Ayam Goreng dan Ayam Bakar Noroyono Purwodadi, Lezat dan Ikonik, Sejak Tahun 1989

1




Menyebut kuliner Purwodadi, tak afdhol bila tak menyebut nama Noroyono. Ya, Noroyono adalah nama sebuah rumah makan di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, yang telah melekat dan ikonik. Sajian spesialnya adalah ayam goreng dan ayam bakar yang lezat, dipadu dengan sambal terasi yang ueenak tenan dan pedas.

Adalah Pak Jamin Basuki, atau yang akrab disapa Pak Jamin atau “Mr. J”, sang pemilik serta pendiri rumah makan ikonik ini. Pak Jamin merintis Noroyono sejak tahun 1989 dan merintisnya benar-benar dari nol.

Sebelum sukses dengan sajian ayam goreng dan ayam bakar Noroyono, jatuh bangun merintis usaha di bidang kuliner pernah dilaluinya. Awalnya mencoba jualan rujak dan es buah, lalu berganti jualan pecel lele, hingga akhirnya beralih jualan ayam goreng dan ayam bakar—yang mengantarnya sukses hingga kini.

Tahun pertama merintis Noroyono, ia masih berjualan di pinggiran jalan dengan menggunakan tenda di seberang SMAN 1 Purwodadi. Awalnya agak malu-malu, karena ia juga salah seorang pengajar di SMA paling favorit di Purwodadi itu. Namun seiring dengan waktu, akhinya terbiasa juga.

RM. Noroyono Cabang Wirosari
Pak Jamin dengan istrinya, sosok di Balik “Noroyono”

Baca juga:

Kelezatan citarasa ayam goreng dan ayam bakar racikannya memikat banyak orang. Sehingga secara perlahan namun pasti, warung Noroyono yang diritisnya memiliki banyak pelanggan. Warung tendanya sering tidak muat menampung para pelanggan yang ingin menikmati ayam goreng dan ayam bakarnya. Dari situlah, guru fisika SMA N 1 Purwodadi yang alumnus UNS Solo itu, mulai berpikir untuk mencari tempat yang lebih luas sebagai pusat jualannya.



Saat ini, Rumah Makan Noroyono  yang terletak di Jl. R. Soeprapto 132 Purwodadi atau utara simpang lima Purwodadi, menjadi jujugan penggemar ayam goreng dan ayam bakar, yang datang tidak hanya dari lokal Purwodadi, tapi juga dari luar Purwodadi. Bahkan saat ini, Noroyono telah membuka cabang, yakni di Gubug dan di Wirosari.

Ikan Nila Bakar Noroyono
Ayam Bakar Noroyono

Kekuatan Noroyono memang terletak pada kelezatan ayam goreng dan ayam bakarnya. Bumbunya meresap—gurih dan legit dengan proporsi yang tepat—sehingga nikmat saat disantap. Dipadu dengan sambel terasi yang juga enak dan pedas, membuat sajian ayam goreng dan ayam bakar Noroyono tetap istimewa—meski saat ini banyak bermunculan rumah makan yang menawarkan menu serupa.

Bagi yang tidak menyukai menu dari ayam, Noroyono juga menyediakan menu dari komponen lain, seperti dari olahan bebek (bebek luluran) dan ikan (gurame dan nila, bakar dan goreng).

Bila berkunjung ke Purwodadi, bolehlah mencicipi sajian lezat ayam goreng dan ayam bakar Noroyono, dan rasakan kelezatannya!* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)


Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

0
Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz Tulisan Tangan

Di Museum Masjid Agung Demak tersimpan benda-benda purbakala peninggalan Walisongo dan benda-benda lainnya yang terkait dengan Masjid Agung Demak.

Museum Masjid Agung Demak




Berkunjung ke Masjid Agung Demak tak lengkap rasanya bila belum singgah ke Museum Masjid Agung Demak yang masih satu kompleks dengan lokasi masjid. Letaknya di sebelah utara serambi Masjid Agung Demak atau sebelah utara persis situs kolam wudhu bersejarah.

Baca artikel sebelumnya: Menyusuri Jejak Walisongo di Masjid Agung Demak

Museum Masjid Agung Demak berdiri di atas lahan seluas 16 meter persegi, dibangun dengan anggaran mencapai Rp 1,1 miliar yang berasal dari APBD Demak dan sisanya dari Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Masjid Agung Demak. Di dalam museum tersimpan koleksi benda-benda bersejarah peninggalan Walisongo dan Masjid Agung Demak yang jumlahnya mencapai 60 koleksi.

