Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)

0




Sebagai moyang yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa, penghormatan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta.

Makam Ki Ageng Selo sendiri berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kurang lebih 12 kilo meter dari Kota Purwodadi ke arah Blora. Setelah sampai perempatan Ngantru, ambil arah ke selatan sekitar tiga kilometer. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama di malam Jumat.

Baca sebelumnya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

Menyusuri Jejak Ki Ageng Selo

Bila kita berziarah ke makam Ki Ageng Selo, maka kita bisa menyusuri jejak-jejak Ki Ageng Selo di kompleks makam dan sekitarnya. Apa saja? Sebagai berikut:

1. Masjid Ki Ageng Selo

Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah timur makam Ki Ageng Selo. Belum diketahui pasti kapan masjid ini didirikan, namun masyarakat meyakini masjid ini berdiri sekitar abad ke-17. Bangunan masjid masih mencirikan bangunan kuno dengan corak joglo, yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu dan masih asli.

Masjid Ki Ageng Selo yang sebagian besar terbuat dari kayu dan masih asli

Informasi yang saya saya peroleh menyebutkan, masjid ini pernah mengalami pemugaran besar-besaran pada tahun 1885. Pemugaran dilakukan oleh Pakubuwono X. Dalam pemugaran tersebut, serambi masjid mengalami penambahan luas sekitar dua meter dari bangunan utama. Juga bagian mihrab mengalami perombakan.



Adapun bedug peninggalan Ki Ageng Selo hingga saat ini masih terjaga keasliannya. Bedug terbuat dari kayu opo-opo. Menurut cerita, satu batang kayu opo-opo dipotong menjadi dua. Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug Masjid Ki Ageng Selo. Potongan lainnya digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak. Jadi bedug yang berada di Masjid Ki Ageng Selo dan di Masjid Agung Demak sama alias kembar.

2. Pohon Gandri

Pohon gandri (bridelia monoica) atau sebagian lainnya menyebut “pohon gandrik” diyakini merupakan pohon tempat mengikat petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Pohon itu bisa dijumpai di kompleks makam Ki Ageng Selo.

Pohon gandri, konon dijadikan tempat mengikat petir oleh Ki Ageng Selo
Papan informasi yang disematkan pengelola di pohon Gandri

3. Almari Api Petir

Almari api petir terdapat di sebelah utara makam Ki Ageng Selo. Di dalamnya terdapat pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Dalam sebuah karya ilmiah berjudul Potensi Makam Ki Ageng Selo Sebagai Destinasi Wisata Religi di Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan karya Riza Shirotul ‘Ibad disebutkan bahwa almari itu dibuka pada saat ada ritual pengambilan api pada bulan Muharram dan Maulud oleh rombongan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seorang peziarah sedang berpose di samping almari petir

4. Sawah Udreg

Disebut sawah udreg karena dulu merupakan tempat Ki Ageng Selo udreg-udregan atau bergelut melawan petir. Demikian informasi yang saya peroleh dari T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir.

Sawah itu sering juga disebut dengan nama sawah mendung, mungkin karena saat menangkap petir itu langit sedang dalam keadaan mendung. Sawah itu terletak di sebelah barat makam Ki Ageng Selo berjarak sekira 200 meter.

Larangan Ki Ageng Selo

Selain jejak-jejak yang bisa kita susuri saat berziarah ke makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, kita juga bisa memperoleh informasi terkait dengan larangan-larangan dan pepali dari Ki Ageng Selo yang hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Setidaknya ada dua larangan:

1. Larangan jualan nasi

Maka, jangan pernah mencari kuliner nasi di sekitaran kompleks makan Ki Ageng Selo dan pedukuhan Selo Panjimatan secara umum, karena tidak akan pernah dijumpai. Sejak turun-temurun, mitos larangan menjual nasi dari Ki Ageng Selo itu begitu dihormati oleh masyarakat setempat hingga sekarang.



Asal usul larangan ini konon bermula suatu hari saat Ki Ageng Selo kedatangan tamu. Seperti biasa, sang tamu disambut ramah oleh Ki Ageng Selo. Juga disambut dengan jamuan makan sebagaimana umumnya menghormati tamu.

