Lezatnya Sate Sapi Pak Beng, Dari Resep Turun-temurun Sejak Tahun 1939

0

Salah satu tempat singgah favorit saya bila perjalanan dari rumah (Godong, Grobogan) ke Semarang adalah Warung Sate Sapi Pak Beng di Gubug. Ditilik dari penampakan warungnya, memang nampak amat sederhana. Berdinding papan yang sudah kusam, berlantaikan tanah. Namun bila sudah merasakan sajian menu yang dihidangkan, boleh jadi lain ceritanya. Sate sapi Pak Beng memang sudah moncer kelezatannya. Resep satenya sudah turun-temurun sejak tahun 1939.




4
Sate sapi Pak Beng, rasanya memang nyamleng…
2
Gurih dan legit…
Nasinya disiram sambal kacang...
Nasinya disiram sambal kacang…

Menurut cerita Pak Beng, resepnya berasal dari kakeknya yang bernama Sugiman yang merintis usaha kuliner sate sejak sekitar tahun 1939. Lalu pada tahun 1950-an, usaha kuliner itu diteruskan oleh ayahnya yang bernama Sumidi. “Dan sejak tahun 1994, kemudi usaha saya yang teruskan hingga sekarang,” tutur Pak Beng.

Beng sendiri bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah Jumadi. Beng adalah nama panggilan yang diberikan oleh teman-temannya. Namun nama itu justru membawa hoki dan menjadi brand bagi warung satenya.



Tak mudah memang bertahan dan eksis mengibarkan usaha kuliner di tengah serbuan waralaba kuliner modern yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Dan warung sate sapi Pak Beng telah membuktikan bisa tetap eksis hingga kini serta memiliki banyak pelanggan yang setia.

Menurut Pak Beng, pelanggan satenya tak hanya berasal dari Gubug saja, tetapi juga dari luar Gubug, bahkan dari luar Kabupaten Grobogan seperti Blora, Kudus, dan Demak. Bahkan tercatat beberapa mantan ‘pembesar’ di Kabupaten Grobogan seperti H. Bambang Pujiono (mantan Bupati Grobogan dua periode), H. Icek Baskoro (mantan Wakil Bupati Grobogan dua periode), dan H. Soepomo (mantan anggota DPRD Grobogan), termasuk penggemar satenya.

Pak Beng sedang memasukkan daging satenya ke tusuk sate...
Pak Beng sedang memasukkan daging satenya ke tusuk sate…
Ketua BPD Kemiri, Kecamatan Gubug, Heri Bodong (pakai topi), salah seorang pelanggan sedang menikmati sate sapi Pak Beng bersama rekannya...
Ketua BPD Kemiri, Kecamatan Gubug, Heri Bodong (pakai topi), salah seorang pelanggan sedang menikmati sate sapi Pak Beng bersama rekannya…

Dari sudut citarasa, Sate Pak Beng rasanya memang bolehlah. Menurut saya, cita rasa sate sapi Pak Beng mirip dengan sate sapi Pak Kempleng di Ungaran yang juga fenomenal dan legendaris. Dagingnya empuk, gurih dan legit, serta aroma bakarannya berpadu membuahkan rasa yang lezat dan nyamleng saat dinikmati. Ada dua pilihan sambal sebagai pelengkap makan sate sapi di warung Pak Beng, yakni sambal kecap dan sambal kacang. Tinggal pilih sesuai selera.

Lokasi warung Pak Beng mudah ditemukan. Yakni di pertigaan bundaran Gubug. Warung ini buka setiap hari mulai jam 08.00 (pagi) sampai dengan jam 21.00 (malam). Satu porsi sate (10 tusuk) dipatok Rp 30 ribu. Plus sepiring nasi putih dan es teh manis totalnya hanya Rp 35 ribu saja. Bila berkunjung ke Gubug, Kabupaten Grobogan, sate sapi Pak Beng bolehlah menjadi salah satu tujuan makan Anda! Monggo….* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)


Merindukan (Kembali) Pesona Objek Wisata Bledug Kuwu

2
Dulu, letupan lumpur Bledug Kuwu, bisa hingga setinggi 5 meter...
Letupan Bledug Kuwu, tak lagi setinggi dulu…

Kabupaten Grobogan memiliki sejumlah daya tarik di bidang pariwisata yang cukup besar dan bervariasi. Tersebar di beberapa kecamatan, serta setiap objek memiliki karakteristik dan daya tariknya masing-masing.

