Non-ketegori

Beranda Non-ketegori Halaman 13

Tahu Gimbal H. Edy, Enaknya Melegenda, Sejak Tahun 1972

0

Salah satu kuliner khas Semarang yang sangat populer adalah tahu gimbal. Tak heran bila kuliner ini dengan mudah ditemukan di berbagai titik di Kota Semarang. Tahun 1998-an, saat tinggal di Kota Atlas ini, saya sering menikmati kuliner tahu gimbal di depan Masjid Raya Baiturrahman. Nah, tempo hari, seusai berburu buku di Pesta Semarang Sejuta Buku 2016 di Gedung Wanita, Jl. Sriwijaya No. 29, mendadak saya kangen menikmati kuliner tradisional ini.

Tahu gimbal H. Edy memang enak...
Tahu gimbal H. Edy memang enak…

Dari Nunjungan Menebarkan Kelezatan Mie Tek-tek, Sejak Tahun 1978

2
Mie Tek-tek Godong, unik dan khas...

Nunjungan adalah nama sebuah dusun yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Dari dusun inilah, sebuah kuliner tradisional berbahan mie menyebar ke berbagai daerah. Ada lebih dari 150-an warga Nunjungan yang menjadi penjual kuliner bernama mie tek-tek itu ke berbagai penjuru daerah, hingga ke Pati, Kudus, Demak dan Semarang.



Seporsi mie tek-tek dinikmati bersama 5 tusuk sate ayam...
Seporsi mie tek-tek dinikmati bersama 5 tusuk sate ayam…
Sate ayamnya juga unik, rasanya legit dan gurih...
Sate ayamnya juga unik, rasanya legit dan gurih…

Mie tek-tek, sebuah nama yang unik tentunya, seunik cita rasanya. Disebut demikian, barangkali karena mie ini awal mulanya kebanyakan dijual dengan cara berkeliling menggunakan gerobak, dengan penjualnya membunyikan bunyi tek tek tek untuk mengundang pembeli. Bunyi itu diperoleh dari potongan bambu yang diketuk. Jadilah, mie ini disebut mie tek-tek.




Menurut cerita yang saya peroleh, mie tek-tek masuk ke Nunjungan dibawa oleh seorang pendatang dari Mranggen (Kabupaten Demak) bernama Mbah Nyaman, pada sekitar tahun 1978. Saat itu, ia berjualan mie tek tek di Nunjungan hanya saat musim panen saja. Dari situlah kemudian warga mulai belajar membuat mie tek-tek. Hingga akhirnya, banyak warga Nunjungan yang beralih profesi menjadi penjual mie tek-tek.

Saat ini, lebih dari 150-an warga Dusun Nunjungan berjualan mie tek-tek. Tempat yang menjadi lokus jualannya tidak hanya di lokal Kecamatan Godong dan di titik-titik strategis di Kabupaten Grobogan saja, namun juga merambah ke kabupaten lain seperti Pati, Kudus, Demak, dan Semarang.

Di Godong sendiri, yang merupakan ibukotanya Kecamatan Godong, mie tek-tek menjadi kuliner malam yang cukup ikonik. Bila di pagi hari kuliner ikoniknya adalah nasi pager, maka di malam hari, Godong menyuguhkan kuliner mie tek-tek. Karena mie tek-tek memang hanya bisa dijumpai di malam hari, dimulai dari lepas maghrib.

Proses memasaknya masih secara tradisional menggunakan bara dari arang kayu...
Proses memasaknya masih secara tradisional menggunakan bara dari arang kayu…
Bara arang menimbulkan cita rasa yang khas dan unik...
Bara arang menimbulkan cita rasa yang khas dan unik…
Satenya dibakar dulu sebelum dihidangkan...
Satenya dibakar dulu sebelum dihidangkan…





Di Godong, mie tek-tek ada yang masih dijajakan secara keliling dengan menggunakan gerobak, ada juga yang penjualnya mangkal di sebuah tempat. Salah satu penjual mie tek-tek yang memilih berjualan keliling adalah Pak Sukirno. Setiap malam, warga Nunjungan ini, menjajakan mie tek-teknya melintasi Jl. Muh Kurdi, Desa Bugel. Berangkat dari rumah selepas isya’, kemudian pulang sekitar jam 01.00 dini hari. Demikian itu dilakoninya setiap malam. “Lha gimana lagi mas, sudah pekerjaannya, ya dinikmati,” tutur Pak Sukirno kepada saya.