Telah terhidang aneka makanan di meja. Namun betapa kagetnya Ki Ageng Selo ketika mengajak tamunya makan, tamunya menolak dengan halus. Rupanya sang tamu sudah makan di warung yang tak jauh dari kediaman Ki Ageng Selo. Kecewalah hati Ki Ageng Selo.

Dari sinilah kemudian muncul piweling atau larangan dari Ki Ageng Selo tentang larangan menjual nasi. Hingga sekarang, larangan itu masih dipatuhi oleh masyarakat setempat.

2. Larangan Menanam Walu di Depan Rumah

Warga juga dilarang oleh Ki Ageng Selo menanam waluh di pekarangan depan rumah. Waluh adalah tanaman merambat yang menghasilkan buah cukup besar berwarna orange. Ikhwal pelarangan ini pun terdapat asal usulnya.

Syahdan, suatu hari, Ki Ageng Selo sedang menggendong anaknya di halaman rumahnya yang ditanami waluh. Tiba-tiba datanglah orang yang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuh, tapi Ki Ageng Selo jatuh telentang karena kesrimpet atau kesandung batang wuluh. Tidak hanya jatuh, tapi kain yang dipakai Ki Ageng Selo lepas sehingga membuat auratnya terbuka.

Insiden itulah yang menjadikan Ki Ageng Selo kemudian melarang menanam waluh di pekarangan depan rumah. Larangan ini pun hingga saat ini dihormati oleh masyarakat setempat.

Pepali Ki Ageng Selo

Berpose di depan gerbang pintu masuk menuju makam Ki Ageng Selo

Di samping larangan, Ki Ageng Selo juga meninggalkan pepali yang berisi ajaran luhur, tidak saja tentang akhlak mulia atau budi pekerti, tetapi juga mengandung pelajaran ilmu agama Islam yang terdiri dari 4 bagian, meliputi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

Pepali itu disusun dalam bentuk lagu dan syair: Dhandanggula. Salinan lengkap pepali Ki Ageng Selo dalam Bahasa Indonesia telah disusun oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo dalam bukunya yang berjudul Pepali Ki Ageng Selo.

Pepali sendiri berarti ajaran, petunjuk, atau aturan. Ada juga yang mengartikannya sebagai pedoman hidup.

Pepali dalam lagu dan syair yang berbentuk Dhandhanggula itu ditulis sendiri oleh Ki Ageng Selo sesuai dengan pakemyang berlaku dalam lagu dan syair Dhandhanggula dan semuanya berjumlah 17 bait. Jumlah baris tiap-tiap baitnya ada sepuluh. Suara akhir masing-masing baris adalah: i, a, e, u, i, a, u, a, i, a. Adapun jumlah suku kata masing-masing baris adalah: 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7.

Pepali-ku ajinen mbrekati,

Tur selamet sarta kawarasan,

Pepali iku mangkene,

Aja agawe angkuh,

Aja ladak lan jail,

Aja ati serakah,

Lan aja celimut,

Lan aja mburu aleman,

Aja ladak, wong ladak pan gelis mati,

Lan aja ati giwa.

 

Artinya:

“Pepali”-ku hargailah (supaya memberkahi,

Lagi pula selamat, serta sehat

Pepali itu seperti berikut:

Jangan berbuat angkuh,

Jangan bengis dan jangan jahil,

Jangan hati serakah (tamak, loba),

Dan jangan panjang tangan;

Jangan memburu pujian,

Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati,

Dan jangan cenderung ke kiri.

Inilah pepali Ki Ageng Selo yang pertama dalam lagu dan bentuk syair Dhandhanggula. Dari cuplikan pepali di atas, kita bisa segera tahu, betapa adiluhungnya ajaran dan wasiat dari Ki Ageng Selo yang justru seringkali terabaikan, tenggelam oleh mitos dan mistis yang dinisbatkan kepada sosok Ki Ageng Selo yang lebih mendominasi dan populer.



Pepali Ki Ageng Selo lengkap bisa dibaca di buku berjudul Pepali Ki Ageng Selo yang ditulis oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo yang diterbitkan oleh CV. Citra Jaya Surabaya, Cetakan pertama tahun 1980. Atau buku berjudul Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela karya Dhanu Priyo Prabowo yang diterbitkan oleh penerbit Narasi, Yogyakarta, Cetakan pertama, tahun 2004.

Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, selesai).

 



Menjepret dan Menikmati Nasi Pindang, Kuliner Khas Kudus yang Gurih dan Enak Banget

6
Nasi Pindang (Foto: Kang Asti)

Kudus adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menyumbang kekayaan kuliner nusantara cukup banyak. Selain kondang dengan oleh-oleh khasnya yang cetar membahana, yakni jenang, Kudus juga punya seabrek kuliner khas. Sebut saja lentog tanjung, bakso kudus, juga soto dan sate kerbau. Satu lagi yang perlu disebut, karena unik dan khas, yakni nasi pindang. Nasi pindang adalah kuliner khas Kudus yang menggugah selera. Nasi pindang adalah sajian khas Kudus berupa nasi dan daging yang disajikan dengan kuah pindang dan beberapa lembar daun melinjo atau daun so.




Nasi pindang kudus, enaknya menggoda…

Dilihat sepintas, nasi pindang kudus mirip dengan kuliner rawon asal Jawa Timur. Bedanya, nasi pindang kudus terdapat daun melinjo, sedangkan pada rawon terdapat taoge. Nasi pindang kudus memakai santan, sedangkan rawon tidak.

Sepintas juga, nasi pindang kudus mirip nasi gandul khas Kabupaten Pati. Bedanya terletak pada kompleksitas bumbunya. Juga nasi pindang ada komplemen daun so, bahkan daun so ini merupakan bagian wajib dari sajian nasi pindang, sedang nasi gandul tidak.

Meminjam penjelasan pak Bondan Winarno, kalau nasi pindang kudus adalah hasil persilangan  antara soto dan rawon, maka nasi gandul pati adalah persilangan antara soto dan gulai. Nasi gandul memang lebih nendang dan mlekoh rasanya bila dibanding dengan nasi pindang. Namun nasi pindang lebih rich dan kompleks bila dibanding dengan soto.

Pada nasi pindang, cita rasa keluak dan kemiri diimbangi secara cantik oleh ketumbar dan jintan. Santan encer juga membuat nasi pindang menjadi sajian kuliner yang enak banget dan sangat gurih. Benar-benar menggugah selera dan menggoda untuk disantap haha..

Nasi pindang kudus, persilangan rawon dan soto…





Dari sisi sejarah, konon nasi pindang dulunya hanya bisa dijumpai di acara hajatan atau pesta yang dihelat oleh masyarakat Kudus. Namun seiring perkembangnya zaman, nasi pindang pun dijual di berbagai warung maupun rumah makan hingga sekarang.

Sejarah nasi pindang juga unik. Sebagaimana kuliner khas Kudus lainnya seperti bakso, soto dan sate, nasi pindang kudus juga memakai bahan daging kerbau. Tradisi ini dikaitkan dengan sejarah masa lalu di saat Sunan Kudus pertama kali merintis syiar Islam di Kudus.

Sunan Kudus tidak mau melukai hati umat Hindu yang menyakini sapi sebagai satwa yang sakral. Karena itu Sunan Kudus melarang umat Islam menyembelih sapi. Sebagai gantinya, mereka menyembelih kerbau. Dari sinilah rahasia kuliner khas Kudus yang selalu memakai daging kerbau.

Nasi Pindang Mbak Mar

Saya (duduk, pakai batik coklat) seusai pertemuan akuntabilitas publik di Graha IBI, Kudus…

Nasi pindang adalah salah satu makanan favorit saya. Karena itu, ketika berkesempatan berkunjung ke Kudus, saya selalu berusaha menyempatkan waktu untuk menikmati kuliner ini. Seperti pada Senin (27/2/2017) lalu, saya diundang oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus untuk menjadi narasumber pertemuan akuntabilitas publik di Graha IBI, Perum Bali Residence, Jl. Ekapraya Gg 1, Rendeng, Kudus.

Selepas acara, saya pun tak menyia-nyiakan waktu. Saya segera meluncur menuju ke Taman Bojana yang merupakan pusat kuliner khas Kudus. Di sana, saya langsung menuju ke kios no 29. Di kios inilah terdapat nasi pindang favorit saya, yakni nasi pindang Mbak Mar.

