Berwisata Ziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak

0
Berwisata Ziarah ke Makam Sunan kalijaga di kadilangu Demak
Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu adalah wisata religi paling ikonik di Demak selain Masjid Agung Demak. Sosok Sunan Kalijaga sebagai salah seorang anggota Walisongo yang paling fenomenal menjadi daya pikat paling magnetis bagi para peziarah dari berbagai penjuru daerah.

 



Saya sendiri sudah berulang kali berziarah di Makam Sunan Kalijaga ini. Sengaja atau sekedar mampir. Seperti Jumat, 23 Februari 2018, sepulang dari acara silaturahim dan studi banding di Yayasan Az-Zahra Demak, saya beserta rombongan guru LPIT Ilma Nafia Godong sengaja mampir ke Makam Sunan Kalijaga. Kebetulan memang kami lewati.

Kami tiba di kompleks wisata ziarah Makam Sunan Kalijaga tepat jam 12.00 WIB alias waktu melaksanakan shalat Jumat. Jadi, sekian kali berkunjung, inilah pertama kalinya saya salat Jumat di Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu.

Letak Masjid Sunan Kalijaga berada di sisi timur kompleks Makam Sunan Kalijaga. Konon dulunya masjid ini dibangun Sunan kalijaga dalam bentuk langgar (mushalla). Sayangnya tak diketahui pasti kapan Sunan Kalijaga mendirikannya. Hanya saja, pendiriannya oleh Sunan Kalijaga dilakukan sebelum pendirian Masjid Agung Demak. Dan dari prasasti yang ada dan tersimpan di masjid, diketahui bahwa Masjid Sunan Kalijaga direnovasi pertama kali pada tahun 1564 M oleh Pangeran Wijil.

Lalu pada tahun 1970, dilakukan renovasi besar-besaran. Bangunan induk yang aslinya berukuran 10 x 16 m mengalami perluasan dengan tetap mempertahankan soko guru atau tiang penyangga utama masjid. Dan pada tahun 1990, kembali dilakukan pembangunan fisik meliputi pembangunan tempat shalat dan tempat wudhu perempuan yang dibuat terpisah dengan pria.

Masjid Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu

Mengenal Sunan Kalijaga

Di banding wali yang lain di korps dakwah Walisongo, nama Sunan Kalijaga boleh jadi paling fenomenal. Nama aslinya adalah R.M. Syahid, putra dari Ki Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban. Solichin Salam dalam Sekitar Walisanga (Menara Kudus, 1986) menulis, di antara wali sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar. Seorang pemimpin, pejuang, muballigh, pujangga dan filsuf. Daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena beliau adalah terhitung seorang reizende muballigh (muballigh keliling). Jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh para kaum ningrat dan sarjana.

Sementara Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (Iiman, 2017) menulis, Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh Walisongo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termasyhur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai mendalang, melainkan dikenal pula sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon carangan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung Jawa.

Makam Sunan Kalijaga dan para peziarah

Meski begitu fenomenal, namun tahun kelahiran dan wafatnya tidak diketahui pasti, kecuali diketahui jasadnya dikebumikan di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak, kira-kira berjarak 3 kilometer dari Masjid Agung Demak.

Konon, usia Sunan Kalijaga termasuk lanjut usia. Dalam masa hidupnya, beliau mengalami tiga kali masa pemerintahan, yakni pertama zaman akhir Kerajaan Majapahit, kedua zaman Kerajaan Islam Demak, dan ketiga zaman Kerajaan Pajang.

Ada Apa di Makam Sunan Kalijaga

Apabila kita masuk lewat gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga yang terletak di sisi selatan masjid atau dekat kolam Segaran peninggalan Sunan Kalijaga, maka kita akan memasuki lorong beratap rapi sepanjang  sekira 160 meter yang di kanan kirinya dipenuhi kios pedagang. Mereka menjual aneka oleh-oleh dan buat tangan seperti kaos bertuliskan Sunan Kalijaga, aneka tasbih, peci, baju koko, serta berbagai kuliner khas Demak seperti rangin, jus belimbing, dan sebagainya.

gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga
Gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga

Lorong menuju kompleks makam yang di kanan kirinya dipenuhi kios pedagang




Begitu memasuki kompleks makam, kita akan mendapati berbagai pusara tokoh-tokoh yang terkenal dalam legenda seputar walisongo seperti makam Pangeran Haryo Penangsang, Empu Supo, dan lain sebagainya. Adapun makam Sunan Kalijaga, sebagaimana makam walisongo pada umumnya berada dalam bangunan tungkup berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir.