Adapun penjual mie tek-tek yang mangkal ada di beberapa titik. Salah satunya yang menjadi favorit saya adalah mie tek-tek Pak Khamdan yang mangkal di depan Puskemas Godong 1 yang berada di Desa Bugel. Lokasinya persis di pinggir jalan raya, sehingga Anda yang sedang perjalanan dari arah Purwodadi ke Semarang atau sebaliknya akan melewatinya.

Pak Khamdan menuturkan, ia mulai berjualan mie tek-tek sejak tahun 1992. Ayahnya dan mertuanya juga dikenal sebagai penjual mie tek-tek. Ayahnya pernah berjualan mie tek-tek di daerah Prawoto, Kabupaten Pati. “Setiap malam saya jualan mas. Mulai buka habis maghrib sampai malam hari. Sampai mie-nya habis mas hehe…,” tutur Pak Khamdan kepada saya.

Pak Khamdan saat memasak mie tek-tek pesanan pelanggannya...
Pak Khamdan saat memasak mie tek-tek pesanan pelanggannya…
Disantap dengan ditemani segelas teh panas, alangkah nikmatnya....
Disantap dengan ditemani segelas teh panas, alangkah nikmatnya….




Mie tek-tek sendiri berbeda dengan kuliner berbahan mie lainnya seperti mi ayam. Yang khas sekaligus menjadi keunikan dari mie tek-tek adalah proses memasaknya yang hingga kini masih mempertahankan menggunakan bara dari arang, sehingga cita rasanya tetap terjaga sejak dahulu hingga kini. “Kalau pakai kompor atau gas, citarasanya sudah lain mas, beda jauh,” terang Pak Khamdan.

Memang proses memasak mie tek-tek yang masih mempertahankan dengan bara dari arang itu, menimbulkan sensasi nikmat yang berbeda; sangat khas, unik, dan terasa lebih sedap dan nyamleng. Gurihnya pecah di mulut hahaha…Pokok’e TOP markotop deh.

Soal harga, dijamin sangat merakyat. Untuk bisa menikmati kelezatan semangkok mie tek-tek, Anda hanya cukup merogoh kocek Rp 10 ribu. Dengan harga segitu, sudah plus 5 tusuk sate ayam sebagai pelengkapnya. Bila kurang, boleh nambah lagi, per tusuk sate dihargai Rp 1.000,-. Hmm, nikmatnya….* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Lezatnya Swike Mentok, Babak Baru Kuliner Grobogan

0
Swike mentok, tak kalah lezat....

Bila menyebut kuliner Grobogan, maka yang terbayang adalah swike, yang identik dengan masakan berbahan utama daging katak atau kodok. Bertahun-tahun, swike tidak hanya ikonik sebagai kuliner khas Grobogan (biasanya disebut khas Purwodadi yang merupakan ibukotanya Grobogan), tapi juga hegemonik. Sehingga kuliner Grobogan seolah melulu hanya swike.



Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk....
Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk….
Disajikan dengan sepiring nasi putih...
Disajikan dengan sepiring nasi putih…

Harus diakui, swike memang ikonik sekaligus hegemonik sebagai kuliner khas Grobogan. Bahkan daging kodok Purwodadi konon rasanya lebih lezat daripada kodok daerah lain. Entah benar atau tidak, yang jelas, sebagian besar warga Kabupaten Grobogan yang notabene muslim ‘setengah hati’ menerima kuliner ini, kendati pun realitasnya sudah ratusan tahun kuliner ini menjadi ikon Kabupaten Grobogan.