Taman Bojana, pusat kuliner khas kota Kudus…

Pintu masuk Taman Bojana…





Nasi pindang Mbak Mar menurut saya istimewa. Cita rasanya lebih gurih dan berhasil menawan lidah saya. Menurut penuturan Mbak Mar, bumbu nasi pindang racikannya sama dengan nasi pindang di warung lainnya, namun ia memiliki resep rahasia terkait teknik memasak yang membuat nasi pindangnya relatif lebih enak. “Resep rahasia itu warisan dari ayah saya,” tutur Mbak Mar kepada saya.

Mbak Mar yang bernama lengkap Sumarni itu memang generasi kedua penjual kuliner khas Kudus. Ayahnya yang bernama Pargi sudah berjualan sejak tahun 1966. Awalnya berjualan bakso kudus dan sop. Baru pada tahun 1980, pak Pargi beralih berjualan soto dan nasi pindang khas Kudus.  Tahun 1985, kemudi usaha kuliner diteruskan oleh anaknya yang tak lain adalah Mbak Mar, hingga kini. Pak Pargi sendiri tutup usia pada tahun 2001.

Suasana siang itu di warung Mbak Mar…




Mbak Mar punya kiat sukses agar tetap eksis dan kulinernya terus diminati pelanggannya, yaitu mempertahankan cita rasa masakan, kebersihan, dan penyajian. “Dalam kondisi apa pun saya tak pernah mengurangi kuantitas bumbu, meski harga-harga sedang mahal, karena itu pertaruhan pada cita rasa,” tutur Mbak Mar kepada saya.

Dalam aspek penyajian, hingga kini pun Mbak Mar masih mempertahankan otentisitas penyajian sejak dulu, yakni tidak langsung di piring melainkan dialasi dahulu dengan daun pisang.  Karena menurutnya, otentisitas penyajian itu penting dan harus dijaga karena juga akan menambah selera dan cita rasa penikmatnya.

ASUS ZenFone dengan teknologi PixelMaster Camera yang banyak keunggulan…

Sebelum saya menyantap seporsi nasi pindang yang telah dihidangkan di hadapan saya, saya pun beraksi dengan menjeprat-jepretnya terlebih dahulu dengan kamera smartphone yang saya bawa.

Saya merekomendasikan kepada Anda untuk menjepretnya dengan ASUS ZenFone yang dilengkapi teknologi PixelMaster Camera yang memiliki sejumlah keunggulan. Salah satu keunggulannya adalah low light mode yang memungkinkan mengambil gambar dengan kualitas yang lebih jernih serta cerah dalam kondisi minim cahaya.

Nasi pindang kudus, kelezatan sebuah masakan khas nusantara dari Kudus

Setelah jeprat-jepret secukupnya, baru saya menyantap dengan lahap seporsi nasi pindang yang gurih dan enak banget itu dengan lauk sate ampela hati dan sate paru kerbau. Hemm…top markotop!!!! Very-very Recommended! * (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)



5 Spot di Waduk Nglangon Kradenan Grobogan yang Eksotik dan Menarik Dikunjungi

0

Waduk Nglangon berada di Dusun Nglangon, Desa Kradenan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Terletak di sebelah selatan stasiun Kradenan, sekira 2 kilometer. Atau berjarak sekira 32 kilometer ke arah timur Kota Purwodadi.




Dua tahun lalu, sekira bulan Agustus 2015, saya berkunjung ke waduk ini bersama teman-teman komunitas Grobogan Corner dalam rangka susur wisata. Namun ketika itu Waduk Nglangon belum optimal dikelola sebagai jujugan wisata untuk masyarakat. Air pun sedang susut saat itu.

Saat ini, Waduk Nglangon yang merupakan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun antara tahun 1911 sampai 1914 itu telah “disulap” menjadi destinasi wisata yang cukup memikat. Ada yang bilang, Waduk Nglangon adalah “danau toba”-nya Kabupaten Grobogan. Bentangan air yang dikelilingi perbukitan hijau dan di tengahnya ada semacam “pulau kecil” yang membuat waduk ini mirip dengan Danau Toba di Sumatra Utara.