Pusara Pangeran Haryo Penangsang
Pusara Empu Supo dan Jaka Suro

Beberapa peziarah minum dari gentong peninggalan Sunan Kalijaga





Hari itu tak banyak peziarah, namun cukup ramai. Di sisi utara makam, terdapat gentong peninggalan Sunan Kalijaga. Sesuai di papan informasi yang ada disebutkan, terdapat dua gentong peninggalan Sunan Kalijaga, yakni padasan (tempat air wudlu) dan pedaringan (tempat menyimpan beras). Di 2 gentong itu disajikan air yang dituangkan dalam gelas-gelas sebagai minum para peziarah.

Airnya diambil dari sungai yang berjarak sekira 300 meter dari lokasi makam, kemudian diendapkan di bak penampungan, lalu disalurkan ke dalam gentong lewat mesin filter untuk disterilisasi agar layak minum.

Ohya, sebelum sampai ke lokasi makam Sunan kalijaga, kita akan menjumpai sebuah batu yang dikelilingi tembok pendek. Di dinding sebelah utara bertuliskan “Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga”. Ya, selo atau batu itulah yang konon digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai tempat duduk saat memberi taushiyah atau wejangan kepada para muridnya.

Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga
Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga

Sebenarnya masih ada lagi situs peninggalan Sunan Kalijaga, yakni sebuah sumur yang terletak sekira 200 meter di timur kompleks maka Sunan Kalijaga, tepatnya terletak di belakang salah satu keturunan Sunan Kalijaga. Sumur itu dulu digunakan untuk berwudlu. Namun saya tidak sempat ke situ untuk menjepretnya, karena harus segera pulang.

Ohya mohon maaf bila foto-foto yang saya sajikan di posting kali ini kualitasnya tidak cukup bagus karena saya hanya bisa menjepretnya dengan kamera hape. Namun mudah-mudahan informasi ini tetap bermanfaat bagi para pecinta wisata religi yang belum pernah dan ingin berwisata ziarah ke makam Sunan Kalijaga.

Setelah beli oleh-oleh secukupnya, kami pun pulang.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)

0




Sebagai moyang yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa, penghormatan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta.

Makam Ki Ageng Selo sendiri berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kurang lebih 12 kilo meter dari Kota Purwodadi ke arah Blora. Setelah sampai perempatan Ngantru, ambil arah ke selatan sekitar tiga kilometer. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama di malam Jumat.

Baca sebelumnya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

Menyusuri Jejak Ki Ageng Selo

Bila kita berziarah ke makam Ki Ageng Selo, maka kita bisa menyusuri jejak-jejak Ki Ageng Selo di kompleks makam dan sekitarnya. Apa saja? Sebagai berikut:

1. Masjid Ki Ageng Selo

Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah timur makam Ki Ageng Selo. Belum diketahui pasti kapan masjid ini didirikan, namun masyarakat meyakini masjid ini berdiri sekitar abad ke-17. Bangunan masjid masih mencirikan bangunan kuno dengan corak joglo, yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu dan masih asli.

Masjid Ki Ageng Selo yang sebagian besar terbuat dari kayu dan masih asli

Informasi yang saya saya peroleh menyebutkan, masjid ini pernah mengalami pemugaran besar-besaran pada tahun 1885. Pemugaran dilakukan oleh Pakubuwono X. Dalam pemugaran tersebut, serambi masjid mengalami penambahan luas sekitar dua meter dari bangunan utama. Juga bagian mihrab mengalami perombakan.



Adapun bedug peninggalan Ki Ageng Selo hingga saat ini masih terjaga keasliannya. Bedug terbuat dari kayu opo-opo. Menurut cerita, satu batang kayu opo-opo dipotong menjadi dua. Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug Masjid Ki Ageng Selo. Potongan lainnya digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak. Jadi bedug yang berada di Masjid Ki Ageng Selo dan di Masjid Agung Demak sama alias kembar.

2. Pohon Gandri

Pohon gandri (bridelia monoica) atau sebagian lainnya menyebut “pohon gandrik” diyakini merupakan pohon tempat mengikat petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Pohon itu bisa dijumpai di kompleks makam Ki Ageng Selo.

