Rekreasi ke Jogja: Melihat Penguin, Simulasi Langit Malam Jogja, dan Berburu Gudeg Wijilan

0
Gudeg khas Yogyakarta…

Sabtu (10/12/2016) kemarin, saya berkesempatan mengajak keluarga, meliputi istri dan ketiga anak saya, beserta khodimat (PRT) rekreasi ke Yogyakarta. Tujuannya ke Gembira Loka Zoo dan Taman Pintar. Berangkat jam 6 pagi sampai lokasi jam 11-an. Berarti waktu tempuh sekitar 5 jam-an. Target kunjungan pertama adalah di Gembira Loka Zoo.

Lezatnya Gule Kambing Mbah Rono, Bertahan Sejak Tahun 1950-an

0
Gule kambing Mbah Rono..

Siapa yang tak tahu gule? Kuliner khas Jawa ini berkomponen utama daging kambing, tulang, atau jeroannya. Dibanding gulai yang khas Sumatera, kuah gule lebih cair dan tidak terlalu kental. Penggunaan santan encer dan kaldu daging kambing dipadu dengan berbagai rempah pilihan seperti merica, kayu manis, pala, kapulaga, jahe, kunyit, dan cabai, membuat gule rasanya gurih. Namun cita rasanya tidak gurih pekat seperti gulai. Gule juga tidak begitu pedas karena ada sedikit pemakaian gula.





Melegenda sejak tahun 1950-an
Melegenda sejak tahun 1950-an

Seporsi nasi dan gule terpisah...
Seporsi nasi dan gule terpisah…

Di Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, terdapat sebuah warung sederhana, namun legendaris, yang menyediakan kuliner khusus gule kambing. Populer dengan nama “Warung Gule Kambing Mbah Rono”, namun bagi yang baru pertama kali hendak ke warung tersebut, untuk mencarinya tidaklah mudah. Karena warung ini tidak memasang spanduk atau banner di depannya. Meski begitu, warung ini sudah banyak pelanggannya, mengingat gule ini sudah ada dan eksis sejak puluhan tahun silam.



Ibu Sikah, cucu Mbah Rono yang sekaligus generasi ketiga penerus usaha gule kambing Mbah Rono menuturkan, Mbah Rono merintis usaha kuliner gule kambing sejak sekira tahun 1950-an silam. “Saat itu saya belum lahir,” tutur ibu kelahiran tahun 1961 itu.

Menginjak remaja hingga menikah dan punya anak, Ibu Sikah membantu kakeknya berjualan gule. Hingga akhir bulan April 1996, Mbah Rono meninggal dunia. Sejak saat itu, kemudi usaha diteruskan oleh Ibu Sikah.

Di tangan Ibu Sikah, Warung Gule Kambing Mbah Rono tetap eksis hingga kini. Sehari rata-rata menghabiskan 1 ekor kambing hasil sembelihan sendiri. “Paling ramai saat hari pasaran mas, yakni Pahing dan Kliwon,” tutur Ibu Sikah.

Saya (batik merah) berpose dengan Ibu Sikah dan suaminya....
Saya (batik merah) berpose dengan Ibu Sikah dan suaminya….

Bagi yang menginginkan, bisa ditambah empal daging...
Bagi yang menginginkan, bisa ditambah empal daging…




Kelezatan dari resep warisan...
Kelezatan dari resep warisan…

Cita rasa gule kambing ala Mbah Rono tergolong otentik. Kuahnya terasa gurih dan lembut. Bau prengus khas kambing pun tak ada. Sehingga kelezatannya terasa sekali di lidah. Pantaslah bila kuliner ini bisa bertahan hingga kini sejak dirintis oleh Mbah Rono tahun 1950-an.

“Resep gule kambing Mbah Rono tetap, tak berubah mas. Tak ada yang saya kurangi,” tutur Ibu Sikah.

Jumarin Hidayatulloh, warga Grobogan yang menemani saya makan di warung gule Mbah Rono menyatakan, ibarat batik, gule kambing Mbak Rono itu seperti batik yang dibuat dari pewarna alami. “Gurih kuahnya lembut, soft,dan enaknya otentik dan orisinal,tutur pegiat sosial yang masih jomblo ini.

Warung Gule Kambing Mbah Rono beralamat di Jl. Pangeran Puger, selatan Polsek Grobogan. Buka setiap hari, mulai jam 06.30 hingga jam 13.00 WIB. Harga seporsi gule kambing dipatok Rp 10.000,-. Bila menghendaki nasi dan gule terpisah, yang otomatis porsi nasi dan gulenya lebih banyak, dipatok Rp 25 ribu per porsi.

