Non-ketegori

Beranda Non-ketegori Halaman 2

Jatipohon Indah (JPI), Destinasi Wisata Favorit di Kabupaten Grobogan

0




Nama Jatipohon sebagai sebuah objek wisata di Kabupaten Grobogan sudah populer sejak saya remaja, bahkan sejak saya masih kecil. Lamat-lamat ketika itu saya dengar kabar bahwa dari objek wisata ini kita bisa melihat view Kota Purwodadi. Saya belum membuktikannya ketika itu, baru setelah dewasa saya beberapa kali berkesempatan berkunjung ke Jatipohon.

Kini wisata Jatipohon semakin menggeliat. Dulu, sependek ingatan saya, objek wisata Jatipohon dikenal dengan nama Bukit Pandang Jatipohon. Karena dari perbukitan Jatipohon ini, pengunjung bisa melihat Kota Purwodadi sejauh mata memandang.

Sebuah brand baru, yakni Jatipohon Indah (JPI) diperkenalkan ke publik saat launching Desa Wisata Jatipohon pada 3 September 2016 lalu.  Selain masih mengandalkan eksotisme view panorama Kota Purwodadi dari atas gunung kapur Kendeng Utara, Jatipohon Indah (selanjutnya disebut JPI) juga menawarkan eksotisme pemandangan dari atas puncak bukit lamping, yang pengunjung bisa berswafoto dengan latar pemandangan yang indah dan menawan, serasa berada di atas awan.

Berfoto dengan latar panorama yang indah. Foto Kang Asti




Pada Sabtu (17/3/2018), yang bertepatan dengan libur Hari Raya Nyepi, saya bersama keluarga, berkesempatan piknik ke JPI. Ini pertama kalinya saya ke JPI dengan membawa keluarga. Pada kunjungan yang terakhir ke JPI, saya bersama teman-teman komunitas Grobogan Corner (GC), saat itu JPI belum dilaunching sebagai Desa Wisata.

Panorama dari Bukit Lamping

Di JPI, pengunjung bisa melihat view Kota Purwodadi dari objek wisata ini. Panorama yang sulit kita temukan di tempat lain. Tak sekedar itu, saat ini JPI juga menawarkan  sensasi menjelajah bukit lamping. Dengan tiket Rp 5 ribu per orang, pengunjung bisa menjelajah naik ke bukit lamping. Sebelum pendakian ke bukit lamping, pengunjung bisa berswafoto dulu di spot-spot yang sudah disediakan.

Berfoto dengan latar pemandangan yang menawan di puncak bukit lamping. Foto oleh kang Asti

Sementara pengunjung anak-anak bisa bermain-main di area permainan yang telah disediakan. Ada jungkat-jungkit, ayunan, dan sebagainya. Setelah itu, baru mulai pendakian.  Jangan khawatir, bukitnya tidak terlalu tinggi kok. Juga sudah dibuatkan anak tangga, sehingga memudahkan pengunjung menuju ke puncak bukit.

Di puncak bukit lamping, pengunjung bisa melihat view yang indah. Panorama dari atas bukit yang mempesona. Juga bisa berfoto-foto di spot-spot yang telah disediakan. Dari panggung pohon, pengunjung bisa berfoto dengan latar awan yang menawan. Juga ada spot foto kupu-kupu dan spot-spot lainnya yang tak kalah asyik.

City View, Penginapan yang Bersejarah




Di kompleks wisata Jati Pohon Indah (JPI) juga dilengkapi sejumlah homestay, lebih tepatnya penginapan. Salah satunya adalah City View, sebuah bangunan yang menyimpan sejarah penting. Sebuah sumber menyebutkan, bangunan lama bergaya Eropa yang terdapat di kompleks Jatipohon Indah (JPI) itu pernah ditempati Perdana Menteri Indonesia ke-9 Burhanuddin Harahap bersama keluarganya selama hampir setahun lamanya.

City View Jati Pohon. Penginapan yang bersejarah. Foto oleh Kang Asti

Burhanuddin tinggal di rumah itu sekira tahun 1960 karena masalah politik, lebih tepatnya berstatus sebagai tahanan politik di era Orde Lama. Selama Burhanuddin bertempat di rumah itu, sekitar bangunan dijaga aparat keamanan. Kebutuhan sehari-hari Burhanudin dilayani oleh seorang warga setempat bernama Rasmin.