Pohon gandri, konon dijadikan tempat mengikat petir oleh Ki Ageng Selo
Papan informasi yang disematkan pengelola di pohon Gandri

3. Almari Api Petir

Almari api petir terdapat di sebelah utara makam Ki Ageng Selo. Di dalamnya terdapat pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Dalam sebuah karya ilmiah berjudul Potensi Makam Ki Ageng Selo Sebagai Destinasi Wisata Religi di Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan karya Riza Shirotul ‘Ibad disebutkan bahwa almari itu dibuka pada saat ada ritual pengambilan api pada bulan Muharram dan Maulud oleh rombongan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seorang peziarah sedang berpose di samping almari petir

4. Sawah Udreg

Disebut sawah udreg karena dulu merupakan tempat Ki Ageng Selo udreg-udregan atau bergelut melawan petir. Demikian informasi yang saya peroleh dari T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir.

Sawah itu sering juga disebut dengan nama sawah mendung, mungkin karena saat menangkap petir itu langit sedang dalam keadaan mendung. Sawah itu terletak di sebelah barat makam Ki Ageng Selo berjarak sekira 200 meter.

Larangan Ki Ageng Selo

Selain jejak-jejak yang bisa kita susuri saat berziarah ke makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, kita juga bisa memperoleh informasi terkait dengan larangan-larangan dan pepali dari Ki Ageng Selo yang hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Setidaknya ada dua larangan:

1. Larangan jualan nasi

Maka, jangan pernah mencari kuliner nasi di sekitaran kompleks makan Ki Ageng Selo dan pedukuhan Selo Panjimatan secara umum, karena tidak akan pernah dijumpai. Sejak turun-temurun, mitos larangan menjual nasi dari Ki Ageng Selo itu begitu dihormati oleh masyarakat setempat hingga sekarang.



Asal usul larangan ini konon bermula suatu hari saat Ki Ageng Selo kedatangan tamu. Seperti biasa, sang tamu disambut ramah oleh Ki Ageng Selo. Juga disambut dengan jamuan makan sebagaimana umumnya menghormati tamu.

Telah terhidang aneka makanan di meja. Namun betapa kagetnya Ki Ageng Selo ketika mengajak tamunya makan, tamunya menolak dengan halus. Rupanya sang tamu sudah makan di warung yang tak jauh dari kediaman Ki Ageng Selo. Kecewalah hati Ki Ageng Selo.

Dari sinilah kemudian muncul piweling atau larangan dari Ki Ageng Selo tentang larangan menjual nasi. Hingga sekarang, larangan itu masih dipatuhi oleh masyarakat setempat.

2. Larangan Menanam Walu di Depan Rumah

Warga juga dilarang oleh Ki Ageng Selo menanam waluh di pekarangan depan rumah. Waluh adalah tanaman merambat yang menghasilkan buah cukup besar berwarna orange. Ikhwal pelarangan ini pun terdapat asal usulnya.

Syahdan, suatu hari, Ki Ageng Selo sedang menggendong anaknya di halaman rumahnya yang ditanami waluh. Tiba-tiba datanglah orang yang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuh, tapi Ki Ageng Selo jatuh telentang karena kesrimpet atau kesandung batang wuluh. Tidak hanya jatuh, tapi kain yang dipakai Ki Ageng Selo lepas sehingga membuat auratnya terbuka.

Insiden itulah yang menjadikan Ki Ageng Selo kemudian melarang menanam waluh di pekarangan depan rumah. Larangan ini pun hingga saat ini dihormati oleh masyarakat setempat.

Pepali Ki Ageng Selo

Berpose di depan gerbang pintu masuk menuju makam Ki Ageng Selo

Di samping larangan, Ki Ageng Selo juga meninggalkan pepali yang berisi ajaran luhur, tidak saja tentang akhlak mulia atau budi pekerti, tetapi juga mengandung pelajaran ilmu agama Islam yang terdiri dari 4 bagian, meliputi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

Pepali itu disusun dalam bentuk lagu dan syair: Dhandanggula. Salinan lengkap pepali Ki Ageng Selo dalam Bahasa Indonesia telah disusun oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo dalam bukunya yang berjudul Pepali Ki Ageng Selo.

Pepali sendiri berarti ajaran, petunjuk, atau aturan. Ada juga yang mengartikannya sebagai pedoman hidup.

Pepali dalam lagu dan syair yang berbentuk Dhandhanggula itu ditulis sendiri oleh Ki Ageng Selo sesuai dengan pakemyang berlaku dalam lagu dan syair Dhandhanggula dan semuanya berjumlah 17 bait. Jumlah baris tiap-tiap baitnya ada sepuluh. Suara akhir masing-masing baris adalah: i, a, e, u, i, a, u, a, i, a. Adapun jumlah suku kata masing-masing baris adalah: 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7.