Baca juga:

Pesona itu menjadikan Waduk Nglangon menjadi jujugan wisata masyarakat sekitar meski sekedar nongkrong di pinggir waduk, menikmati panorama bentangan air yang sejuk, hijaunya areal persawahan, serta rimbunnya hutan jati.

Dan saat ini Waduk Nglangon telah dilengkapi dengan berbagai wahana baru sebagai spot wisata yang menarik untuk dinikmati. Setidaknya ada 5 spot menarik di objek wisata Waduk Nglangon yang layak dicoba:

(1) Spot Foto Berlatar Bentangan Air Waduk Nglangon

Persis pada peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-72 alias tanggal 17 Agustus 2017 alias dua tahun sejak saya susur wisata ke Waduk Nglangon, saya berkesempatan mengunjunginya lagi, kali ini bersama keluarga, yakni bersama istri dan ketiga anak saya.

Berpose dengan latar eksotisme Waduk Nglangon…




Saat memasuki lokasi waduk, kami tidak langsung menikmati wahana-wahana yang ditawarkan. Tapi terlebih dahulu menikmati panorama di sekitar waduk. Melihat bentangan air dan hamparan areal persawahan nan hijau.

Maka, spot menarik pertama ketika berkunjung ke Waduk Nglangon adalah berfoto dengan latar bentangan air di Waduk Nglangon yang aduhai. Sayang, kami datang saat terik matahari sedang garang-garangnya, sehingga suasana cukup panas. Tapi itu tidak mengurangi kekhidmatan kami menikmati suasana Waduk Nglangon, meski waktu sore barangkali adalah waktu yang jauh lebih pas untuk menikmati suasana Waduk Nglangon lebih cantik dan eksotik.

(2) Spot Foto Berlatar Tulisan “Love”

Setelah puas menikmati suasana waduk dan jeprat-jepret seperlunya, ternyata di bawah lembah ada satu spot yang sepertinya dibuat sebagai spot berfoto untuk para pengunjung sebagai kenangan. Spot itu berupa tulisan “Love”. Bagus sih, tapi menurut saya akan lebih berkesan kalau spot itu bertuliskan “Waduk Nglangon” atau apalah, yang penting ada tulisan Waduk Nglangon-nya.

Waduk Nglangon Kradenan
Berpose dengan anak lanang…

Memang telah ada spot tulisan Waduk Nglangon tapi posisi dan tempatnya sulit untuk dijadikan sebagai background berfoto-foto.

(3) Naik Becak Air dan Perahu Keliling Waduk

Setelah sesi foto-foto selesai, kami pun lalu menuju ke lokasi waduk untuk menjajal wahana baru yang disediakan oleh pengelola wisata Waduk Nglangon, yakni naik perahu dan becak air.

Menurut informasi yang saya peroleh dari salah seorang penjual tiket di lokasi, wahana ini baru diadakan sejak setahun yang lalu. Pantesan saat dua tahun lalu saya datang ke sini belum ada hehe…

Ternyata  hanya saya berdua, saya dan anak saya yang laki-laki yang tertarik untuk menjajal spot baru itu, tapi kami berdua tidak sepakat apakah naik becak air atau naik perahu. Akhirnya, kami memutuskan sesuai pilihan masing-masing. Anak laki-laki saya naik becak air yang berbentuk bebek atau angsa sesuai keinginannya, sementara saya lebih enjoy memilih naik perahu.

Waduk Nglangon Kradenan
Anak laki-laki saya memilih naik becak air…
Waduk Nglangon Kradenan
Berselfie sebelum perahu berlayar…
Sebuah jepretan dari atas perahu…




Kenapa saya memilih naik perahu? Karena perahunya dikemudikan pakai tenaga mesin, sementara naik becak air harus mengayuh. Capek kali hehe. Apalagi naik perahu keliling waduk hanya bayar tiket Rp 5 ribu per orang. Sedang naik becak air, sudah capek, bayarnya Rp 15 ribu per becak untuk durasi 20 menit hehe…

Mungkin becak lebih cocok untuk muda-mudi kali ya hehe…

Benar saja, bagi saya, naik perahu keliling waduk rasanya begitu aduhai. Damai rasanya di tengah-tengah perairan. Sejuk oleh tiupan sepoi angin meski matahari tengah terik.

