Inilah 4 Keseruan Berwisata di Agrowisata Sondokoro Tasikmadu Karanganyar

0
Papan Selamat Datang dan informasi wahana di Agrowisata Sondokoro

Awalnya hanya berupa pabrik gula yang tertutup untuk umum, yakni PG Tasikmadu. Pabrik ini didirikan pada tahun 1871 oleh praja mangkunegaran saat itu yakni KGPAA Mangkunegara IV. Lalu, pada tahun 2005, tercetus pemikiran untuk membuka diri dengan mendirikan wisata agro dan industri gula yang bernuansa tempo doeloe. Akhirnya, jadilah Agrowisata Sondokoro seperti yang dikenal saat ini.

Nama Sondokoro sendiri, menurut situs agrowisata-sondokoro.blogspot.co.id, berasal dari nama tempat yang dulu konon cerita berasal dari nama Kyai Sondo dan Kyai Koro yang bertarung 40 hari 40 malam demi mendapatkan menantu bagi anak gadis mereka yang sama-sama mencintai Tumenggung Joyo Lelono. Namun, pertarungan tersebut berakhir imbang tanpa ada yang menang ataupun kalah, dikarenakan mereka berasal dari satu perguruan yang sama.

Kemudian oleh penduduk setempat, tempat tersebut dinamai Sondokoro yang diambil dari nama Kyai Sondo dan Kyai Koro, yang petilasannya dapat dilihat di lokasi Jalan Refleksi yang berada di Wahana Sri Widowati, yang diambil dari nama anak gadis Kyai Sondo.

Berpose di depan PG Tasikmadu

Saat ini, Agrowisata Sondokoro menjadi destinasi wisata edukasi favorit, bahkan menjadi primadona untuk keluarga, baik di lingkup Solo Raya maupun luar daerah. Tidak hanya anak-anak yang bisa menikmati wisata agro ini, tapi juga orang dewasa. Karena agrowisata ini dilengkapi aneka permainan yang sangat banyak, sehingga pengunjung ditawarkan pilihan spot dan wahana yang beraneka ragam.

Saya sendiri telah beberapa kali mengunjungi objek wisata yang beralamat lengkap di Jl. Mangkunegara, Bojonegara, Ngijo, Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar ini. Dari waktu ke waktu seperti tak banyak berubah. Meski begitu, Agrowisata Sondokoro tetap menawarkan pengalaman wisata yang sangat seru.

Apa dan bagaimana keseruan berwisata edukasi di Agrowisata Sondokoro? Inilah 4 keseruan berwisata di Agrowisata Sondokoro versi saya. Simak ulasan berikut ya!

1. Keseruan Naik Spoor Sakarosa

Spoor Sakarosa jadul berbahan bakar uap siap membawa para penumpang keliling kebun tebu dan pabrik gula

Menurut saya, naik spoor (sepur/kereta api) Sakarosa adalah daya tarik paling magnetis dari sekian pilihan wahana wisata di Agrowisata Sondokoro. Kita akan merasakan sensasi keseruan menaiki kereta api tempo doeloe yang masih berbahan bakar uap. Melintasi kawasan sekeliling dan kebun tebu sekitar Pabrik Gula Tasikmadu. Seru sekali pokoknya.

Hanya saja, perlu diketahui, Spoor Sakarosa tidak setiap hari beroperasi. Hanya setiap hari Sabtu dan Minggu saja. Untuk hari-hari biasa harus konfirmasi terlebih dahulu kepada pengelola, setidaknya sehari sebelumnya.

Kecuali bila hanya ingin naik Spoor Gula yang berbahan bakar solar, yang beroperasi setiap hari. Hanya saja jarak tempuhnya pendek. Hanya di dalam kompleks objek wisata saja. Tidak sampai berkeliling kebun tebu dan sekitar pabrik gula.

2. Keseruan Terapi Ikan

Pintu masuk wahana terapi ikan, sebelah kanan
Ikan-ikannya mematuki kaki kita saat dimasukkan ke kolam

Di Agrowisata Sondokoro ada tempat favorit saya, yakni di kolam terapi ikan. Di kolam yang airnya jernih yang dibuat memanjang itu, ada berbagai jenis ikan, termasuk ikan lokal seperti nila. Namun anehnya, begitu kita memasukkan kaki kita ke dalam kolam tersebut, ikan-ikan itu akan berkerumun mendatangi kaki kita, lalu mematuk-matuk kaki kita seperti sedang makan lumut-lumut di kaki kita.