Museum ini buka dari Senin hingga Minggu pada jam kerja. Tak ada tiket masuk alias gratis, tapi pengunjung dianjurkan untuk berinfaq seikhlasnya di kotak infaq yang disediakan pengelola.

Benda-benda bersejarah apa saja yang dapat kita lihat di Museum Masjid Agung Demak? Dari 60-an koleksi, berikut  ini di antaranya:

1. Maket Masjid Demak

Maket Masjid Agung Demak 1845 -1864

Maket atau miniatur Masjid Agung Demak tersimpan di museumnya. Maket itu konon aslinya dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang memang beliau adalah arsitek pembangunan Masjid Agung Demak. Termasuk dalam penentuan kiblat masjid yang konon dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Soal kiblat ini, pada abad ke-18 M (Masjid Agung Demak berdiri pada abad ke-15 M), pernah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, mufti Kerajaan Banjarmasin dan penulis Kitab Sabilal Muhtadin, melawat ke Tanah Jawa dan menyelidiki pembuatan Masjid Demak, bahkan masjid-masjid seluruh Jawa. Maka beliau menyimpulkan bahwasannya masjid yang benar-benar tempat mihrabnya menghadap kiblat adalah Masjid Demak.

Menurut Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo (Pustaka Imam Bonjol, cet. 2, Maret 2017), demikian itu karena kepiawaian para sunan sebagai ahli dalam ilmu falak (astronomi).

2. Soko Guru Peninggalan Para Wali

Soko guru peninggalan wali yang asli tersimpan di Museum Masjid Agung Demak

Di museum juga tersimpan empat soko guru (tiang penyangga) bagian bangunan induk Masjid Agung Demak yang asli. Empat sokoguru itu adalah peninggalam empat wali, yaitu Sunan Bonang (Tuban), Sunan Gunungjati (Cirebon), Sunan Ampel (Surabaya), dan Sunan Kalijaga (Demak).

Soko guru yang saat ini menyangga bangunan induk Masjid Agung Demak adalah replikanya, di mana formasi tata letak keempat soko guru tersebut adalah sebagai berikut:

  • Bagian barat laut –> soko guru buatan Sunan Bonang
  • Bagian barat daya –> soko guru buatan Sunan Gunungjati
  • Bagian tenggara –> soko guru buatan Sunan Ampel
  • Bagian timur laut –> soko guru buatan Sunan Kalijaga   

3. Pintu Bledeg Ki Ageng Selo

Pintu Bledeg ciptaan Ki Ageng Selo

Pintu Bledeg adalah daun pintu berukir peninggalan murid Sunan Kalijaga yang bernama Ki Ageng Selo (Grobogan) yang dibuat pada tahun 1466 M atau 887 H. Daun pintu terbuat dari kayu jati berukir tumbuh-tumbuhan, jambangan, sejenis mahkota, dan kepala binatang mitos dengan mulut bergigi yang terbuka.

Menurut cerita rakyat yang berkembang (yang itu tentu hanya legenda belaka), kepala binatang tersebut menggambarkan petir yang konon pernah ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Karena itulah orang-orang menamakan pintu itu sebagai Pintu Bledeg dan merupakan condro sengkolo yang berbunyi nogo mulat saliro wani, yaitu tahun 1388 Saka atau tahun 1466 Masehti atau 887 Hijrah.

4. Daun Pintu Makam Kesultanan 1710 M

Daun Pintu Makam Kesultanan 1710 M

5. Bedug Wali Abad XV

Bedug peninggalam wali abad XV

Bedug dan juga kentongan merupakan properti hasil kreasi budaya para wali yang menjadi sarana untuk menginformasikan kepada masyarakat akan masuknya waktu shalat. Bedug dan juga kentongan yang tersimpan di Museum Masjid Agung Demak tertulis merupakan peninggalan abad XV.

6. Kentongan Wali Abad XV

Kentongan peninggalan wali abad XV

7. Gentong Kong dari Dinasti Ming

Gentong Kong dari Dinasti Ming

Gentong Kong berupa guci keramik peninggalan Dinasti Ming itu  jumlahnya ada 3 buah. Merupakan hadiah dari Putri Campa pada abad XIV. Tinggi guci 90 cm dan garis tengahnya 100 cm. Guci milik kesultanan demak itu dulu digunakan sebagai penampung air untuk memasak.