Potensi kepariwisataan di Kabupaten Grobogan meliputi objek wisata religi, objek wisata alam, serta wisata sejarah dan budaya. Salah satu objek wisata yang unik dan memiliki daya tarik wisata serta yang paling terkenal sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Grobogan adalah Bledug Kuwu.

Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

0




Kabupaten Grobogan memang kaya potensi wisata, baik wisata alam, sejarah, maupun religi. Makam Ki Ageng Selo salah satunya. Makam sosok masa silam yang legendaris ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang sangat populer di Kabupaten Grobogan. Sosoknya lekat dengan legenda penangkapan petir.

Dalam sebuah sarasehan tentang wisata yang saya ikuti, yang dihelat oleh InBound Tourism Community (IBTC) Jawa Tengah di Kyriad Grand Master Hotel Purwodadi beberapa waktu lalu, mencuat ide menjadikan Grobogan sebagai “Kota Legenda”. Mengingat bahwa di Kabupaten Grobogan memang banyak dijumpai legenda besar yang bereputasi nasional, seperti legenda Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar di Desa Banjarejo (Kecamatan Gabus), legenda Jaka Linglung dan Bajul Putih yang konon menjadi asal usul wisata Bledug Kuwu di Desa Kuwu (Kecamatan Kradenan), legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari di Desa Tarub (Kecamatan Tawangharjo), termasuk juga legenda Ki Ageng Selo dan penangkapan petir, dan masih banyak lagi.

Jauh sebelum  ide itu mencuat, saya sudah menulis tentang “Kota Legenda” ini di sebuah surat kabar lokal Jawa Tengah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, potensi legenda yang begitu besar itu, sejauh ini belum dikelola secara baik sebagai salah satu daya tarik wisata yang bisa dioptimalkan. Sehingga kemudian, selain bisa meningkatkan pendapatan asli daerah atau PAD, juga bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar.

Selayang Pandang Ki Ageng Selo

Makam Ki Ageng Selo salah satu destinasi wisata potensial itu. Meski sangat populer, tapi belum menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah. Sejauh ini makam Ki Ageng Selo baru menjadi destinasi para peziarah yang ingin ngalap berkah.

Siapakah sosok Ki Ageng Selo? Berbicara mengenai sosok para wali, seperti Walisongo dan para muridnya, sepertinya lebih banyak aroma mitos dan mistisnya daripada aspek kesejarahannya. Padahal, dari sosok tokoh sejarah dan legenda seperti Ki Ageng Selo, bisa digali kearifan hidupnya yang adiluhung dan bisa dijadikan paugeran (patokan, peraturan). Wikipedia bahkan menulis, kisah hidupnya pada umumnya bersifat legenda, menurut naskah-naskah babad.

Gapura menuju makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Penawangan

Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo (Pustaka Imam Bonjol, 2017) menyebutkan, menurut Babad Tanah Jawa, Ki Ageng Selo adalah salah seorang murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram.



Menurut Dhanu Priyo Prabowo dalam bukunya Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela (Penerbit Narasi, 2004) disebutkan, Ki Ageng Selo hidup di zaman pemerintahan Kerajaan Demak terakhir. Pada masa itu, Kerajaan Demak di bawah kekuasaan Kanjeng Sultan Trenggono (1521-1545 Masehi).

Nama kecil Ki Ageng Selo adalah Bagus Sogum. Setelah dewasa dan sepuh, beliau dipanggil Kiai Abdulrahman. Kemudian lebih dikenal dengan Ki Ageng Selo karena ia tinggal di Desa Selo (saat ini masuk wilayah Kecamatan Tawangharo, Kabupaten Grobogan).

