Non-ketegori

Beranda Non-ketegori

Sega Pecel Gambringan, Kuliner Khas Grobogan yang Melegenda dan Penuh Memorabilia

0
Sega Pecel Gambringan



William Wongso, sebagaimana dikutip Bondan Winarno dalam kata pengantarnya di buku 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia,  berpendapat bahwa sebetulnya kuliner Indonesia tidak pernah eksis. Yang ada adalah kumpulan kuliner daerah yang dipersatukan dalam kebinekaan Indonesia. Kuliner tradisional bukan saja bersifat provinsial, tapi bahkan sudah bersifat terroir (karakterisitik lokal).

Kiranya William Wingso benar. Kuliner Indonesia memang kumpulan kuliner daerah, yang kebanyakan sangat lokalistik sifatnya. Salah satu contohnya adalah kuliner nasi atau sega pecel yang ada di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Bila Madiun populer dengan kuliner pecelnya yang khas, bahkan djuluki ‘Kota Seribu Pecel’, Kabupaten Grobogan juga punya kuliner pecel yang khas, bahkan melegenda, dan juga tak kalah populer.

Sega Pecel Gambringan, begitu kuliner nasi pecel legendaris asal Kabupaten Grobogan itu disebut. Oleh warga Grobogan biasa disingkat dengan SPG. Nama Gambringan sendiri diambil dari tempat asal kuliner ini, yang memang sejak dulu banyak dijajakan di Stasiun Gambringan yang terletak di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh.

Sejak tahun 1940-an, banyak penjual sega pecel Gambringan ditemui menjajakan dagangannya di stasiun atau di atas gerbong kereta api. Namun sejak tahun 2012, peraturan PT KAI tidak lagi membolehkan penjual makanan dan minuman menjajakan dagangannya di atas gerbong atau di dalam stasiun. Akibatnya, banyak pedagang sega pecel Gambringan berjualan ke luar stasiun, meski di antara mereka juga ada yang bertahan berjualan di sekitar stasiun Gambringan.

Foto lawas yang menggambarkan para penjaja sega pecel gambringan di sekira tahun 1970-an (Sumber: koleksi foto Stasiun Gambringan)

Foto lawas yang menggambarkan suasana sedang menikmati sega pecel di kompleks Stasiun Gambringan sekira tahun 1970-an (Sumber: koleksi foto Stasiun Gambringan)




Peraturan PT KAI itu, di satu sisi memang menjadikan para penjual sega pecel Gambringan kelabakan, karena harus mencari tempat baru untuk menjajakan dagangannya. Namun, di sisi lain, sega pecel Gambringan kini bermetamorfosis menjadi kuliner legendaris yang penuh memorabilia. Ia diburu oleh para pelanggannya yang dulu sering menikmatinya di atas gerbong kereta api.

Kenangan menikmati sega pecel Gambringan di dalam kompleks stasiun atau di atas gerbong kereta api membuncahkan kerinduan tersendiri. Bahkan, mereka yang tak pernah mencicipi kuliner ini di atas gerbong kereta api pun, penasaran dengan kuliner ini. Mereka juga ingin mencicipi kuliner khas yang melegenda dan penuh memorabilia itu.

Niat ingin napak tilas dan melihat eksistensi sega pecel Gambringan langsung ke tempat di mana kuliner ini berasal, membuat  saya bertandang ke Stasiun Gambringan pada Senin (13/2/2017). Saya ditemui Pak Supriyanto, pengatur perjalanan kereta api (PPKA) di stasiun tersebut. Pak Supriyanto banyak bercerita tentang sega pecel Gambringan, yang menurutnya, sangat istimewa. Selain enak dan khas, sega pecel Gambringan juga memiliki sisi historis yang tak bisa dilepaskan dari stasiun Gambringan dan kereta api.

Berpose di Stasiun Gambringan
Borpose di depan kantor Stasiun Gambringan

Berbincang dengan Pak Supriyanto, PPKA di Stasiun Gambringan




Menurut pria asal Rembang itu, kekuatan sega pecel Gambringan terletak pada sambalnya yang enak, sedep, dan pedas namun khas, lain daripada yang lain. Tidak terlalu manis, bahkan cenderung asin, namun proporsi asin-manisnya pas. “Sulit saya menemukan cita rasa pecel yang sedap seperti ini,” tuturnya.

Hal itu di amini oleh Mbak Sopik, penjual sega pecel Gambringan, yang buka lapak di daerah Gendingan, tak jauh dari Stasiun Gambringan. Menurutnya, sambal pecel Gambringan dibuat tanpa penyedap rasa. Cita rasanya murni dari bumbu rempah meliputi kencur, bawang, dan daun jeruk, yang dipadu dengan kacang tanah goreng dan gula merah.