Bila berkunjung ke Waduk Nglangon, recommended deh untuk naik perahu. Murmer lagi haha..

(4) Kolam Renang Waduk Nglangon

Sementara saya dan anak lanang memilih menikmati suasana eksotik di atas perairan waduk dengan naik perahu dan becak air, istri dan kedua anak perempuan saya lebih memilih ciblon (bhs Jawa: bermain air) di kolam renang. Hanya kedua anak saya sih yang ciblon, sementara istri saya hanya menunggui.

Waduk Nglangon Kradenan
Kedua anak perempuan saya ciblon di kolam renang waduk Nglangon…

Bila becak air dan perahu diadakan sejak setahun lalu, beda dengan wahana kolam renang yang baru dibuka sejak lebaran tempo hari atau sekira dua bulan lalu. Jadi boleh dikata termasuk spot baru di wisata Waduk Nglangon. Tiket bisa menikmati permainan air di kolam renang Waduk Nglangon hanya Rp 7 ribu per orang.

(5) Berfoto di “Pulau Kecil” di Tengah Waduk Nglangon

Selain 4 spot di atas, ternyata ada satu spot lagi yang sebenarnya menarik dan melambai-lambai untuk dicoba, yakni berfoto di semacam “pulau kecil” yang berada di tengah-tengah perairan Waduk Nglangon. Apalagi di “pulau” itu, oleh pengelola, telah diberi spot tulisan “Nglangon” sehingga di sinilah tempat yang pas untuk mengabadikan sepenggal kenangan di Waduk Nglangon 🙂

Waduk Nglangon Kradenan
Pulau kecil di tengah waduk…




Sayangnya, karena waktu yang terbatas, kami belum bisa menikmati eksotisme singgah di “pulau kecil” ini. Barangkali di lain waktu….

Jadi, itulah 5 spot dan wahana yang bisa dinikmati bila berkunjung ke objek wisata baru Waduk Nglangon. Selamat mencoba. Jangan lupa bahagia.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Resep Becek Khas Grobogan Sedap dan Nyamleng ala Yanto Ganjar

0

Dari sisi originalitas alias kelaziman yang sudah turun-temurun, bahan baku Becek umumnya menggunakan daging sapi. Tapi soal bahan daging menggunakan daging sapi atau bukan, pada akhirnya ternyata murni merupakan ranah selera. Tak bisa dipaksakan.

dscf7702
Becek ala Yanto Ganjar..sedep dan nyamleng

Ke Bandungan, Belanja Sayuran dan Buah, Juga Menikmati Bakso Pak Brengos yang Legendaris

0
Surga belanja buah dan sayuran...

Bandungan adalah sebuah kecamatan di bagian selatan Kota Semarang yang berada di kaki Gunung Ungaran. Hawanya sejuk dan adem bingit, plus panorama pegunungan yang cantik, sehingga sangat cocok sebagai tempat favorit untuk ngadem dan berwisata.

Di Bandungan dan sekitarnya memang banyak objek wisata favorit, baik wisata alam maupun wisata belanja dan kuliner. Nah, yang terakhir inilah tujuan kami sesungguhnya, setelah sebelumnya berseru-seruan di Cimory on the Valley dan Kampoeng Kopi Banaran.

Baca:




Surga belanja buah dan sayuran…
Penjual ketela ungu…
Tomat…
Labu siam…
Tanya-tanya tentang sayuran…

Penjual madu, dari tawon liar di hutan…




Setiba di Bandungan,  sebagian dari kami bergerak untuk menuju Bandungan Water Park. Terutama anak-anak yang sudah nggak sabar ingin segera bermain air. Tiket masuk ke Bandungan Water Park Rp 10 ribu per orang. Adapun tiket masuk kolam renang Rp 20 ribu per orang.

Saya sama sekali tidak tertarik untuk masuk ke Bandungan Water Park. Saya memilih jalan-jalan melihat suasana Bandungan yang sejuk dan ramai. Banyaknya pendagang sayur mayur dan buah-buahan lebih memikat saya.

Bandungan memang surga wisata belanja sayur mayur dan buah-buahan. Ada wortel, selada, sawi, tomat, labu siam, jagung manis, dan lain-lainnya, banyak lagi. Adapun buah, yang banyak dijual di sini adalah buah apukat, ketela ungu, pepaya, kelengkeng, dan nangka. Semuanya seger-seger dan membuai melambai hehe…

Main air di Bandungan Water Park…
Seru dan asyik…
Prosotan air…
Menyenangkan….

Bila ingin beli oleh-oleh khas Bandungan, di sini ada namanya tahu serasi dan torakur alias tomat rasa kurma. Menurut cerita yang saya dapat, ide membuat torakur dicetuskan oleh Ibu Sri Ngestiwati sejak tahun 2002.

Ceritanya, ketika itu stok tomat melimpah saat panen, sehingga harga tomat anjlok di pasaran. Tomat yang berlimpah itu apabila tidak segera diolah akan segera membusuk. Lalu, terbetiklah ide mengolah tomat agar lebih awet.

Baca: Resep Cara Membuat Manisan Tomat Rasa Kurma (Torakur) Khas Bandungan Semarang

Tomat-tomat tersebut kemudian diolah menjadi manisan menyerupai kurma, baik dari bentuk hingga rasanya. Olahan tersebut dapat awet hingga enam bulan. Sebuah ide yang amat cemerlang dan inspiratif tentunya.


Bakso Pak Brengos

Setelah belanja-belanji sekedarnya sesuai kebutuhan, tibalah waktu berburu kuliner. Ini misi pribadi saya haha….sementara yang lain masih sibuk belanja-belanji…

Di Bandungan ada satu kuliner yang cukup populer dan selalu dicari orang, yakni Bakso Pak Brengos. Lokasinya di pojok Pasar Buah Bandungan.

Bakso Pak Brengos…
Enak…

Saya bukan penggemar bakso, meski doyan menyantapnya hehe….sesekali aja saya makan bakso, sekedarnya saat pengin. Bakso sendiri termasuk kuliner yang pasaran banget. Boleh dikata, hampir di setiap sudut kota dan desa selalu ada penjual bakso. Sebagiannya membuat kreasi untuk memikat konsumen, misalnya dengan membuat bakso super segede bola kasti, bakso kotak, dan sebagainya.

Menurut saya, Bakso Pak Brengos atau populer dengan Bakso Brengos saja, menjadi nge-hits dan menjadi jujugan penggemar bakso saat berada di Bandungan, bukan karena kreasinya yang ciamik. Tapi lebih karena citarasanya, di samping Bakso Brengos termasuk pemain lama di dunia perbaksoan.

Menurut Mbak Sri, anak Pak Brengos yang kini mengelola Warung Bakso Brengos, ayahnya mulai jualan bakso sejak sekira tahun 1960-an. Sebuah masa tempuh yang cukup lama untuk sebuah usaha kuliner bisa bertahan dan eksis hingga kini.

Tambahan saos dan kecap, biar makin mantap…
Selalu ramai…

Bertahan sejak tahun 1960-an…





Dari sudut cita rasa, kelezatan Bakso Brengos menurut saya standar dengan bakso enak lainnya. Baksonya tetap bertahan dengan bulatan kecil-kecil, tidak seperti bakso kekinian yang dibuat besar-besar. Namun, justru di sini letak kekuatannya. Apalagi rasa daging sapinya terasa lebih kuat. Sehingga semangkuk bakso terasa amat sedikit, dan pengin nambah lagi haha..

Bila ke Bandungan, bolehlah mencicipi kuliner ini…

Akhirnya….bakso Pak Brengos menjadi penutup rihlah kali ini….ketika jam menunjukkan pukul 16.30 dan senja mulai turun menyapa Bandungan yang semakin sejuk, bus yang kami tumpangi pun perlahan berjalan. Membelah kota Bandungan dan beringsut meninggalkannya. Allahu Akbar. Fabiayyi alaai rabbikumaa tukadzdzibaan...Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

Artikel Populer

Artikel Favorit

Ayam Pencok, Kuliner Unik Khas Kuwu yang Nyaris Punah

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || ).push({}); Indonesia diberkahi dengan kekayaan kuliner tradisional yang berlimpah. Beragam kuliner pusaka diwariskan oleh leluhur, dari...
error: Content is protected !!