Saya sendiri tidak tahu, apa khasiat dari terapi ikan itu. Yang jelas saya merasakan keseruan dan keasyikan saat ikan-ikan itu mematuk-matuk kaki kita dengan mulutnya. Awalnya geli, bahkan sangat geli, lama-lama saya bisa menikmati.

Bila berkunjung ke Agrowisata Sondokoro, Anda bisa mencobanya….

3. Keseruan Melihat-lihat Benda Bersejarah

Loko yang pertama kali digunakan oleh PG Tasikmadu, dibuat tahun 1902
Monumen mesin gilang 1926
Bendi yang dulu biasa dipakai KGPAA Mangkunegara IV mengunjungi kebun tebu
Berpose di salah satu lokomotif kereta api yang tidak lagi berfungsi

Salah satu keasyikan dan keseruan berwisata di Agrowisata Sondokoro adalah bisa melihat benda-benda bersejarah yang terkait dengan keberadaan Pabrik Gula Tasikmadu sebagai cikal bakal lahirnya objek wisata ini.

Di antaranya ada loko yang dibuat pada tahun 1902 yang merupakan loko pertama kali digunakan di PG Tasikmadu. Lalu ada monumen mesin giling 1926. Ada bendi yang dipakai oleh pendiri PG Tasikmadu, yakni KGPAA Mangkunegara IV ketika mengunjungi kebun tebu. Dan sebagainya.

Dari situ kita bisa belajar dan berimajinasi tentang sejarah dan keadaan tempo doeloe.

4. Keseruan untuk Anak-anak

Keseruan anak-anak bermain air, sungguh mengasyikkan
Kawasan outbound

Di luar keseruan di atas, selebihnya adalah keseruan yang memanjakan anak-anak, karena di agrowisata ini permainan untuk mereka sangat banyak dan beragam. Ada dunia kreasi, arena outbound, air cerdas, wahana mainan seperti perahu ayun, kincir angin, dan lain sebagainya.

Dari kesemua keseruan itu, Agrowisata Sondokoro bisa menjadi pilihan destinasi wisata edukasi yang positif untuk keluarga. Semoga ulasan ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Seketika Jatuh Cinta dengan Cita Rasa Soto Sutri Khas Sokaraja

0

Ini cerita icip-icip kuliner sepulang dari acara capacity building di Owabong Cottage, Purbalingga. Saat perjalanan pulang, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami, sehingga bus yang membawa rombongan berjalan perlahan. Awalnya kami sepakat ingin mampir di sebuah objek wisata di Purbalingga, tapi karena hujan, akhirnya kami sepakat untuk langsung pulang saja.

Tapi kami mampir di Pusat Oleh-oleh Ekasari yang beralamat di Jl. Supardjo Rustam No. 70 Sokaraja, Banyumas. Di sini ada menjual oleh-oleh khas Sokaraja yakni getuk goreng yang moncer itu.

Warung Soto Sutri 1. Alamatnya di Jl. Pramuka, Sokaraja Kulon, Sokaraja, Kabupaten Banyumas.




Saat lagi asyik memilih oleh-oleh yang hendak saya beli, Pak Suraya memanggil saya. “Pak Asti mau ke Soto Sokaraja gak. Kalau iya, ditunggu Dokter Henny di luar…” serunya.

Saya langsung menjawab tegas, “Iya, oke!” hehe…

Saya pun bergegas untuk ke kasir, membayar beberapa oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada kaos bertulisakan “Baturaden” untuk dua anak saya, Mumtaz dan Hanum; tak lupa oleh-oleh wajib karena khas. Apalagi kalau bukan getuk goreng.

Setelah membayar, saya bergegas keluar toko. Ternyata Dokter Henny sudah lebih dulu berangkat dengan Pak Suraya, berboncengan motor hasil pinjaman dari pemilik pusat oleh-oleh. Namun ternyata, saya telah ditunggu Pak Widyo yang sudah nangkring di atas motor, yang juga hasil pinjaman dari pemilik pusat oleh-oleh hehe…

Tak perlu menunggu lama, saya dan Pak Widyo segera menyusul Dokter Henny dan Pak Suraya. Berbekal alamat dan route yang diberikan oleh Dokter Henny—yang beliau memang asli orang Purwokerto, sehingga paham daerah Sokaraja—, sekitar 15 menit kemudian kami sampai ke warung makan yang kami tuju. Di situ sudah ada Dokter Henny dan Pak Suraya.

