Taman Satwa Taru Jurug, Wisata Edukasi Satwa di Kota Solo yang Kini Dilengkapi Taman Lampion

0




Taman Satwa Taru Jurug, sebuah wisata edukasi satwa di Kota Solo, rupanya kini berbenah memikat wisatawan. Bila siang hari menawarkan rekreasi edukasi satwa, maka malam harinya menawarkan taman lampion yang keren abis.

Kalau ingin menikmati rekreasi sekaligus edukasi satwa untuk kelurga di Kota Solo, maka Taman Satwa Taru Jurug atau yang juga dikenal dengan sebutan Solo Zoo adalah rekomendasinya. Taman Satwa Taru Jurug adalah destinasi wisata edukasi satwa yang cukup populer dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kota Solo.

Saya telah beberapa kali berkunjung ke objek wisata yang beralamat di Jalan Ir. Sutami No.109, Jebres, Kota Surakarta, itu. Berlokasi di timur Kota Solo, dekat perbatasan dengan Karanganyar.Terakhir, saya ke Taman Satwa Taru Jurug bersama rombongan wisata siswa-siswi sekolah yang saya kelola, Desember 2017 lalu.

Kilas Sejarah Taman Satwa Taru Jurug

Gerbang Taman Satwa Taru Jurug

Sekilas tentang Taman Satwa Taru Jurug atau sering juga disebut Kebun Binatang Jurug, dulunya hanya berupa taman kota yang terdapat di tepi Bengawan Solo. Beberapa binatangnya merupakan binatang koleksi Taman Sriwedari yang juga merupakan nama taman baru yang dulunya bernama  Kebun Raja.

Kebun Raja dibangun pada tahun 1870-an oleh Paku Buwono X. Setelah Paku Buwono X meninggal dunia, yakni pada tahun 1939, Kebun Raja menjadi kurang terawat. Akhirnya, sekitar tahun 1986, Pemkot Solo menginisiasi pengambil alihan kebun binatang yang kurang terawat tersebut. Pemkot Solo memindahkan kebun binatang tersebut ke tempat satwa yang lebih baik dan terawat.

Maka dibentuklah sebuah yayasan bernama Yayasan Bina Satwa Taruna untuk mengelola satwa-satwa tersebut. Tak berapa lama kemudian, berdirilah Taman Satwa Taru Jurug seperti yang kita ketahui sekarang ini.



Pada weekend dan hari-hari libur, Taman Satwa Taru Jurug selalu ramai dikunjungi wisatawan




Taman Satwa Taru Jurug menawarkan wisata edukasi satwa, di dalamnya terdapat berbagai spesies hewan. Dengan konsep wisata alam, jalan-jalan di dalam taman dikelilingi pohon-pohon besar dan rindang. Membuat pengunjung nyaman sambil melihat-lihat koleksi satwa yang ada.

Bila sedang capek, bisa naik kereta mini yang disediakan pengelola dengan membeli tiket keretanya. Nanti akan diturunkan di area satwa. Setelah puas melihat-lihat koleksi satwa yang ada, nanti akan dijemput kembali dengan kereta mini.

Melihat Merak Mengepakkan Sayapnya

Sebagaimana kebun binatang lainnya, Taman Satwa Taru Jurug juga memiliki koleksi satwa yang banyak. Ada gajah, harimau, kuda, orang  hutan, monyet, aneka burung seperti elang, kasuari, merak, dan lain sebagainya. Saat berkunjung ke taman satwa ini, saya bisa menyaksikan burung merak yang sedang mengepakkan sayapnya. Ini baru pertama kali saya melihat secara langsung burung merak memekarkan sayapnya dalam durasi yang cukup lama. Cukup indah dilihat.

Burung Merak yang merupakan salah satu koleksi satwa jenis burung di Taman Satwa Taru Jurug, sedang memekarkan sayapnya
Saya pun berpose dengan burung Merak yang sedang memekarkan sayapnya

Saya pun tak luput mengabadikan momen yang jarang terjadi itu. Bahkan sempat berpose dengan burung merak yang tengah memekarkan sayapnya itu. Hehe…

Naik Unta Bersama Istri

Selain menyediakan layanan naik gajah, di Taman Satwa Taru Jurug, pengunjung juga bisa merasakan bagaimana sensasinya naik unta. Karena di taman ini juga mengoleksi satwa unta padang pasir yang bisa dinaiki.

Naik unta bersama istri di Taman Satwa Taru Jurug

Saya pun mengajak istri saya untuk naik unta. Jadilah, saya dan istri naik di Taman Satwa Taru Jurug hehe…

Ini adalah untuk kedua kalinya saya naik unta di Taman Satwa Taru Jurug. Sebelumnya saya juga pernah naik untuk di sini dengan anak laki-laki saya, Fathan Mubina.

Kini Dilengkapi Taman Lampion




Daya tarik Taman Satwa Taru Jurug kini semakin magnetis, karena sejak akhir Desember 2017 lalu, pengelola menambah wahana baru berupa taman lampion.

Bila di siang hari pengunjung hanya bisa menikmati koleksi satwa yang ada, maka di malam hari Taman satwa Taru Jurug disemarakkan dengan taman lampion. Terdapat ribuan lampion berbagai bentuk yang menghiasi hampir seluruh bagian taman.