Pepali-ku ajinen mbrekati,

Tur selamet sarta kawarasan,

Pepali iku mangkene,

Aja agawe angkuh,

Aja ladak lan jail,

Aja ati serakah,

Lan aja celimut,

Lan aja mburu aleman,

Aja ladak, wong ladak pan gelis mati,

Lan aja ati giwa.

 

Artinya:

“Pepali”-ku hargailah (supaya memberkahi,

Lagi pula selamat, serta sehat

Pepali itu seperti berikut:

Jangan berbuat angkuh,

Jangan bengis dan jangan jahil,

Jangan hati serakah (tamak, loba),

Dan jangan panjang tangan;

Jangan memburu pujian,

Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati,

Dan jangan cenderung ke kiri.

Inilah pepali Ki Ageng Selo yang pertama dalam lagu dan bentuk syair Dhandhanggula. Dari cuplikan pepali di atas, kita bisa segera tahu, betapa adiluhungnya ajaran dan wasiat dari Ki Ageng Selo yang justru seringkali terabaikan, tenggelam oleh mitos dan mistis yang dinisbatkan kepada sosok Ki Ageng Selo yang lebih mendominasi dan populer.



Pepali Ki Ageng Selo lengkap bisa dibaca di buku berjudul Pepali Ki Ageng Selo yang ditulis oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo yang diterbitkan oleh CV. Citra Jaya Surabaya, Cetakan pertama tahun 1980. Atau buku berjudul Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela karya Dhanu Priyo Prabowo yang diterbitkan oleh penerbit Narasi, Yogyakarta, Cetakan pertama, tahun 2004.

Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, selesai).

 



Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

0




Kabupaten Grobogan memang kaya potensi wisata, baik wisata alam, sejarah, maupun religi. Makam Ki Ageng Selo salah satunya. Makam sosok masa silam yang legendaris ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang sangat populer di Kabupaten Grobogan. Sosoknya lekat dengan legenda penangkapan petir.

Dalam sebuah sarasehan tentang wisata yang saya ikuti, yang dihelat oleh InBound Tourism Community (IBTC) Jawa Tengah di Kyriad Grand Master Hotel Purwodadi beberapa waktu lalu, mencuat ide menjadikan Grobogan sebagai “Kota Legenda”. Mengingat bahwa di Kabupaten Grobogan memang banyak dijumpai legenda besar yang bereputasi nasional, seperti legenda Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar di Desa Banjarejo (Kecamatan Gabus), legenda Jaka Linglung dan Bajul Putih yang konon menjadi asal usul wisata Bledug Kuwu di Desa Kuwu (Kecamatan Kradenan), legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari di Desa Tarub (Kecamatan Tawangharjo), termasuk juga legenda Ki Ageng Selo dan penangkapan petir, dan masih banyak lagi.

Jauh sebelum  ide itu mencuat, saya sudah menulis tentang “Kota Legenda” ini di sebuah surat kabar lokal Jawa Tengah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, potensi legenda yang begitu besar itu, sejauh ini belum dikelola secara baik sebagai salah satu daya tarik wisata yang bisa dioptimalkan. Sehingga kemudian, selain bisa meningkatkan pendapatan asli daerah atau PAD, juga bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar.

Selayang Pandang Ki Ageng Selo

Makam Ki Ageng Selo salah satu destinasi wisata potensial itu. Meski sangat populer, tapi belum menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah. Sejauh ini makam Ki Ageng Selo baru menjadi destinasi para peziarah yang ingin ngalap berkah.

Siapakah sosok Ki Ageng Selo? Berbicara mengenai sosok para wali, seperti Walisongo dan para muridnya, sepertinya lebih banyak aroma mitos dan mistisnya daripada aspek kesejarahannya. Padahal, dari sosok tokoh sejarah dan legenda seperti Ki Ageng Selo, bisa digali kearifan hidupnya yang adiluhung dan bisa dijadikan paugeran (patokan, peraturan). Wikipedia bahkan menulis, kisah hidupnya pada umumnya bersifat legenda, menurut naskah-naskah babad.

Gapura menuju makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Penawangan

Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo (Pustaka Imam Bonjol, 2017) menyebutkan, menurut Babad Tanah Jawa, Ki Ageng Selo adalah salah seorang murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram.