8. Kap Lampu Peninggalan Pakubuwono ke-1 Tahun 1710 M

Kap Lampu Peninggalan Pakubuwono ke-1 Tahun 1710 M

9. Kayu Tatal Buatan Sunan Kalijaga

Kayu Tatal Buatan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga dalam membuat salah satu tiang penyangga (soko guru) bangunan induk Masjid Agung Demak tidak menggunakan kayu utuh, namun serpihan kayu, yang kemdian dikenal dengan nama Saka tatal atau Kayu Tatal. Baik tiang penyangganya maupun beberapa serpihan kayu tatal itu kini tersimpan di Museum Masjid Agung Demak.

10. Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz Tulisan Tangan

Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz Tulisan Tangan

Al-Qur’an bertuliskan tangan 30 juz itu ditemukan di bawah atap (bangunan atas) ketika Masjid Agung Demak sedang dipugar. Koleksi Kitab Suci Kuno Al-Qur’an 30 Juz tulisan tangan tersebut disimpan di dalam lemari pajang kaca, dengan pengawet alami di dekatnya.

11. Tafsir Al-Qur’an Juz 15-30 karya Sunan Bonang

Tafsir Al-Qur’an Juz 15-30 karya Sunan Bonang

Tafsir Sunan Bonang Juz 15 s/d 30 yang tersimpan di Museum Masjid Agung Demak ini tertulis selesai ditulis pada saat terbitnya matahari (waktu dhuha) hari Sabtu, tanggal 20 bulan Sya’ban tahun 1000 H. Sebuah sumber menyebutkan, kitab ini adalah satu harta kaum muslim Jawa yang selamat dari ‘perampokan’ manuskrip oleh Raffles.

12. Batu Umpak Andesit

Batu umpak andesit adalah batu-batuan yang diambil dari Majapahit. Fungsinya sebagai penggankal tiang agar tidak keropos, sebab keadaan tanah di kawasan Demak pada waktu itu masih banyak yang becek (rawa-rawa).




* * *

Itulah beberapa koleksi yang bisa kita lihat sejenak di Museum Masjid Agung Demak, yang bisa mengantarkan imajinasi kita ke masa lalu, saat korps dakwah Walisongo masih hidup dan gigih menyiarkan dakwah Islamiyah ke segenap penjuru tanah Jawa.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

Wisata Tengah Sawah (WTS) Gubug, Magnet Baru Wisata di Kabupaten Grobogan

2




Ada wisata baru yang lumayan nge-hits di Kabupaten Grobogan, tepatnya di Kecamatan Gubug, yakni Wisata Tengah Sawah (WTS). Disebut wisata tengah sawah karena memang lokasi wisata ini berada di tengah-tengah areal persawahan.

Lokasi wisata ini cukup strategis, berada di jalan raya Semarang- Purwodadi, tepatnya di Jl. A. Yani, Perumahan Kampung Baru, Gubug, Kabupaten Grobogan. Untuk menuju lokasi wisata ini, harus masuk ke jalan dua tapak sekira 200 meter melewati perumahan kampung baru.

Sayangnya jalan menuju lokasi wisata tidak bisa dilalui mobil karena relatif sempit, sehingga bagi yang mengendarai mobil musti memarkir kendaraannya di pinggir jalan raya, lalu masuknya jalan kaki. Tapi bagi yang mengendarai motor, bisa masuk hingga mendekati lokasi. Di sana ada tempat parkir yang dikelola warga dengan tarif Rp 2 ribu per motornya.

Pada Selasa (11/6/2017) lalu, saya bersama dua anak saya, Bina dan Mumtaz, mengunjungi WTS dengan mengendarai motor. Lumayan dekat, karena untuk sampai lokasi wisata ini, kami hanya perlu menempuh waktu sekira 20-an menit.

Objek Wisata Tengah Sawah (WTS) Gubug dibuka sejak sekira setahun lalu, yakni pada bulan Juni 2016. Saya sendiri sudah lama mengetahui objek wisata baru ini karena sering melewatinya bila bepergian ke Semarang. Namun baru kali ini saya berkesempatan mengunjunginya bersama dua anak saya.

Stand payung untuk ngobrol sembari menikmati cemilan
Sepasang remaja tampak berfoto di salah satu spot berlatar karangan bunga berbentuk love
Beberapa anak bermain otoped injak dan mobil elektrik

Hari itu, Wisata Tengah Sawah (WTS) cukup ramai pengunjung. Begitu saya masuk, saya melihat banyak pengunjung, terutama remaja dan anak-anak, yang lalu lalang. Ada yang asyik ngobrol di stand payung sambil menikmati cemilan; ada yang sedang bermain otoped injak; naik mobil elektrik; dan lain-lain.