Kini Taman Satwa Taru Jurug dilengkapi taman lampion yang memukau di malam hari. (Dinas Pariwisata Solo)

Ribuan lampion itu menghiasi gerbang, sepanjang jalan-jalan, taman, hingga wahana permainan di Taman Satwa Taru Jurug. Hiasan-hiasan berbentuk bunga-bunga kecil, hingga bentuk besar seperti pohon, ikan, naga, hiu, dan hewan lainnya hingga 600 lampion besar bisa terlihat.

Dan, salah satu atraksi yang tidak boleh terlewat di sini ialah dancing fountain atau air mancur menari. Terletak di pusat taman, air mancur ini akan melakukan atraksi-atraksi yang diiringi lagu, dan sorotan lampu warna-warni.

Salah satu atraksi merarik di taman lampion adalah dancing fountain atau air mancur menari. (Dinas Pariwisata Solo)

Salah satu pertunjukan uniknya adalah ketika ketinggian air mancur menjulang tinggi hingga 30 meter selama beberapa detik. Lalu, beberapa sorotan laser bergantian menerangi, juga dimeriahkan semprotan api di sekitar air mancur tersebut.

Taman lampion tersebut merupakan hasil kerja sama Taman Satwa Taru Jurug  dengan Taman Pelangi. Wahana baru ini secara keseluruhan menggunakan daya listrik sebesar 180 ribu watt. 80 ribu watt di antaranya khusus digunakan untuk dancing fountain.

Sayangnya, saat saya terakhir berkunjung di Taman Satwa Taru Jurug, wahana baru ini belum di-launching. Jadi baru bisa melihat para pekerja yang sedang sibuk menata dan mempersiapkan taman lampion yang sepertinya memang wah dan keren itu. Sayang ya.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

0
Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz Tulisan Tangan

Di Museum Masjid Agung Demak tersimpan benda-benda purbakala peninggalan Walisongo dan benda-benda lainnya yang terkait dengan Masjid Agung Demak.

Museum Masjid Agung Demak




Berkunjung ke Masjid Agung Demak tak lengkap rasanya bila belum singgah ke Museum Masjid Agung Demak yang masih satu kompleks dengan lokasi masjid. Letaknya di sebelah utara serambi Masjid Agung Demak atau sebelah utara persis situs kolam wudhu bersejarah.

Baca artikel sebelumnya: Menyusuri Jejak Walisongo di Masjid Agung Demak

Museum Masjid Agung Demak berdiri di atas lahan seluas 16 meter persegi, dibangun dengan anggaran mencapai Rp 1,1 miliar yang berasal dari APBD Demak dan sisanya dari Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Masjid Agung Demak. Di dalam museum tersimpan koleksi benda-benda bersejarah peninggalan Walisongo dan Masjid Agung Demak yang jumlahnya mencapai 60 koleksi.

Museum ini buka dari Senin hingga Minggu pada jam kerja. Tak ada tiket masuk alias gratis, tapi pengunjung dianjurkan untuk berinfaq seikhlasnya di kotak infaq yang disediakan pengelola.

Benda-benda bersejarah apa saja yang dapat kita lihat di Museum Masjid Agung Demak? Dari 60-an koleksi, berikut  ini di antaranya:

1. Maket Masjid Demak

Maket Masjid Agung Demak 1845 -1864

Maket atau miniatur Masjid Agung Demak tersimpan di museumnya. Maket itu konon aslinya dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang memang beliau adalah arsitek pembangunan Masjid Agung Demak. Termasuk dalam penentuan kiblat masjid yang konon dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Soal kiblat ini, pada abad ke-18 M (Masjid Agung Demak berdiri pada abad ke-15 M), pernah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, mufti Kerajaan Banjarmasin dan penulis Kitab Sabilal Muhtadin, melawat ke Tanah Jawa dan menyelidiki pembuatan Masjid Demak, bahkan masjid-masjid seluruh Jawa. Maka beliau menyimpulkan bahwasannya masjid yang benar-benar tempat mihrabnya menghadap kiblat adalah Masjid Demak.

Menurut Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo (Pustaka Imam Bonjol, cet. 2, Maret 2017), demikian itu karena kepiawaian para sunan sebagai ahli dalam ilmu falak (astronomi).

2. Soko Guru Peninggalan Para Wali

Soko guru peninggalan wali yang asli tersimpan di Museum Masjid Agung Demak

Di museum juga tersimpan empat soko guru (tiang penyangga) bagian bangunan induk Masjid Agung Demak yang asli. Empat sokoguru itu adalah peninggalam empat wali, yaitu Sunan Bonang (Tuban), Sunan Gunungjati (Cirebon), Sunan Ampel (Surabaya), dan Sunan Kalijaga (Demak).

Soko guru yang saat ini menyangga bangunan induk Masjid Agung Demak adalah replikanya, di mana formasi tata letak keempat soko guru tersebut adalah sebagai berikut:

  • Bagian barat laut –> soko guru buatan Sunan Bonang
  • Bagian barat daya –> soko guru buatan Sunan Gunungjati
  • Bagian tenggara –> soko guru buatan Sunan Ampel
  • Bagian timur laut –> soko guru buatan Sunan Kalijaga   

3. Pintu Bledeg Ki Ageng Selo

Pintu Bledeg ciptaan Ki Ageng Selo

Pintu Bledeg adalah daun pintu berukir peninggalan murid Sunan Kalijaga yang bernama Ki Ageng Selo (Grobogan) yang dibuat pada tahun 1466 M atau 887 H. Daun pintu terbuat dari kayu jati berukir tumbuh-tumbuhan, jambangan, sejenis mahkota, dan kepala binatang mitos dengan mulut bergigi yang terbuka.