Pangkal soalnya adalah masalah keyakinan dalam beragama, karena menurut literatur fiqih, kodok termasuk binatang yang haram dikonsumsi. Inilah yang menjadikan kuliner ini sulit diterima. Bahkan, sebagaimana dilansir Wikipedia, status haram daging kodok ini pernah menuai kontroversi, seperti contoh kasus di Kabupaten Demak (yang bersebelahan dengan Kabupaten Grobogan), di mana bupatinya pernah mendesak para pengusaha restoran swike untuk tidak mengaitkan swike dengan Demak. Hal ini karena dianggap dapat mencoreng citra Demak sebagai Kota Wali dan kota Islam pertama di pulau Jawa, serta kebanyakan warga Demak adalah pengikut madzhab Syafi’i yang mengharamkan daging kodok.

Warung makan "Swike Purwodadi" yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak....
Warung makan “Swike Purwodadi” yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak….

Swike atau Swikee sendiri merupakan hidangan yang berasal dari pengaruh masakan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Istilah “swikee’ berasal dari dialek Hokkian, yakni sui yang berarti air, dan ke yang berarti ayam.  Sehingga swike sesungguhnya merupakan penghalusan untuk menyebut kodok dengan menyebutnya sebagai “ayam air”. Makanan ini selama ini memang identik dengan Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Sehingga di berbagai daerah, dapat ditemui berbagai rumah makan atau resto yang menyebut sebagai resto atau rumah makan “Swike Purwodadi”.

Bahan utama hidangan ini adalah kaki kodok dengan bumbu bawang putih, jahe, tauco, garam, dan lada. Dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan daun seledri di atasnya, swike biasanya disajikan dengan nasi putih. Rumah makan yang legendaris menyediakan swike kodok  adalah RM. Swike Asli yang beralamat di Jl. Kol. Sugiono No. 11 Purwodadi. Rumah makan ini sudah berdiri semenjak tahun 1901 atau telah  lebih dari seabad lalu serta telah memasuki generasi kelima.




Pada perkembangannya, meski nama swike sendiri identik dengan kodok, namun warga Grobogan yang muslim pada tahun-tahun terakhir mulai berkreasi dengan komponen daging yang lain, misalnya daging ayam dan mentok. Sehingga di Grobogan, kini swike tidak lagi melulu daging kodok, namun juga swike ayam atau swike mentok. Dan inilah, menurut saya, babak baru kuliner Grobogan.

WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
Sungguh menggoda selera...
Sungguh menggoda selera…

Salah satu warung favorit saya yang menyediakan swike non-kodok adalah Warung Sweke Mentok yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong. Lokasinya di pinggir Jalan Raya Purwodadi-Semarang atau samping Puskesmas Godong 1 yang ada di Ketitang. Sehingga apabila Anda sedang perjalanan dari Purwodadi menuju ke arah Semarang atau sebaliknya, Anda akan melewati warung ini.

Menurut Ibu Jumanah, pengelola Warung Sweke Mentok, ia sudah mulai menyediakan menu swike mentok sejak tiga tahunan yang lalu. Tujuannya adalah untuk menyediakan menu swike tapi yang berbahan utama dari daging yang halal. “Sehingga yang tidak mau memakan swike kodok, bisa makan swike di warung ini,” tuturnya kepada saya.




Saya memang belum dan tidak akan pernah mau memakan swike kodok (dengan alasan agama tentu saja), sehingga saya tidak bisa membandingkan cita rasa swike mentok dan swike kodok. Namun, bagi saya, swike mentok yang ditawarkan Bu Jumanah di warungnya sudah cukup lezat. Kuahnya segar dan gurih, serta aroma tauconya terasa khas di lidah. Daging mentoknya juga empuk, sehingga menambah kelezatan cita rasanya.