Lebih banyak lagi saya melihat pengunjung remaja yang berfoto-foto. Wisata tengah sawah memang buaaanyuaaak menyediakan spot-spot untuk berfoto, yaitu dengan latar belakang poster dengan tulisan-tulisan yang unik khas remaja. Seperti “Jauh di Mata, Dekat di Hati, Berat di Pulsa”; “Aku Tanpa Kamu? Biasa Aza tuh…!”; “I Miss You”; “Umpomo Fotomu Ora Editan, Opo sih Ayu Yo”; “Urip Dipaido, Mati Ditangisi, Waras Dilarani, Piye Jal?”, dan lain-lain banyak lagi.


Saya sendiri begitu masuk lokasi memilih duduk-duduk dulu di stand payung, menikmati cemilan yang kami bawa dari rumah, sembari melihat-lihat suasana. Lalu jalan-jalan keliling lokasi wisata dan berhenti di terminal ATV.

Karena anak saya tidak ada yang mau saat saya tawari main ATV, akhirnya saya sendiri yang beraksi dan menjajal kemampuan hehe…Tarifnya Rp 15 ribu, untuk sekali main lima kali putaran. Ini pertama kalinya saya naik ATV dengan route yang cukup menantang. Adapun dua anak saya lebih memilih naik becak air dengan tarif Rp 10 ribu untuk durasi 30 menit.

Saya menjajal naik ATV
Dua anak saya sedang berfoto di sebuah spot
Dua anak saya bermain becak air
Loket tiket dan pintu masuk Wisata tengah Sawah (WTS)

Selain ATV dan becak air, di lokasi wisata ini juga menyediakan aneka permainan untuk anak seperti motor trail, otoped injak, kereta api, motor trail, dan lain sebagainya. Wisata tengah sawah memang cocok untuk wisata keluarga, terutama untuk remaja dan anak-anak.

Wisata ini juga dilengkapi dengan panggung pentas seni dan perpustakaan mini.


Setelah puas dan capek menikmati aneka permainan di wisata ini, kita bisa menikmati menu kuliner yang juga tersedia, dengan harga terjangkau. Antara lain bakso, mi ayam, dan ikan bakar.

Saya dan anak-anak memilih menikmati ikan bakar di warung lesehan yang berada di kompleks wisata tengah sawah. Di warung ini ada pilihan ikan goreng atau bakar yang bisa dipesan, yakni lele, patin, nila, dan gurame. Kita bisa menikmati sajian kuliner itu di gazebo yang juga banyak tersedia di wisata tengah sawah.

Menurut saya, Wisata Tengah Sawah (WTS) bisa menjadi alternatif rekreasi murah untuk keluarga. Tiket masuknya hanya Rp 2 ribu per orang. Informasi yang saya peroleh dari salah seorang petugas tiket menyebutkan, puncak kunjungan wisata tengah sawah terjadi di minggu pertama lebaran yang tiap hari mencapai lebih dari seribu pengunjung. Adapun setelahnya, kisaran pengunjung antara 400 hingga 500 ratusan pengunjung.

Semoga informasi ini bermanfaat sebagai referensi tujuan wisata keluarga Anda.* (Kang Asti, www.jatengnyaleng.com)

Kelezatan Nasi Goreng Pak Lamuri yang Ngangeni

2

Nasi goreng merupakan kekayaan kuliner Nusantara yang unik dan populis. Dari sudut historis, nasi goreng bermula dari sisa nasi semalam yang sayang jika dibuang. Namun kini nasi goreng menjelma menjadi sajian istimewa yang digemari semua kalangan. Bahkan pada tahun 2017, situs berita internasional CNN menobatkan nasi goreng sebagai kuliner terlezat nomor dua di dunia setelah rendang.

Sate Buntel Tambak Segaran, Kuliner Khas Solo yang Legendaris Sejak Tahun 1948

0




Sate buntel. Permata kuliner nusantara khas Solo. Tidak seperti sate pada umumnya, sate buntel terbuat dari cincangan halus daging kambing yang dibumbui dan dibungkus lemak jala. Sate buntel Tambak Segaran adalah salah satu pelopor sate buntel di Solo. Karenanya layak disebut sebagai legendaris.

Hari itu, saya ikut mendampingi rombongan wisata edukatif sekolah yang saya kelola ke Taman Satwa Taru Jurug Solo dan Agrowisata Sondokoro Karanganyar. Sorenya, setelah mengunjungi kedua destinasi wisata tersebut, kami pulang lewat Solo. Bus berhenti dan parkir di pelataran Benteng Vastenburg. Agendanya kali ini adalah berburu oleh-oleh.

