Beranda blog Halaman 3

Berwisata Ziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak

0
Berwisata Ziarah ke Makam Sunan kalijaga di kadilangu Demak
Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu adalah wisata religi paling ikonik di Demak selain Masjid Agung Demak. Sosok Sunan Kalijaga sebagai salah seorang anggota Walisongo yang paling fenomenal menjadi daya pikat paling magnetis bagi para peziarah dari berbagai penjuru daerah.

 



Saya sendiri sudah berulang kali berziarah di Makam Sunan Kalijaga ini. Sengaja atau sekedar mampir. Seperti Jumat, 23 Februari 2018, sepulang dari acara silaturahim dan studi banding di Yayasan Az-Zahra Demak, saya beserta rombongan guru LPIT Ilma Nafia Godong sengaja mampir ke Makam Sunan Kalijaga. Kebetulan memang kami lewati.

Kami tiba di kompleks wisata ziarah Makam Sunan Kalijaga tepat jam 12.00 WIB alias waktu melaksanakan shalat Jumat. Jadi, sekian kali berkunjung, inilah pertama kalinya saya salat Jumat di Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu.

Letak Masjid Sunan Kalijaga berada di sisi timur kompleks Makam Sunan Kalijaga. Konon dulunya masjid ini dibangun Sunan kalijaga dalam bentuk langgar (mushalla). Sayangnya tak diketahui pasti kapan Sunan Kalijaga mendirikannya. Hanya saja, pendiriannya oleh Sunan Kalijaga dilakukan sebelum pendirian Masjid Agung Demak. Dan dari prasasti yang ada dan tersimpan di masjid, diketahui bahwa Masjid Sunan Kalijaga direnovasi pertama kali pada tahun 1564 M oleh Pangeran Wijil.

Lalu pada tahun 1970, dilakukan renovasi besar-besaran. Bangunan induk yang aslinya berukuran 10 x 16 m mengalami perluasan dengan tetap mempertahankan soko guru atau tiang penyangga utama masjid. Dan pada tahun 1990, kembali dilakukan pembangunan fisik meliputi pembangunan tempat shalat dan tempat wudhu perempuan yang dibuat terpisah dengan pria.

Masjid Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu

Mengenal Sunan Kalijaga

Di banding wali yang lain di korps dakwah Walisongo, nama Sunan Kalijaga boleh jadi paling fenomenal. Nama aslinya adalah R.M. Syahid, putra dari Ki Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban. Solichin Salam dalam Sekitar Walisanga (Menara Kudus, 1986) menulis, di antara wali sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar. Seorang pemimpin, pejuang, muballigh, pujangga dan filsuf. Daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena beliau adalah terhitung seorang reizende muballigh (muballigh keliling). Jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh para kaum ningrat dan sarjana.

Sementara Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (Iiman, 2017) menulis, Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh Walisongo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termasyhur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai mendalang, melainkan dikenal pula sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon carangan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung Jawa.

Makam Sunan Kalijaga dan para peziarah

Meski begitu fenomenal, namun tahun kelahiran dan wafatnya tidak diketahui pasti, kecuali diketahui jasadnya dikebumikan di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak, kira-kira berjarak 3 kilometer dari Masjid Agung Demak.

Konon, usia Sunan Kalijaga termasuk lanjut usia. Dalam masa hidupnya, beliau mengalami tiga kali masa pemerintahan, yakni pertama zaman akhir Kerajaan Majapahit, kedua zaman Kerajaan Islam Demak, dan ketiga zaman Kerajaan Pajang.