Meski di warung ini menyediakan menu lainnya seperti rames dan soto kebo, namun swike mentok-lah yang banyak dicari pelanggannya. Seporsi swike mentok di “Warung Sweke Mentok” milik Bu Jumanah dihargai Rp 15.000,-. Bila Anda termasuk yang tidak mau memakan swike kodok, warung ini salah satu alternatifnya. Monggo.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Ayam Pencok, Kuliner Unik Khas Kuwu yang Nyaris Punah

1
Ayam Pencok, nyaris punah...



Indonesia diberkahi dengan kekayaan kuliner tradisional yang berlimpah. Beragam kuliner pusaka diwariskan oleh leluhur, dari generasi ke generasi, hingga kini. Tetapi, seiring waktu, pergulatan zaman yang ganas menggerus beberapa kuliner pusaka, hingga sebagian kuliner itu hampir sulit ditemukan, bahkan ada yang nyaris punah.

Di Kabupaten Grobogan ada sebuah kuliner pusaka yang kini sulit ditemukan, bahkan boleh dibilang nyaris punah. Kuliner itu bernama Ayam Pencok. Bila ditelesik, mungkin banyak warga Grobogan sendiri yang belum pernah mendengar kuliner unik khas Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan itu.

Rasanya gurih....
Ayam pencok. Rasanya gurih….

Sebuah informasi yang saya peroleh menyebutkan, kuliner ini dulu sekitar tahun 2000-an, masih dapat ditemukan dibuat oleh seorang warga setempat bernama Saminem. Untuk mendapatkan kuliner khas tersebut tidaklah mudah. Sebab, Saminem tidak membuka warung ayam pencok layaknya warung makan di pinggir jalan. Ya, Saminem hanya menerima pesanan. Meski demikian, kabarnya ayam pencok buatan Saminem sudah dikenal hingga ke Singapura, dan sering menerima pesanan dari “negeri seribu satu larangan” tersebut.

Awal bulan Oktober 2016 lalu, saya berusaha hunting kuliner khas ini ke Desa Kuwu. Informasi yang saya dapatkan, masih ada sebuah warung yang menjual kuliner ayam pencok tersebut. Warung itu bernama Warung Makan Mbak Dami. Ditemani mas Dian, sahabat saya yang tinggal di Banjarsari, Kecamatan Kradenan, saya berkunjung ke warung tersebut. Sayang, warungnya sedang tutup alias libur jualan.

Kurang lebih dua minggu kemudian, saya sms mas Dian untuk minta ditemani kembali berkunjung ke warung tersebut. “Siap pak, saya cek dulu, warung buka atau tidak” jawaban sms mas Dian yang masuk ke ponsel saya.



Beberapa saat kemudian, mas Dian mengabari, kalau warung, lagi-lagi tutup. Akhirnya, saya bilang ke mas Dian via sms, “Oke mas, tolong sewaktu-waktu cek ya, kalau pas warung buka, saya akan agendakan datang. Syukur bisa tanyakan terlebih dulu sehari sebelumnya. Trims”

Beberapa waktu kemudian, kabar buruk dari mas Dian saya terima. Ternyata, Warung Mbak Dami sekarang sudah tutup total alias tidak buka lagi. Lalu, saya pun menemui Pak Cantono, warga Kuwu yang selama ini rumahnya ditempati Warung Mbak Dami. Dari informasi yang saya peroleh dari Pak Cantono menyebutkan, Mbak Dami merintis warung yang menyediakan ayam pencok sejak sekitar tahun 2001. “Warung ini kemudian dikenal sebagai satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tuturnya.

Tahun 2015 Mbak Dami meninggal dunia, karena sakit yang dideritanya. Sejak meninggalnya Mbak Dami, kemudi warung mbak Dami diambil alih oleh adik kandungnya dan adik iparnya. Hingga kemudian, karena sesuatu hal, bulan Oktober 2016 lalu, warung akhirnya resmi ditutup.

Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami...
Saya (paling kanan) saat mewawancarai pak Cantono (paling kiri) tentang tutupnya WM. Mbak Dami…

WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok...
WM. Mbak Sri Jago Muda, kini jadi satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok…





Dengan ditutupnya Warung Mbak Dami, membuat kuliner ayam pencok ini tentu saja nyaris menuju kepunahannya. Beruntung, Warung Makan Mbak Sri Jago Muda yang beralamat di Jl. Honggokusuman No. 45 Kuwu, HP: 081326606771, menangkap peluang itu dan berinisiatif menambah menu di warungnya dengan ayam pencok. Sehingga sekarang, ayam pencok bisa dijumpai di warungnya. “Jadi, sekarang, warung saya satu-satunya warung yang menyediakan ayam pencok,” tutur Mbak Sri kepada saya.