Bila Anda melewati Kecamatan Grobogan, monggo mampir untuk mencicipi salah satu best traditional food di Grobogan ini!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 



Lezatnya Miyagor, Mie Ayam versi Goreng ala Pak Ujang

2
Miyagor, mie ayam versi goreng




Mie ayam adalah kuliner Indonesia yang terbuat dari mie kuning dengan kuah yang diramu dari berbagai bumbu, diberi olahan daging ayam yang dicincang dan sayuran, lalu (biasanya) dimakan dengan terlebih dulu diberi saos dan kecap. Mie sendiri awalnya berasal dari Negeri Cina. Tetapi mie ayam yang seperti di Indonesia tidak ditemukan di Cina. Sehingga boleh dikata, mie ayam sudah menjadi makanan tradisional ala Indonesia. Di Jawa, makanan ini sangat mudah ditemukan karena banyaknya penjual kuliner ini.

Saking banyaknya penjual mie ayam, sehingga usaha ini termasuk usaha yang begitu kompetitif. Karenanya, sebagian penjual mie ayam berupaya membuat terobosan kreatif untuk memikat konsumen. Adalah miyagor alias mie ayam goreng yang menjadi salah satu kreasi yang ditawarkan.

Miyagor menjadi menu spesial....
Miyagor menjadi menu spesial….

Di Purwodadi, ibukotanya Kabupaten Grobogan, Anda bisa mendapatkan mie ayam versi goreng ini di Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang, yang beralamat di Jl. A. Yani Kios No.19 Barat Pasar Purwodadi. Pak Ujang sendiri sudah mulai berjualan bakso dan mie ayam sejak tahun 1991 atau sekira 25 tahun yang lalu. Karenanya, tak heran, bila pelanggan warungnya sudah cukup banyak. Setiap hari, warung ini selalu ramai dipadati oleh pengunjung yang ingin menyantap kelezatan bakso sapi dan mie ayamnya.

Menurut Maryadi, menantu Pak Ujang yang kini ikut mengelola warung, kurang lebih setahun lalu, miyagor atau mie ayam goreng menjadi menu baru di warung bakso sapi dan mie ayam Pak Ujang. “Dimulai dari masukan saya waktu melihat ada yang jual di Semarang, akhirnya Bapak coba-coba, dan akhirnya jadilah menu miyagor  seperti sekarang ini,” tutur Maryadi kepada saya.

Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang
Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang




Setiap hari dipadati pelanggannya...
Setiap hari dipadati pelanggannya…

Miyagor menjadi menu spesial...
Miyagor, kelezatan mie yang beda…

Tak disangka, kini miyagor menjadi menu spesial dan andalan di warung milik Pak Ujang yang bernama asli Ermedi itu. Bahkan pelanggannya sudah cukup banyak. “Alhamdulillah, sehari rata-rata terjual di atas 50 porsi miyagor. Bahkan terkadang bisa sampai 70 porsi, Pak,” tutur Maryadi kepada saya.

Miyagor sebagai mie ayam versi goreng memang memunculkan sensasi rasa tersendiri. Gurihnya bumbu mie ayam yang khas berasa lebih kuat di lidah. Sehingga, menurut saya, miyagor benar-benar menyuguhkan kelezatan mie ayam yang beda, yang layak untuk dicoba. Kondimen irisan tomat, selada, dan mentimun, menjadi tambahan yang menambah kelezatannya.




Warung bakso sapi dan mie ayam Pak Ujang buka setiap hari mulai jam 09.30 hingga jam 21.00 WIB. Meski menu bakso sapi dan mie ayam di warung ini tetap diminati oleh pelanggannnya, namun sensasi kelezatan miyagornya layak Anda coba. Apalagi harganya juga amat terjangkau. Seporsi miyagor dipatok Rp 10 ribu. Bisa Anda makan di tempat, bisa juga Anda bungkus dan dimakan di rumah. Selamat mencoba!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Nasi Jagung plus Sayur Lompong, Kuliner Ndeso yang Nikmatnya Begitu Menggoda

0
Seporsi nasi jagung dengan aneka kondimen yang menggoda...

Kabupaten Grobogan termasuk salah satu produsen jagung terbesar nasional. Tak heran bila di daerah ini mudah dijumpai berbagai olahan produk dari jagung. Di antaranya marning dan emping jagung yang sentranya ada di Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari. Selain itu, ada kuliner berbahan jagung yang ‘mengggoda’ untuk dinikmati, yakni nasi jagung plus pelengkapnya yang aduhai, antara lain gudangan dan sayur lompong.




Makanan ndeso yang menggugah selera...
Makanan ndeso yang menggugah selera…
Sayur lompong yang seger dan gurih...
Sayur lompong yang seger dan gurih…

Tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an, nasi jagung masih menjadi makanan utama sehari-hari sebagian besar warga Grobogan, terutama yang tinggal di pedesaan. Jadi, nasi jagung sebenarnya bukanlah makanan yang istimewa ketika itu.