“Kacang dan gula merah paduannya harus pas agar bisa membuahkan cita rasa yang sedep namun tidak terlalu manis,” tutur Mbak Sopik.

Lapak Mbak Sopik, penjual sega pecel Gambringan generasi ketiga…
Disajikan dengan pincuk daun pisang

Cita rasanya khas, sedep, dan nyamleng…





Adapun sayurannya, menurut Mbak Sopik, yang khas dari sega pecel Gambringan adalah bunga turi dan daun pepaya, dipadu dengan kecambah. Cara penyajiannya juga khas, yakni dengan pincuk daun pisang dengan sendoknya yang juga terbuat dari daun pisang yang lazim disebut suru. Penyajian seperti itu menambah cita rasanya makin sedep dan nyamleng.

“Meski saat ini tak sedikit penjual sega pecel Gambringan yang menyuguhkan dengan piring dan sendok, tapi saya sendiri tetap menjaga penyuguhan yang otentik, yakni secara tradisional menggunakan pincuk daun pisang yang sudah turun-temurun,” tuturnya.

Mbak Sopik merupakan generasi ketiga penjual sega pecel Gambringan. Ia meneruskan usaha neneknya yang juga penjual sega pecel Gambringan di sekira tahun 1970-an.

Saat ini, ada sekira 50-an warga sekitar stasiun Gambringan yang masih bertahan berjualan sega pecel Gambringan. Ia berharap, sega pecel Gambringan terus eksis, karena kuliner ini khas, unik,  dan sudah melegenda serta memiliki sejarah yang bertaut dengan sejarah perkeretaapian Indonesia. Sehingga amat sayang bila tidak dilestraikan.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Ayam Goreng dan Ayam Bakar Noroyono Purwodadi, Lezat dan Ikonik, Sejak Tahun 1989

1




Menyebut kuliner Purwodadi, tak afdhol bila tak menyebut nama Noroyono. Ya, Noroyono adalah nama sebuah rumah makan di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, yang telah melekat dan ikonik. Sajian spesialnya adalah ayam goreng dan ayam bakar yang lezat, dipadu dengan sambal terasi yang ueenak tenan dan pedas.

Adalah Pak Jamin Basuki, atau yang akrab disapa Pak Jamin atau “Mr. J”, sang pemilik serta pendiri rumah makan ikonik ini. Pak Jamin merintis Noroyono sejak tahun 1989 dan merintisnya benar-benar dari nol.

Sebelum sukses dengan sajian ayam goreng dan ayam bakar Noroyono, jatuh bangun merintis usaha di bidang kuliner pernah dilaluinya. Awalnya mencoba jualan rujak dan es buah, lalu berganti jualan pecel lele, hingga akhirnya beralih jualan ayam goreng dan ayam bakar—yang mengantarnya sukses hingga kini.

Tahun pertama merintis Noroyono, ia masih berjualan di pinggiran jalan dengan menggunakan tenda di seberang SMAN 1 Purwodadi. Awalnya agak malu-malu, karena ia juga salah seorang pengajar di SMA paling favorit di Purwodadi itu. Namun seiring dengan waktu, akhinya terbiasa juga.

RM. Noroyono Cabang Wirosari
Pak Jamin dengan istrinya, sosok di Balik “Noroyono”

Baca juga:

Kelezatan citarasa ayam goreng dan ayam bakar racikannya memikat banyak orang. Sehingga secara perlahan namun pasti, warung Noroyono yang diritisnya memiliki banyak pelanggan. Warung tendanya sering tidak muat menampung para pelanggan yang ingin menikmati ayam goreng dan ayam bakarnya. Dari situlah, guru fisika SMA N 1 Purwodadi yang alumnus UNS Solo itu, mulai berpikir untuk mencari tempat yang lebih luas sebagai pusat jualannya.



Saat ini, Rumah Makan Noroyono  yang terletak di Jl. R. Soeprapto 132 Purwodadi atau utara simpang lima Purwodadi, menjadi jujugan penggemar ayam goreng dan ayam bakar, yang datang tidak hanya dari lokal Purwodadi, tapi juga dari luar Purwodadi. Bahkan saat ini, Noroyono telah membuka cabang, yakni di Gubug dan di Wirosari.

Ikan Nila Bakar Noroyono
Ayam Bakar Noroyono

Kekuatan Noroyono memang terletak pada kelezatan ayam goreng dan ayam bakarnya. Bumbunya meresap—gurih dan legit dengan proporsi yang tepat—sehingga nikmat saat disantap. Dipadu dengan sambel terasi yang juga enak dan pedas, membuat sajian ayam goreng dan ayam bakar Noroyono tetap istimewa—meski saat ini banyak bermunculan rumah makan yang menawarkan menu serupa.