Salah satu yang menjadi keunikan ayam pencok adalah pada proses pembuatannya yang menguji kesabaran. Menurut Mbak Sri, proses pembuatannya adalah, ayam kampung yang sudah disembelih dibersihkan, lalu dicencem dengan bumbu uleg meliputi garam dan bawang putih. Lalu, dipanggang di atas bara api.

Memanggang ayam tersebut harus ekstra hati-hati, karena antara bara api dengan ayam diberi jarak sekitar 25 hingga 30 cm. Api pun dijaga agar tidak terlalu besar. Selain itu, saat memanggang tidak perlu dikipasi. Adapun durasi memanggang sekitar dua atau tiga jam, sehingga ayam akan matang sempurna.

Proses pemanggangan ayam pencok... (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)
Proses pemanggangan ayam pencok… (foto: Ngadiono/Disporabudpar Kab. Grobogan)

Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya...
Ayam pencok hasil panggangan, rasanya gurih dan nikmat disantap dengan sambalnya…





Sembari menunggu ayam masak, disiapkanlah sambal pencok sebagai pendamping nanti saat menikmati ayam pencok. Sambel pencok terbuat dari kelapa muda yang diparut, dipadu cabai, terasi, bawang, dan kencur. Untuk menjaga agar sambal pencok tahan lama, maka paduan bahan tersebut dikukus terlebih dulu hingga masak. Setelah masak, ayam pencok pun siap dihidangkan.

Cita rasa ayam pecok begitu gurih, beda dengan ayam panggang pada umumnya. Dipadu dengan sambal pencok, ayam pencok terasa sangat lezat disantap. Di Warung Mbak Sri, seekor ayam pencok utuh dihargai Rp 90.000,-. Adapun paket hemat berupa sepiring nasi plus sepotong ayam pencok yang disuwir-suwir dan dicampur sambal pencok dihargai Rp 10.000,-.

Sebagai pecinta kuliner tradisional, saya tentu berharap kuliner khas dan unik ini tidak punah. Semoga ada lagi warung yang mau melirik menu ini untuk dijadikan menu spesial di warungnya; atau barangkali Pemerintah Kabupaten Grobogan tertarik untuk mengangkat kuliner-kuliner tradisional khas lokal yang nyaris punah tersebut agar terus eksis, misalnya dengan mengadakan festival kuliner, dan sebagainya. Semoga.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Sensasi Unik Pecel Gudeg, Kuliner Ikonik di Jember Sejak tahun 1968

0
Rasanya unik, pas, enak dan lezat....




Bila menyebut pecel, maka yang ikonik adalah pecel khas Madiun. Dan bila menyebut gudeg, maka so pasti yang terbayang adalah Yogyakarta. Lalu bagaimana bila dua kuliner pusaka itu dipadu? Maka, jadilah pecel gudeg; dan kita harus menyebut Jember, Jawa Timur, karena di “kota suwar suwir” itulah kuliner itu berada dan menjadi ikonik serta melegenda.

Paduan dari pecel dan gudeg...
Paduan dari pecel dan gudeg…
Citarasanya disesuikan selera masyarakat Jawa Timur
Citarasanya disesuikan selera masyarakat Jawa Timur

Bagi saya, pecel gudeg merupakan kreativitas brilian yang memadukan cita rasa dua kuliner menjadi sebuah cita rasa kuliner yang spesial. Pecel dan gudeg dipadu ternyata menghasilkan cita rasa unik yang sensasional di lidah. Pantas bila kreativitas ini berbuah berkah dan apresiasi masyarakat yang luar biasa, berupa banyaknya peminat kuliner ini.