Menurut Dhanu Priyo Prabowo dalam bukunya Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela (Penerbit Narasi, 2004) disebutkan, Ki Ageng Selo hidup di zaman pemerintahan Kerajaan Demak terakhir. Pada masa itu, Kerajaan Demak di bawah kekuasaan Kanjeng Sultan Trenggono (1521-1545 Masehi).

Nama kecil Ki Ageng Selo adalah Bagus Sogum. Setelah dewasa dan sepuh, beliau dipanggil Kiai Abdulrahman. Kemudian lebih dikenal dengan Ki Ageng Selo karena ia tinggal di Desa Selo (saat ini masuk wilayah Kecamatan Tawangharo, Kabupaten Grobogan).

Menurut sejarah, Ki Ageng Selo masih memiliki alur darah dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Selain itu, Ki Ageng Selo juga masih memiliki alur saudara dengan Sultan Trenggano di Demak.

Menurut sebuah literatur, antara Ki Ageng Selo dengan Sultan Trenggono diikat oleh tali persaudaraan, yakni kadang nak-sanak tunggal eyang (saudara sepupu satu nenek). Hal ini terjadi karena  Sultan Trenggono terhitung cucu dari Prabu Brawijaya V, demikian juga Ki Ageng Selo (dalam literatur lain Ki Ageng Selo adalah cicit Prabu Brawijaya V). Keduanya hidup dalam satu zaman.

Ihwal Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram, dapat dijelaskan sebagai berikut. Adalah cucu Ki Ageng Selo bernama Ki Ageng Pemanahan memiliki anak bernama Sutawijaya, yang kemudian bergelar Senopati. Sutawijaya seperti diketahui adalah Raja Mataram yang sangat masyhur.

Sri Sultan Hamengkubuwono IV tercatat juga masih keturunan Ki Ageng Selo. Bahkan, menurut silsilah yang ada, Ibu Tien Soeharto (istri Presiden Soeharto) juga masih keturunan Ki Ageng Selo, yaitu keturunan yang ke-17.

Selama hidupnya, Ki Ageng Selo dikenal sebagai salah seorang wali yang cendekia dan juga mumpuni di bidang karawitan, seni lukis dan ukir. Ki Ageng Selo-lah pembuat Pintu Bledheg di Masjid Agung Demak, yang kini pintu aslinya masih dapat  kita jumpai di Museum Masjid Agung Demak.

Infonya bisa dibaca di artikel: Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

Legenda Menangkap Petir

Salah satu mitos legenda yang dinisbatkan kepada Ki Ageng Selo adalah perihal kesaktiannya yang sangat luar biasa, yakni dapat menangkap petir dengan tangan kosong.

Ki Ageng Selo Menangkap Petir, sebuah buku yang mengungkap sosok Ki Ageng Selo, terbit tahun 1983

Dalam legenda diceritakan, syahdan, saat sedang asyik bekerja mencangkul di sawahnya yang terbentang luas, mendadak cuaca menjadi mendung. Dalam waktu singkat, petir atau bledheg datang menyambar-nyambar di atas kepalanya.



Sudah berulangkali Ki Ageng Selo mengucapkan kata-kata Subhanallah (Maha Suci Allah), tetapi petir masih kurang ajar. Bahkan hendak menyambar kepala Ki Ageng Selo. Apa boleh buat. Ketika petir hendak menyambar lagi, terpaksalah kemudian petir itu ditangkapnya.

Setelah ditangkap, petir dicancang atau diikat di sebatang pohon bernama pohon Gandri.

Sampai saat ini, dalam lingkup tertentu masih terjadi perdebatan, apakah legenda penangkapan petir oleh Ki Ageng Selo itu fakta atau hanya mitos belaka. Karena penangkapan petir tentu bertentangan dengan realitas ilmiah. Saya sendiri tentunya lebih sepakat dengan yang berpendapat kisah itu sebagai pesan simbolik yang umum terdapat dalam sebuah legenda atau cerita rakyat.

Terlepas dari itu, T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir (Yayasan Parikesit Surakarta, 1983) menyatakan bahwa takhayul atau keanehan yang tidak masuk akal itu hanya semata-mata sebagai bumbu ramuan penyedap masakan.* (Kang Asti, bersambung)

Baca kelanjutannya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)




Sate Buntel Tambak Segaran, Kuliner Khas Solo yang Legendaris Sejak Tahun 1948

0




Sate buntel. Permata kuliner nusantara khas Solo. Tidak seperti sate pada umumnya, sate buntel terbuat dari cincangan halus daging kambing yang dibumbui dan dibungkus lemak jala. Sate buntel Tambak Segaran adalah salah satu pelopor sate buntel di Solo. Karenanya layak disebut sebagai legendaris.