Bagi yang tidak menyukai menu dari ayam, Noroyono juga menyediakan menu dari komponen lain, seperti dari olahan bebek (bebek luluran) dan ikan (gurame dan nila, bakar dan goreng).

Bila berkunjung ke Purwodadi, bolehlah mencicipi sajian lezat ayam goreng dan ayam bakar Noroyono, dan rasakan kelezatannya!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)


Kelezatan Nasi Goreng Pak Lamuri yang Ngangeni

2

Nasi goreng merupakan kekayaan kuliner Nusantara yang unik dan populis. Dari sudut historis, nasi goreng bermula dari sisa nasi semalam yang sayang jika dibuang. Namun kini nasi goreng menjelma menjadi sajian istimewa yang digemari semua kalangan. Bahkan pada tahun 2017, situs berita internasional CNN menobatkan nasi goreng sebagai kuliner terlezat nomor dua di dunia setelah rendang.

Dari Nunjungan Menebarkan Kelezatan Mie Tek-tek, Sejak Tahun 1978

2
Mie Tek-tek Godong, unik dan khas...

Nunjungan adalah nama sebuah dusun yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Dari dusun inilah, sebuah kuliner tradisional berbahan mie menyebar ke berbagai daerah. Ada lebih dari 150-an warga Nunjungan yang menjadi penjual kuliner bernama mie tek-tek itu ke berbagai penjuru daerah, hingga ke Pati, Kudus, Demak dan Semarang.



Seporsi mie tek-tek dinikmati bersama 5 tusuk sate ayam...
Seporsi mie tek-tek dinikmati bersama 5 tusuk sate ayam…
Sate ayamnya juga unik, rasanya legit dan gurih...
Sate ayamnya juga unik, rasanya legit dan gurih…

Mie tek-tek, sebuah nama yang unik tentunya, seunik cita rasanya. Disebut demikian, barangkali karena mie ini awal mulanya kebanyakan dijual dengan cara berkeliling menggunakan gerobak, dengan penjualnya membunyikan bunyi tek tek tek untuk mengundang pembeli. Bunyi itu diperoleh dari potongan bambu yang diketuk. Jadilah, mie ini disebut mie tek-tek.




Menurut cerita yang saya peroleh, mie tek-tek masuk ke Nunjungan dibawa oleh seorang pendatang dari Mranggen (Kabupaten Demak) bernama Mbah Nyaman, pada sekitar tahun 1978. Saat itu, ia berjualan mie tek tek di Nunjungan hanya saat musim panen saja. Dari situlah kemudian warga mulai belajar membuat mie tek-tek. Hingga akhirnya, banyak warga Nunjungan yang beralih profesi menjadi penjual mie tek-tek.

Saat ini, lebih dari 150-an warga Dusun Nunjungan berjualan mie tek-tek. Tempat yang menjadi lokus jualannya tidak hanya di lokal Kecamatan Godong dan di titik-titik strategis di Kabupaten Grobogan saja, namun juga merambah ke kabupaten lain seperti Pati, Kudus, Demak, dan Semarang.

Di Godong sendiri, yang merupakan ibukotanya Kecamatan Godong, mie tek-tek menjadi kuliner malam yang cukup ikonik. Bila di pagi hari kuliner ikoniknya adalah nasi pager, maka di malam hari, Godong menyuguhkan kuliner mie tek-tek. Karena mie tek-tek memang hanya bisa dijumpai di malam hari, dimulai dari lepas maghrib.

Proses memasaknya masih secara tradisional menggunakan bara dari arang kayu...
Proses memasaknya masih secara tradisional menggunakan bara dari arang kayu…
Bara arang menimbulkan cita rasa yang khas dan unik...
Bara arang menimbulkan cita rasa yang khas dan unik…
Satenya dibakar dulu sebelum dihidangkan...
Satenya dibakar dulu sebelum dihidangkan…





Di Godong, mie tek-tek ada yang masih dijajakan secara keliling dengan menggunakan gerobak, ada juga yang penjualnya mangkal di sebuah tempat. Salah satu penjual mie tek-tek yang memilih berjualan keliling adalah Pak Sukirno. Setiap malam, warga Nunjungan ini, menjajakan mie tek-teknya melintasi Jl. Muh Kurdi, Desa Bugel. Berangkat dari rumah selepas isya’, kemudian pulang sekitar jam 01.00 dini hari. Demikian itu dilakoninya setiap malam. “Lha gimana lagi mas, sudah pekerjaannya, ya dinikmati,” tutur Pak Sukirno kepada saya.