Ada Apa di Makam Sunan Kalijaga

Apabila kita masuk lewat gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga yang terletak di sisi selatan masjid atau dekat kolam Segaran peninggalan Sunan Kalijaga, maka kita akan memasuki lorong beratap rapi sepanjang  sekira 160 meter yang di kanan kirinya dipenuhi kios pedagang. Mereka menjual aneka oleh-oleh dan buat tangan seperti kaos bertuliskan Sunan Kalijaga, aneka tasbih, peci, baju koko, serta berbagai kuliner khas Demak seperti rangin, jus belimbing, dan sebagainya.

gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga
Gerbang utama menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga

Lorong menuju kompleks makam yang di kanan kirinya dipenuhi kios pedagang




Begitu memasuki kompleks makam, kita akan mendapati berbagai pusara tokoh-tokoh yang terkenal dalam legenda seputar walisongo seperti makam Pangeran Haryo Penangsang, Empu Supo, dan lain sebagainya. Adapun makam Sunan Kalijaga, sebagaimana makam walisongo pada umumnya berada dalam bangunan tungkup berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir.

Pusara Pangeran Haryo Penangsang
Pusara Empu Supo dan Jaka Suro

Beberapa peziarah minum dari gentong peninggalan Sunan Kalijaga





Hari itu tak banyak peziarah, namun cukup ramai. Di sisi utara makam, terdapat gentong peninggalan Sunan Kalijaga. Sesuai di papan informasi yang ada disebutkan, terdapat dua gentong peninggalan Sunan Kalijaga, yakni padasan (tempat air wudlu) dan pedaringan (tempat menyimpan beras). Di 2 gentong itu disajikan air yang dituangkan dalam gelas-gelas sebagai minum para peziarah.

Airnya diambil dari sungai yang berjarak sekira 300 meter dari lokasi makam, kemudian diendapkan di bak penampungan, lalu disalurkan ke dalam gentong lewat mesin filter untuk disterilisasi agar layak minum.

Ohya, sebelum sampai ke lokasi makam Sunan kalijaga, kita akan menjumpai sebuah batu yang dikelilingi tembok pendek. Di dinding sebelah utara bertuliskan “Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga”. Ya, selo atau batu itulah yang konon digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai tempat duduk saat memberi taushiyah atau wejangan kepada para muridnya.

Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga
Selo Palenggahanipun Kanjeng Sunan Kalijaga

Sebenarnya masih ada lagi situs peninggalan Sunan Kalijaga, yakni sebuah sumur yang terletak sekira 200 meter di timur kompleks maka Sunan Kalijaga, tepatnya terletak di belakang salah satu keturunan Sunan Kalijaga. Sumur itu dulu digunakan untuk berwudlu. Namun saya tidak sempat ke situ untuk menjepretnya, karena harus segera pulang.

Ohya mohon maaf bila foto-foto yang saya sajikan di posting kali ini kualitasnya tidak cukup bagus karena saya hanya bisa menjepretnya dengan kamera hape. Namun mudah-mudahan informasi ini tetap bermanfaat bagi para pecinta wisata religi yang belum pernah dan ingin berwisata ziarah ke makam Sunan Kalijaga.

Setelah beli oleh-oleh secukupnya, kami pun pulang.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

62 Masakan Tradisional Favorit Presiden Soeharto

0
Masakan Favorit Presiden Soeharto





Menu-menu kegemaran presiden selalu membuncahkan rasa penasaran untuk mengetahuinya, termasuk makanan-makanan favorit presiden RI ke-2, Soeharto. Sebagai sosok yang lahir dari desa, yakni Desa Kemusuk, Kecamatan Godean, Yogyakarta, penguasa Orde Baru yang menjadi presiden RI selama 32 tahun itu, ternyata tetap memiliki kegemaran terhadap berbagai kuliner tradisional.

“Hidangan yang paling saya sukai adalah tetap lodeh buatan istri saya sendiri, atau ikan bakar atau goreng belut yang membawa kenangan di masa kanak-kanak,” kata Soeharto seperti ditulis dalam buku autobiografi “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya” yang diterbitkan oleh Cipta Lamtoro Gung Persada.