Soto Sutri, Sroto Sokaraja yang Melegenda

Warung itu namanya Warung Soto Sutri 1. Alamatnya di Jl. Pramuka, Sokaraja Kulon, Sokaraja, Kabupaten Banyumas.  Warung ini  hanya menyediakan sajian soto khas Sokaraja. Dari Dokter Henny saya tahu, bahwa Soto Sutri ini merupakan kuliner legendaris untuk hidangan soto khas Sokaraja. Karenanya warung ini selalu ramai. Banyak pelanggannya,  dan menjadi destinasi wisata kuliner bagi para pecinta kuliner yang sedang berada di Banyumas.

Sroto Sokaraja di Warung Soto Sutri 1. Cita rasanya begitu menggoda

Sambal kacangnya membuat cita rasanya unik dan khas





Risiko tukang foto, jadi tidak nampak. Dari kiri Dokter Henny, Pak Suraya, dan Pak Widyo.

Soto atau di Sokaraja sering disebut dengan “sroto” merupakan hidangan soto khas Sokaraja, Banyumas, yang unik. Ciri khas dari kuliner ini adalah terdapat campuran bumbu sambal kacang dan ketupat.  Bila ketupat adalah pengganti nasi, maka bumbu sambal kacangnya adalah pengganti sambal, meski tidak terlalu pedas, melainkan cenderung manis dan gurih.

Saya baru pertama kali menyantap sroto Sokaraja di Warung Soto Sutri ini, tapi sepertinya saya langsung jatuh cinta dengan cita rasanya.  Soto dengan kondimen sambal kacang dan ketupat, lalu irisan daun bawang yang lumayan banyak memenuhi mangkok, plus potongan daging sapi yang empuk, berpadu dengan gurih kuahnya yang sangat lezat di lidah, membuat saya seketika kasmaran dengan sroto Sokaraja di warung Soto Sutri ini. Kuah sroto Sokaraja menggunakan kaldu daging sapi asli sehingga memang sangat gurih dan lezat.




Cita rasa sroto Sokaraja seperti ini sulit ditemui padanannya dengan soto khas daerah lain. Karenanya, sroto Sokaraja ini menjadi semacam destinasi wajib bagi pecinta kuliner saat berada atau lewat daerah Banyumas.

Informasi yang saya dapatkan, warung soto Sutri sudah berdiri sejak tahun 1984, dan saat ini telah memasuki generasi ketiga. Meski lokasinya tidak di jalan raya, namun cita rasanya yang melegenda, telah menjadikan warung ini menjadi jujugan wisata kuliner yang sudah sangat populer di kalangan para pecinta kuliner, dalam maupun luar Kabupaten Banyumas.

Setelah melahap habis semangkok sroto Sokaraja di Warung Soto Sutri 1, kami pun bergegas kembali ke pusat oleh-oleh Ekasari. Tak berapa lama kemudian, kami melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman.  Bus yang kami tumpangi berjalan dengan tenang, dan tanpa saya sadari saya pun terlena dalam lelap. Tidur.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Taman Margasatwa Semarang, Wisata Edukasi Satwa Recommended untuk Keluarga

1

Berpose di depan pintu masuk Taman Margasatwa Semarang


Kalau di Yogyakarta ada Gembira Loka Zoo dan di Solo ada Taman Satwa Taru Jurug, maka di Semarang ada Taman Margasatwa Semarang atau biasa disebut juga dengan Kebun Binatang Mangkang. Disebut Kebun Binatang Mangkang karena letak kebun binatang ini memang di daerah Mangkang, tepatnya di Jalan Walisongo KM 16, seberang Terminal Mangkang Semarang atau sekitar 16 km dari Simpang Lima Semarang.

Pada liburan akhir tahun kemarin (24/12/2017), saya bersama keluarga berkesempatan kembali berkunjung ke kebun binatang Mangkang. Ini bukan kunjungan pertama kami, karena sebelumnya sekira tahun 2012, kami sekeluarga juga pernah berkunjung ke sini.

Saya dan anak ragil saya, Hanum Tazkia, saat naik gajah pada kunjungan tahun 2012 lalu
Anak kedua saya, Mumtaz Mahal, saat menjajal flying fox di Taman Margasatwa Semarang pada kunjungan tahun 2012 lalu

Kami masih menyimpan foto-foto saat kami berkunjung pertama kali kebun binatang Mangkang. Ada foto anak ragil kami, Hanum Tazkia, yang masih imut, baru berusia sekira setahun, naik gajah bersama saya. Juga ada dua kakaknya, Fathan Mubina dan Mumtaz Mahal, yang mencoba keberanian memacu adrenalin dengan flying fox di objek wisata ini.