Menurut cerita rakyat yang berkembang (yang itu tentu hanya legenda belaka), kepala binatang tersebut menggambarkan petir yang konon pernah ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Karena itulah orang-orang menamakan pintu itu sebagai Pintu Bledeg dan merupakan condro sengkolo yang berbunyi nogo mulat saliro wani, yaitu tahun 1388 Saka atau tahun 1466 Masehti atau 887 Hijrah.

4. Daun Pintu Makam Kesultanan 1710 M

Daun Pintu Makam Kesultanan 1710 M

5. Bedug Wali Abad XV

Bedug peninggalam wali abad XV

Bedug dan juga kentongan merupakan properti hasil kreasi budaya para wali yang menjadi sarana untuk menginformasikan kepada masyarakat akan masuknya waktu shalat. Bedug dan juga kentongan yang tersimpan di Museum Masjid Agung Demak tertulis merupakan peninggalan abad XV.

6. Kentongan Wali Abad XV

Kentongan peninggalan wali abad XV

7. Gentong Kong dari Dinasti Ming

Gentong Kong dari Dinasti Ming

Gentong Kong berupa guci keramik peninggalan Dinasti Ming itu  jumlahnya ada 3 buah. Merupakan hadiah dari Putri Campa pada abad XIV. Tinggi guci 90 cm dan garis tengahnya 100 cm. Guci milik kesultanan demak itu dulu digunakan sebagai penampung air untuk memasak.

8. Kap Lampu Peninggalan Pakubuwono ke-1 Tahun 1710 M

Kap Lampu Peninggalan Pakubuwono ke-1 Tahun 1710 M

9. Kayu Tatal Buatan Sunan Kalijaga

Kayu Tatal Buatan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga dalam membuat salah satu tiang penyangga (soko guru) bangunan induk Masjid Agung Demak tidak menggunakan kayu utuh, namun serpihan kayu, yang kemdian dikenal dengan nama Saka tatal atau Kayu Tatal. Baik tiang penyangganya maupun beberapa serpihan kayu tatal itu kini tersimpan di Museum Masjid Agung Demak.

10. Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz Tulisan Tangan

Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz Tulisan Tangan

Al-Qur’an bertuliskan tangan 30 juz itu ditemukan di bawah atap (bangunan atas) ketika Masjid Agung Demak sedang dipugar. Koleksi Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz tulisan tangan tersebut disimpan di dalam lemari pajang kaca, dengan pengawet alami di dekatnya.

11. Tafsir Al-Qur’an Juz 15-30 karya Sunan Bonang

Tafsir Al-Qur’an Juz 15-30 karya Sunan Bonang

Tafsir Sunan Bonang Juz 15 s/d 30 yang tersimpan di Museum Masjid Agung Demak ini tertulis selesai ditulis pada saat terbitnya matahari (waktu dhuha) hari Sabtu, tanggal 20 bulan Sya’ban tahun 1000 H. Sebuah sumber menyebutkan, kitab ini adalah satu harta kaum muslim Jawa yang selamat dari ‘perampokan’ manuskrip oleh Raffles.

12. Batu Umpak Andesit

Batu umpak andesit adalah batu-batuan yang diambil dari Majapahit. Fungsinya sebagai penggankal tiang agar tidak keropos, sebab keadaan tanah di kawasan Demak pada waktu itu masih banyak yang becek (rawa-rawa).




* * *

Itulah beberapa koleksi yang bisa kita lihat sejenak di Museum Masjid Agung Demak, yang bisa mengantarkan imajinasi kita ke masa lalu, saat korps dakwah Walisongo masih hidup dan gigih menyiarkan dakwah Islamiyah ke segenap penjuru tanah Jawa.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

Menyusuri Jejak Walisongo di Masjid Agung Demak

0

Masjid Agung Demak. Sebuah masjid bersejarah yang didirikan oleh Walisongo sebagai pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Kini menjadi wisata religi ikonik di Demak, yang banyak menyedot peziarah dari berbagai penjuru daerah.

“Demak itu objek wisatanya apa sih, bu?” tanya saya ke Bu Putri, salah seorang guru di sekolah yang saya kelola, yang bertempat tinggal di Demak.

“Apa ya pak?” justru dia balik bertanya. Seperti kebingungan.

“Ya paling Masjid Agung Demak dan Kadilangu pak!” katanya kemudian.

Ya, Kabupaten Demak memang dikenal sebagai “Kota Wali” karena di daerah inilah terdapat Masjid Agung Demak yang sangat bersejarah, didirikan oleh para wali yang tergabung dalam Walisongo, sebagai pusat dakwah dan syiar Islam di tanah Jawa. Di kabupaten ini pula terdapat makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, salah satu anggota Walisongo yang paling fenomenal.

Meski di Kabupaten Demak terdapat berbagai pariwisata seperti Pantai Morosari dan Agrowisata Belimbing, namun yang paling ikonik dan hegemonik adalah wisata religi, yakni Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga.



Sejarah Berdirinya

Masjid Agung Demak, suatu siang yang terik

Masjid Agung Demak terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Persis di barat Alun-alun Kota Kabupaten Demak. Termasuk masjid tertua di Indonesia yang didirikan oleh Walisongo.

Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Walisanga (Menara Kudus, cet. XIV, tahun 1986) menyebutkan, setengah riwayat mengatakan bahwa masjid wali yang bersejarah itu didirikan pada hari Kamis Kliwon malam Jumat Legi bertepatan dengan tanggal 1 Dzulqoidah tahun Jawa 1428.

Akan tetapi di samping itu ada pula yang berpendapat lain mengenai tahun berdirinya Masjid Agung Demak, di antaranya pendapat yang menyatakan bahwa Masjid Agung Demak didirikan pada tahun Saka 1401, berdasarkan gambar bulus (kura-kura) yang terdapat di dalam pengimamam masjid. Gambar bulus di artikan:

  1. Kepala bulus berarti angka satu (1)
  2. Kaki 4 berarti angka empat (4)
  3. Badan bulus berarti angka nol (0)
  4. Ekor bulus berarti angka satu (1)

Biarlah soal kapan persisnya Masjid Agung Demak didirikan oleh Walisongo menjadi domain dan perdebatan para sejarawan. Saya lebih tertarik untuk menikmati keunikan dan eksotisme masjid yang dilekatkan dengan eksistensi  Walisongo itu.

Jejak Walisongo

Saya sendiri sudah berkali-kali berkunjung ke Masjid Agung Demak. Pertama berkunjung saat masih remaja ikut rombongan peziarah, lalu sering mampir ke masjid ini untuk shalat. Tempo hari, saat ada acara di Demak, saya kembali mampir ke masjid ini. Kali ini saya jadikan momentum untuk jeprat-jepret, menggali data sekedarnya untuk tulisan blog ini. Berbagi tentang keunikan dan eksotisme kepada wargaNet, barangkali masih ada yang belum pernah berkunjung ke masjid ini. Berikut ini beberapa fakta jejak walisongo yang dapat kita lihat dan telusuri saat berkunjung ke Masjid Agung Demak.

1. Arsitektur Bangunan yang Tidak Berubah Sejak Didirikan

Salah satu keunikan dari masjid ini adalah corak arsitektur bangunannya yang tidakmengalami perubahan signifikan  sejak didirikan. Bangunan masjid ini, sebagaimana masjid lainnya, terbagi dalam dua bagian, yakni bagian bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Adapun bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Sedang atap masjidnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas masjid terdiri dari tiga bagian yang konon menggambarkan: (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.

Masjid Agung Demak, akhir abad ke-19. Sumber: Wikipedia
Masjid Agung Demak, 1920-1939. Sumber: Wikipedia

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Agung Demak, Agustus 2016. Sumber: Wikipedia

Perhatikan gambar-gambar di atas yang saya kutip dari situs Wikipedia. Dari waktu ke waktu hingga sekarang, corak arsitektur Masjid Agung Demak tidak mengalami perubahan signifikan. Hanya pada tahun  1932, tepatnya pada hari Selasa Pon, 2 Agustus, Masjid Agung Demak dilengkapi dengan menara masjid.

Letak menara berada di halaman depan sisi selatan Masjid Agung Demak. Kontruksinya terbuat dari baja siku, kaki menara berukuran 4 x 4 meter serta tinggi 22 meter.  Atap menara berbentuk kubah dengan hiasan bulan sabit serta lengkungan-lengkungan yang ada pada dindingnya.

Menara Masjid Agung Demak

Dalam buku berjudul Sejarah Berdirinya Masjid Agung Demak & Grebeg Besar yang ditulis Sugeng Haryadi (CV. Mega Berlian, 2003) menyebutkan, di bagian atas menara terdapat sebuah ruangan berbentuk segi delapan berdinding kayu atau papan dan atap bordes  terbuat dari sirap tipis.

2. Soko Guru Peninggalan Para Wali

4 Sokoguru yang asli disimpan di Museum Masjid Agung Demak karena telah mengalami kerusakan karena umur benda yang sangat tua




Di bagian bangunan induk Masjid Agung Demak kita akan mendapati empat tiang utama yang disebut soko guru. Keempat soko guru tersebut merupakan peninggalan empat wali dari anggota Walisongo, yakni Sunan Bonang (Tuban), Sunan Gunungjati (Cirebon), Sunan Ampel Suarabaya), dan Sunan Kalijaga (Kadilangu, Demak).

Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai soko tatal,  yang merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga. Soko guru yang saat ini ada di Masjid Agung Demak tidak sepenuhnya asli. Bekasnya yang asli dapat kita lihat di Museum Masjid Agung Demak yang berada satu kompleks dengan Masjid Agung Demak.

3. Soko Majapahit

Bangunan serambi Masjid Agung Demak merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk lima yang ditopang delapan tiang yang disebut Soko Majapahit. Disebut Soko Majapahit karena delapan buah soko guru itu berasal dari Kerajaan Majapahit yang diboyong oleh Raden Patah setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak Bintoro.

4. Situs Kolam Wudhu Bersejarah

Situs Kolam Wudhu Bersejarah

Di kompleks Masjid Agung Demak juga kita dapati sebuah situs Kolam Wudlu Bersejarah yang berada di sebelah utara serambi Masjid Agung Demak. Kolam wudhu itu bersejarah karena dulu di zaman para wali, kolam itu digunakan masyarakat untuk mencuci kaki dan berwudhu sebelum masuk ke masjid untuk melaksanakan shalat dan kegiatan lainnya.