Menu-menu yang disukai Pak Harto dan keluarganya merupakan menu-menu sederhana khas orang Jawa, yang cara memasaknya relatif mudah dan bahannya pun tersedia dan mudah diperoleh. Ibu Tien, istri Pak Harto, juga diketahui piawai memasak sayur lodeh kegemaran Pak Harto dengan lauk pauk seperti tahu bacem, tempe bacem, dan sambal goreng ala Kemusuk.

Menu-menu sederhana favorit Pak Harto lainnya adalah gudangan (kulup atau urap) yang disertai laukpauk antara tempe garit, tahu garit, ikan asin, telur godog, dan kerupuk gurih.

Berikut ini masakan-masakan tradisional kegemaran Pak Harto yang saya olah dari dua buah buku berjudul “Lauk-pauk Komplit Kegemaran Pak Harto” dan “Sayur & Kudapan Lezat Kegemaran Pak Harto” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Anggrek, Yogyakarta. Ada 60-an lebih masakan tradisional favorit Pak Harto, sebagai berikut:

Aneka Nasi dan Lontong

  1. Nasi Kuning
  2. Nasi Goreng Babat
  3. Nasi Goreng Petai
  4. Nasi Liwet Solo ala Bu Tien
  5. Lontong Cap Go Meh

Aneka Sayur

Sayur lodeh favorit presiden Soeharto
Sayur Lodeh. Foto dari posresep.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Sayur Asem
  2. Sayur Lodeh
  3. Sayur Bening
  4. Sayur Bobor
  5. Sayur Gambas
  6. Urap Daun kenikir
  7. Buntil Saun Singkong
  8. Oseng-oseng Kangkung
  9. Semur Jawa
  10. Semur Daging
  11. Opor Daging
  12. Opor Ayam
  13. Sop Buntut
  14. Sop Tomyam
  15. Sop Kaki Sapi
  16. Rawon

Aneka Bakmi dan Soto

  1. Bakmi Godog
  2. Soto Ayam
  3. Soto Madura

Aneka Lauk-pauk

Ayam Panggang Klaten. Foto dari witnifood.blogspot.co.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



  1. Keripik Tempe
  2. Tempe Goreng Garit
  3. Tahu Goreng Garit
  4. Tahu Tempe Bacem
  5. Telur Pindang Kuah Aren
  6. Telur Dadar ala Kemusuk
  7. Perkedel Jagung
  8. Perkedel Kentang
  9. Pepes Ikan Mas
  10. Ikan Mujair Goreng
  11. Ikan Bumbu Bali
  12. Gulai Bebek
  13. Gulai Ikan
  14. Daging Bumbu Bali
  15. Dendeng Manis
  16. Empal Gepuk
  17. Terik Daging
  18. Tongseng Kambing Muda
  19. Ayam Bumbu Rujak
  20. Ayam Panggang Klaten
  21. Ayam Goreng Kalasan

Aneka Sambal

    1. Sambal Ayam Goreng Kalasan
    2. Sambal Goreng Daging Gelinding
    3. Sambal Terasi
    4. Sambal Goreng Ati Ampela
    5. Sambal Bajak
    6. Sambal Goreng Labu Siam

Aneka Kudapan

Klepon. Foto oleh Kang Asti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Dadar Gulung
  2. Bubur Sumsum
  3. Kue Lapis
  4. Klepon
  5. Cendil
  6. Kue Serabi
  7. Wajik Ketan

Aneka Minuman Tradisional

  1. Wedang Jahe
  2. Sekoteng
  3. Es Cendol
  4. Es Cincau

Dari 62 kuliner favorit Pak Harto di atas, baik berupa makanan, minuman, dan kudapan, semuanya merupakan kuliner tradisional warisan leluhur yang merupakan bagian dari kekayaan kuliner nusantara.

Dari 62 kuliner tradisional favorit Pak Harto di atas, mana kuliner favorit Anda? Hehehe…Semoga informasi ini bermanfaat ya.* (Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)

Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)

0




Sebagai moyang yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa, penghormatan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta.