Museum Satwa

Beberapa koleksi satwa yang diawetkan di Museum Taman Margasatwa Semarang

Berpose dengan latar belakang koleksi Museum Taman Margasatwa Semarang




Saat kali kedua berkunjung kemarin, kami menyaksikan ada beberapa perubahan di objek wisata ini. Begitu memasuki pintu masuk objek, di sebelah kanan terdapat ruangan yang digunakan sebagai museum satwa.  Ruangan itu tidak terlalu luas. Di dalamnya ada beberapa hewan yang diawetkan. Hewan-hewan itu berasal dari satwa koleksi yang mati, lalu diawetkan, kemudian di-display untuk tujuan edukasi.

Pengunjung bisa melihat koleksi satwa yang diawetkan itu secara gratis. Di antara hewan-hewan itu ada penyu, harimau, berbagai jenis burung, kijang, monyet, dan orang hutan. Selain itu, pengunjung bisa berfoto dengan latar koleksi satwa itu. Bila tak membawa kamera, jangan kuatir, di tempat tersebut  ada jasa layanan foto langsung jadi, dengan cukup merogoh kocek Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu sesuai ukuran foto yang dipilih.

Harimau, salah satu koleksi di Taman Margasatwa Semarang
Julang Mas, salah satu satwa koleksi di Taman Margasatwa Semarang
Beruk, salah satu koleksi satwa di Taman Margasatwa Semarang

Sebagaimana kebun binatang lainnya, Taman Margasatwa Semarang memiliki puluhan koleksi satwa yang cukup beragam. Ada gajah, harimau, ular, beruk, orang hutan, kancil, merak, buaya, aneka jenis burung seperti elang dan julang emas, kasuari, beruang madu, dan lain sebagainya. Semua satwa ditempatkan dalam kandang yang dibuat mirip dengan habitatnya.

Sayangnya, saat kami berkunjung, kami tidak bisa naik gajah seperti dulu. Pengelola hanya memberi layanan berfoto dengan gajah. Anak saya tidak mau kalau hanya sekedar berfoto dengan gajah. Maunya ya naik gajah dan gajahnya jalan. Tapi karena tidak ada layanan naik gajah ya akhirnya kami hanya lihat-lihat saja.

Wisata Keluarga

Kebun binatang Mangkang memang cocok sebagai wisata edukasi satwa untuk keluarga. Selain bisa melihat-lihat aneka satwa, di objek wisata ini juga dilengkapi aneka jenis rekreasi yang lain. Di antaranya ada flying fox, water boom, naik delman keliling kebun binatang, dan becak air. Di samping juga ada wahana permainan anak seperti kolam pemancingan mainan, komidi putar, dan lain sebagainya.

Salah satu permainan di Taman Margasatwa Semarang
Saya dan keponakan saya, Muthiah Awaliyah, berpose dengan ular piton di salah satu sudut Taman Margasatwa Semarang

Selain itu semua, di berbagai sudut objek wisata ini, dijumpai banyak layanan jasa foto langsung jadi, seperti berfoto bersama ular, burung hantu, dan sebagainya. Sehingga foto itu nantinya bisa menjadi kenangan pernah berkunjung ke objek wisata Taman Margasatwa Semarang.



Sayangnya, saat kami hendak membeli souvenir khas, kami tidak menemukan kaos yang ada tulisan objek wisata ini, misalnya bertuliskan “Taman Margasatwa Semarang”, “Kebun Binatang Mangkang”, atau “Bonbin Mangkang”.  Kami memang gemar membeli kaos bertuliskan objek wisata yang kami kunjungi. Selain untuk kenangan, juga untuk dipakai, sekaligus sebagai sarana promosi.

Taman Margasatwa Semarang atau Kebun Binatang Mangkang adalah salah satu objek wisata favorit di Semarang. Bisa menjadi jujugan wisata bagi yang ingin rekreasi sekaligus belajar tentang keanekaragaman satwa. Tiket masuknya Rp 6 ribu per orang. Cukup murah bukan? Selamat berkunjung ke Taman Margasatwa Semarang.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Ternyata, Sate Buntel Mbok Galak Memang Uenak

0
Sate buntel di Warung Sate Kambing Mbok Galak

Hari Jumat itu, saya janjian dengan seorang teman ketemuan di terminal Solo. Rencananya kami bersama-sama ke Jakarta untuk mengikuti sebuah acara dengan mengendarai mobilnya.