5. Makam Raden Patah

Para peziarah di kompleks Makam Masjid Agung Demak

Di dalam kompleks Masjid Agung Demak juga kita akan mendapati beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak, termasuk di antaranya adalah Ragen Patah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak. Makamnya berbentuk kijing sederhana dari bahan pualam kuning di bagian luar tungkub makam Sultan Trenggono.

Batu pualam kuning yang dijadikan kijing makam Raden Patah adalah untuk menggantikan batu andesit yang lama, yang sesungguhnya justru menghilangkan kesan kekunoan makam pendiri Kesultanan Demak tersebut.

Di sebelah makam Raden Patah, terletak makam istrinya, makam Adipati Unus, makam Pangeran Sekar Sedo Lepen, Pangeran Mekah, Pangeran Ketib, dan makam adik kandungnya, Raden Kusen Adipati Terung.

6. Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Dan di kompleks Masjid Agung Demak terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang di dalamnya menyimpan berbagai benda purbakala yang merupakan jejak sejarah para wali dan eksistensi Masjid Agung Demak.

Lebih jauh tentang Museum Masjid Agung Demak in syaa Alloh akan saya ulas dalam tulisan tersendiri.  Ditunggu ya!



* * *

Demikian setidaknya 6 fakta jejak Walisongo yang hingga sekarang dapat kita saksikan saat berkunjung ke Masjid Agung Demak. Sebenarnya masih banyak lagi benda-benda lainnya, antara lain pintu Bledheg, ,mimbar khutbah, maksurah, dan sebagainya.

Kata Akhir: Ternyata Kerajaan Islam Pertama di Jawa Bukan Demak

Sebagai akata akhir dari tulisan ini saya ingin menyampaikan fakta baru tentang kerajaan Islam pertama di Jawa. Selama ini kita mendapatkan pelajaran bahwa kerajaan Islam tertua di Jawa adalah Demak, dengan Raden Patah sebagai Raja Pertamanya.

Ternyata tidak. Menurut Agus Sunyoto, seorang sejarawan dari Nahdlatul Ulama (NU), dalam bukunya Atlas Walisongo (Pustaka Iman, cet. V, Maret 2017) menyebutkan, bertolak dari sisa-sisa artefak dan ideofak yang dapat dilacak, kita temukan fakta bahwa kerajaan Islam yang awal di Jawa bukanlah Demak, melainkan  Lumajang yang disusul Surabaya, Tuban, Giri, dan baru Demak. Keislaman Lumajang paling sedikit menunjuk kurun waktu sekitar abad 12 Masehi, yaitu saat Kerajaan Singasari di bawah kekuasaan Sri Kertanegara.

Semoga catatan dari trip dan pembacaan literatur secara sekilas tentang Masjid Agung Demak ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Baca artikel selanjutnya: Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

Tersentuh Cita Rasa Kelezatan Soto Asli Kudus Pak Denuh

0




Soto Ayam asli Kudus Pak Denuh, soto khas Kudus yang telah eksis sejak zaman penjajahan Jepang. Cita rasa yang terus  mempertahankan kelezatannya, mengantarnya tetap menjadi salah satu primadona kuliner soto di Kudus.

Sebuah pesan WhatsApp (WA) masuk di ponsel pintar saya. Ternyata dari kawan saya, Mas Zul. Lengkapnya Zulkifli Zainudin Fahmi. Isinya, mengabarkan perihal pernikahannya, sekaligus mengundang saya di resepsi pernikahannya yang akan dihelat pada Senin, 8 Januari 2018, bertempat di Gedung Griya Raharja, Jl. Mangga No. 6-A, Panjunan, Kota Kudus. Sekaligus memohon maaf karena nggak bisa mengantar undangannya secara langsung.

Mas Zul, begitu saya biasa menyapanya, adalah kawan diskusi saya. Ia adalah wartawan Suara Merdeka yang bertugas di wilayah Kabupaten Grobogan. Saya biasa diskusi dengannya dan statemen saya biasa dia kutip untuk sejumlah pemberitaannya.

“Oke mas, siap” balas saya atas pesan WA-nya.

Maka, siang itu, di hari H pernikahannya, saya meluncur ke Kota Kudus.

Sengaja saya tidak makan siang di rumah, karena bila bepergiaan ke luar kota, saya biasanya punya “misi” khusus. Apalagi kalau bukan berburu kuliner hahaha….

Saya memang bukan tipikal pemburu kuliner yang maniak banget gitu. Alias selalu mengagendakan atau menyempatkan waktu khusus berburu kuliner. Tidak. Saya berburu kuliner hanya sekadarnya, di sela sebuah acara. Tidak mengkhususkan diri berburu kuliner di sebuah kota, kecuali di dalam kota sendiri ya.

Berpose dengan mempelai bareng mantan Wakil Bupati Grobogan, H. Icek Baskoro, SH (dua dari kanan, batik hijau).

Maka kesempatan ke Kudus menghadiri walimah pernikahan kawan saya itu, juga saya manfaatkan untuk mampir berburu kuliner. Persis seperti sebelumnya, saat  ke Kudus beberapa waktu lalu memenuhi undangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus untuk menjadi fasilitator pertemuan akuntabilitas publik, seusai acara juga saya manfaatkan untuk mampir berburu kuliner khas Kudus.

Baca juga: Menjepret dan Menikmati Nasi Pindang, Kuliner Khas Kudus yang Gurih dan Enak banget




Setiba di lokasi walimah, sepertinya acara seremonial resepsi sudah selesai. Jadi, tinggal datang, makan-makan ala standing party (*meski konsep acaranya standing party, tapi saya selalu makan dengan mencari tempat duduk) dan salaman dengan mempelai, terus berfoto.