Seiring perkembangan zaman, saat ini sudah mulai sulit ditemukan warga yang sehari-hari makan nasi jagung. Apalagi perkembangan teknologi dengan hadirnya rice cooker, sehingga menanak nasi (beras) menjadi semakin praktis. Beda dengan membuat nasi jagung yang agak ribet. Makanya, saat ini sulit menemukan nasi jagung di rumah-rumah warga. Peluang inilah yang nampaknya ditangkap oleh sejumlah pedagang. Sehingga saat ini mudah dijumpai warung-warung penjual nasi jagung.



Dari sekian warung nasi jagung di Grobogan, favorit saya bila siang hari adalah WM. Nasi Jagung Bu Lasmi yang mangkal di salah satu los Hutan Kota, Jl. Gajah Mada, Purwodadi (timur Polres Grobogan). Warung ini menyediakan kuliner nasi jagung yang, menurut saya, mantap abis. Menawarkan sensasi makan nasi jagung plus sayur lompong dipadu dengan bothok dan pepes pindang dengan tak lupa rempeyek dan sambalnya yang bikin ketagihan dan gobyos. Warung Bu Lasmi buka sekitar jam 11.00 WIB atau menjelang dhuhur sampai sore. Begitu buka, biasanya langsung diserbu pelanggannya.

Warung nasi jagung favorit saya di malam hari...
Warung nasi jagung favorit saya di malam hari…
Ada pepes pindang dan pepes gereh yang makin menggoda...
Ada pepes pindang dan pepes gereh yang makin menggoda…
Sate ampela hati ayam dan sate keong yang selalu ada...
Sate ampela hati ayam dan sate keong yang selalu ada…
Kombinasi yang bikin kangen...
Kombinasi yang bikin kangen…

Adapun kalau malam hari, warung nasi jagung favorit saya adalah WM. Sederhana Nasi Jagung Bu Puji. Warung ini dulunya mangkal di trotoar Alun-alun Purwodadi, tepatnya di sebelah utara kantor pos. Karena kawasan alun-alun masih dalam tahap renovasi, saat ini lokasi mangkalnya pindah sementara di kawasan lahan segitiga milik PT KAI di depan Hotel Kencana.

“Nanti kalau Alun-alun sudah selesai direnovasi, saya akan kembali mangkal lagi di Alun-alun, di tempat yang sudah disediakan. Tahun baru sepertinya sudah akan menempati lokasi baru,” tutur Bu Puji, pemilik WM. Sederhana Nasi Jagung Bu Puji, kepada saya.

Bu Puji menuturkan, ia mulai jualan nasi jagung sejak tahun 1999 atau sekitar 17 tahun yang lalu. Memilih jualan nasi jagung, mengingat ketika itu masih langka yang berjualan nasi jagung.

Lebih jauh Bu Puji menuturkan, warungnya sudah mempunyai banyak pelanggan. Tidak hanya orang Purwodadi saja, namun juga banyak pelanggannya yang datang dari luar kota seperti Pati, Kudus, Rembang, Blora dan Semarang. Bahkan pelanggannya juga banyak yang dari kalangan pejabat.



Di warung Bu Puji ini, Anda bisa menikmati seporsi nasi jagung dengan dilengkapi kondimen yang beraneka menggoda, meliputi sayur lompong yang seger dan gurih, gudangan yang sedap nan mantap, bothok dan rempeyek gereh yang aduhai, dan oseng lombok ijo yang pedes. Bila masih kurang, bisa ditambah sate ampela hati ayam dan sate keong yang selalu ada di warung ini. Minumnya, saya pilih teh poci yang segernya khas dan hangatnya terasa menjalar di sekujur tubuh.

Bila pingin sensasi yang beda, Anda bisa memesan nasi jagung goreng yang biasanya dilengkapi dengan irisan kol dan sebutir telur dadar.  WM. Sederhana Nasi Jagung Bu Puji buka mulai jam 5 sore, hingga jam 1 malam. Bila sedang ke Purwodadi di malam hari, bolehlah mencicipi kuliner ndeso namun menggoda ini. Monggo!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)



Nikmatnya Lentog Tanjung, Kuliner Unik Pagi Hari Khas Tanjungkarang, Kudus

0

Menyebut Kudus, yang terbayang adalah soto kerbaunya yang gurih dan jenangnya yang legit. Namun ternyata gak cuma itu saja lho. Kudus ternyata menyimpan banyak kuliner pusaka lainnya. Di antaranya sebuah kuliner unik bernama Lentog Tanjung.