Adapun penjual mie tek-tek yang mangkal ada di beberapa titik. Salah satunya yang menjadi favorit saya adalah mie tek-tek Pak Khamdan yang mangkal di depan Puskemas Godong 1 yang berada di Desa Bugel. Lokasinya persis di pinggir jalan raya, sehingga Anda yang sedang perjalanan dari arah Purwodadi ke Semarang atau sebaliknya akan melewatinya.

Pak Khamdan menuturkan, ia mulai berjualan mie tek-tek sejak tahun 1992. Ayahnya dan mertuanya juga dikenal sebagai penjual mie tek-tek. Ayahnya pernah berjualan mie tek-tek di daerah Prawoto, Kabupaten Pati. “Setiap malam saya jualan mas. Mulai buka habis maghrib sampai malam hari. Sampai mie-nya habis mas hehe…,” tutur Pak Khamdan kepada saya.

Pak Khamdan saat memasak mie tek-tek pesanan pelanggannya...
Pak Khamdan saat memasak mie tek-tek pesanan pelanggannya…
Disantap dengan ditemani segelas teh panas, alangkah nikmatnya....
Disantap dengan ditemani segelas teh panas, alangkah nikmatnya….




Mie tek-tek sendiri berbeda dengan kuliner berbahan mie lainnya seperti mi ayam. Yang khas sekaligus menjadi keunikan dari mie tek-tek adalah proses memasaknya yang hingga kini masih mempertahankan menggunakan bara dari arang, sehingga cita rasanya tetap terjaga sejak dahulu hingga kini. “Kalau pakai kompor atau gas, citarasanya sudah lain mas, beda jauh,” terang Pak Khamdan.

Memang proses memasak mie tek-tek yang masih mempertahankan dengan bara dari arang itu, menimbulkan sensasi nikmat yang berbeda; sangat khas, unik, dan terasa lebih sedap dan nyamleng. Gurihnya pecah di mulut hahaha…Pokok’e TOP markotop deh.

Soal harga, dijamin sangat merakyat. Untuk bisa menikmati kelezatan semangkok mie tek-tek, Anda hanya cukup merogoh kocek Rp 10 ribu. Dengan harga segitu, sudah plus 5 tusuk sate ayam sebagai pelengkapnya. Bila kurang, boleh nambah lagi, per tusuk sate dihargai Rp 1.000,-. Hmm, nikmatnya….* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Ayam Pencok, Kuliner Unik Khas Kuwu yang Nyaris Punah

1
Ayam Pencok, nyaris punah...



Indonesia diberkahi dengan kekayaan kuliner tradisional yang berlimpah. Beragam kuliner pusaka diwariskan oleh leluhur, dari generasi ke generasi, hingga kini. Tetapi, seiring waktu, pergulatan zaman yang ganas menggerus beberapa kuliner pusaka, hingga sebagian kuliner itu hampir sulit ditemukan, bahkan ada yang nyaris punah.

Di Kabupaten Grobogan ada sebuah kuliner pusaka yang kini sulit ditemukan, bahkan boleh dibilang nyaris punah. Kuliner itu bernama Ayam Pencok. Bila ditelesik, mungkin banyak warga Grobogan sendiri yang belum pernah mendengar kuliner unik khas Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan itu.

Rasanya gurih....
Ayam pencok. Rasanya gurih….

Sebuah informasi yang saya peroleh menyebutkan, kuliner ini dulu sekitar tahun 2000-an, masih dapat ditemukan dibuat oleh seorang warga setempat bernama Saminem. Untuk mendapatkan kuliner khas tersebut tidaklah mudah. Sebab, Saminem tidak membuka warung ayam pencok layaknya warung makan di pinggir jalan. Ya, Saminem hanya menerima pesanan. Meski demikian, kabarnya ayam pencok buatan Saminem sudah dikenal hingga ke Singapura, dan sering menerima pesanan dari “negeri seribu satu larangan” tersebut.

Awal bulan Oktober 2016 lalu, saya berusaha hunting kuliner khas ini ke Desa Kuwu. Informasi yang saya dapatkan, masih ada sebuah warung yang menjual kuliner ayam pencok tersebut. Warung itu bernama Warung Makan Mbak Dami. Ditemani mas Dian, sahabat saya yang tinggal di Banjarsari, Kecamatan Kradenan, saya berkunjung ke warung tersebut. Sayang, warungnya sedang tutup alias libur jualan.