Saya sendiri, begitu masuk gedung, segera menuju ke panggung di mana mempelai berada. Untuk bersalaman, mengucapkan selamat, dan lalu berfoto. Kebetulan saya datang bersamaan dengan rombongan mantan Wakil Bupati Grobogan, H. Icek Baskoro, sehingga saya berpose dengan mempelai bareng beliau.

Setelah mencicipi makanan sekedarnya—saya memilih menu lontong + sate ayam yang porsinya kecil sehingga nggak bikin kenyang (haha)—, ngobrol-ngobrol, lalu pamit. Kini, saatnya berburu kuliner ya hehe..

Memilih Mampir di Soto Pak Denuh      

Ada banyak pilihan kuliner khas Kudus, seperti nasi pindang, pecel pakis, soto, sate kerbau, garang asem, dan lentok tanjung.  Dan….kali ini saya memilih soto. Meski sudah pernah, tapi sebagai daerah yang populer dengan kuliner sotonya, Kudus memiliki banyak penjual soto yang memiliki jejak sejarah yang panjang. Boleh dikata: legendaris.

Soto khas Kudus Pak Denuh
Makin menggoda dengan sate ampela
Sate ayamnya menambah cita rasa kelezatannya

Soto Pak Denuh salah satunya. Soto Pak Denuh adalah satu dari sekian soto yang memiliki masa tempuh perjalanan yang cukup panjang dalam menyuguhkan cita rasa kelezatan kuliner khas dalam semangkuk soto.  Pak Denuh, yang kini sudah tiada, telah mulai berjualan soto khas Kudus sejak masa penjajahan Jepang sekira tahun 1945.

Sepeningal pak Denuh, kemudi usaha sotonya diteruskan oleh anaknya yang bernama Taram. Taram adalah anak pak Denuh yang ke-6 dari 15 bersaudara. Saat ini, Soto Pak Denuh bisa dijumpai di Jl. AKBP Agil Kusumadya, Kudus  atau dekat Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Selain itu juga bisa dijumpai di dua cabangnya, masih di Kota Kudus, yakni di Taman Bojana Kios No. 55, 56, 57 Kudus, dan di Terminal Bus Kudus, Kios No. 5.

Soto Pak Denuh sudah teruji cita rasa kelezatannya. Masa tempuh yang panjang, setidaknya menjadi bukti bahwa kelezatan soto pak Denuh tetap menjadi primadona dan jujugan bagi para pemburu kuliner pusaka.

Saya sendiri tersentuh cita rasa kelezatan soto pak Denuh sejak suapan pertama. Selalu saya coba pastikan, kuliner pusaka yang terus bertahan dalam kurun waktu yang panjang, selalu punya dua cita rasa: enak atau enak banget. Dan soto khas Kudus Pak Denuh itu ada di pusaran keduanya, sesekali enak, sesekali enak banget hehe…

Soto Pak Denuh, cita rasa kelezatan yang melegenda
Penampakan depan Warung Soto Ayam Asli Kudus Pak denuh di Jl. AKBP Agil Kusumadya, Kudus




Maka, jangan heran, bila penggemar kuliner pusaka seringkali menyentuh para pejabat negara, tak terkecuali soto Pak Denuh. Informasi yang saya peroleh, banyak pejabat-pejabat tingkat provinsi hingga pusat yang sering menyempatkan mampir menikmati soto Pak Denuh bila sedang kunjungan ke Kudus.  Tercatat,  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pernah mampir dan mencicipi kelezatan soto khas Kudus Pak Denuh.

Di warung soto Pak Denuh, ada dua pilihan soto, yakni dengan protein daging kerbau dan daging ayam. Dua-duanya sama enak menurut saya, hanya soal selera. Kuah soto Pak Denuh tidak terlalu kental. Gurihnya pas, dan lembut. Ciri khas penyajian soto Kudus, juga soto lainnya seperti soto Semarang, adalah disajikan dalam mangkuk kecil. Itu mungkin juga yang menjadikan cita rasa sotonya makin menggoda untuk nambah lagi hehe…Hari itu, saya cukup menyantap satu mangkuk saja, sebab di perut sudah ada lontong sate dari walimahan tadi.

Saya  memang habis semangkuk saja. Pingin nambah tapi perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Tapi satenya, yang irisannya gedhe-gedhe, saya habis dua tusuk lo. Masing-masing sate ayam dan sate ampela (yang ada kuning telurnya).  Kombinasi soto dan sate itu, menambah cita rasa yang semakin mak nyuss.

Soto Ayam Asli Kudus Pak Denuh buka setiap hari mulai jam 07.30 sampai dengan jam 22.00 WIB. Selain soto, juga sedia kuliner khas Kudus lainnya yang tak kalah mak nyuss, yakni nasi pindang. Bila sedang berkunjung ke Kudus atau sekedar melewati, cobalah mampir untuk mencicipi kuliner ini.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)



Daya Magnetis Eksotisme Trek Mangrove Puri Maerokoco Semarang

0




Puri Maerokoco Semarang. Sempat redup dan tak diminati pengunjung. Tapi kemudian bersinar kembali setelah dibuat wahana baru berupa trek mangrove yang eksotis.

Grand Maerakaca, Taman Mini Jawa Tengah

“Liburan nanti ke mana ya, bi?” Tanya anak ragil saya, Hanum Tazkia.