Hari itu, saya ikut mendampingi rombongan wisata edukatif sekolah yang saya kelola ke Taman Satwa Taru Jurug Solo dan Agrowisata Sondokoro Karanganyar. Sorenya, setelah mengunjungi kedua destinasi wisata tersebut, kami pulang lewat Solo. Bus berhenti dan parkir di pelataran Benteng Vastenburg. Agendanya kali ini adalah berburu oleh-oleh.

Namun saya lebih memilih berburu kuliner. Sate buntel Tambak Segaran akhirnya yang menjadi target kali ini. Sebelumnya, saat berkesempatan berada di Solo, saya telah mencicipi sate buntel Mbok Galak di Jl. Mangun Sarkoro 122 Sumber, Banjarsari, Solo. Kali ini saya tertarik untuk mencicipi sate buntel asli versi Tambak Segaran yang juga populer dan legendaris.

Baca: Ternyata Sate Buntel Mbok Galak Memang Enak

Naik Gojek Gratis

Lagi-lagi, saya diuntungkan dengan keberadaan ojek online. Saya cukup order via hp, mas driver Gojek sudah menghampiri saya.  Dan menurut informasi yang saya baca di layar hp saya, tercantum gratis alias tak ada nominal yang perlu saya bayar untuk order kali ini. Benarkah? Nanti deh saya tanya mas-nya.

Dengan ramah, mas driver segera membawa saya ke Warung Sate Kambing Asli Tambak Segaran yang beralamat di Jl. Tambaksegaran 39 (Jl. Sutan Syahrir 149) Solo. Hanya butuh waktu tempuh sekitar 10 menit, kami sudah tiba di depan warung yang saya tuju. Rupanya, mas driver sudah tahu keberadaan warung ini yang memang sudah sangat populer di Solo. Saya pun segera turun dari motor dan ketika

Dan ketika saya tanyakan tentang biaya ojeknya, masnya bilang gratis, karena sedang ada promo. Alhamdulillah, rejeki anak saleh haha…

Satenya Empuk dan Lembut

Saya segera masuk ke warung dan memesan seporsi sate buntel yang saya inginkan. Karena proses pembakaran sate ada di luar, jadi saya bisa melihat dan menjepret proses pembakaran sate buntelnya. Termasuk menjepret penampakan sate buntel sebelum dibakar.

Penampakan sate buntel sebelum dibakar
Proses pembakaran sate

Masnya sedang membakar sate




Tak berapa lama kemudian, seporsi sate buntel dan es beras kencur telah terhidang di hadapan saya. Sate buntel Tambak Segaran ternyata berbeda cara menyajikannya, yakni dengan melucuti tusuk sate dari satenya. Sehingga bagi yang tidak tahu prosesnya, maka akan merasa aneh, kok sajian begitu disebut sate hahaha…

Tapi karena saya sudah tahu sejak awal, saya pun tak merasa aneh. Yang ada hanyalah keinginan untuk segera melahap sajian menggoda di depan saya hahaha…

Sate buntel asli Tambak Segaran
Seporsi sate buntel plus segelas es beras kencur

Sate buntel Tambak Segaran lemaknya sedikit alot, begitu yang saya rasakan. Tapi, dalamnya yang berupa cincangan daging kambing berbumbu tetap lembut dan berasa. Dinikmati dengan kecap dan irisan bawang merah dan sambal, rasanya nikmat dan mak nyus.

Sate Buntel Favorit Pak Bondan

Informasi yang saya peroleh, sate buntel Tambak Segaran telah dirintis sejak tahun 1948 oleh Liem Hwa Yoe, seorang keturunan Tionghoa. Sejak dulu, ia memang telah berjualan di Jalan Tambak Segaran Solo, sehingga sate buntelnya dikenal dengan nama sate buntel Tambaksegaran.

Warung Sate Kambing Asli Tambak Segaran yang beralamat di Jl. Tambaksegaran 39 (Jl. Sutan Syahrir 149) Solo.

Sejak tahun 1987, sate buntel Tambak Segaran sudah membuka cabang di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso 192 serta di Jalan Kaliurang KM 9.

Sate buntel asli Tambak Segaran ini adalah sate buntel favorit mendiang Pak Bondan Winarno, pakar kuliner yang mempopulerkan kata “Mak Nyus”. Di Solo, warung sederhana ini juga membuka cabang, yakni di Jl. Moh. Yamin 61, Solo.

Bila sedang di Solo, bolehlah mampir ke warung ini dan mencicipi kuliner legendaris yang telah ada sejak tahun 1948. Warung sate kambing asli Tambaksegaran buka mulai jam 12.00 hingga jam 22.00 WIB.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

 



Mencicipi Tengkleng Bu Edi, Kuliner Legendaris Solo yang Digemari SBY Hingga Jokowi

0
Tengkleng Klewer Bu Edi




Solo, salah satu kota budaya di Indonesia, ternyata menyimpan khasanah kuliner khas yang cukup kaya. Salah satunya yang populer adalah tengkleng. Dan tengkleng Bu Edi salah satunya, yang menyuguhkan tengkleng bercita rasa juara.

Siang itu, selepas keperluan survei di Solo untuk kepentingan lembaga pendidikan yang kami kelola, istri saya menghendaki mampir di PGS (Pusat Grosir Solo). Ketimbang hanya nunggu di parkiran, saya memilih jalan-jalan bersama mas sopir, berburu kuliner khas Solo. Kebetulan, belum makan siang dan perut sudah keroncongan.

Berburu Tengkleng

Warung tengkleng Bu Edi akhirnya yang menjadi target saya. Tengkleng adalah salah satu sajian kuliner khas Solo yang cukup populer.  Tengkleng adalah sejenis gulai encer yang kebanyakan dimasak tanpa santan, meskipun ada yang membubuhkan sedikit santan. Tengkleng mirip soto atau sup, tetapi kuahnya lebih kaya bumbu.

Penyajian tengkleng Bu Edi masih mempertahankan cara tradisional dengan cara dipincuk dengan daun pisang

Bahan utama tengkleng adalah tetelan kambing seperti iga, kaki, dan seluruh bagian kepala.  Sejarah tengkleng, menurut sejumlah tetua di Solo, konon terkait dengan perekonomian dan daya beli masyarakat pribumi tempo dulu. Ketika itu daging kambing hampir secara eksklusif hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan dan orang-orang Belanda.

Penduduk yang berekonomi lemah dan juru masak para bangsawan dan orang-orang Belanda, hanya bisa menikmati sisa dari daging seperti kepala, kaki, dan tulang. Maka, kondisi itulah yang kemudian memantik  para juru masak pada waktu itu untuk memutar akal dan berkreasi memanfaatkan tetelan yang tersisa agar tetap bisa dikonsumsi. Maka, dimasaklah tulang-tulang itu, yang tentunya masih menempel sedikit daging, dan menjadi sajian tengkleng seperti sekarang ini.



Saat ini tengkleng versi rakyat masih menampilkan tetelan. Tetapi karena sajian tengkleng dengan bumbunya yang mencuatkan cita rasa khas dan lezat, menjadikan sajian ini kian digemari masyarakat kelas menengah ke atas. Sehingga tengkleng dengan bagian-bagian yang lebih berdaging mulai dijumpai.

Tengkleng Bu Edi

Dan menyebut kuliner tengkleng di Solo, maka salah satu warung tengkleng dengan cita rasa juara ya tengkleng Bu Edi. Saya mengetahui tengkleng Bu Edi dari bukunya Pak Bondan Winarno (mendiang) yang berjudul 100 Mak Nyus Makanan Tradisonal Indonesia terbitan penerbit Kompas.  Di situ disebutkan, Tengkleng Bu Edi adalah salah satu ‘juara’ tengkleng di Solo. Dalam arti tengkleng bercita rasa enak dan recommended di antara lainnya.

Tengkleng Klewer Bu Edi, pindah dari gapura Pasar Klewer ke komplek parkir selatan Masjid Agung Solo

Dari informasi yang saya peroleh, tengkleng Bu Edi setiap siang sekitar jam 12.00 atau jam 13.00 Wib mulai mangkal di gapura Pasar Klewer, Solo. Tapi ketika sampai ke situ, ternyata sudah tidak ada lagi. Bertanyalah saya ke orang-orang sekitar. Diberitahu, ternyata, sudah pindah sejak terjadi kebakaran Pasar Klewer pada akhir tahun 2014 lalu. Beruntungnya, pindahnya tak jauh dari lokasi tersebut, yakni di lahan parkir selatan Masjid Agung Solo. Saya pun segera meluncur ke situ.