Menurut sejarah, Ki Ageng Selo masih memiliki alur darah dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Selain itu, Ki Ageng Selo juga masih memiliki alur saudara dengan Sultan Trenggano di Demak.

Menurut sebuah literatur, antara Ki Ageng Selo dengan Sultan Trenggono diikat oleh tali persaudaraan, yakni kadang nak-sanak tunggal eyang (saudara sepupu satu nenek). Hal ini terjadi karena  Sultan Trenggono terhitung cucu dari Prabu Brawijaya V, demikian juga Ki Ageng Selo (dalam literatur lain Ki Ageng Selo adalah cicit Prabu Brawijaya V). Keduanya hidup dalam satu zaman.

Ihwal Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram, dapat dijelaskan sebagai berikut. Adalah cucu Ki Ageng Selo bernama Ki Ageng Pemanahan memiliki anak bernama Sutawijaya, yang kemudian bergelar Senopati. Sutawijaya seperti diketahui adalah Raja Mataram yang sangat masyhur.

Sri Sultan Hamengkubuwono IV tercatat juga masih keturunan Ki Ageng Selo. Bahkan, menurut silsilah yang ada, Ibu Tien Soeharto (istri Presiden Soeharto) juga masih keturunan Ki Ageng Selo, yaitu keturunan yang ke-17.

Selama hidupnya, Ki Ageng Selo dikenal sebagai salah seorang wali yang cendekia dan juga mumpuni di bidang karawitan, seni lukis dan ukir. Ki Ageng Selo-lah pembuat Pintu Bledheg di Masjid Agung Demak, yang kini pintu aslinya masih dapat  kita jumpai di Museum Masjid Agung Demak.

Infonya bisa dibaca di artikel: Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

Legenda Menangkap Petir

Salah satu mitos legenda yang dinisbatkan kepada Ki Ageng Selo adalah perihal kesaktiannya yang sangat luar biasa, yakni dapat menangkap petir dengan tangan kosong.

Ki Ageng Selo Menangkap Petir, sebuah buku yang mengungkap sosok Ki Ageng Selo, terbit tahun 1983

Dalam legenda diceritakan, syahdan, saat sedang asyik bekerja mencangkul di sawahnya yang terbentang luas, mendadak cuaca menjadi mendung. Dalam waktu singkat, petir atau bledheg datang menyambar-nyambar di atas kepalanya.



Sudah berulangkali Ki Ageng Selo mengucapkan kata-kata Subhanallah (Maha Suci Allah), tetapi petir masih kurang ajar. Bahkan hendak menyambar kepala Ki Ageng Selo. Apa boleh buat. Ketika petir hendak menyambar lagi, terpaksalah kemudian petir itu ditangkapnya.

Setelah ditangkap, petir dicancang atau diikat di sebatang pohon bernama pohon Gandri.

Sampai saat ini, dalam lingkup tertentu masih terjadi perdebatan, apakah legenda penangkapan petir oleh Ki Ageng Selo itu fakta atau hanya mitos belaka. Karena penangkapan petir tentu bertentangan dengan realitas ilmiah. Saya sendiri tentunya lebih sepakat dengan yang berpendapat kisah itu sebagai pesan simbolik yang umum terdapat dalam sebuah legenda atau cerita rakyat.

Terlepas dari itu, T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir (Yayasan Parikesit Surakarta, 1983) menyatakan bahwa takhayul atau keanehan yang tidak masuk akal itu hanya semata-mata sebagai bumbu ramuan penyedap masakan.* (Kang Asti, bersambung)

Baca kelanjutannya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)




Lezatnya Miyagor, Mie Ayam versi Goreng ala Pak Ujang

2
Miyagor, mie ayam versi goreng




Mie ayam adalah kuliner Indonesia yang terbuat dari mie kuning dengan kuah yang diramu dari berbagai bumbu, diberi olahan daging ayam yang dicincang dan sayuran, lalu (biasanya) dimakan dengan terlebih dulu diberi saos dan kecap. Mie sendiri awalnya berasal dari Negeri Cina. Tetapi mie ayam yang seperti di Indonesia tidak ditemukan di Cina. Sehingga boleh dikata, mie ayam sudah menjadi makanan tradisional ala Indonesia. Di Jawa, makanan ini sangat mudah ditemukan karena banyaknya penjual kuliner ini.