Namun saya lebih memilih berburu kuliner. Sate buntel Tambak Segaran akhirnya yang menjadi target kali ini. Sebelumnya, saat berkesempatan berada di Solo, saya telah mencicipi sate buntel Mbok Galak di Jl. Mangun Sarkoro 122 Sumber, Banjarsari, Solo. Kali ini saya tertarik untuk mencicipi sate buntel asli versi Tambak Segaran yang juga populer dan legendaris.

Baca: Ternyata Sate Buntel Mbok Galak Memang Enak

Naik Gojek Gratis

Lagi-lagi, saya diuntungkan dengan keberadaan ojek online. Saya cukup order via hp, mas driver Gojek sudah menghampiri saya.  Dan menurut informasi yang saya baca di layar hp saya, tercantum gratis alias tak ada nominal yang perlu saya bayar untuk order kali ini. Benarkah? Nanti deh saya tanya mas-nya.

Dengan ramah, mas driver segera membawa saya ke Warung Sate Kambing Asli Tambak Segaran yang beralamat di Jl. Tambaksegaran 39 (Jl. Sutan Syahrir 149) Solo. Hanya butuh waktu tempuh sekitar 10 menit, kami sudah tiba di depan warung yang saya tuju. Rupanya, mas driver sudah tahu keberadaan warung ini yang memang sudah sangat populer di Solo. Saya pun segera turun dari motor dan ketika

Dan ketika saya tanyakan tentang biaya ojeknya, masnya bilang gratis, karena sedang ada promo. Alhamdulillah, rejeki anak saleh haha…

Satenya Empuk dan Lembut

Saya segera masuk ke warung dan memesan seporsi sate buntel yang saya inginkan. Karena proses pembakaran sate ada di luar, jadi saya bisa melihat dan menjepret proses pembakaran sate buntelnya. Termasuk menjepret penampakan sate buntel sebelum dibakar.

Penampakan sate buntel sebelum dibakar
Proses pembakaran sate

Masnya sedang membakar sate




Tak berapa lama kemudian, seporsi sate buntel dan es beras kencur telah terhidang di hadapan saya. Sate buntel Tambak Segaran ternyata berbeda cara menyajikannya, yakni dengan melucuti tusuk sate dari satenya. Sehingga bagi yang tidak tahu prosesnya, maka akan merasa aneh, kok sajian begitu disebut sate hahaha…

Tapi karena saya sudah tahu sejak awal, saya pun tak merasa aneh. Yang ada hanyalah keinginan untuk segera melahap sajian menggoda di depan saya hahaha…

Sate buntel asli Tambak Segaran
Seporsi sate buntel plus segelas es beras kencur

Sate buntel Tambak Segaran lemaknya sedikit alot, begitu yang saya rasakan. Tapi, dalamnya yang berupa cincangan daging kambing berbumbu tetap lembut dan berasa. Dinikmati dengan kecap dan irisan bawang merah dan sambal, rasanya nikmat dan mak nyus.

Sate Buntel Favorit Pak Bondan

Informasi yang saya peroleh, sate buntel Tambak Segaran telah dirintis sejak tahun 1948 oleh Liem Hwa Yoe, seorang keturunan Tionghoa. Sejak dulu, ia memang telah berjualan di Jalan Tambak Segaran Solo, sehingga sate buntelnya dikenal dengan nama sate buntel Tambaksegaran.

Warung Sate Kambing Asli Tambak Segaran yang beralamat di Jl. Tambaksegaran 39 (Jl. Sutan Syahrir 149) Solo.

Sejak tahun 1987, sate buntel Tambak Segaran sudah membuka cabang di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso 192 serta di Jalan Kaliurang KM 9.

Sate buntel asli Tambak Segaran ini adalah sate buntel favorit mendiang Pak Bondan Winarno, pakar kuliner yang mempopulerkan kata “Mak Nyus”. Di Solo, warung sederhana ini juga membuka cabang, yakni di Jl. Moh. Yamin 61, Solo.

Bila sedang di Solo, bolehlah mampir ke warung ini dan mencicipi kuliner legendaris yang telah ada sejak tahun 1948. Warung sate kambing asli Tambaksegaran buka mulai jam 12.00 hingga jam 22.00 WIB.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

 

 



Artikel Populer

Artikel Favorit

Menyantap Sup Ikan Gindara di Warung Mekar Asri Karangawen; Seger, Gurih,...

Menyebut ikan gindara barangkali masih banyak yang asing. Bahkan, banyak yang belum mendengarnya. Hayo ngaku...hehe.... Namun, ikan laut yang mirip ikan tongkol ini—baik dalam...
error: Content is protected !!