Makam Ki Ageng Selo sendiri berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kurang lebih 12 kilo meter dari Kota Purwodadi ke arah Blora. Setelah sampai perempatan Ngantru, ambil arah ke selatan sekitar tiga kilometer. Makam ini setiap hari banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, terutama di malam Jumat.

Baca sebelumnya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

Menyusuri Jejak Ki Ageng Selo

Bila kita berziarah ke makam Ki Ageng Selo, maka kita bisa menyusuri jejak-jejak Ki Ageng Selo di kompleks makam dan sekitarnya. Apa saja? Sebagai berikut:

1. Masjid Ki Ageng Selo

Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah timur makam Ki Ageng Selo. Belum diketahui pasti kapan masjid ini didirikan, namun masyarakat meyakini masjid ini berdiri sekitar abad ke-17. Bangunan masjid masih mencirikan bangunan kuno dengan corak joglo, yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu dan masih asli.

Masjid Ki Ageng Selo yang sebagian besar terbuat dari kayu dan masih asli

Informasi yang saya saya peroleh menyebutkan, masjid ini pernah mengalami pemugaran besar-besaran pada tahun 1885. Pemugaran dilakukan oleh Pakubuwono X. Dalam pemugaran tersebut, serambi masjid mengalami penambahan luas sekitar dua meter dari bangunan utama. Juga bagian mihrab mengalami perombakan.



Adapun bedug peninggalan Ki Ageng Selo hingga saat ini masih terjaga keasliannya. Bedug terbuat dari kayu opo-opo. Menurut cerita, satu batang kayu opo-opo dipotong menjadi dua. Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug Masjid Ki Ageng Selo. Potongan lainnya digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak. Jadi bedug yang berada di Masjid Ki Ageng Selo dan di Masjid Agung Demak sama alias kembar.

2. Pohon Gandri

Pohon gandri (bridelia monoica) atau sebagian lainnya menyebut “pohon gandrik” diyakini merupakan pohon tempat mengikat petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Pohon itu bisa dijumpai di kompleks makam Ki Ageng Selo.

Pohon gandri, konon dijadikan tempat mengikat petir oleh Ki Ageng Selo
Papan informasi yang disematkan pengelola di pohon Gandri

3. Almari Api Petir

Almari api petir terdapat di sebelah utara makam Ki Ageng Selo. Di dalamnya terdapat pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo. Dalam sebuah karya ilmiah berjudul Potensi Makam Ki Ageng Selo Sebagai Destinasi Wisata Religi di Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan karya Riza Shirotul ‘Ibad disebutkan bahwa almari itu dibuka pada saat ada ritual pengambilan api pada bulan Muharram dan Maulud oleh rombongan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seorang peziarah sedang berpose di samping almari petir

4. Sawah Udreg

Disebut sawah udreg karena dulu merupakan tempat Ki Ageng Selo udreg-udregan atau bergelut melawan petir. Demikian informasi yang saya peroleh dari T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir.

Sawah itu sering juga disebut dengan nama sawah mendung, mungkin karena saat menangkap petir itu langit sedang dalam keadaan mendung. Sawah itu terletak di sebelah barat makam Ki Ageng Selo berjarak sekira 200 meter.

Larangan Ki Ageng Selo

Selain jejak-jejak yang bisa kita susuri saat berziarah ke makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, kita juga bisa memperoleh informasi terkait dengan larangan-larangan dan pepali dari Ki Ageng Selo yang hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Setidaknya ada dua larangan:

1. Larangan jualan nasi

Maka, jangan pernah mencari kuliner nasi di sekitaran kompleks makan Ki Ageng Selo dan pedukuhan Selo Panjimatan secara umum, karena tidak akan pernah dijumpai. Sejak turun-temurun, mitos larangan menjual nasi dari Ki Ageng Selo itu begitu dihormati oleh masyarakat setempat hingga sekarang.