“Ke Semarang ya, ke Bonbin Mangkang.” Jawab saya.

Trus ke mana lagi?” tanyanya lagi.

“Hmm…Enaknya ke mana ya?” jawab saya balik tanya.

Sebelumnya memang kami sepakat, liburan akhir tahun 2017 nanti akan mengajaknya ke Kebun Binatang Mangkang alias Taman Margasatwa Semarang. Karena pada kesempatan trip saya sebelumnya ke Taman Satwa Taru Jurug Solo, saya tidak mengajaknya karena belum liburan.

Namun selain ke Kebun Binatang Mangkang, saya memang belum tahu ke objek wisata mana ya yang keren untuk dimasukkan sebagai destinasi wisata di liburan kali ini. Ada beberapa wacana sih.  Seperti ke Water Blaster dan Sam Po Kong. Tapi, setelah browsing di google dan you tube, akhirnya tercapai kata sepakat untuk ke Puri Maerokoco Semarang selain ke Taman Margasatwa Semarang.

Hari itu pun tiba. Kami sekeluarga berdelapan meliputi saya, istri, dan tiga orang anak saya (Bina, Mumtaz, dan Hanum), plus Mamak Tukirah (khadimat atau PRT kami) dan anaknya (Kiki),serta seorang keponakan (Muthi’ah), meluncur ke Semarang naik mobil.  Tujuan pertama ke Taman Margasatwa Semarang, setelah itu ke Puri Maerokoco Semarang.

Baca juga: Taman Marga Satwa Semarang, Wisata Edukasi Satwa Recommended Untuk Keluarga

Puri Maerokoco, Taman Mininya Jawa Tengah

Puri Maerokoco Semarang sebenarnya bukan wisata baru di Kota Semarang. Boleh dikata termasuk wisata kawakan.  Puri Maerokoco beralamat di Jalan Yos Sudarso, Semarang, tak jauh dari pusat kota, hanya kurang lebih 5 km dari Tugu Muda atau 3 km dari Bandara Internasional Achmad Yani ke timur atau di jalan lingkar utara Kota Semarang.

Jadi, tak butuh waktu lama setelah dari Taman Margasatwa Semarang untuk sampai ke objek wisata ini.

Anjungan Kabupaten Karangnyar. Setiap daerah menampilkan rumah adat masing-masing
Anjungan Kabupaten Boyolali. Setiap anjungan mendisplay potensi lokal, budaya, dan hasil-hasil industri serta berbagai kerajinannya.
Anjungan Kota Semarang

Anjungan Kabupaten Sragen




Puri Maerokoco berada satu kompleks dan menjadi salah satu bagian taman dari kawasan PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan) Jawa Tengah, sehingga Puri Maerokoco juga sering disebut dengan Taman Maerokoco.

Puri Maerokoco merupakan Taman Mini-nya Jawa Tengah, sehingga sering disebut juga dengan “Taman Mini Jawa Tengah Indah”. Ia merupakan perwujudan dari miniatur Provinsi Jawa Tengah. Taman ini dibangun pada tahun 1993 dan menempati areal seluas 23,84 ha.

Di dalam taman ini terdapat  anjungan berupa rumah adat dengan desain bercirikan arsitektur khas Jawa Tengah dari 35 daerah kabupaten/ kotamadya se-Jawa Tengah. Karena itu pula taman ini sering pula disebut dengan “Wisata Rumah Adat Jawa Tengah”.

Di dalam masing-masing anjungan atau rumah adat itu,  di-display hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing–masing daerah tersebut. Sehingga dengan mengunjungi objek wisata ini, kita akan dapat mengetahui dan belajar tentang keanekaragaman budaya dan kreativitas lokal dari seluruh daerah di Provinsi Jawa Tengah.

Kembali Magnetis dengan Eksotisme Trek Mangrove

Objek wisata dengan wahana andalan rumah adat atau anjungan itu sempat redup dan sepi pengunjung karena tak terurus dan pengelolaan yang mungkin kurang bagus. Namun akhirnya kini bangkit dan bergairah kembali dengan dibukanya wahana baru berupa trek Mangrove di kompleks objek wisata ini.

Berpose di trek mangrove. Trek yang menjadi magnet para wisatawan…

Ya, sejak awal tahun 2017 lalu, di Puri Maerokoco dibuat trek atau jalur pejalan kaki di sekitar mangrove yang terbuat dari bambu. Trek mangrove dibuat di sebelah timur Jembatan Harapan dengan panjang 135 meter, atau persis di antara miniatur pulau Mandalika dan Karimunjawa.

Trek inilah yang akhirnya menjadikan Taman Maerokoco kembali bersinar, menjadi magnet bagi wisatawan, termasuk menjadi daya tarik saya untuk akhirnya memutuskan menjadikan objek wisata ini menjadi salah satu tujuan trip pada liburan akhir tahun 2017.



Kembali bersinarnya daya tarik Puri Maerokoco dengan adanya trek Mangrove ini bukan omong kosong alias fakta tanpa data. Informasi yang saya baca di sebuah koran lokal Jawa Tengah menyebutkan, sepanjang tahun 2016 alias sebelum trek Mangrove dibuat, pengunjung Taman Maerokoco hanya membukukan 141 ribu pengunjung. Sementara hingga 25 Desember 2017, jumlah pengunjung di sepanjang tahun 2017 membukukan capaian hingga 400 ribu pengunjung. Jadi, berlipat pertambahan jumlah pengunjungnya.