Saking banyaknya penjual mie ayam, sehingga usaha ini termasuk usaha yang begitu kompetitif. Karenanya, sebagian penjual mie ayam berupaya membuat terobosan kreatif untuk memikat konsumen. Adalah miyagor alias mie ayam goreng yang menjadi salah satu kreasi yang ditawarkan.

Miyagor menjadi menu spesial....
Miyagor menjadi menu spesial….

Di Purwodadi, ibukotanya Kabupaten Grobogan, Anda bisa mendapatkan mie ayam versi goreng ini di Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang, yang beralamat di Jl. A. Yani Kios No.19 Barat Pasar Purwodadi. Pak Ujang sendiri sudah mulai berjualan bakso dan mie ayam sejak tahun 1991 atau sekira 25 tahun yang lalu. Karenanya, tak heran, bila pelanggan warungnya sudah cukup banyak. Setiap hari, warung ini selalu ramai dipadati oleh pengunjung yang ingin menyantap kelezatan bakso sapi dan mie ayamnya.

Menurut Maryadi, menantu Pak Ujang yang kini ikut mengelola warung, kurang lebih setahun lalu, miyagor atau mie ayam goreng menjadi menu baru di warung bakso sapi dan mie ayam Pak Ujang. “Dimulai dari masukan saya waktu melihat ada yang jual di Semarang, akhirnya Bapak coba-coba, dan akhirnya jadilah menu miyagor  seperti sekarang ini,” tutur Maryadi kepada saya.

Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang
Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang




Setiap hari dipadati pelanggannya...
Setiap hari dipadati pelanggannya…

Miyagor menjadi menu spesial...
Miyagor, kelezatan mie yang beda…

Tak disangka, kini miyagor menjadi menu spesial dan andalan di warung milik Pak Ujang yang bernama asli Ermedi itu. Bahkan pelanggannya sudah cukup banyak. “Alhamdulillah, sehari rata-rata terjual di atas 50 porsi miyagor. Bahkan terkadang bisa sampai 70 porsi, Pak,” tutur Maryadi kepada saya.

Miyagor sebagai mie ayam versi goreng memang memunculkan sensasi rasa tersendiri. Gurihnya bumbu mie ayam yang khas berasa lebih kuat di lidah. Sehingga, menurut saya, miyagor benar-benar menyuguhkan kelezatan mie ayam yang beda, yang layak untuk dicoba. Kondimen irisan tomat, selada, dan mentimun, menjadi tambahan yang menambah kelezatannya.




Warung bakso sapi dan mie ayam Pak Ujang buka setiap hari mulai jam 09.30 hingga jam 21.00 WIB. Meski menu bakso sapi dan mie ayam di warung ini tetap diminati oleh pelanggannnya, namun sensasi kelezatan miyagornya layak Anda coba. Apalagi harganya juga amat terjangkau. Seporsi miyagor dipatok Rp 10 ribu. Bisa Anda makan di tempat, bisa juga Anda bungkus dan dimakan di rumah. Selamat mencoba!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Artikel Populer

Artikel Favorit

Rekreasi ke Jogja: Melihat Penguin, Simulasi Langit Malam Jogja, dan Berburu...

Sabtu (10/12/2016) kemarin, saya berkesempatan mengajak keluarga, meliputi istri dan ketiga anak saya, beserta khodimat (PRT) rekreasi ke Yogyakarta. Tujuannya ke Gembira Loka Zoo...
error: Content is protected !!