Asal usul larangan ini konon bermula suatu hari saat Ki Ageng Selo kedatangan tamu. Seperti biasa, sang tamu disambut ramah oleh Ki Ageng Selo. Juga disambut dengan jamuan makan sebagaimana umumnya menghormati tamu.

Telah terhidang aneka makanan di meja. Namun betapa kagetnya Ki Ageng Selo ketika mengajak tamunya makan, tamunya menolak dengan halus. Rupanya sang tamu sudah makan di warung yang tak jauh dari kediaman Ki Ageng Selo. Kecewalah hati Ki Ageng Selo.

Dari sinilah kemudian muncul piweling atau larangan dari Ki Ageng Selo tentang larangan menjual nasi. Hingga sekarang, larangan itu masih dipatuhi oleh masyarakat setempat.

2. Larangan Menanam Walu di Depan Rumah

Warga juga dilarang oleh Ki Ageng Selo menanam waluh di pekarangan depan rumah. Waluh adalah tanaman merambat yang menghasilkan buah cukup besar berwarna orange. Ikhwal pelarangan ini pun terdapat asal usulnya.

Syahdan, suatu hari, Ki Ageng Selo sedang menggendong anaknya di halaman rumahnya yang ditanami waluh. Tiba-tiba datanglah orang yang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuh, tapi Ki Ageng Selo jatuh telentang karena kesrimpet atau kesandung batang wuluh. Tidak hanya jatuh, tapi kain yang dipakai Ki Ageng Selo lepas sehingga membuat auratnya terbuka.

Insiden itulah yang menjadikan Ki Ageng Selo kemudian melarang menanam waluh di pekarangan depan rumah. Larangan ini pun hingga saat ini dihormati oleh masyarakat setempat.

Pepali Ki Ageng Selo

Berpose di depan gerbang pintu masuk menuju makam Ki Ageng Selo

Di samping larangan, Ki Ageng Selo juga meninggalkan pepali yang berisi ajaran luhur, tidak saja tentang akhlak mulia atau budi pekerti, tetapi juga mengandung pelajaran ilmu agama Islam yang terdiri dari 4 bagian, meliputi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

Pepali itu disusun dalam bentuk lagu dan syair: Dhandanggula. Salinan lengkap pepali Ki Ageng Selo dalam Bahasa Indonesia telah disusun oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo dalam bukunya yang berjudul Pepali Ki Ageng Selo.

Pepali sendiri berarti ajaran, petunjuk, atau aturan. Ada juga yang mengartikannya sebagai pedoman hidup.

Pepali dalam lagu dan syair yang berbentuk Dhandhanggula itu ditulis sendiri oleh Ki Ageng Selo sesuai dengan pakemyang berlaku dalam lagu dan syair Dhandhanggula dan semuanya berjumlah 17 bait. Jumlah baris tiap-tiap baitnya ada sepuluh. Suara akhir masing-masing baris adalah: i, a, e, u, i, a, u, a, i, a. Adapun jumlah suku kata masing-masing baris adalah: 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7.

Pepali-ku ajinen mbrekati,

Tur selamet sarta kawarasan,

Pepali iku mangkene,

Aja agawe angkuh,

Aja ladak lan jail,

Aja ati serakah,

Lan aja celimut,

Lan aja mburu aleman,

Aja ladak, wong ladak pan gelis mati,

Lan aja ati giwa.

 

Artinya:

“Pepali”-ku hargailah (supaya memberkahi,

Lagi pula selamat, serta sehat

Pepali itu seperti berikut:

Jangan berbuat angkuh,

Jangan bengis dan jangan jahil,

Jangan hati serakah (tamak, loba),

Dan jangan panjang tangan;

Jangan memburu pujian,

Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati,

Dan jangan cenderung ke kiri.

Inilah pepali Ki Ageng Selo yang pertama dalam lagu dan bentuk syair Dhandhanggula. Dari cuplikan pepali di atas, kita bisa segera tahu, betapa adiluhungnya ajaran dan wasiat dari Ki Ageng Selo yang justru seringkali terabaikan, tenggelam oleh mitos dan mistis yang dinisbatkan kepada sosok Ki Ageng Selo yang lebih mendominasi dan populer.



