Sega Pecel Gambringan, Kuliner Khas Grobogan yang Melegenda dan Penuh Memorabilia

0
Sega Pecel Gambringan



William Wongso, sebagaimana dikutip Bondan Winarno dalam kata pengantarnya di buku 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia,  berpendapat bahwa sebetulnya kuliner Indonesia tidak pernah eksis. Yang ada adalah kumpulan kuliner daerah yang dipersatukan dalam kebinekaan Indonesia. Kuliner tradisional bukan saja bersifat provinsial, tapi bahkan sudah bersifat terroir (karakterisitik lokal).

Kiranya William Wingso benar. Kuliner Indonesia memang kumpulan kuliner daerah, yang kebanyakan sangat lokalistik sifatnya. Salah satu contohnya adalah kuliner nasi atau sega pecel yang ada di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Bila Madiun populer dengan kuliner pecelnya yang khas, bahkan djuluki ‘Kota Seribu Pecel’, Kabupaten Grobogan juga punya kuliner pecel yang khas, bahkan melegenda, dan juga tak kalah populer.

Sega Pecel Gambringan, begitu kuliner nasi pecel legendaris asal Kabupaten Grobogan itu disebut. Oleh warga Grobogan biasa disingkat dengan SPG. Nama Gambringan sendiri diambil dari tempat asal kuliner ini, yang memang sejak dulu banyak dijajakan di Stasiun Gambringan yang terletak di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh.

Sejak tahun 1940-an, banyak penjual sega pecel Gambringan ditemui menjajakan dagangannya di stasiun atau di atas gerbong kereta api. Namun sejak tahun 2012, peraturan PT KAI tidak lagi membolehkan penjual makanan dan minuman menjajakan dagangannya di atas gerbong atau di dalam stasiun. Akibatnya, banyak pedagang sega pecel Gambringan berjualan ke luar stasiun, meski di antara mereka juga ada yang bertahan berjualan di sekitar stasiun Gambringan.

Foto lawas yang menggambarkan para penjaja sega pecel gambringan di sekira tahun 1970-an (Sumber: koleksi foto Stasiun Gambringan)

Foto lawas yang menggambarkan suasana sedang menikmati sega pecel di kompleks Stasiun Gambringan sekira tahun 1970-an (Sumber: koleksi foto Stasiun Gambringan)




Peraturan PT KAI itu, di satu sisi memang menjadikan para penjual sega pecel Gambringan kelabakan, karena harus mencari tempat baru untuk menjajakan dagangannya. Namun, di sisi lain, sega pecel Gambringan kini bermetamorfosis menjadi kuliner legendaris yang penuh memorabilia. Ia diburu oleh para pelanggannya yang dulu sering menikmatinya di atas gerbong kereta api.

Kenangan menikmati sega pecel Gambringan di dalam kompleks stasiun atau di atas gerbong kereta api membuncahkan kerinduan tersendiri. Bahkan, mereka yang tak pernah mencicipi kuliner ini di atas gerbong kereta api pun, penasaran dengan kuliner ini. Mereka juga ingin mencicipi kuliner khas yang melegenda dan penuh memorabilia itu.

Niat ingin napak tilas dan melihat eksistensi sega pecel Gambringan langsung ke tempat di mana kuliner ini berasal, membuat  saya bertandang ke Stasiun Gambringan pada Senin (13/2/2017). Saya ditemui Pak Supriyanto, pengatur perjalanan kereta api (PPKA) di stasiun tersebut. Pak Supriyanto banyak bercerita tentang sega pecel Gambringan, yang menurutnya, sangat istimewa. Selain enak dan khas, sega pecel Gambringan juga memiliki sisi historis yang tak bisa dilepaskan dari stasiun Gambringan dan kereta api.

Berpose di Stasiun Gambringan
Borpose di depan kantor Stasiun Gambringan

Berbincang dengan Pak Supriyanto, PPKA di Stasiun Gambringan




Menurut pria asal Rembang itu, kekuatan sega pecel Gambringan terletak pada sambalnya yang enak, sedep, dan pedas namun khas, lain daripada yang lain. Tidak terlalu manis, bahkan cenderung asin, namun proporsi asin-manisnya pas. “Sulit saya menemukan cita rasa pecel yang sedap seperti ini,” tuturnya.

Hal itu di amini oleh Mbak Sopik, penjual sega pecel Gambringan, yang buka lapak di daerah Gendingan, tak jauh dari Stasiun Gambringan. Menurutnya, sambal pecel Gambringan dibuat tanpa penyedap rasa. Cita rasanya murni dari bumbu rempah meliputi kencur, bawang, dan daun jeruk, yang dipadu dengan kacang tanah goreng dan gula merah.

“Kacang dan gula merah paduannya harus pas agar bisa membuahkan cita rasa yang sedep namun tidak terlalu manis,” tutur Mbak Sopik.

Lapak Mbak Sopik, penjual sega pecel Gambringan generasi ketiga…
Disajikan dengan pincuk daun pisang

Cita rasanya khas, sedep, dan nyamleng…





Adapun sayurannya, menurut Mbak Sopik, yang khas dari sega pecel Gambringan adalah bunga turi dan daun pepaya, dipadu dengan kecambah. Cara penyajiannya juga khas, yakni dengan pincuk daun pisang dengan sendoknya yang juga terbuat dari daun pisang yang lazim disebut suru. Penyajian seperti itu menambah cita rasanya makin sedep dan nyamleng.

“Meski saat ini tak sedikit penjual sega pecel Gambringan yang menyuguhkan dengan piring dan sendok, tapi saya sendiri tetap menjaga penyuguhan yang otentik, yakni secara tradisional menggunakan pincuk daun pisang yang sudah turun-temurun,” tuturnya.

Mbak Sopik merupakan generasi ketiga penjual sega pecel Gambringan. Ia meneruskan usaha neneknya yang juga penjual sega pecel Gambringan di sekira tahun 1970-an.

Saat ini, ada sekira 50-an warga sekitar stasiun Gambringan yang masih bertahan berjualan sega pecel Gambringan. Ia berharap, sega pecel Gambringan terus eksis, karena kuliner ini khas, unik,  dan sudah melegenda serta memiliki sejarah yang bertaut dengan sejarah perkeretaapian Indonesia. Sehingga amat sayang bila tidak dilestraikan.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Resep Swike Mentok/Ayam (Khas Purwodadi, Grobogan)

0
Swike mentok...




Swike populer sebagai kuliner khas Purwodadi, Kabupaten Grobogan. Kuliner ini identik dengan daging kodok/katak. Tapi dalam perkembangannya, masakan swike seperti jenis menu masakan lainnya seperti opor, rawon, soto, bakso, dan sebagainya—resepnya sudah paten, namun komponen utamanya, yakni daging, bisa dikreasikan. Opor, misalnya. Dulu identik dengan ayam, tapi sekarang ada opor dengan komponen utama daging mentok. Jadilah opor mentok. Begitu seterusnya.

Swike juga seperti itu. Mengikuti perkembangan, kuliner swike bermetamorfosa menyesuaikan realitas sosiologis dan ideologis masyarakat. Sehingga bila ada swike mentok, swike ayam, dan lain sebagainya, menurut saya itu sah-sah saja. Berikut ini resep membuat swike mentok/ayam:

Bahan:

    • 500 gram daging mentok/ayam
    • 3 buah jahe, iris tebal ukuran 2 mm
    • 5 siung bawang putih, dimemarkan
    • 2 sendok makan tauco, dihaluskan
    • 3 sendok makan kecap manis
    • ½ sendok teh merica bubuk
    • 1 sendok teh gula pasir
    • 1 sendok teh garam
    • 3 sendok makan minyak
    • 2 batang seledri, iris kasar
    • 500 cc air




Cara:

  1. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan jahe hingga kuning, lalu tambahkan tauco, aduk rata.
  2. Masukkan daing bebek, kecap manis, dan merica bubuk, aduk rata, masak hingga daging matang dan empuk.
  3. Tambahkan air, aduk rata, kecilkan api, masak sekitar 30 menit.
  4. Tambahkan gula dan garam, aduk rata, angkat dari api, lalu taburi atasnya dengan seledri.
  5. Biasanya swike disajikan bersama-sama dengan jeruk nipis, kecap manis, dan cabe rawit.

Selamat mencoba!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Ayam Pencok, Kuliner Unik Khas Kuwu yang Nyaris Punah

1
Ayam Pencok, nyaris punah...



Indonesia diberkahi dengan kekayaan kuliner tradisional yang berlimpah. Beragam kuliner pusaka diwariskan oleh leluhur, dari generasi ke generasi, hingga kini. Tetapi, seiring waktu, pergulatan zaman yang ganas menggerus beberapa kuliner pusaka, hingga sebagian kuliner itu hampir sulit ditemukan, bahkan ada yang nyaris punah.

Di Kabupaten Grobogan ada sebuah kuliner pusaka yang kini sulit ditemukan, bahkan boleh dibilang nyaris punah. Kuliner itu bernama Ayam Pencok. Bila ditelesik, mungkin banyak warga Grobogan sendiri yang belum pernah mendengar kuliner unik khas Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan itu.

Rasanya gurih....
Ayam pencok. Rasanya gurih….

Sebuah informasi yang saya peroleh menyebutkan, kuliner ini dulu sekitar tahun 2000-an, masih dapat ditemukan dibuat oleh seorang warga setempat bernama Saminem. Untuk mendapatkan kuliner khas tersebut tidaklah mudah. Sebab, Saminem tidak membuka warung ayam pencok layaknya warung makan di pinggir jalan. Ya, Saminem hanya menerima pesanan. Meski demikian, kabarnya ayam pencok buatan Saminem sudah dikenal hingga ke Singapura, dan sering menerima pesanan dari “negeri seribu satu larangan” tersebut.

Awal bulan Oktober 2016 lalu, saya berusaha hunting kuliner khas ini ke Desa Kuwu. Informasi yang saya dapatkan, masih ada sebuah warung yang menjual kuliner ayam pencok tersebut. Warung itu bernama Warung Makan Mbak Dami. Ditemani mas Dian, sahabat saya yang tinggal di Banjarsari, Kecamatan Kradenan, saya berkunjung ke warung tersebut. Sayang, warungnya sedang tutup alias libur jualan.

Kurang lebih dua minggu kemudian, saya sms mas Dian untuk minta ditemani kembali berkunjung ke warung tersebut. “Siap pak, saya cek dulu, warung buka atau tidak” jawaban sms mas Dian yang masuk ke ponsel saya.



Beberapa saat kemudian, mas Dian mengabari, kalau warung, lagi-lagi tutup. Akhirnya, saya bilang ke mas Dian via sms, “Oke mas, tolong sewaktu-waktu cek ya, kalau pas warung buka, saya akan agendakan datang. Syukur bisa tanyakan terlebih dulu sehari sebelumnya. Trims”

Beberapa waktu kemudian, kabar buruk dari mas Dian saya terima. Ternyata, Warung Mbak Dami sekarang sudah tutup total alias tidak buka lagi. Lalu, saya pun menemui Pak Cantono, warga Kuwu yang selama ini rumahnya ditempati Warung Mbak Dami. Dari informasi yang saya peroleh dari Pak Cantono menyebutkan, Mbak Dami merintis warung yang menyediakan ayam pencok sejak sekitar tahun 2001. “Warung ini kemudian dikenal sebagai satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tuturnya.

Tahun 2015 Mbak Dami meninggal dunia, karena sakit yang dideritanya. Sejak meninggalnya Mbak Dami, kemudi warung mbak Dami diambil alih oleh adik kandungnya dan adik iparnya. Hingga kemudian, karena sesuatu hal, bulan Oktober 2016 lalu, warung akhirnya resmi ditutup.

Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami...
Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami…

WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok...
WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok…





Dengan ditutupnya Warung Mbak Dami, membuat kuliner ayam pencok ini tentu saja nyaris menuju kepunahannya. Beruntung, Warung Makan Mbak Sri Jago Muda yang beralamat di Jl. Honggokusuman No. 45 Kuwu, HP: 081326606771, menangkap peluang itu dan berinisiatif menambah menu di warungnya dengan ayam pencok. Sehingga sekarang, ayam pencok bisa dijumpai di warungnya. “Jadi, sekarang, warung saya satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tutur Mbak Sri kepada saya.

Salah satu yang menjadi keunikan ayam pencok adalah pada proses pembuatannya yang menguji kesabaran. Menurut Mbak Sri, proses pembuatannya adalah, ayam kampung yang sudah disembelih dibersihkan, lalu dicencem dengan bumbu uleg meliputi garam dan bawang putih. Lalu, dipanggang di atas bara api.

Memanggang ayam tersebut harus ekstra hati-hati, karena antara bara api dengan ayam diberi jarak sekitar 25 hingga 30 cm. Api pun dijaga agar tidak terlalu besar. Selain itu, saat memanggang tidak perlu dikipasi. Adapun durasi memanggang sekitar dua atau tiga jam, sehingga ayam akan matang sempurna.

Proses pemanggangan ayam pencok... (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)
Proses pemanggangan ayam pencok… (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)

Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya...
Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya…





Sembari menunggu ayam masak, disiapkanlah sambal pencok sebagai pendamping nanti saat menikmati ayam pencok. Sambel pencok terbuat dari kelapa muda yang diparut, dipadu cabai, terasi, bawang, dan kencur. Untuk menjaga agar sambal pencok tahan lama, maka paduan bahan tersebut dikukus terlebih dulu hingga masak. Setelah masak, ayam pencok pun siap dihidangkan.

Cita rasa ayam pecok begitu gurih, beda dengan ayam panggang pada umumnya. Dipadu dengan sambal pencok, ayam pencok terasa sangat lezat disantap. Di Warung Mbak Sri, seekor ayam pencok utuh dihargai Rp 90.000,-. Adapun paket hemat berupa sepiring nasi plus sepotong ayam pencok yang disuwir-suwir dan dicampur sambal pencok dihargai Rp 10.000,-.

Sebagai pecinta kuliner tradisional, saya tentu berharap kuliner khas dan unik ini tidak punah. Semoga ada lagi warung yang mau melirik menu ini untuk dijadikan menu spesial di warungnya; atau barangkali Pemerintah Kabupaten Grobogan tertarik untuk mengangkat kuliner-kuliner tradisional khas lokal yang nyaris punah tersebut agar terus eksis, misalnya dengan mengadakan festival kuliner, dan sebagainya. Semoga.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Nasi Jagung plus Sayur Lompong, Kuliner Ndeso yang Nikmatnya Begitu Menggoda

0
Seporsi nasi jagung dengan aneka kondimen yang menggoda...

Kabupaten Grobogan termasuk salah satu produsen jagung terbesar nasional. Tak heran bila di daerah ini mudah dijumpai berbagai olahan produk dari jagung. Di antaranya marning dan emping jagung yang sentranya ada di Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari. Selain itu, ada kuliner berbahan jagung yang ‘mengggoda’ untuk dinikmati, yakni nasi jagung plus pelengkapnya yang aduhai, antara lain gudangan dan sayur lompong.




Makanan ndeso yang menggugah selera...
Makanan ndeso yang menggugah selera…
Sayur lompong yang seger dan gurih...
Sayur lompong yang seger dan gurih…

Tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an, nasi jagung masih menjadi makanan utama sehari-hari sebagian besar warga Grobogan, terutama yang tinggal di pedesaan. Jadi, nasi jagung sebenarnya bukanlah makanan yang istimewa ketika itu.

Seiring perkembangan zaman, saat ini sudah mulai sulit ditemukan warga yang sehari-hari makan nasi jagung. Apalagi perkembangan teknologi dengan hadirnya rice cooker, sehingga menanak nasi (beras) menjadi semakin praktis. Beda dengan membuat nasi jagung yang agak ribet. Makanya, saat ini sulit menemukan nasi jagung di rumah-rumah warga. Peluang inilah yang nampaknya ditangkap oleh sejumlah pedagang. Sehingga saat ini mudah dijumpai warung-warung penjual nasi jagung.



Dari sekian warung nasi jagung di Grobogan, favorit saya bila siang hari adalah WM. Nasi Jagung Bu Lasmi yang mangkal di salah satu los Hutan Kota, Jl. Gajah Mada, Purwodadi (timur Polres Grobogan). Warung ini menyediakan kuliner nasi jagung yang, menurut saya, mantap abis. Menawarkan sensasi makan nasi jagung plus sayur lompong dipadu dengan bothok dan pepes pindang dengan tak lupa rempeyek dan sambalnya yang bikin ketagihan dan gobyos. Warung Bu Lasmi buka sekitar jam 11.00 WIB atau menjelang dhuhur sampai sore. Begitu buka, biasanya langsung diserbu pelanggannya.

Warung nasi jagung favorit saya di malam hari...
Warung nasi jagung favorit saya di malam hari…
Ada pepes pindang dan pepes gereh yang makin menggoda...
Ada pepes pindang dan pepes gereh yang makin menggoda…
Sate ampela hati ayam dan sate keong yang selalu ada...
Sate ampela hati ayam dan sate keong yang selalu ada…
Kombinasi yang bikin kangen...
Kombinasi yang bikin kangen…

Adapun kalau malam hari, warung nasi jagung favorit saya adalah WM. Sederhana Nasi Jagung Bu Puji. Warung ini dulunya mangkal di trotoar Alun-alun Purwodadi, tepatnya di sebelah utara kantor pos. Karena kawasan alun-alun masih dalam tahap renovasi, saat ini lokasi mangkalnya pindah sementara di kawasan lahan segitiga milik PT KAI di depan Hotel Kencana.

“Nanti kalau Alun-alun sudah selesai direnovasi, saya akan kembali mangkal lagi di Alun-alun, di tempat yang sudah disediakan. Tahun baru sepertinya sudah akan menempati lokasi baru,” tutur Bu Puji, pemilik WM. Sederhana Nasi Jagung Bu Puji, kepada saya.

Bu Puji menuturkan, ia mulai jualan nasi jagung sejak tahun 1999 atau sekitar 17 tahun yang lalu. Memilih jualan nasi jagung, mengingat ketika itu masih langka yang berjualan nasi jagung.

Lebih jauh Bu Puji menuturkan, warungnya sudah mempunyai banyak pelanggan. Tidak hanya orang Purwodadi saja, namun juga banyak pelanggannya yang datang dari luar kota seperti Pati, Kudus, Rembang, Blora dan Semarang. Bahkan pelanggannya juga banyak yang dari kalangan pejabat.



Di warung Bu Puji ini, Anda bisa menikmati seporsi nasi jagung dengan dilengkapi kondimen yang beraneka menggoda, meliputi sayur lompong yang seger dan gurih, gudangan yang sedap nan mantap, bothok dan rempeyek gereh yang aduhai, dan oseng lombok ijo yang pedes. Bila masih kurang, bisa ditambah sate ampela hati ayam dan sate keong yang selalu ada di warung ini. Minumnya, saya pilih teh poci yang segernya khas dan hangatnya terasa menjalar di sekujur tubuh.

Bila pingin sensasi yang beda, Anda bisa memesan nasi jagung goreng yang biasanya dilengkapi dengan irisan kol dan sebutir telur dadar.  WM. Sederhana Nasi Jagung Bu Puji buka mulai jam 5 sore, hingga jam 1 malam. Bila sedang ke Purwodadi di malam hari, bolehlah mencicipi kuliner ndeso namun menggoda ini. Monggo!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)



Lezatnya Swike Mentok, Babak Baru Kuliner Grobogan

0
Swike mentok, tak kalah lezat....

Bila menyebut kuliner Grobogan, maka yang terbayang adalah swike, yang identik dengan masakan berbahan utama daging katak atau kodok. Bertahun-tahun, swike tidak hanya ikonik sebagai kuliner khas Grobogan (biasanya disebut khas Purwodadi yang merupakan ibukotanya Grobogan), tapi juga hegemonik. Sehingga kuliner Grobogan seolah melulu hanya swike.



Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk....
Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk….
Disajikan dengan sepiring nasi putih...
Disajikan dengan sepiring nasi putih…

Harus diakui, swike memang ikonik sekaligus hegemonik sebagai kuliner khas Grobogan. Bahkan daging kodok Purwodadi konon rasanya lebih lezat daripada kodok daerah lain. Entah benar atau tidak, yang jelas, sebagian besar warga Kabupaten Grobogan yang notabene muslim ‘setengah hati’ menerima kuliner ini, kendati pun realitasnya sudah ratusan tahun kuliner ini menjadi ikon Kabupaten Grobogan.



Pangkal soalnya adalah masalah keyakinan dalam beragama, karena menurut literatur fiqih, kodok termasuk binatang yang haram dikonsumsi. Inilah yang menjadikan kuliner ini sulit diterima. Bahkan, sebagaimana dilansir Wikipedia, status haram daging kodok ini pernah menuai kontroversi, seperti contoh kasus di Kabupaten Demak (yang bersebelahan dengan Kabupaten Grobogan), di mana bupatinya pernah mendesak para pengusaha restoran swike untuk tidak mengaitkan swike dengan Demak. Hal ini karena dianggap dapat mencoreng citra Demak sebagai Kota Wali dan kota Islam pertama di pulau Jawa, serta kebanyakan warga Demak adalah pengikut madzhab Syafi’i yang mengharamkan daging kodok.

Warung makan "Swike Purwodadi" yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak....
Warung makan “Swike Purwodadi” yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak….

Swike atau Swikee sendiri merupakan hidangan yang berasal dari pengaruh masakan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Istilah “swikee’ berasal dari dialek Hokkian, yakni sui yang berarti air, dan ke yang berarti ayam.  Sehingga swike sesungguhnya merupakan penghalusan untuk menyebut kodok dengan menyebutnya sebagai “ayam air”. Makanan ini selama ini memang identik dengan Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Sehingga di berbagai daerah, dapat ditemui berbagai rumah makan atau resto yang menyebut sebagai resto atau rumah makan “Swike Purwodadi”.

Bahan utama hidangan ini adalah kaki kodok dengan bumbu bawang putih, jahe, tauco, garam, dan lada. Dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan daun seledri di atasnya, swike biasanya disajikan dengan nasi putih. Rumah makan yang legendaris menyediakan swike kodok  adalah RM. Swike Asli yang beralamat di Jl. Kol. Sugiono No. 11 Purwodadi. Rumah makan ini sudah berdiri semenjak tahun 1901 atau telah  lebih dari seabad lalu serta telah memasuki generasi kelima.




Pada perkembangannya, meski nama swike sendiri identik dengan kodok, namun warga Grobogan yang muslim pada tahun-tahun terakhir mulai berkreasi dengan komponen daging yang lain, misalnya daging ayam dan mentok. Sehingga di Grobogan, kini swike tidak lagi melulu daging kodok, namun juga swike ayam atau swike mentok. Dan inilah, menurut saya, babak baru kuliner Grobogan.

WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
Sungguh menggoda selera...
Sungguh menggoda selera…

Salah satu warung favorit saya yang menyediakan swike non-kodok adalah Warung Sweke Mentok yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong. Lokasinya di pinggir Jalan Raya Purwodadi-Semarang atau samping Puskesmas Godong 1 yang ada di Ketitang. Sehingga apabila Anda sedang perjalanan dari Purwodadi menuju ke arah Semarang atau sebaliknya, Anda akan melewati warung ini.

Menurut Ibu Jumanah, pengelola Warung Sweke Mentok, ia sudah mulai menyediakan menu swike mentok sejak tiga tahunan yang lalu. Tujuannya adalah untuk menyediakan menu swike tapi yang berbahan utama dari daging yang halal. “Sehingga yang tidak mau memakan swike kodok, bisa makan swike di warung ini,” tuturnya kepada saya.




Saya memang belum dan tidak akan pernah mau memakan swike kodok (dengan alasan agama tentu saja), sehingga saya tidak bisa membandingkan cita rasa swike mentok dan swike kodok. Namun, bagi saya, swike mentok yang ditawarkan Bu Jumanah di warungnya sudah cukup lezat. Kuahnya segar dan gurih, serta aroma tauconya terasa khas di lidah. Daging mentoknya juga empuk, sehingga menambah kelezatan cita rasanya.

Meski di warung ini menyediakan menu lainnya seperti rames dan soto kebo, namun swike mentok-lah yang banyak dicari pelanggannya. Seporsi swike mentok di “Warung Sweke Mentok” milik Bu Jumanah dihargai Rp 15.000,-. Bila Anda termasuk yang tidak mau memakan swike kodok, warung ini salah satu alternatifnya. Monggo.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Artikel Populer

Artikel Favorit

Becek dan Sego Pecel Gambringan Sebagai Alternatif Kuliner Grobogan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti Selain kaya wisata berbasis alam dan legenda, seperti api abadi Mrapen dan Bledug Kuwu, Grobogan kaya akan khazanah kuliner. Salah satu,...
error: Content is protected !!