Adalah Ibu Laksono asal Wonogiri yang memiliki kreativitas brilian itu. Sejak tahun 1968, ia merintis kuliner pecel gudeg ini di Jember, setelah sebelumnya sempat malang melintang di dunia kuliner dengan jualan jamu keliling di Bondowoso sejak sekitar tahun 1958.

Warung Makan Pecel Gudeg Lumintu yang dirintisnya kini tidak hanya masih eksis, namun lebih dari itu, saat ini menjadi jujugan wisata kuliner di Jember. Popularitas pecel gudeg Lumintu—meminjam  istilah Syahrini—begitu cetar membahana. Sehingga meskipun lokasinya tidak di pinggir jalan raya, namun ndelik alias masuk gang sekitar 400-an meter, namun setiap hari selalu dipadati pembeli.



Warung makan Lumintu saat ini telah memasuki generasi kedua, yakni dikelola oleh anaknya yang bernama Rohan. Ia merupakan anak ke-11 dari 14 bersaudara. Bersama ketiga adiknya, setiap hari ia mengelola warung makan yang terletak di Jl. Kertanegara 33, Jember, dan melayani pembeli yang selalu berjubel, terutama di pagi hari.

Foto Ibu Laksono (pendiri warung makan pecel gudeg Lumintu) berpose dengan Bondan Winarno...
Foto Ibu Laksono (pendiri warung makan pecel gudeg Lumintu) berpose dengan Bondan Winarno…
Jadi ikon dan jujugan kuliner di Jember
Jadi ikon dan jujugan kuliner di Jember

Cerita tentang fenomena pecel gudeg warung makan Lumintu di Jember yang ikonik itu begitu menggoda saya. Maka, ketika saya berkesempatan berkunjung ke Jember, saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk tidak mampir ke warung ini.

Hari itu, hari Minggu, pagi-pagi saya meluncur dan tepat pukul 06.05 saya tiba di warung ini. Tapi masyaallah… pengunjung sudah cukup ramai. Dan amazing…dalam hitungan kurang dari setengah jam sejak saya tiba, warung ini sudah dijejali oleh pembeli, baik makan di tempat maupun di bawa pulang.

Pak Rohan menuturkan kepada saya, setiap hari warung makannya memang selalu dipadati pembeli, terutama pada hari Jumat dan Minggu. “Buka mulai jam 6 pagi hingga jam 2 siang, dan tutup setiap hari Sabtu,” tuturnya kepada saya.



Di sela aktivitasnya melayani pembeli, Pak Rohan menuturkan, salah satu rahasia kesuksesan warungnya adalah mengemas cita rasa gudegnya sesuai dengan selera masyarakat Jawa Timur. Maka gudeg khas Yogyakarta yang umumnya manis, ‘disulap’ menjadi cenderung gurih-asin sesuai selera lidah masyarakat Jawa Timur.

Setiap hari selalu pembeli selalu antri...
Setiap hari pembeli selalu antri…
Semua kursi penuh...
Semua kursi penuh…

Meski di warung ini menawarkan berbagai menu lainnya seperti soto ayam, namun pecel gudeg-lah yang paling ikonik dan diburu pembeli, termasuk saya. Seporsi pecel gudeg Lumintu dipatok Rp 20.000,- , di dalamnya terdiri dari pecel berupa kacang panjang dan kecambah yang disiram sambal kacang yang cukup pedas, sepotong daging ayam, telur, gudeg yang terbuat dari nangka muda yang gurih, sambal goreng krecek, sambal, dan rempeyek kacang.

Hemmm….cita rasanya memang nyamleng, unik, khas, pas, enak, gurih, dan lezat. Pantas bila kuliner ini ikonik dan melegenda. Bila berkunjung ke Jember, bolehlah mampir ke warung ini. Salam Jateng Nyamleng!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Popular Posts

My Favorites

Ternyata, Sate Buntel Mbok Galak Memang Uenak

Hari Jumat itu, saya janjian dengan seorang teman ketemuan di terminal Solo. Rencananya kami bersama-sama ke Jakarta untuk mengikuti sebuah acara dengan mengendarai mobilnya. Saya...
error: Content is protected !!