Itu pula yang saya dapatkan saat berbincang-bincang dengan beberapa pedagang di kompleks Puri Maerokoco. Sejak dibuat trek Mangrove, jumlah kunjungan memang meningkat secara signifikan, terutama di hari Sabtu dan Minggu.

Eksotisme Trek Mangrove Taman Maerokoco

Trek mangrove Puri Maerokoco menjadi magnet para kawula muda. Sebagai tempat foto dengan latar yang eksotis.
Mencari spot foto yang unik di antara rerimbunan mangrove..
Replika pulau Karimunjawa
Naik perahu menyusuri hutan mangrove…

Trek Mangrove Puri Maerokoco memang eksotis. Menyimpan daya magnetis yang tinggi, terutama bagi kawula muda. Ia menjadi tempat berswafoto yang representatif dan eksotis dengan latar rerimbunan mangrove dan bentangan air yang segar dan menyejukkan.

Saya  sendiri dengan riang dan berbinar menikmati perjalanan di trek mangrove ini. Begitu pun istri dan anak-anak saya. Sesekali kami berfoto-foto dan mencari  spot-spot yang unik. Sesekali duduk sejenak menikmati suasana yang seger meski matahari tengah terik, sembari menikmati panorama di sejauh mata memandang yang indah menawan.

Bila mau, kita bisa naik perahu menyusuri hutan mangrove, sembari santai menikmati sejuknya hembusan angin dan eksotisme panorama hutan mangrove. Recommended deh pokoknya.

Menyusuri Keanekaragaman Budaya dan Potensi Lokal Daerah

Trek mangrove Puri Maerokoco memang eksotis, sehingga menyimpan daya magnetis yang mampu menyedot pengunjung atau wisatawan. Namun magnet  Puri Maerokoco sesungguhnya tak hanya sekedar itu. Anjungan taman mini Jawa Tengah bagaimana pun tetap memendarkan daya pesonanya bagi pecinta keanekaragaman budaya dan pengetahuan akan berbagai potensi lokal daerah.

Dengan berkunjung ke Taman Maerokoco, setidaknya kita bisa mengenal keanekaragaman budaya dan potensi lokal dari seluruh kabupatan/kotamadya di Jawa Tengah. Mulai dari bentuk arsitektur rumahnya, budayanya, pariwisatanya, maupun potensi lokalnya. Karena setiap anjungan men-display-nya sebagai pengetahuan dan sumber belajar bagi para pengunjung.



Patung belimbing di depan anjungan Kabupaten Demak

Berpose di replika objek wisata Bledug Kuwu di samping anjungan Kabupaten Grobogan
Replika Menara Masjid Menara Kudus di anjungan Kabupaten Kudus
Replika 4 soko guru dari empat wali sebagaimana yang ada di Masjid Agung Demak yang asli…
Berpose di seperangkat gamelan yang dipamerkan di anjungan Kabupaten Sragen dengan mengenakan kaos bertuliskan Wisata Rumah Adat MAEROKOCO
Duplikat pintu bledeg Masjid Agung Demak di anjungan Kabupaten Demak

Saya begitu menikmati saat-saat menyusuri berbagai anjungan yang ada. Namun karena terbatasnya waktu, tak semua anjungan dapat saya singgahi. Di beberapa anjungan saja yang saya tertarik, saya berlama-lama di situ. Seperti di anjungan Kabupaten Demak. Terdapat patung buah belimbing di depan anjungan ini karena Kabupaten Demak memang dikenal sebagai penghasil buah belimbing.

Di anjungan Kabupaten Jepara, men-display berbagai jenis kerajinan ukir. Di anjungan Kabupaten Kudus, saya hanya menjepret miniatur Masjid Menara Kudus yang sungguh eksotis. Lalu di anjungan Kabupaten Grobogan saya berpose di miniatur objek wisata Bledug Kuwu.



Yang paling lama adalah di anjungan Kabupaten Sragen. Karena selain melihat berbagai display foto dan benda yang mencerminkan keanekaragaman budaya Kabupaten Sragen, di anjungan ini juga menjual aneka kaos bertuliskan “Taman Maerokoco” dan berbagai kerajinan serta asesoris. Sementara istri dan anak-anak saya memilih kaos dan berbagai asesoris seperti kalung, saya setidaknya merasa perlu membeli kaos sebagai kenangan hehe…

Pulang. Sayonara Puri Maerokoco, sampai jumpa lagi…

Sebelum pulang, kami lebih dulu shalat Zuhur di mushalla yang sekaligus miniatur Masjid Agung Demak, yang di ruang utama juga dilengkapi dengan replika 4 soko guru dari empat wali sebagaimana yang ada di Masjid Agung Demak yang asli.

Meski tidak seluruhnya, Puri Maerokoco adalah miniatur Jawa Tengah. Bila ingin tahu lebih banyak tentang Jawa Tengah, datanglah ke Puri Maerokoco. Lalu jangan lupa bahagia dengan menikmati trek mangrove dengan panoramanya yang eksotis.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Artikel Populer

Artikel Favorit

Resep Sate Kambing Khas Tegal yang Enak dan Lezat

Sate adalah salah satu kuliner Indonesia yang kaya variasi dan kekhasan di setiap daerah. Sate dengan komponen kambing misalnya, pada setiap daerah memiliki ramuan...
error: Content is protected !!