Pepali Ki Ageng Selo lengkap bisa dibaca di buku berjudul Pepali Ki Ageng Selo yang ditulis oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo yang diterbitkan oleh CV. Citra Jaya Surabaya, Cetakan pertama tahun 1980. Atau buku berjudul Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela karya Dhanu Priyo Prabowo yang diterbitkan oleh penerbit Narasi, Yogyakarta, Cetakan pertama, tahun 2004.

Semoga informasi ini bermanfaat.* (Kang Asti, selesai).

 



Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (1)

0




Kabupaten Grobogan memang kaya potensi wisata, baik wisata alam, sejarah, maupun religi. Makam Ki Ageng Selo salah satunya. Makam sosok masa silam yang legendaris ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang sangat populer di Kabupaten Grobogan. Sosoknya lekat dengan legenda penangkapan petir.

Dalam sebuah sarasehan tentang wisata yang saya ikuti, yang dihelat oleh InBound Tourism Community (IBTC) Jawa Tengah di Kyriad Grand Master Hotel Purwodadi beberapa waktu lalu, mencuat ide menjadikan Grobogan sebagai “Kota Legenda”. Mengingat bahwa di Kabupaten Grobogan memang banyak dijumpai legenda besar yang bereputasi nasional, seperti legenda Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar di Desa Banjarejo (Kecamatan Gabus), legenda Jaka Linglung dan Bajul Putih yang konon menjadi asal usul wisata Bledug Kuwu di Desa Kuwu (Kecamatan Kradenan), legenda Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari di Desa Tarub (Kecamatan Tawangharjo), termasuk juga legenda Ki Ageng Selo dan penangkapan petir, dan masih banyak lagi.

Jauh sebelum  ide itu mencuat, saya sudah menulis tentang “Kota Legenda” ini di sebuah surat kabar lokal Jawa Tengah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, potensi legenda yang begitu besar itu, sejauh ini belum dikelola secara baik sebagai salah satu daya tarik wisata yang bisa dioptimalkan. Sehingga kemudian, selain bisa meningkatkan pendapatan asli daerah atau PAD, juga bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar.

Selayang Pandang Ki Ageng Selo

Makam Ki Ageng Selo salah satu destinasi wisata potensial itu. Meski sangat populer, tapi belum menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah. Sejauh ini makam Ki Ageng Selo baru menjadi destinasi para peziarah yang ingin ngalap berkah.

Siapakah sosok Ki Ageng Selo? Berbicara mengenai sosok para wali, seperti Walisongo dan para muridnya, sepertinya lebih banyak aroma mitos dan mistisnya daripada aspek kesejarahannya. Padahal, dari sosok tokoh sejarah dan legenda seperti Ki Ageng Selo, bisa digali kearifan hidupnya yang adiluhung dan bisa dijadikan paugeran (patokan, peraturan). Wikipedia bahkan menulis, kisah hidupnya pada umumnya bersifat legenda, menurut naskah-naskah babad.

Gapura menuju makam Ki Ageng Selo di Desa Selo, Kecamatan Penawangan

Zainal Abidin bin Syamsudin dalam bukunya Fakta Baru Walisongo (Pustaka Imam Bonjol, 2017) menyebutkan, menurut Babad Tanah Jawa, Ki Ageng Selo adalah salah seorang murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram.



Menurut Dhanu Priyo Prabowo dalam bukunya Pandangan Hidup Kejawen dalam Serat Pepali Ki Ageng Sela (Penerbit Narasi, 2004) disebutkan, Ki Ageng Selo hidup di zaman pemerintahan Kerajaan Demak terakhir. Pada masa itu, Kerajaan Demak di bawah kekuasaan Kanjeng Sultan Trenggono (1521-1545 Masehi).

Nama kecil Ki Ageng Selo adalah Bagus Sogum. Setelah dewasa dan sepuh, beliau dipanggil Kiai Abdulrahman. Kemudian lebih dikenal dengan Ki Ageng Selo karena ia tinggal di Desa Selo (saat ini masuk wilayah Kecamatan Tawangharo, Kabupaten Grobogan).

Menurut sejarah, Ki Ageng Selo masih memiliki alur darah dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit. Selain itu, Ki Ageng Selo juga masih memiliki alur saudara dengan Sultan Trenggano di Demak.

Menurut sebuah literatur, antara Ki Ageng Selo dengan Sultan Trenggono diikat oleh tali persaudaraan, yakni kadang nak-sanak tunggal eyang (saudara sepupu satu nenek). Hal ini terjadi karena  Sultan Trenggono terhitung cucu dari Prabu Brawijaya V, demikian juga Ki Ageng Selo (dalam literatur lain Ki Ageng Selo adalah cicit Prabu Brawijaya V). Keduanya hidup dalam satu zaman.

Ihwal Ki Ageng Selo merupakan moyangnya raja-raja Mataram, dapat dijelaskan sebagai berikut. Adalah cucu Ki Ageng Selo bernama Ki Ageng Pemanahan memiliki anak bernama Sutawijaya, yang kemudian bergelar Senopati. Sutawijaya seperti diketahui adalah Raja Mataram yang sangat masyhur.

Sri Sultan Hamengkubuwono IV tercatat juga masih keturunan Ki Ageng Selo. Bahkan, menurut silsilah yang ada, Ibu Tien Soeharto (istri Presiden Soeharto) juga masih keturunan Ki Ageng Selo, yaitu keturunan yang ke-17.

Selama hidupnya, Ki Ageng Selo dikenal sebagai salah seorang wali yang cendekia dan juga mumpuni di bidang karawitan, seni lukis dan ukir. Ki Ageng Selo-lah pembuat Pintu Bledheg di Masjid Agung Demak, yang kini pintu aslinya masih dapat  kita jumpai di Museum Masjid Agung Demak.

Infonya bisa dibaca di artikel: Sejenak Melihat Benda-benda Purbakala di Museum Masjid Agung Demak

Legenda Menangkap Petir

Salah satu mitos legenda yang dinisbatkan kepada Ki Ageng Selo adalah perihal kesaktiannya yang sangat luar biasa, yakni dapat menangkap petir dengan tangan kosong.

Ki Ageng Selo Menangkap Petir, sebuah buku yang mengungkap sosok Ki Ageng Selo, terbit tahun 1983

Dalam legenda diceritakan, syahdan, saat sedang asyik bekerja mencangkul di sawahnya yang terbentang luas, mendadak cuaca menjadi mendung. Dalam waktu singkat, petir atau bledheg datang menyambar-nyambar di atas kepalanya.



Sudah berulangkali Ki Ageng Selo mengucapkan kata-kata Subhanallah (Maha Suci Allah), tetapi petir masih kurang ajar. Bahkan hendak menyambar kepala Ki Ageng Selo. Apa boleh buat. Ketika petir hendak menyambar lagi, terpaksalah kemudian petir itu ditangkapnya.

Setelah ditangkap, petir dicancang atau diikat di sebatang pohon bernama pohon Gandri.

Sampai saat ini, dalam lingkup tertentu masih terjadi perdebatan, apakah legenda penangkapan petir oleh Ki Ageng Selo itu fakta atau hanya mitos belaka. Karena penangkapan petir tentu bertentangan dengan realitas ilmiah. Saya sendiri tentunya lebih sepakat dengan yang berpendapat kisah itu sebagai pesan simbolik yang umum terdapat dalam sebuah legenda atau cerita rakyat.

Terlepas dari itu, T. Wedy Oetomo dalam bukunya Ki Ageng Selo Menangkap Petir (Yayasan Parikesit Surakarta, 1983) menyatakan bahwa takhayul atau keanehan yang tidak masuk akal itu hanya semata-mata sebagai bumbu ramuan penyedap masakan.* (Kang Asti, bersambung)

Baca kelanjutannya: Berziarah ke Makam Ki Ageng Selo, Menyusuri Jejak Sang Penangkap Petir (2)




Resep Membuat Garang Asem yang Sedap dan Mantap

0
Garang Asem
Rasa asam pedasnya memukau...





Garang Asem adalah masakan berkuah segar khas Jawa Tengah yang disebut-sebut sebagai kuliner khas Kudus. Setidaknya, mendiang pakar kuliner Bondan Winarno sering menyebut itu dalam beberapa bukunya.

Saya menduga, penisbatan garang asem sebagai kuliner khas Kudus karena di Kudus memang ada sebuah rumah makan dengan sajian spesial garang asem yang enak dan sedap, yakni RM. Sarirasa di Jl. Agil Kusumadya 20 Jatikulon, Kudus.

Tapi, saya kurang sepakat, karena di Purwodadi, Grobogan, jejak kuliner ini bisa dijumpai dengan masa tempuh yang sudah sangat lama, setidaknya sejak tahun 1971, RM. Raharjo di Purwodadi sudah eksis, dan itu terekam di sejumlah buku yang saya baca. Jadi, garang asem boleh dikata merupakan kuliner yang umum dijumpai di Jawa Tengah seperti Semarang, Demak, Purwodadi, Solo, dan sekitarnya.

Pada realitanya, garang asem dipakai untuk berbagai jenis masakan dengan berbagai versinya. Namun, saya sepakat dengan pak Bondan, definisi yang pas untuk garang asem adalah “ayam kukus di dalam bungkus daun pisang dengan rasa asam-pedas”.



Jadi, garang asem adalah kuliner berupa ayam yang sudah dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil, seperti dada, sayap, dan kepala, yang dimasak dengan cara dibungkus daun pisang dan dikukus, atau dalam bahasa Jawanya digarang atau dipanaskan. Rasanya agak asem (asam) karena ada elemen tomat atau belimbing sayur di dalamnya. Proses dan cita rasa yang dihasilkan itulah, jadilah garang asem.

Setidaknya ada dua gagrak garang asem yang bisa kita jumpai, yakni versi Kudus dan Purwodadi yang kuahnya tanpa santan, dan versi Solo yang memakai santan. Berikut ini resep membuat garang asem tanpa santan bersi Kudus-Purwodadi yang enak dan mak nyus.

Bahan:

  • 2 ekor ayam kampung
  • 1 kg tomat hijau
  • ½ kg cabai rawit
  • ½ kg belimbing wuluh
  • 6 lembar daun salam

Bumbu:

  • 10 butir kemiri
  • 5 siung bawang putih
  • 5 siung bawang merah
  • 1 jempol lengkuas

Cara:

  1. Ayam dipotong-potong. Tomat, cabai rawit, dan belimbing wuluh dirajang kasar.
  2. Semua bumbu diuleg halus, lalu ditumis sampai matang, dicampur dengan 2 litera air, matikan api.
  3. Campurkan rajangan cabai rawit, tomat, dan belimbing wuluh.
  4. Bungkus potongan ayam dengan campuran bumbu dan air di dalam daun pisang, masukkan 1 lembar daun salam ke dalam setiap bungkus, lalu kukus sekitar 2 jam sampai empuk.

Selamat mencoba!

*Sumber resep dari Hj. Yully, RM Sarirasa Kudus dalam 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia oleh Bondan Winarno

(Kang Asti, www.jatengnyamleng.com)



Artikel Populer

Artikel Favorit

Ke Waduk Kedungombo, Menikmati Sensasi Naik Perahu (1)

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || ).push({}); Sudah lama sekali saya tidak ke Kedungombo. Seingat saya, terakhir kali ke Kedungombo saat masih lajang. Jadi sudah...
error: Content is protected !!