Sesuai tulisan yang tercetak di tembok depan sisi kiri, bangunan rumah itu selesai dibangun pada tanggal 13 Oktober 1935 oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa dari Purwodadi bernama Tan Liong Pin. Tan Liong Pin membuat bangunan itu untuk tempat istirahat, dengan view panorama alam yang menawan.

Pada tahun 1950, bangunan itu dijual kepada perusahaan kayu milik negara yang kini bernama Perum Perhutani. Oleh pihak Perhutani, bangunan rumah bergaya Eropa dengan beberapa kamar itu dijadikan tempat penginapan dengan nama ‘City View Jati Pohon’.

Berenang di Langen Sari

Berenang di air yang jernih di kolam renang Langen sari komplek Jatipohon Indah (JPI). Foto oleh Kang Asti




Satu lagi wahana di kompleks Jatipohon Indah (JPI), yakni kolam renang Langen Sari yang terletak di samping City View. Hanya kolam renang sih, bukan wahana air dengan aneka permainan seperti yang biasa ada di water park atau waterboom.

Tapi keistimewaan di kolam renang ini adalah airnya yang tidak mengandung obat. Melainkan air murni yang berasal dari sumber air Jatipohon yang segar dan jernih. Setiap seminggu sekali kolam itu dikuras dan dibersihkan, lalu dialirkan lagi air dari sumbernya. Terdapat setidaknya 2 jenis kolam renang yang dibedakan berdasarkan ketinggian air dan tingkatan usia. Yakni untuk anak-anak dan remaja/dewasa.

Nah, itulah sekilas profil objek wisata Jatipohon Indah (JPI) yang berlokasi di Desa Sumber Jatipohon, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan. Sebuah objek wisata berbasis panorama alam yang kini tengah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Grobogan. Semoga bermanfaat.*(Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)

0




Sebagai moyang yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa, penghormatan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta.

Makam Ki Ageng Selo sendiri berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kurang lebih 12 kilo meter dari Kota Purwodadi ke arah Blora. Setelah sampai perempatan Ngantru, ambil arah ke selatan sekitar tiga kilometer. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama di malam Jumat.

Baca sebelumnya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

Menyusuri Jejak Ki Ageng Selo

Bila kita berziarah ke makam Ki Ageng Selo, maka kita bisa menyusuri jejak-jejak Ki Ageng Selo di kompleks makam dan sekitarnya. Apa saja? Sebagai berikut:

1. Masjid Ki Ageng Selo

Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah timur makam Ki Ageng Selo. Belum diketahui pasti kapan masjid ini didirikan, namun masyarakat meyakini masjid ini berdiri sekitar abad ke-17. Bangunan masjid masih mencirikan bangunan kuno dengan corak joglo, yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu dan masih asli.

Masjid Ki Ageng Selo yang sebagian besar terbuat dari kayu dan masih asli

Informasi yang saya saya peroleh menyebutkan, masjid ini pernah mengalami pemugaran besar-besaran pada tahun 1885. Pemugaran dilakukan oleh Pakubuwono X. Dalam pemugaran tersebut, serambi masjid mengalami penambahan luas sekitar dua meter dari bangunan utama. Juga bagian mihrab mengalami perombakan.



Adapun bedug peninggalan Ki Ageng Selo hingga saat ini masih terjaga keasliannya. Bedug terbuat dari kayu opo-opo. Menurut cerita, satu batang kayu opo-opo dipotong menjadi dua. Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug Masjid Ki Ageng Selo. Potongan lainnya digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak. Jadi bedug yang berada di Masjid Ki Ageng Selo dan di Masjid Agung Demak sama alias kembar.

2. Pohon Gandri

Pohon gandri (bridelia monoica) atau sebagian lainnya menyebut “pohon gandrik” diyakini merupakan pohon tempat mengikat petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Pohon itu bisa dijumpai di kompleks makam Ki Ageng Selo.

Pohon gandri, konon dijadikan tempat mengikat petir oleh Ki Ageng Selo
Papan informasi yang disematkan pengelola di pohon Gandri

3. Almari Api Petir

Almari api petir terdapat di sebelah utara makam Ki Ageng Selo. Di dalamnya terdapat pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Dalam sebuah karya ilmiah berjudul Potensi Makam Ki Ageng Selo Sebagai Destinasi Wisata Religi di Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan karya Riza Shirotul ‘Ibad disebutkan bahwa almari itu dibuka pada saat ada ritual pengambilan api pada bulan Muharram dan Maulud oleh rombongan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seorang peziarah sedang berpose di samping almari petir

4. Sawah Udreg

Disebut sawah udreg karena dulu merupakan tempat Ki Ageng Selo udreg-udregan atau bergelut melawan petir. Demikian informasi yang saya peroleh dari T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir.

Sawah itu sering juga disebut dengan nama sawah mendung, mungkin karena saat menangkap petir itu langit sedang dalam keadaan mendung. Sawah itu terletak di sebelah barat makam Ki Ageng Selo berjarak sekira 200 meter.

Larangan Ki Ageng Selo

Selain jejak-jejak yang bisa kita susuri saat berziarah ke makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, kita juga bisa memperoleh informasi terkait dengan larangan-larangan dan pepali dari Ki Ageng Selo yang hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Setidaknya ada dua larangan:

1. Larangan jualan nasi

Maka, jangan pernah mencari kuliner nasi di sekitaran kompleks makan Ki Ageng Selo dan pedukuhan Selo Panjimatan secara umum, karena tidak akan pernah dijumpai. Sejak turun-temurun, mitos larangan menjual nasi dari Ki Ageng Selo itu begitu dihormati oleh masyarakat setempat hingga sekarang.



Asal usul larangan ini konon bermula suatu hari saat Ki Ageng Selo kedatangan tamu. Seperti biasa, sang tamu disambut ramah oleh Ki Ageng Selo. Juga disambut dengan jamuan makan sebagaimana umumnya menghormati tamu.

Telah terhidang aneka makanan di meja. Namun betapa kagetnya Ki Ageng Selo ketika mengajak tamunya makan, tamunya menolak dengan halus. Rupanya sang tamu sudah makan di warung yang tak jauh dari kediaman Ki Ageng Selo. Kecewalah hati Ki Ageng Selo.

Dari sinilah kemudian muncul piweling atau larangan dari Ki Ageng Selo tentang larangan menjual nasi. Hingga sekarang, larangan itu masih dipatuhi oleh masyarakat setempat.

2. Larangan Menanam Walu di Depan Rumah

Warga juga dilarang oleh Ki Ageng Selo menanam waluh di pekarangan depan rumah. Waluh adalah tanaman merambat yang menghasilkan buah cukup besar berwarna orange. Ikhwal pelarangan ini pun terdapat asal usulnya.

Syahdan, suatu hari, Ki Ageng Selo sedang menggendong anaknya di halaman rumahnya yang ditanami waluh. Tiba-tiba datanglah orang yang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuh, tapi Ki Ageng Selo jatuh telentang karena kesrimpet atau kesandung batang wuluh. Tidak hanya jatuh, tapi kain yang dipakai Ki Ageng Selo lepas sehingga membuat auratnya terbuka.

Insiden itulah yang menjadikan Ki Ageng Selo kemudian melarang menanam waluh di pekarangan depan rumah. Larangan ini pun hingga saat ini dihormati oleh masyarakat setempat.

Pepali Ki Ageng Selo

Berpose di depan gerbang pintu masuk menuju makam Ki Ageng Selo

Di samping larangan, Ki Ageng Selo juga meninggalkan pepali yang berisi ajaran luhur, tidak saja tentang akhlak mulia atau budi pekerti, tetapi juga mengandung pelajaran ilmu agama Islam yang terdiri dari 4 bagian, meliputi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

Pepali itu disusun dalam bentuk lagu dan syair: Dhandanggula. Salinan lengkap pepali Ki Ageng Selo dalam Bahasa Indonesia telah disusun oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo dalam bukunya yang berjudul Pepali Ki Ageng Selo.

Pepali sendiri berarti ajaran, petunjuk, atau aturan. Ada juga yang mengartikannya sebagai pedoman hidup.

Pepali dalam lagu dan syair yang berbentuk Dhandhanggula itu ditulis sendiri oleh Ki Ageng Selo sesuai dengan pakemyang berlaku dalam lagu dan syair Dhandhanggula dan semuanya berjumlah 17 bait. Jumlah baris tiap-tiap baitnya ada sepuluh. Suara akhir masing-masing baris adalah: i, a, e, u, i, a, u, a, i, a. Adapun jumlah suku kata masing-masing baris adalah: 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7.

Pepali-ku ajinen mbrekati,

Tur selamet sarta kawarasan,

Pepali iku mangkene,

Aja agawe angkuh,

Aja ladak lan jail,

Aja ati serakah,

Lan aja celimut,

Lan aja mburu aleman,

Aja ladak, wong ladak pan gelis mati,

Lan aja ati giwa.

 

Artinya:

“Pepali”-ku hargailah (supaya memberkahi,

Lagi pula selamat, serta sehat

Pepali itu seperti berikut:

Jangan berbuat angkuh,

Jangan bengis dan jangan jahil,

Jangan hati serakah (tamak, loba),

Dan jangan panjang tangan;

Jangan memburu pujian,

Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati,

Dan jangan cenderung ke kiri.

Inilah pepali Ki Ageng Selo yang pertama dalam lagu dan bentuk syair Dhandhanggula. Dari cuplikan pepali di atas, kita bisa segera tahu, betapa adiluhungnya ajaran dan wasiat dari Ki Ageng Selo yang justru seringkali terabaikan, tenggelam oleh mitos dan mistis yang dinisbatkan kepada sosok Ki Ageng Selo yang lebih mendominasi dan populer.



Pepali Ki Ageng Selo lengkap bisa dibaca di buku berjudul Pepali Ki Ageng Selo yang ditulis oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo yang diterbitkan oleh CV. Citra Jaya Surabaya, Cetakan pertama tahun 1980. Atau buku berjudul Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela karya Dhanu Priyo Prabowo yang diterbitkan oleh penerbit Narasi, Yogyakarta, Cetakan pertama, tahun 2004.

Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, selesai).

 



Lezatnya Miyagor, Mie Ayam versi Goreng ala Pak Ujang

2
Miyagor, mie ayam versi goreng




Mie ayam adalah kuliner Indonesia yang terbuat dari mie kuning dengan kuah yang diramu dari berbagai bumbu, diberi olahan daging ayam yang dicincang dan sayuran, lalu (biasanya) dimakan dengan terlebih dulu diberi saos dan kecap. Mie sendiri awalnya berasal dari Negeri Cina. Tetapi mie ayam yang seperti di Indonesia tidak ditemukan di Cina. Sehingga boleh dikata, mie ayam sudah menjadi makanan tradisional ala Indonesia. Di Jawa, makanan ini sangat mudah ditemukan karena banyaknya penjual kuliner ini.

Saking banyaknya penjual mie ayam, sehingga usaha ini termasuk usaha yang begitu kompetitif. Karenanya, sebagian penjual mie ayam berupaya membuat terobosan kreatif untuk memikat konsumen. Adalah miyagor alias mie ayam goreng yang menjadi salah satu kreasi yang ditawarkan.

Miyagor menjadi menu spesial....
Miyagor menjadi menu spesial….

Di Purwodadi, ibukotanya Kabupaten Grobogan, Anda bisa mendapatkan mie ayam versi goreng ini di Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang, yang beralamat di Jl. A. Yani Kios No.19 Barat Pasar Purwodadi. Pak Ujang sendiri sudah mulai berjualan bakso dan mie ayam sejak tahun 1991 atau sekira 25 tahun yang lalu. Karenanya, tak heran, bila pelanggan warungnya sudah cukup banyak. Setiap hari, warung ini selalu ramai dipadati oleh pengunjung yang ingin menyantap kelezatan bakso sapi dan mie ayamnya.

Menurut Maryadi, menantu Pak Ujang yang kini ikut mengelola warung, kurang lebih setahun lalu, miyagor atau mie ayam goreng menjadi menu baru di warung bakso sapi dan mie ayam Pak Ujang. “Dimulai dari masukan saya waktu melihat ada yang jual di Semarang, akhirnya Bapak coba-coba, dan akhirnya jadilah menu miyagor  seperti sekarang ini,” tutur Maryadi kepada saya.

Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang
Warung Bakso Sapi dan Mie Ayam Pak Ujang




Setiap hari dipadati pelanggannya...
Setiap hari dipadati pelanggannya…

Miyagor menjadi menu spesial...
Miyagor, kelezatan mie yang beda…

Tak disangka, kini miyagor menjadi menu spesial dan andalan di warung milik Pak Ujang yang bernama asli Ermedi itu. Bahkan pelanggannya sudah cukup banyak. “Alhamdulillah, sehari rata-rata terjual di atas 50 porsi miyagor. Bahkan terkadang bisa sampai 70 porsi, Pak,” tutur Maryadi kepada saya.

Miyagor sebagai mie ayam versi goreng memang memunculkan sensasi rasa tersendiri. Gurihnya bumbu mie ayam yang khas berasa lebih kuat di lidah. Sehingga, menurut saya, miyagor benar-benar menyuguhkan kelezatan mie ayam yang beda, yang layak untuk dicoba. Kondimen irisan tomat, selada, dan mentimun, menjadi tambahan yang menambah kelezatannya.




Warung bakso sapi dan mie ayam Pak Ujang buka setiap hari mulai jam 09.30 hingga jam 21.00 WIB. Meski menu bakso sapi dan mie ayam di warung ini tetap diminati oleh pelanggannnya, namun sensasi kelezatan miyagornya layak Anda coba. Apalagi harganya juga amat terjangkau. Seporsi miyagor dipatok Rp 10 ribu. Bisa Anda makan di tempat, bisa juga Anda bungkus dan dimakan di rumah. Selamat mencoba!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Resep Becek Khas Grobogan Sedap dan Nyamleng ala Yanto Ganjar

0

Dari sisi originalitas alias kelaziman yang sudah turun-temurun, bahan baku Becek umumnya menggunakan daging sapi. Tapi soal bahan daging menggunakan daging sapi atau bukan, pada akhirnya ternyata murni merupakan ranah selera. Tak bisa dipaksakan.

dscf7702
Becek ala Yanto Ganjar..sedep dan nyamleng

Lezatnya Swike Mentok, Babak Baru Kuliner Grobogan

0
Swike mentok, tak kalah lezat....

Bila menyebut kuliner Grobogan, maka yang terbayang adalah swike, yang identik dengan masakan berbahan utama daging katak atau kodok. Bertahun-tahun, swike tidak hanya ikonik sebagai kuliner khas Grobogan (biasanya disebut khas Purwodadi yang merupakan ibukotanya Grobogan), tapi juga hegemonik. Sehingga kuliner Grobogan seolah melulu hanya swike.



Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk....
Kuahnya segar dengan bumbu tauco yang khas, dagingnya empuk….
Disajikan dengan sepiring nasi putih...
Disajikan dengan sepiring nasi putih…

Harus diakui, swike memang ikonik sekaligus hegemonik sebagai kuliner khas Grobogan. Bahkan daging kodok Purwodadi konon rasanya lebih lezat daripada kodok daerah lain. Entah benar atau tidak, yang jelas, sebagian besar warga Kabupaten Grobogan yang notabene muslim ‘setengah hati’ menerima kuliner ini, kendati pun realitasnya sudah ratusan tahun kuliner ini menjadi ikon Kabupaten Grobogan.



Pangkal soalnya adalah masalah keyakinan dalam beragama, karena menurut literatur fiqih, kodok termasuk binatang yang haram dikonsumsi. Inilah yang menjadikan kuliner ini sulit diterima. Bahkan, sebagaimana dilansir Wikipedia, status haram daging kodok ini pernah menuai kontroversi, seperti contoh kasus di Kabupaten Demak (yang bersebelahan dengan Kabupaten Grobogan), di mana bupatinya pernah mendesak para pengusaha restoran swike untuk tidak mengaitkan swike dengan Demak. Hal ini karena dianggap dapat mencoreng citra Demak sebagai Kota Wali dan kota Islam pertama di pulau Jawa, serta kebanyakan warga Demak adalah pengikut madzhab Syafi’i yang mengharamkan daging kodok.