Saya tiba di terminal Tirtonadi Solo sekira jam 11.45 menit. Begitu memasuki terminal, saya langsung menuju ke masjid terminal untuk mengikuti jamaah shalat Jumat. Baru tahu, sekarang masjid Terminal Tirtonadi Solo sungguh keren. Berlantai dua, luas, dan adem bingit karena ber-AC.  Masjid Al-Musafir namanya.  Dinamakan Al-Musafir karena mungkin yang singgah shalat di situ kebanyakan para musafir.

Seusai shalat Jumat, saya menghubungi teman saya. Ternyata saya masih harus menunggu lama. Sementara perut sudah terasa keroncongan. Jam makan siang memang sudah tiba…

Kira-kira mau makan siang ke mana ya? Hehe…

Setelah berpikir sejenak, akhirnya dengan mantap satu tujuan adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak. Di warung ini, ada kuliner legendaris khas Solo yang unik, yakni sate buntel.

Beruntungnya sekarang ada layanan transportasi online Go-Jek. Saya cukup merogoh kocek Rp 6 ribu, si mas driver Go-Jek dengan ramah mengantar saya menuju ke Warung Sate Kambing Mbok Galak yang beralamat di Jl. Mangun Sarkoro 122 Sumber, Banjarsari, Solo. Waktu tempuhnya hanya sekitar 5 hingga 7 menit dari Terminal Tirtonadi.

Suasana di Warung Sate Mbok Galak hari itu…
Setiap hari selalu ramai pengnjung yang menikmati sajian khas warung Mbok Galak

Sate Buntel, Permata Kuliner Nusantara

Sesampai di warung itu, saya langsung memesan menu yang saya inginkan, yakni Sate Buntel. Sate buntel adalah permata kuliner nusantara khas Solo yang unik. Ia berbeda dengan sate khas nusantara lainnya. Sate buntel dibuat dari daging kambing yang dicincang halus, dibumbui, lalu dibungkus dengan lembaran lemak tipis (lemak jala).

Bentuk sate buntel mirip sosis yang ditusuk dengan bilah bambu, lalu dibakar.  Sate buntel disajikan dengan sambal kecap yang disertai rajangan cabai rawit dan bawang merah, juga dilengkapi dengan rajangan kol dan beberapa iris tomat segar.

Dinamakan sate buntel karena memang sate yang berisi cacahan halus daging kambing dibuntel dengan selapis lemak. Lalu dibakar.

Sate buntel Mbok Galak yang uenak
Tengklengnya juga menggoda

Uenak dan Favorit Para Pejabat Negara

Hemmm…rasanya mak nyus. Dan ternyata…. sate buntel Mbok Galak memang uenak. Uendes! Sate buntelnya empuk, dan bumbunya meresap gurih, melalui proses pematangan yang sempurna, dan satu lagi, tak bau prengus. Disantap dengan sambal kecap dengan rajangan cabai rawit dan bawang putih makin menambah uenak pol.

Konon rahasia di balik uenaknya sate buntel Mbok Galak adalah pada pemilihan kambing yang berumur sekitar satu tahun. Kambing dengan umur yang masih tergolong muda itu empuk dagingnya, tidak alot, dan meminimalisasi aroma prengus daging.

Pantesan, warung Mbok Galak banyak penggemar dan pelanggannya. Setiap jam-jam makan selalu ramai oleh pengunjung. Bahkan menurut informasi yang saya peroleh, warung Mbok Galak digemari para pejabat negara hingga presiden. Sejak era Presiden Soeharto hingga Joko Widodo disebut-sebut pernah mampir ke Warung Sate Mbok Galak.

Pak Jokowi sering mampir ke warung ini saat masih menjabat sebagai walikota Solo. Pak Jokowi menyukai sate buntel dan tengkleng di warung ini. Memang, di warung Mbok Galak tidak hanya menyajikan sate buntel saja, tapi olahan dari daging kambing lainnya seperti  sate kambing, tengkleng, dan tongseng.

Adapun para pejabat yang pernah mampir dan menikmati sajian di warung Mbok Galak, tercatat ada nama Harmoko (Menteri Penerangan era Orde Baru), Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan era Presiden SBY), dan Andi Amran Sulaiman (Menteri Pertanian era Presiden Jokowi). Bahkan almarhum Presiden Soeharto serta keluarga Cendana yakni Ibu Tien, Mbak Tutut, dan Tommy Soeharto tercatat sering memesan sate buntel saat singgah di rumah Ndalem Kalitan, Solo untuk makan bersama.