Sejarang yang Panjang

Tak hanya legendaris, tengkleng Bu Edi memang menggoda selera

Tengkleng Bu Edi boleh dikata termasuk tengkleng legendaris di Solo. Sudah mulai dirintis oleh nenek Bu Edi sejak tahun 1971. Ketika itu belum mangkal, tapi tengkleng dijajakan keliling Pasar Klewer.

Setelah sekian lama berjualan keliling, akhirnya pada tahun 1980-an, nenek Bu Edi memilih mangkal di gapura Pasar Klewer hingga membuat sajian tengklengnya sangat populer dan dikenal dengan nama Tengkleng Klewer. Popularitas itu bisa dibuktikan dengan pelanggannya yang sangat bejibun, baik dari lokal Solo hingga pendatang dari berbagai daerah. Takluput banyak pejabat yang menggemari tengklengnya.



Saat ini tengkleng Bu Edi sudah memasuki generasi keempat. Bu Edi yang bernama lengkap Ediyem merupakan generasi ketiga meninggal pada hari Senin (14/12/2015) pada usia 66 tahun. Bu Edi meninggal setelah menjalani perawatan karena penyakit hipertensi yang dideritanya di Rumah Sakit Dr. Oen Kandangsapi, Senin sekitar pukul 03.45 WIB.

Sepeninggal Bu Edi, kemudia usaha tengkleng yang telah melegenda itu dipegang oleh anak pertamanya yang bernama Sulistri atau biasa dipanggil Mbak Tri.

Digemari SBY hingga Jokowi

Tengkleng Klewer Bu Edi memang menyuguhkan cita rasa berbeda dibanding racikan tengkleng lainnya. Lebih lezat dan mak nyus. Apalagi ditambah dengan model penyajian pincuk, yang menambah cita rasa kenikmatannya.

Pantaslah bila tengkleng Bu Edi sangat digemari. Tidak hanya masyarakat biasa, tapi hingga pejabat negara. Tercatat nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pelanggan tengkleng Bu Edi. Saat Pak Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo, pihaknya sering diminta mengantar atau memasak tengkleng di rumah dinas walikota Solo, Loji Gandrung.

Saat Pak Jokowi sudah jadi presiden, pihaknya juga diminta mengantar ke Jakarta tempat Pak Jokowi berdinas, yakni saat Idul Fitri. Bahkan, saat pernikahan putra pertamanya, Gibran Rakabuming Raka beberapa waktu lalu,  Bu Edi juga didapuk untuk menyediakan hidangan tengkleng di acara resepsi.

Selain Pak Jokowi, tercatat juga nama mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.  Menurut informasi yang saya peroleh, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) open house lebaran seringkali mengundang Bu Edi untuk menyajikan menu khas Solo itu.

Tak hanya Pak Jokowi dan SBY, tercatat Pak Wiranto (Menkopolhukam saat ini) dan Pak Harmoko (Menteri Penerangan di Era Orde Baru) juga menggemari tengkleng Bu Edi, serta pejabat-pejabat lainnya.

Paduan Kelezatan dan Penyajian

Mbak Tri sedang melayani pembeli

Saya beruntung bisa ikut mencicipi tengkleng Bu Edi yang digemari dan legendaris. Siang itu, saat saya ke situ ditemani mas sopir, warung Bu Edi sangat ramai, apalagi karena memang jam makan siang.  Saya segera pesan, dan tak lama kemudian sepincuk tengkleng sudah berada di tangan saya.

Kelezatan cita rasa yang dipadu dengan model penyajian yang tetap mempertahankan orisinalitasnya (sejak kehadiran pertamanya tempo dulu), memang mencuatkan sensasi kenikmatan tersendiri. Dan saya sudah membuktikannya di Warung Tengkleng almarhum Bu Edi, yang kini diteruskan oleh anaknya, Mbak Tri.

Bila sedang di Solo, bolehlah mampir di warung ini, menikmati tengkleng Bu Edi yang legendaris dan digemari. * (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

 

 

Artikel Populer

Artikel Favorit

Resep Membuat Roti Ganjel Rel Khas Semarang

Resep Cara Membuat Roti Ganjel Rel Khas Semarang

Semarang tidak hanya kondang dengan oleh-oleh khasnya seperti lunpia dan wingko babat, namun ada satu oleh-oleh khas Semarang yang begitu unik sekaligus ikonik, yaitu...
error: Content is protected !!