Kurang lebih dua minggu kemudian, saya sms mas Dian untuk minta ditemani kembali berkunjung ke warung tersebut. “Siap pak, saya cek dulu, warung buka atau tidak” jawaban sms mas Dian yang masuk ke ponsel saya.



Beberapa saat kemudian, mas Dian mengabari, kalau warung, lagi-lagi tutup. Akhirnya, saya bilang ke mas Dian via sms, “Oke mas, tolong sewaktu-waktu cek ya, kalau pas warung buka, saya akan agendakan datang. Syukur bisa tanyakan terlebih dulu sehari sebelumnya. Trims”

Beberapa waktu kemudian, kabar buruk dari mas Dian saya terima. Ternyata, Warung Mbak Dami sekarang sudah tutup total alias tidak buka lagi. Lalu, saya pun menemui Pak Cantono, warga Kuwu yang selama ini rumahnya ditempati Warung Mbak Dami. Dari informasi yang saya peroleh dari Pak Cantono menyebutkan, Mbak Dami merintis warung yang menyediakan ayam pencok sejak sekitar tahun 2001. “Warung ini kemudian dikenal sebagai satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tuturnya.

Tahun 2015 Mbak Dami meninggal dunia, karena sakit yang dideritanya. Sejak meninggalnya Mbak Dami, kemudi warung mbak Dami diambil alih oleh adik kandungnya dan adik iparnya. Hingga kemudian, karena sesuatu hal, bulan Oktober 2016 lalu, warung akhirnya resmi ditutup.

Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami...
Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami…

WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok...
WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok…





Dengan ditutupnya Warung Mbak Dami, membuat kuliner ayam pencok ini tentu saja nyaris menuju kepunahannya. Beruntung, Warung Makan Mbak Sri Jago Muda yang beralamat di Jl. Honggokusuman No. 45 Kuwu, HP: 081326606771, menangkap peluang itu dan berinisiatif menambah menu di warungnya dengan ayam pencok. Sehingga sekarang, ayam pencok bisa dijumpai di warungnya. “Jadi, sekarang, warung saya satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tutur Mbak Sri kepada saya.

Salah satu yang menjadi keunikan ayam pencok adalah pada proses pembuatannya yang menguji kesabaran. Menurut Mbak Sri, proses pembuatannya adalah, ayam kampung yang sudah disembelih dibersihkan, lalu dicencem dengan bumbu uleg meliputi garam dan bawang putih. Lalu, dipanggang di atas bara api.

Memanggang ayam tersebut harus ekstra hati-hati, karena antara bara api dengan ayam diberi jarak sekitar 25 hingga 30 cm. Api pun dijaga agar tidak terlalu besar. Selain itu, saat memanggang tidak perlu dikipasi. Adapun durasi memanggang sekitar dua atau tiga jam, sehingga ayam akan matang sempurna.

Proses pemanggangan ayam pencok... (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)
Proses pemanggangan ayam pencok… (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)

Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya...
Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya…





Sembari menunggu ayam masak, disiapkanlah sambal pencok sebagai pendamping nanti saat menikmati ayam pencok. Sambel pencok terbuat dari kelapa muda yang diparut, dipadu cabai, terasi, bawang, dan kencur. Untuk menjaga agar sambal pencok tahan lama, maka paduan bahan tersebut dikukus terlebih dulu hingga masak. Setelah masak, ayam pencok pun siap dihidangkan.

Cita rasa ayam pecok begitu gurih, beda dengan ayam panggang pada umumnya. Dipadu dengan sambal pencok, ayam pencok terasa sangat lezat disantap. Di Warung Mbak Sri, seekor ayam pencok utuh dihargai Rp 90.000,-. Adapun paket hemat berupa sepiring nasi plus sepotong ayam pencok yang disuwir-suwir dan dicampur sambal pencok dihargai Rp 10.000,-.

Sebagai pecinta kuliner tradisional, saya tentu berharap kuliner khas dan unik ini tidak punah. Semoga ada lagi warung yang mau melirik menu ini untuk dijadikan menu spesial di warungnya; atau barangkali Pemerintah Kabupaten Grobogan tertarik untuk mengangkat kuliner-kuliner tradisional khas lokal yang nyaris punah tersebut agar terus eksis, misalnya dengan mengadakan festival kuliner, dan sebagainya. Semoga.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Popular Posts

My Favorites

Sedapnya Nasi Ayam Bu Nyoto, Eksis Sejak Tahun 1970-an

Selain tahu gimbal, tahu pong, lumpia, dan wingko babad, Semarang juga punya kuliner khas lainnya lho, yakni nasi ayam. Nasi ayam adalah kuliner dengan...
error: Content is protected !!