Warung makan "Swike Purwodadi" yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak....
Warung makan “Swike Purwodadi” yang ada di Karangawen, Kabupaten Demak….

Swike atau Swikee sendiri merupakan hidangan yang berasal dari pengaruh masakan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Istilah “swikee’ berasal dari dialek Hokkian, yakni sui yang berarti air, dan ke yang berarti ayam.  Sehingga swike sesungguhnya merupakan penghalusan untuk menyebut kodok dengan menyebutnya sebagai “ayam air”. Makanan ini selama ini memang identik dengan Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Sehingga di berbagai daerah, dapat ditemui berbagai rumah makan atau resto yang menyebut sebagai resto atau rumah makan “Swike Purwodadi”.

Bahan utama hidangan ini adalah kaki kodok dengan bumbu bawang putih, jahe, tauco, garam, dan lada. Dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan daun seledri di atasnya, swike biasanya disajikan dengan nasi putih. Rumah makan yang legendaris menyediakan swike kodok  adalah RM. Swike Asli yang beralamat di Jl. Kol. Sugiono No. 11 Purwodadi. Rumah makan ini sudah berdiri semenjak tahun 1901 atau telah  lebih dari seabad lalu serta telah memasuki generasi kelima.




Pada perkembangannya, meski nama swike sendiri identik dengan kodok, namun warga Grobogan yang muslim pada tahun-tahun terakhir mulai berkreasi dengan komponen daging yang lain, misalnya daging ayam dan mentok. Sehingga di Grobogan, kini swike tidak lagi melulu daging kodok, namun juga swike ayam atau swike mentok. Dan inilah, menurut saya, babak baru kuliner Grobogan.

WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
WM. Sweke Mentok di Jl. Raya Purwodadi-Semarang, Desa Ketitang, Kecamatan Godong
Sungguh menggoda selera...
Sungguh menggoda selera…

Salah satu warung favorit saya yang menyediakan swike non-kodok adalah Warung Sweke Mentok yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong. Lokasinya di pinggir Jalan Raya Purwodadi-Semarang atau samping Puskesmas Godong 1 yang ada di Ketitang. Sehingga apabila Anda sedang perjalanan dari Purwodadi menuju ke arah Semarang atau sebaliknya, Anda akan melewati warung ini.

Menurut Ibu Jumanah, pengelola Warung Sweke Mentok, ia sudah mulai menyediakan menu swike mentok sejak tiga tahunan yang lalu. Tujuannya adalah untuk menyediakan menu swike tapi yang berbahan utama dari daging yang halal. “Sehingga yang tidak mau memakan swike kodok, bisa makan swike di warung ini,” tuturnya kepada saya.




Saya memang belum dan tidak akan pernah mau memakan swike kodok (dengan alasan agama tentu saja), sehingga saya tidak bisa membandingkan cita rasa swike mentok dan swike kodok. Namun, bagi saya, swike mentok yang ditawarkan Bu Jumanah di warungnya sudah cukup lezat. Kuahnya segar dan gurih, serta aroma tauconya terasa khas di lidah. Daging mentoknya juga empuk, sehingga menambah kelezatan cita rasanya.

Meski di warung ini menyediakan menu lainnya seperti rames dan soto kebo, namun swike mentok-lah yang banyak dicari pelanggannya. Seporsi swike mentok di “Warung Sweke Mentok” milik Bu Jumanah dihargai Rp 15.000,-. Bila Anda termasuk yang tidak mau memakan swike kodok, warung ini salah satu alternatifnya. Monggo.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Popular Posts

My Favorites

Objek Wisata Api Abadi Mrapen, Dulu dan Kini

Api Abadi Mrapen adalah salah satu objek wisata yang berada di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dari segi reputasi, nama objek wisata Api Abadi...
error: Content is protected !!