Bakwan sebagai lauk menyantap lentog tanjung...
Bakwan sebagai lauk menyantap lentog tanjung…



Bisa juga ditemani sate telur puyuh dan sate ati ayam...
Bisa juga ditemani sate telur puyuh dan sate ati ayam…
Bagi yang suka pedas hehe....
Bagi yang suka pedas hehe….

Lentog Tanjung terdiri dari dua suka kata, yakni lentog yang artinya lontong, dan Tanjung yang merupakan asal dari kuliner ini, yakni Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Kuliner ini biasa dinikmati sebagai menu untuk sarapan, sehingga kuliner ini hanya bisa dijumpai di pagi hari.

Sekitar tahun 2005, saya menghadiri sebuah acara reuni peserta sebuah pelatihan motivasi yang digelar di Kudus. Oleh tuan rumahnya, disuguhi menu lontong yang diguyur sayur gori dan lodeh tahu. Ternyata, menu itulah yang bernama lentog tanjung. Dan, itulah pertama kalinya saya menyantap lentog tanjung yang kemudian, saya tahu, ternyata merupakan kuliner khas Kudus, tepatnya berasal dari Desa Tanjungkarang.



Kondimen lentong tanjung terdiri dari 3 bahan utama, yakni lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda), dan lodeh tahu. Paduan itu membangun cita rasa gurih yang menggugah selera. Sebagai penggemar lontong, cita rasa lentog tanjung cocok di lidah saya. Sehingga bila berkunjung ke Kudus di pagi hari, saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk mencicipi kuliner ini.

Dari Desa Tanjungkarang, kuliner ini kini telah menyebar ke seluruh pelosok Kudus, bahkan hingga keluar daerah sekitarnya seperti Demak dan Jepara. Dari info yang saya peroleh, lebih dari seratusan warga Tanjungkarang berprofesi sebagai penjual lentog tanjung, baik di Tanjungkarang sendiri, maupun di luar desa Tanjungkarang.

Deretan warung di kompleks Tanjungkarang...semuanya menyediakan lentog tanjung....
Deretan warung di kompleks Tanjungkarang…semuanya menyediakan lentog tanjung….
Mbak Arum, generasi ketiga penjual lentog tanjung di Desa Tanjungkarang...
Mbak Arum, generasi ketiga penjual lentog tanjung di Desa Tanjungkarang…
Cita rasanya pas di lidah saya...
Cita rasanya pas di lidah saya…

Di Desa Tanjungkarang sendiri terdapat sebuah kompleks warung yang khusus menyediakan menu lentog tanjung. Puluhan warung itu berderet dan di depan warung masing-masing terpasang spanduk yang menginformasikan nama penjualnya. Sehingga kompleks itu menjelma menjadi jujugan wisata kuliner bagi yang ingin menikmati lentong tanjung langsung dari kampung di mana kuliner itu berasal.

Seperti pagi itu, pilihan saya jatuh pada warung milik Ibu Sugi. Ternyata, yang melayani tidak lagi Ibu Sugi, melainkan putrinya yang bernama Mbak Arum. Menurut Mbak Arum, ia adalah generasi ketiga menggantikan ibunya jualan lentog tanjung. “Dulu di tahun 1990-an, ibu saya juga menggantikan nenek jualan lentog tanjung,” kata gadis kelahiran tahun 1994 itu.

Begitulah… kuliner ini telah diturunkan  dari generasi ke generasi.




Di beberapa warung lentog tanjung yang pernah saya singgahi, masih mempertahankan penyajikan lentog tanjung di atas piring yang dilapisi selembar daun pisang. Namun kini beberapa warung mulai meninggalkan tradisi unik yang sebenarnya menambah cita rasa itu, termasuk di warung Ibu Sugi. Bahkan, selain beralas daun pisang, sendoknya pun dulu tidak menggunakan sendok, namun menggunakan suru alias sendok dari daun pisang.

Menurut penuturan Mbak Arum, kompleks warung lentog tanjung di Desa Tanjungkarang ramai setiap hari Minggu dan hari libur. Buka mulai jam 06.00 hingga jam 12.00 WIB. Seporsi lentog tanjung dihargai Rp 4.000,-. Menyantapnya bisa ditemani gorengan seperti bakwan, kerupuk, dan sate telur puyuh dengan minuman berupa teh hangat atau es teh. Bila Anda penyuka pedas, penjual telah menyediakn sambal dan lombok yang buanyakkkk.

Monggo dicicipi!!! Hehe….*

(Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Artikel Populer

Artikel Favorit

Resep Sate Kambing Khas Tegal yang Enak dan Lezat

Sate adalah salah satu kuliner Indonesia yang kaya variasi dan kekhasan di setiap daerah. Sate dengan komponen kambing misalnya, pada setiap daerah memiliki ramuan...
error: Content is protected !!