Berwisata Ziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak

0
Berwisata Ziarah ke Makam Sunan kalijaga di kadilangu Demak
Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu adalah wisata religi paling ikonik di Demak selain Masjid Agung Demak. Sosok Sunan Kalijaga sebagai salah seorang anggota Walisongo yang paling fenomenal menjadi daya pikat paling magnetis bagi para peziarah dari berbagai penjuru daerah.

 



Saya sendiri sudah berulang kali berziarah di Makam Sunan Kalijaga ini. Sengaja atau sekedar mampir. Seperti Jumat, 23 Februari 2018, sepulang dari acara silaturahim dan studi banding di Yayasan Az-Zahra Demak, saya beserta rombongan guru LPIT Ilma Nafia Godong sengaja mampir ke Makam Sunan Kalijaga. Kebetulan memang kami lewati.

Kami tiba di kompleks wisata ziarah Makam Sunan Kalijaga tepat jam 12.00 WIB alias waktu melaksanakan shalat Jumat. Jadi, sekian kali berkunjung, inilah pertama kalinya saya salat Jumat di Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu.

Letak Masjid Sunan Kalijaga berada di sisi timur kompleks Makam Sunan Kalijaga. Konon dulunya masjid ini dibangun Sunan kalijaga dalam bentuk langgar (mushalla). Sayangnya tak diketahui pasti kapan Sunan Kalijaga mendirikannya. Hanya saja, pendiriannya oleh Sunan Kalijaga dilakukan sebelum pendirian Masjid Agung Demak. Dan dari prasasti yang ada dan tersimpan di masjid, diketahui bahwa Masjid Sunan Kalijaga direnovasi pertama kali pada tahun 1564 M oleh Pangeran Wijil.

Lalu pada tahun 1970, dilakukan renovasi besar-besaran. Bangunan induk yang aslinya berukuran 10 x 16 m mengalami perluasan dengan tetap mempertahankan soko guru atau tiang penyangga utama masjid. Dan pada tahun 1990, kembali dilakukan pembangunan fisik meliputi pembangunan tempat shalat dan tempat wudhu perempuan yang dibuat terpisah dengan pria.

Masjid Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu

Mengenal Sunan Kalijaga

Di banding wali yang lain di korps dakwah Walisongo, nama Sunan Kalijaga boleh jadi paling fenomenal. Nama aslinya adalah R.M. Syahid, putra dari Ki Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban. Solichin Salam dalam Sekitar Walisanga (Menara Kudus, 1986) menulis, di antara wali sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar. Seorang pemimpin, pejuang, muballigh, pujangga dan filsuf. Daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena beliau adalah terhitung seorang reizende muballigh (muballigh keliling). Jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh para kaum ningrat dan sarjana.

Sementara Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (Iiman, 2017) menulis, Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh Walisongo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termasyhur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai mendalang, melainkan dikenal pula sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon carangan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung Jawa.

Makam Sunan Kalijaga dan para peziarah

Meski begitu fenomenal, namun tahun kelahiran dan wafatnya tidak diketahui pasti, kecuali diketahui jasadnya dikebumikan di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak, kira-kira berjarak 3 kilometer dari Masjid Agung Demak.

Konon, usia Sunan Kalijaga termasuk lanjut usia. Dalam masa hidupnya, beliau mengalami tiga kali masa pemerintahan, yakni pertama zaman akhir Kerajaan Majapahit, kedua zaman Kerajaan Islam Demak, dan ketiga zaman Kerajaan Pajang.

Ada Apa di Makam Sunan Kalijaga

Apabila kita masuk lewat gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga yang terletak di sisi selatan masjid atau dekat kolam Segaran peninggalan Sunan Kalijaga, maka kita akan memasuki lorong beratap rapi sepanjang  sekira 160 meter yang di kanan kirinya dipenuhi kios pedagang. Mereka menjual aneka oleh-oleh dan buat tangan seperti kaos bertuliskan Sunan Kalijaga, aneka tasbih, peci, baju koko, serta berbagai kuliner khas Demak seperti rangin, jus belimbing, dan sebagainya.

gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga
Gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga

Lorong menuju kompleks makam yang di kanan kirinya dipenuhi kios pedagang




Begitu memasuki kompleks makam, kita akan mendapati berbagai pusara tokoh-tokoh yang terkenal dalam legenda seputar walisongo seperti makam Pangeran Haryo Penangsang, Empu Supo, dan lain sebagainya. Adapun makam Sunan Kalijaga, sebagaimana makam walisongo pada umumnya berada dalam bangunan tungkup berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir.

Pusara Pangeran Haryo Penangsang
Pusara Empu Supo dan Jaka Suro

Beberapa peziarah minum dari gentong peninggalan Sunan Kalijaga





Hari itu tak banyak peziarah, namun cukup ramai. Di sisi utara makam, terdapat gentong peninggalan Sunan Kalijaga. Sesuai di papan informasi yang ada disebutkan, terdapat dua gentong peninggalan Sunan Kalijaga, yakni padasan (tempat air wudlu) dan pedaringan (tempat menyimpan beras). Di 2 gentong itu disajikan air yang dituangkan dalam gelas-gelas sebagai minum para peziarah.

Airnya diambil dari sungai yang berjarak sekira 300 meter dari lokasi makam, kemudian diendapkan di bak penampungan, lalu disalurkan ke dalam gentong lewat mesin filter untuk disterilisasi agar layak minum.

Ohya, sebelum sampai ke lokasi makam Sunan kalijaga, kita akan menjumpai sebuah batu yang dikelilingi tembok pendek. Di dinding sebelah utara bertuliskan “Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga”. Ya, selo atau batu itulah yang konon digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai tempat duduk saat memberi taushiyah atau wejangan kepada para muridnya.

Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga
Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga

Sebenarnya masih ada lagi situs peninggalan Sunan Kalijaga, yakni sebuah sumur yang terletak sekira 200 meter di timur kompleks maka Sunan Kalijaga, tepatnya terletak di belakang salah satu keturunan Sunan Kalijaga. Sumur itu dulu digunakan untuk berwudlu. Namun saya tidak sempat ke situ untuk menjepretnya, karena harus segera pulang.

Ohya mohon maaf bila foto-foto yang saya sajikan di posting kali ini kualitasnya tidak cukup bagus karena saya hanya bisa menjepretnya dengan kamera hape. Namun mudah-mudahan informasi ini tetap bermanfaat bagi para pecinta wisata religi yang belum pernah dan ingin berwisata ziarah ke makam Sunan Kalijaga.

Setelah beli oleh-oleh secukupnya, kami pun pulang.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

10 Kuliner Enak dan Legendaris di Grobogan

0




Kuliner khas Grobogan cukup banyak. Dan tak hanya kaya kuliner tradisional yang khas, bahkan sebagiannya begitu ikonik seperti swike, Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah juga kaya kuliner enak yang kelezatannya melegenda.

Baca juga: 9 Kuliner Khas Grobogan yang Enak dan Bikin Klangenan

Kuliner atau makanan enak nan legendaris itu menyebar di berbagai warung dan rumah makan yang hingga kini masih menjadi jujugan para pelanggannya sejak dulu hingga kini. Berikut ini 10 kuliner terenak dan legendaris di Grobogan yang musti Anda coba:

Sate Ayam Mbah Wani Wirosari, Bertahan Sejak Tahun 1980-an

2
Sate Ayam Mbah Wani Wirosari
Sate Ayam Mbah Wani, Wirosari Grobogan

Selepas shalat jamaah maghrib di mushalla SPBU Mayahan, kami bergegas meneruskan perjalanan. Hujan masih deras mengguyur bumi saat mobil yang kami tumpangi perlahan memasuki kota Wirosari. Karena lapar, kami memutuskan untuk cari warung makan.




Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di Warung Sate Ayam Mbah Wani yang cukup terkenal di Wirosari. Kami hanya perlu belok ke kanan ke arah Sulursari sekira 200 meter dari perempatan Wirosari untuk sampai ke warung tenda tersebut. Ya, Warung Sate Ayam Mbah Wani memang terletak di selatan perempatan Wirosari sebelah barat jalan. Mangkal di depan Bank BPR Idjo.

Ini warung cukup legendaris menurut saya. Setidaknya sejak saya kecil sudah tahu ada warung ini. Jadi, warung Mbah Wani ini termasuk sedikit warung sate ayam lokal yang masih bertahan di tengah arus deras masuknya sate ayam madura yang menggurita.

Tidak bisa dipungkiri, bila menyebut sate ayam, maka sate ayam madura memang tergolong paling hegemonik saat ini. Cita rasa sate ini memang mak nyus. Saos kacang manis yang merupakan paduan dari bumbu kacang dan kecap manis mengaramelisasi baluran bumbu sehingga menyaput daging ayam saat dibakar. Itu salah satu rahasia sate ayam madura memiliki cita rasa yang lezat dan mak nyuss

Sate ayam Mbah Wani sedang dalam proses pembakaran

Saat ini, sate ayam madura benar-benar merajai pasar kuliner. Hampir di setiap sudut kecamatan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Grobogan—tempat saya tinggal—ada penjual sate ayam madura, sehingga seringkali “menggusur” pelaku sate ayam lokal.



Seperti di Kecamatan Godong, pada tahun 1980-an pernah populer sate ayam miroso Mbah Kamijan. Tapi seiring waktu, akhirnya gulung tikar karena semakin tersisih oleh perkembangan sate ayam madura. Apalagi kemudian tidak ada pelanjutnya.

Cita rasa sate ayam yang spesial
Bertahn sejak tahun 1980-an hingga kini

Namun, di Wirosari ini, ada warung sate ayam lokal yang tetap eksis hingga kini. Ya, sate ayam Mbah Wani, yang konon juga sudah eksis sejak tahun 1980-an hingga kini tetap bertahan dan sudah memasuki generasi kedua.

Cita rasa sate ayam Mbah Wani memang berbeda dengan sate ayam madura. Saos kacangnya tidak terlalu manis, juga tidak terlalu kental, lebih terasa encer. Potongan ayamnya juga lebih gedhe daripada sate ayam madura pada umumnya. Cocok sebagai variasi bagi yang ingin merasakan sensasi sate ayam yang berbeda…



Cita rasa yang ‘spesial’ dan jarak tempuh waktu yang lama sejak berdirinya, menjadikan warung sate ayam Mbah Wani memiliki pelanggan setia yang selalu merindukan cita rasa sate ayam resep warisan Mbah Wani.

Sayang, karena hujan yang deras dan tergesa, menjadikan saya terlupa menjepret penampakan warung Mbah Wani. Semoga tidak mengurangi ketertarikan Anda untuk mampir ke warung sate ayam Mbah Wani, suatu hari nanti, ketika perjalanan melewati kota Kecamatan Wirosari hehe….Aamiin.*  (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Ayam Goreng dan Ayam Bakar Noroyono Purwodadi, Lezat dan Ikonik, Sejak Tahun 1989

1




Menyebut kuliner Purwodadi, tak afdhol bila tak menyebut nama Noroyono. Ya, Noroyono adalah nama sebuah rumah makan di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, yang telah melekat dan ikonik. Sajian spesialnya adalah ayam goreng dan ayam bakar yang lezat, dipadu dengan sambal terasi yang ueenak tenan dan pedas.

Adalah Pak Jamin Basuki, atau yang akrab disapa Pak Jamin atau “Mr. J”, sang pemilik serta pendiri rumah makan ikonik ini. Pak Jamin merintis Noroyono sejak tahun 1989 dan merintisnya benar-benar dari nol.

Sebelum sukses dengan sajian ayam goreng dan ayam bakar Noroyono, jatuh bangun merintis usaha di bidang kuliner pernah dilaluinya. Awalnya mencoba jualan rujak dan es buah, lalu berganti jualan pecel lele, hingga akhirnya beralih jualan ayam goreng dan ayam bakar—yang mengantarnya sukses hingga kini.

Tahun pertama merintis Noroyono, ia masih berjualan di pinggiran jalan dengan menggunakan tenda di seberang SMAN 1 Purwodadi. Awalnya agak malu-malu, karena ia juga salah seorang pengajar di SMA paling favorit di Purwodadi itu. Namun seiring dengan waktu, akhinya terbiasa juga.

RM. Noroyono Cabang Wirosari
Pak Jamin dengan istrinya, sosok di Balik “Noroyono”

Baca juga:

Kelezatan citarasa ayam goreng dan ayam bakar racikannya memikat banyak orang. Sehingga secara perlahan namun pasti, warung Noroyono yang diritisnya memiliki banyak pelanggan. Warung tendanya sering tidak muat menampung para pelanggan yang ingin menikmati ayam goreng dan ayam bakarnya. Dari situlah, guru fisika SMA N 1 Purwodadi yang alumnus UNS Solo itu, mulai berpikir untuk mencari tempat yang lebih luas sebagai pusat jualannya.



Saat ini, Rumah Makan Noroyono  yang terletak di Jl. R. Soeprapto 132 Purwodadi atau utara simpang lima Purwodadi, menjadi jujugan penggemar ayam goreng dan ayam bakar, yang datang tidak hanya dari lokal Purwodadi, tapi juga dari luar Purwodadi. Bahkan saat ini, Noroyono telah membuka cabang, yakni di Gubug dan di Wirosari.

Ikan Nila Bakar Noroyono
Ayam Bakar Noroyono

Kekuatan Noroyono memang terletak pada kelezatan ayam goreng dan ayam bakarnya. Bumbunya meresap—gurih dan legit dengan proporsi yang tepat—sehingga nikmat saat disantap. Dipadu dengan sambel terasi yang juga enak dan pedas, membuat sajian ayam goreng dan ayam bakar Noroyono tetap istimewa—meski saat ini banyak bermunculan rumah makan yang menawarkan menu serupa.

Bagi yang tidak menyukai menu dari ayam, Noroyono juga menyediakan menu dari komponen lain, seperti dari olahan bebek (bebek luluran) dan ikan (gurame dan nila, bakar dan goreng).

Bila berkunjung ke Purwodadi, bolehlah mencicipi sajian lezat ayam goreng dan ayam bakar Noroyono, dan rasakan kelezatannya!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)


Menikmati Olahan Serba Kedelai dan Tempe Higyena Khas Grobogan di Soybean Resto

0
Recommended!

Kabupaten Grobogan dikenal sebagai produsen kedelai varietas unggul dengan reputasi nasional, bahkan internasional. Salah satu sentra produksi kedelai varietas unggul itu ada di Rumah Kedelai Grobogan (RKG), yang juga mengolah kedelai itu menjadi tempe higyena. Tempe higyena adalah tempe berkualitas yang seluruh proses pembuatannya dilakukan secara higienis.

Soybean Resto and Garden

Artikel Populer

Artikel Favorit

Ke Bandungan, Belanja Sayuran dan Buah, Juga Menikmati Bakso Pak Brengos...

Bandungan adalah sebuah kecamatan di bagian selatan Kota Semarang yang berada di kaki Gunung Ungaran. Hawanya sejuk dan adem bingit, plus panorama pegunungan yang...
error: Content is protected !!