Warung Mbok Galak eksis sejak tahun 1980. Buka mulai jam 07.30 sd 18.00 Wib. Seporsi sate buntel, sate kambing, dan tongseng masing-masing dihargai Rp 40 ribu, sementara seporsi tengkleng Rp 25 ribu. Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Sate Ayam Mbah Wani Wirosari, Bertahan Sejak Tahun 1980-an

2
Sate Ayam Mbah Wani Wirosari
Sate Ayam Mbah Wani, Wirosari Grobogan

Selepas shalat jamaah maghrib di mushalla SPBU Mayahan, kami bergegas meneruskan perjalanan. Hujan masih deras mengguyur bumi saat mobil yang kami tumpangi perlahan memasuki kota Wirosari. Karena lapar, kami memutuskan untuk cari warung makan.




Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di Warung Sate Ayam Mbah Wani yang cukup terkenal di Wirosari. Kami hanya perlu belok ke kanan ke arah Sulursari sekira 200 meter dari perempatan Wirosari untuk sampai ke warung tenda tersebut. Ya, Warung Sate Ayam Mbah Wani memang terletak di selatan perempatan Wirosari sebelah barat jalan. Mangkal di depan Bank BPR Idjo.

Ini warung cukup legendaris menurut saya. Setidaknya sejak saya kecil sudah tahu ada warung ini. Jadi, warung Mbah Wani ini termasuk sedikit warung sate ayam lokal yang masih bertahan di tengah arus deras masuknya sate ayam madura yang menggurita.

Tidak bisa dipungkiri, bila menyebut sate ayam, maka sate ayam madura memang tergolong paling hegemonik saat ini. Cita rasa sate ini memang mak nyus. Saos kacang manis yang merupakan paduan dari bumbu kacang dan kecap manis mengaramelisasi baluran bumbu sehingga menyaput daging ayam saat dibakar. Itu salah satu rahasia sate ayam madura memiliki cita rasa yang lezat dan mak nyuss

Sate ayam Mbah Wani sedang dalam proses pembakaran

Saat ini, sate ayam madura benar-benar merajai pasar kuliner. Hampir di setiap sudut kecamatan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Grobogan—tempat saya tinggal—ada penjual sate ayam madura, sehingga seringkali “menggusur” pelaku sate ayam lokal.



Seperti di Kecamatan Godong, pada tahun 1980-an pernah populer sate ayam miroso Mbah Kamijan. Tapi seiring waktu, akhirnya gulung tikar karena semakin tersisih oleh perkembangan sate ayam madura. Apalagi kemudian tidak ada pelanjutnya.

Cita rasa sate ayam yang spesial
Bertahn sejak tahun 1980-an hingga kini

Namun, di Wirosari ini, ada warung sate ayam lokal yang tetap eksis hingga kini. Ya, sate ayam Mbah Wani, yang konon juga sudah eksis sejak tahun 1980-an hingga kini tetap bertahan dan sudah memasuki generasi kedua.

Cita rasa sate ayam Mbah Wani memang berbeda dengan sate ayam madura. Saos kacangnya tidak terlalu manis, juga tidak terlalu kental, lebih terasa encer. Potongan ayamnya juga lebih gedhe daripada sate ayam madura pada umumnya. Cocok sebagai variasi bagi yang ingin merasakan sensasi sate ayam yang berbeda…



Cita rasa yang ‘spesial’ dan jarak tempuh waktu yang lama sejak berdirinya, menjadikan warung sate ayam Mbah Wani memiliki pelanggan setia yang selalu merindukan cita rasa sate ayam resep warisan Mbah Wani.

Sayang, karena hujan yang deras dan tergesa, menjadikan saya terlupa menjepret penampakan warung Mbah Wani. Semoga tidak mengurangi ketertarikan Anda untuk mampir ke warung sate ayam Mbah Wani, suatu hari nanti, ketika perjalanan melewati kota Kecamatan Wirosari hehe….Aamiin.*  (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Artikel Populer

Artikel Favorit

Taman Satwa Taru Jurug, Wisata Edukasi Satwa di Kota Solo yang...

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || ).push({}); Taman Satwa Taru Jurug, sebuah wisata edukasi satwa di Kota Solo, rupanya kini berbenah memikat wisatawan. Bila siang...
error: Content is protected !!