ditulis sendiri oleh Ki Ageng Selo sesuai dengan pakemyang berlaku dalam lagu dan syair Dhandhanggula dan semuanya berjumlah 17 bait. Jumlah baris tiap-tiap baitnya ada sepuluh. Suara akhir masing-masing baris adalah: i, a, e, u, i, a, u, a, i, a. Adapun jumlah suku kata masing-masing baris adalah: 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7.

Pepali-ku ajinen mbrekati,

Tur selamet sarta kawarasan,

Pepali iku mangkene,

Aja agawe angkuh,

Aja ladak lan jail,

Aja ati serakah,

Lan aja celimut,

Lan aja mburu aleman,

Aja ladak, wong ladak pan gelis mati,

Lan aja ati giwa.

 

Artinya:

“Pepali”-ku hargailah (supaya memberkahi,

Lagi pula selamat, serta sehat

Pepali itu seperti berikut:

Jangan berbuat angkuh,

Jangan bengis dan jangan jahil,

Jangan hati serakah (tamak, loba),

Dan jangan panjang tangan;

Jangan memburu pujian,

Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati,

Dan jangan cenderung ke kiri.

Inilah pepali Ki Ageng Selo yang pertama dalam lagu dan bentuk syair Dhandhanggula. Dari cuplikan pepali di atas, kita bisa segera tahu, betapa adiluhungnya ajaran dan wasiat dari Ki Ageng Selo yang justru seringkali terabaikan, tenggelam oleh mitos dan mistis yang dinisbatkan kepada sosok Ki Ageng Selo yang lebih mendominasi dan populer.



Pepali Ki Ageng Selo lengkap bisa dibaca di buku berjudul Pepali Ki Ageng Selo yang ditulis oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo yang diterbitkan oleh CV. Citra Jaya Surabaya, Cetakan pertama tahun 1980. Atau buku berjudul Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela karya Dhanu Priyo Prabowo yang diterbitkan oleh penerbit Narasi, Yogyakarta, Cetakan pertama, tahun 2004.

Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, selesai).

 



Komentar Facebook
No votes yet.
Please wait...

1 Komentar

  1. Mark Andrews Balas

    Hello,

    I am Mark Andrews, a social media manager from Beacon, New York, interested in working with https://jatengnyamleng.com.

    I see that https://jatengnyamleng.com is up and running well, but it could do a lot better in terms of traffic if you regularly post about it on Facebook, Twitter, Pinterest and Instagram twice a week. We can do this for just $25 a month and we will make 32 individual posts on each of your social profiles. Just for your information, you will not even find what I offer on fiverr 🙂

    I know this isn’t some secret or anything new – it is very obvious that if anyone can do that much of work, there will definitely be some considerable traffic visiting the site. We are talking about 32 individual posts per month (and a lot of hours of work), on high traffic social media sites, all linking back to your website.

    While the results are obvious and something any site owner must do, who has the time to do this or who can justify the time and effort to do this? This is where we can help you with.

    Our automatically scheduled social media setup and posting service will only cost you $25 for a full month, with zero time commitment on your part.

    We create social profiles on Facebook, Twitter, Instagram and Pinterest if you don’t already have them and post on each of them for you on Wednesdays and Sundays without fail, and this would bring in a lot of visitors for you from your social media profiles because of the high exposure.

    There is no magic here and you can do it yourself, but practically, nobody can consistently post on all social media profiles on a set schedule, linking back each post to your site. Moreover, think about the time needed to plan and find the content. This is where we come in handy.

    Let me know if you are interested and I can show you a couple of interesting posts, which I’m sure you will love 🙂

    Regards,

    Mark Andrews

    P.S. Upon your reply, I’ll send in full details including our site address, past work details, contact info etc. I’ll also describe how I am able to do this in detail. Thank you.

    No votes yet.
    Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *